7 Alasan Cinta Buah Lokal

Bulan Oktober tahun 2014 lalu saya berkesempatan untuk menghadiri Festival Bunga dan Buah Nusantara (FBBN) 2014 di IPB Baranang Siang Bogor. Sesuai dengan namanya, festival ini banyak dihadiri oleh sejumlah perusahaan, instansi maupun praktisi yang bergerak pada bidang hortikultura. Buah-buahan asli Nusantara juga turut serta dipamerkan agar lebih dikenal dan dekat dengan masyarakat. Festival ini memiliki misi besar dalam mempromosikan bunga dan buah Indonesia kepada masyarakat hingga terbentuk komunitas yang fokus pada pengembangan produksi dan distribusi buah serta bunga nusantara. Pasalnya fakta di lapangan mengatakan bahwa ekspor bunga hanya senilai 0,1% dan buah nusantara hanya mampu diekspor sebanyak 1.2% saja. Padahal banyak sekali bunga dan buah nusantara yang berkualitas dan memiliki kuantitas yang memenuhi syarat internasional (FBBN, 2014).

Jika pada tahun lalu festival ini mampu menghasilkan ekspor Pisang Mas Kirana ke Singapura dan membuat PTPN VIII mengkonversi lahannya untuk menanam buah-buahan lokal seperti manggis, durian, pepaya dan pisang. Maka pada FBBN kali ini dilakukan sebuah gerakan berupa ikrar bersama untuk cinta terhadap buah lokal yang ditandai dengan aksi mengkonsumsi buah lokal secara serentak. Dipimpin oleh Menteri BUMN, Menteri Pertanian dan civitas akademik IPB ikrar untuk mencintai buah dan bunga nusantara telah diucapkan dengan penuh khidmat bersama dengan 10.000 peserta.

FBBN 2014

Jauh satu tahun sebelumnya, upaya untuk mencintai buah lokal sudah dilakukan melalui Revolusi Oranye yang digagas oleh IPB. Ada tiga pilar yang digagas dalam revolusi oranye, yaitu peningkatan konsumsi, produksi dan ekspor buah Nusantara. Upaya ini memang perlu dilakukan mengingat Indonesia merupakan negara tropis dengan potensi melimpah untuk pengembangan buah lokal hingga akhirnya bisa menembus pasar internasional. Jika kita tidak melaksanakan ketiga pilar tersebut maka Indonesia hanya akan menjadi penonton di negerinya sendiri khususnya pada saat menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan berlangsung pada akhir tahun ini.

Pasalnya sebelum MEA berlaku sekalipun, buah-buahan impor sudah membanjiri pasar dalam negeri dengan kisaran sebesar 7-8 persen dari produksi buah nasional [1]. Buah-buahan seperti jeruk, apel, anggur, pir, plum, kiwi, dan lain-lain adalah jenis buah impor yang banyak beredar di pasar modern. Padahal produksi buah nasional jauh lebih besar dibandingkan dengan buah impor, hanya saja sulit ditemukan pada pasar modern karena beberapa kendala seperti rendahnya kualitas buah, kontinyuitas pasokan buah serta sistem pembayaran konsinyasi.

Sebagai warga negara yang baik, kita tentu menginginkan agar bangsa Indonesia ini maju seperti negara lain. Untuk mendukung negara terutama dalam mempertahankan eksistensi buah lokal kita dapat melakukan salah satu pilar revolusi oranye dengan mengkonsumsi buah lokal.

Aku dan Buah Lokal

Sejak kecil, buah lokal memang sudah menemani hari-hari saya dan keluarga. Kampung yang menjadi tempat tinggal kami ini dulunya dikenal sebagai penghasil manggis. Itu sebabnya kampung ini kemudian dikenal sebagai Kampung Pondok Manggis. Tidak hanya itu, jambu biji juga mampu dihasilkan oleh desa kami. Hanya saja seiring dengan pertambahan penduduk, lahan potensial yang digunakan untuk produksi jambu beralih fungsi menjadi area pemukiman. Pohon buah seperti manggis atau jambu biji kini hanya tersisa beberapa saja dan umumnya terletak di pekarangan rumah.

Pepaya, pisang, jambu merah, dan rambutan adalah beberapa jenis pohon buah yang kami miliki di sekitar pekarangan rumah. Pisang merupakan tanaman buah yang paling dominan dilahan garapan kami. Selain budidayanya mudah, pisang adalah buah yang sangat disukai oleh Bapak saya. Bisa dibilang, Bapak adalah penggemar pisang kelas berat. Sehari saja tak makan pisang, rasanya seperti kehilangan sesuatu.

Jika Bapak sangat menyukai pisang, maka lain lagi dengan saya. Saya lebih menyukai buah dengan kandungan air yang cukup banyak seperti pepaya, jeruk, dan jambu. Mengkonsumsi buah-buahan dengan kandungan air di dalamnya mampu memberikan sensasi tersendiri bagi saya. Kesegaran yang diberikan buah-buah tersebut menyajikan efek booster ketika saya mengkonsumsinya. Maka tak jarang apabila hendak beraktivitas pada dini hari, ketiga buah-buahan tersebut yang saya pilih untuk menemani bergadang ketimbang kopi atau snack yang justru akan membuat berat badan menjadi naik.

Selain ketiga buah tersebut, ada buah lokal asli Indonesia yang sangat eksotis. Saya menyebutnya eksotis karena memang merupakan jenis buah khas yang sulit ditemukan. Buah eksotis tersebut adalah Kecapi, Gandaria, dan buah Buni. Saya menyukai ketiga buah tersebut karena memiliki rasa asam sehingga ketika kita mengkonsumsinya akan memberikan efek yang menyegarkan. Sayangnya pohon penghasil buah-buahan tersebut tidak ada lagi di kampung, maka rasa takjub seolah menghampiri jika disuatu tempat saya menemukan kembali buah eksotis tersebut.

Kini, meskipun keberadaan beberapa buah lokal sulit untuk ditemukan, serta tekanan arus buah impor merajalela tidak serta-merta menyurutkan kecintaan saya dan keluarga untuk terus mengkonsumsi buah lokal.

Jatuh Cinta pada Buah Lokal

Buah diperlukan untuk memenuhi asupan gizi terutama sumber serat dan vitamin yang tidak dapat ditemukan pada beberapa sumber pangan lainnya. Orang dewasa mulai dari usia 19 tahun ke atas memerlukan buah sebanyak 4-5 porsi setiap hari. Karena buah ini merupakan pangan yang masuk ke dalam tubuh, tentu kita tidak ingin sembarangan mengkonsumsinya. Kalau saya lebih memilih untuk mencintai buah lokal dengan cara mengkonsumsi buah tersebut. Ada beberapa hal yang membuat saya dan keluarga jatuh hati pada buah hasil negeri ini, diantaranya adalah:

1. Cita rasa buah lokal sangat adaptif

Pepaya misalnya, buah ini adalah buah yang sangat adaptif terhadap sistem pencernaan. Manisnya pepaya ditambah kelembutan dan kesegaran daging buahnya berhasil mengantarkan kesembuhan saya dari sakit Typus saat itu. Oleh karena itu, saya sangat berterimakasih kepada para peneliti buah, salah satunya adalah Pemulia Buah Pepaya seperti Prof Ir. Sriani Sujiprihati MS yang telah berhasil mengembangkan beberapa kultivar pepaya seperti Pepaya Calina yang merupakan buah lokal asli Indonesia. Pepaya Calina yang lebih dikenal dengan sebutan California ini memiliki rasa yang sangat manis dan lembut sehingga mampu bersaing dengan buah-buahan impor.

2. Keamananan pangan segar dari buah lokal

Beberapa waktu lalu kita sempat dikejutkan dengan temuan buah impor berbahaya karena ditengarai mengandung bakteri, belum lagi perlakuan pengawetan pada buah impor yang menggunakan bahan kimia berbahaya bagi tubuh. Sementara pada buah lokal, karena produksinya masih terbatas serta musiman, maka jarang ditemukan perlakuan-perlakuan tertentu yang dapat membahayakan kesehatan. Padahal memperoleh makanan yang cukup, bergizi dan aman adalah hak setiap manusia sesuai dengan FAO/WHO International Conference on Nutrition: World Declaration on Nutrition pada tahun 1992. Untuk itu mengkonsumsi buah lokal jauh lebih aman dan menyehatkan ketimbang buah impor. Jadi, jangan tertipu dengan harga yang lebih murah atau penampilan yang sangat cantik dari buah impor, kita tetap harus waspada. Sehingga pilihan untuk mencintai buah lokal dengan cara mengkonsumsinya jauh lebih baik.

3. Harga yang terjangkau

Beberapa buah lokal memiliki harga yang terjangkau terutama pada saat panen raya. Apabila dikemas dengan menarik maka buah lokal ini mampu bersaing dengan buah-buahan impor yang beredar di masyarakat.

 

4. Budidayanya mudah

Melakukan budidaya buah lokal asli Indonesia ini cukup mudah untuk dilakukan. Iklim tropis Indonesia memungkinkan buah lokal dibudidayakan pada berbagai tempat oleh masyarakat awam sekalipun. Maka jangan heran jika di beberapa pekarangan rumah terdapat satu atau dua pohon buah yang dibudidayakan oleh masyarakat.

5. Buah lokal yang adaptif mampu mendongkrak perekonomian

Sebelum terjadi alih fungsi lahan, desa kami sudah dikenal sebagai salah satu penghasil jambu biji. Hal ini mendukung perekonomian desa dalam agribisnis jambu biji. Tidak hanya petani jambu yang diuntungkan, pedagang dan masyarakat desa turut serta menikmati dampak positif hadirnya buah lokal ini. Oleh karena itu ada baiknya untuk mempertahankan dan mengembangkan potensi lokal yang ada dalam rangka mendongkrak perekonomian desa.

6. Eksotis

Buah lokal Indonesia itu eksotis seperti halnya negeri ini. Masing-masing daerah memiliki daya tarik khas buah lokal yang belum tentu ditemukan pada daerah lain. Hal ini akan membuat seseorang menjadi penasaran dan ingin mengkonsumsinya. Contohnya adalah buah Duku yang dikenal berasal dari Palembang, buah Mangga dari Indramayu, Salak Slebor dari Cimande, serta buah Jambu Kristal yang kini sedang dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor karena keeksotisannya. Namun begitu makna eksotis ini tidak selamanya manis, karena menurut Dadi Sunardi, Dirut PTPN VIII eksotis berarti langka atau sedikit yang berarti buah lokal Indonesia memiliki tingkat produktivitas dan kontinyuitas rendah. Untuk itu perlu dilakukan beberapa langkah guna mendukung kelestarian dan produktivitas buah lokal agar tetap eksis di pasaran.

7. Diproduksi dengan cinta dari para petani

Pernahkah memperhatikan bagaimana cara petani merawat tanamannya? Mereka melakukannya dengan penuh cinta melalui perawatan dan pemeliharaan dari awal hingga akhir proses budidaya. Setiap hari mereka pergi ke lapangan untuk merawat dan memeriksa tanaman. Umumnya buah-buahan di Indonesia masih diproduksi dengan cara konvensional mulai dari penanaman, pemeliharaan hingga pasca panen. Tidak seperti di luar negeri yang sudah menggunakan mesin-mesin pertanian untuk melakukan budidaya tanaman. Buah-buahan yang dihasilkan melalui tangan para petani langsung akan memberikan cita rasa tersendiri bagi penikmat buah.

Salah satu buah yang membutuhkan perawatan dari awal hingga akhir produksi adalah Jambu Kristal. Satu saja tahapan terlewat oleh petani, maka jambu yang dihasilkan tidak akan berkualitas. Biasanya Jambu Kristal yang memiliki kualitas rendah akan memiliki tingkat kemanisan yang berbeda dari biasanya, cacat permukaan, atau bentuk yang tidak seragam.

Jambu Kristal, Sensasi Kerenyahan Buah Lokal Nusantara

Jambu Kristal merupakan salah satu produk buah yang dipasarkan oleh PT Sewu Segar Nusantara (SSN) berlabel SUNPRIDE. Dinamakan Jambu Kristal karena memiliki daging buah yang renyah terutama saat buah masih mengkal atau setengah matang. Keunggulan yang sangat menonjol adalah karakter seedlessnya yang hanya berjumlah 3% dari daging buah. Selain itu rasa manis Jambu Kristal berkisar antara 11-12 brix dengan sedikit kandungan air sehingga tekstur jambu menjadi lembut [2].

Jambu biji varietas Kristal merupakan mutasi dari residu Muangthai Pak yang ditemukan pada tahun 1991 di District Kao Shiung. Jambu ini diperkenalkan ke Indonesia melalui Misi Teknik Taiwan pada tahun 2001 di lokasi proyek Mojokerto. Secara morfologi jambu ini memiliki bentuk bulat agak gepeng, pada permukaan buah terdapat tonjolan tidak merata dan memiliki daging buah yang renyah [3]. Jambu Kristal memiliki kandungan gizi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari. Mari kita lihat kandungan gizi yang dimiliki oleh Jambu Kristal per 100 gramnya [2]:

Vitamin C yang ada pada Guava Crystal besarannya sekitar 280% dari nilai harian vitamin C yang direkomendasikan. Hal ini merupakan tanda jika buah ini layak untuk direkomedasikan sebagai sumber Vitamin C setiap hari [4]. Selain buahnya yang bergizi, tanaman Jambu Kristal juga sangat adaptif di daerah tropis pada ketinggian antara 500-1200 mdpl dengan suhu berkisar antara 23-28 derajat Celcius. Tanaman Jambu Kristal ini sangat rajin berbuah dengan tingkat kerontokan sedikit sehingga sangat cocok untuk dikembangkan karena memiliki nilai komersial tinggi.

Jambu Kristal dari SUNPRIDE memiliki beberapa manfaat, diantaranya adalah Lycopene atau antioksidan yang mampu melawan kanker prostat; memiliki kandungan yang sehat bagi penderita diabetes; kaya akan serat dan mudah dicerna di dalam perut; mampu menurunkan kemungkinan perkembangan diabetes tipe dua, dan meningkatkan sirkulasi yang dapat memacu fungsi otak [4].

Untuk menghasilkan Jambu Kristal berkualitas dari segi fisik maupun rasa, seorang petani perlu melakukan serangkaian proses mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemupukan, pemangkasan bentuk, pemangkasan dan pemeliharaan, penjarangan buah, pembungkusan buah, pengairan dan pengendalian hama penyakit. Cukup banyak bukan prosesnya? Itulah mengapa buah lokal sangat istimewa karena diproduksi dengan cinta dari petani untuk menghasilkan buah yang berkualitas. Tahapan kritis yang sangat menentukan hasil Jambu Kristal adalah pada saat pembungkusan buah, sekali saja tahapan ini terlewat maka Jambu Kristal yang dihasilkan akan rusak terkena lalat buah atau kutu putih yang merusak penampilan. Selain besarnya buah, tampilan fisik Jambu Kristal sangat menentukan harga pasar buah Jambu Kristal. Buah Jambu Kristal yang mulus tanpa bercak, besaran serta bobot yang sesuai dengan kriteria akan dikelaskan menjadi grade A, B, hingga C. Grade A adalah kualitas Jambu Kristal yang layak untuk dimasukkan ke pasar modern seperti supermarket.

Jambu Kristal tidak hanya nikmat untuk dikonsumsi pada pagi hari, buah ini dapat juga dinikmati menjadi kudapan sehat disela-sela waktu santai. Selain buahnya, jambu jenis ini dapat diolah lebih lanjut menjadi manisan buah atau selai yang memiliki nilai tambah.

Jambu Kristal adalah salah satu buah unggulan nusantara yang saat ini sedang dikembangkan di berbagai daerah. Jambu Kristal memang bukan asli berasal dari Indonesia tetapi karena kemampuannya yang adaptif terhadap iklim Indonesia maka Jambu Kristal menjadi buah lokal nusantara yang layak untuk dikembangkan menjadi buah lokal yang berkualitas.

Upaya Meningkatkan Eksistensi Buah Lokal

Upaya untuk meningkatkan eksistensi dan produktivitas buah lokal dapat mengacu kepada tiga pilar Revolusi Oranye yaitu mulai dari konsumsi, produksi hingga pemasaran. Beberapa upaya yang dapat dilakukan diantaranya:

1. Meningkatkan kecintaan pada buah lokal melalui konsumsi buah asli nusantara

Untuk meningkatkan minat masyarakat dalam mengkonsumsi buah lokal dapat dilakukan melalui upaya promosi dan ajakan untuk mengkonsumsinya. Masyarakat perlu mengetahui bahwa buah nusantara memiliki kelebihan dalam hal cita rasa. Selain itu kualitas produk tidak hanya dilihat dari warna, ukuran serta penampilan yang bersih dan menarik, tetapi juga unsur kesehatan dan cita rasa. Kedua unsur itu dimiliki oleh buah lokal yang berasal dari Indonesia.

2. Meningkatkan produktivitas buah lokal

Upaya meningkatkan produktivitas buah lokal dapat dilakukan melalui integrasi tiga proses dari hulu ke hilir yaitu denga penerapan  GAP (Good Agricultural Practices) pada proses produksi buah, GHP (Good Handling Practices) pada proses penanganan pasca panen dan GMP (Good Manufacturing Practices). Selain itu untuk memeratakan produksi buah lokal dapat dilakukan dengan membentuk kawasan produksi buah karena salah satu kendala pemerataan produksi terletak pada lahan perkebunan yang terpencar-pencar dan banyak dihasilkan oleh pekarangan-pekarangan rumah.

3. Meningkatkan pemasaran dan ekspor buah lokal

Salah satu upaya untuk meningkatkan pemasaran dan eskpor buah lokal  melalui pembentukan sistem rantai pasokan dan manajemen rantai pasokan buah nusantara. Jika sistem ini sudah berjalan maka kualitas, kontinuitas dan konsistensi buah nusantara di pasar domestik dan internasional dapat terjamin.

Sebelum mengakhiri tulisan ini ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada PT. Sewu Segar Nusantara sebagai perusahaan yang mendistribusikan dan memasarkan buah lokal dan impor.  Saya sangat mengapresiasi terhadap langkah yang telah dilakukan oleh PT SSN karena telah bekerja sama dengan lebih dari 1000 petani lokal dalam menghasilkan buah lokal nusantara. Kerja sama ini amat berarti bagi kelangsungan hidup petani itu sendiri maupun keberadaan buah lokal yang berkualitas. Karena saya yakin melalui kerja sama ini PT SSN juga turut serta mengedukasi petani bagaimana menghasilkan buah dengan produktivitas dan kualitas tinggi hingga bisa masuk ke pasar modern. Namun jika boleh memberikan saran, untuk mengangkat buah lokal nusantara, ada baiknya jika PT SSN mengangkat satu buah lokal yang menjadi icon pada jangka waktu tertentu misalnya setiap satu tahun sekali (fruit of the year), atau setengah tahun sekali atau pada waktu tertentu. Sehingga selain memperoleh keuntungan dari penjualan produk buah lokal juga turut serta mengedukasi masyarakat akan buah-buah lokal berkualitas.

Banyak cara untuk mendukung Negara Indonesia agar maju dan berkembang ditengah-tengah persaingan dunia, diantaranya adalah melalui cinta terhadap produk dalam negeri dengan cara menggunakan atau mengkonsumsinya. Salah satu contoh yang dapat kita lakukan adalah dengan mengkonsumsi buah lokal Nusantara. Dengan mengkonsumsi buah lokal Nusantara, kita tidak hanya mendapatkan manfaat yang baik bagi kesehatan, tetapi turut serta memberikan kontribusi bagi petani-petani Indonesia serta negeri tercinta dalam hal mempertahankan identitas bangsa melalui buah lokal.

Tulisan ini diikutsertakan pada SUNPRIDE: Fruit for Love Blogging Competition dan alhamdulillah mandapat apresiasi menjadi Second Winner

#Fruit4Love

Sumber Informasi:

http://www.sunpride.co.id/

http://www.fbbnipb.com/2014/09/forum-investasi-dan-bisnis-hortikultura.html

http://news.okezone.com/read/2013/05/15/373/807664/ipb-si-penggagas-revolusi-orange

[1] http://www.tempo.co/read/news/2014/10/13/090613816/Mentan-Buah-Impor-Hanya-Kuasai-Pasar-Modern

[2] Direktur Jenderal Hortikultura. 2014. Petunjuk Praktis Budidaya Jambu Kristal. Kementerian Pertanian RI.

[3] ICDF. Jambu Biji Varietas Kristal. disampaikan dalam bentuk folder.

[4] http://www.sunpride.co.id/seputar-guava-crystal/

Related Post

46 Comments

  1. Reply

    yaa ampuun gandaria.. udah lama banget aku ga nemu buah itu lagi mba. terakhir kayaknya waktu masih SD. haha
    aku juga diundang temanku ke festival buah itu. tapi ga dateng karena jauh. huhu

  2. Reply

    Aku sebenarnya kurang suka jambu karena keras mak…tapi pas nyoba guava ini kok g terlalu keras…enak…setuju makkk dengan gerakan dukung buah lokal

    Gutlak

    Btw…pas acara diipb aku sempet datang itu bentar..,kita g ketemu ya mak :”)

    • Reply

      hallo mak echa cantik, ke ipb ya? abis orangnya banyak banget sih jadi susah mau nyari2. iya jambu kristal gak keras kok, empuk banget malah

  3. Reply

    Mantap ulasannya, Mak. Sesuai keahlian… Aku kangen juga sama jambu kristal, dulu di kampung halaman banyak pohonnya. Kalau sekarang seringnya ketemu jambu yang dagingnya merah. Aku sukaa buah lokal 🙂

  4. lathifah

    Reply

    belum pernah liat n makan gandaria dan kecapi. klo buah musiman sellau ada di rumah biar anak terbiasa makan buah. sukses lombanya mak 🙂

  5. Reply

    Di pasar tumpah dekat rumah masih bisa ketemu sama kecapi, gandaria dan buah buni. hanya saja mungkin perlu resep-resep cara mengolah buah-buah lokal ini selain hanya untuk dikonsumsi langsung. Sehingga jika permintaan meningkat tentu petani akan berlomba menanam kembali buah-buah lokal yang mulai terancam kepunahan karena langka ini.Ya, memang hukum ekonomi lumayan berpengaruh dalam segala lini kehidupan. Termasuk dalam mempertahankan kelangsungan buah lokal nusantara.So, teruslah mengosumsi buah lokal sehingga mereka tetap lestari keberadaannya. Hidup buah lokal nusantara! ^__^

    • Reply

      hidupppp buah lokal, terimakasih mak Aira sudah berkunjung, saya setuju perlu ada resep2 olahan untuk buah lokal supaya masyarakat semakin tertarik untuk mengkonsumsi, kita juga perlu mengedukasi kepada generasi penerus bangsa supaya tidak kehilangan sejarah terhadap buah2 lokal yg dimiliki oleh Indonesia

  6. Hari

    Reply

    Mantap.. Gandaria itu nama lainnya jatake bukan y mba Ev?
    Oia klo kemang itu buah lokal jg?
    Moga sukses lombanya

    • Reply

      iya tah hari? saya taunya gandaria aja, kemang itu bukannya sejenis mangga yang asem dan banyak serabutnya itu ya? *eh malah balik nanya*

  7. Imazahra

    Reply

    Kalau saya sudah konsumsi buah lokal sejak kenal rawfood dan food combining dua tahun lampau 🙂

    Saya juga ikutan Mak.

    Mudahan kita sama-sama menang ya 😀

    • Reply

      hooo mengaplikasikan FC ya, buah2an lokal kebanyakan saya konsumsi pagi hari mak selepas bangun tidur sembari minum air putih

  8. Reply

    Hallo, Mak! Salam kenal sebelumnya 😀
    Mampir kesini karena dirimu menang hewhew
    Selamat ya, Mak! Aku pun cinta buah lokal. Sebenernya, karena mulut ini rasanya lebih pas dengan yg lokal 😀

  9. Helda

    Reply

    Selamat, Mak atas kemenangannya. Tulisannya sesuatu banget 🙂 aku nyesel gak ikutan GAmu 🙁

  10. Elsawati

    Reply

    kalo jambu saya pernah nyobain tapi buah-buah lokal yang lainnya belum 😀

  11. Pingback: Terimakasih Sunpride | Evrina Budiastuti

  12. Pingback: Fruitaholic, Lengkapi Nutrisi Ramadhan Mu - Evrina Budiastuti

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.