Ada Kenangan di Kue Putu

Saya senang sekali ketika melihat ada penjual Kue Putu yang beredar di dekat rumah. Sudah lama sekali saya tidak menikmati kue tradisional Indonesia ini. Kue Putu merupakan makanan manis yang menjadi kenangan saya sejak kecil. Dulu penjual kue putu seingat saya menggunakan sebuah gerobak dari kayu, sedangkan penjual yang ada saat ini menggunakan sepeda dengan kaleng aluminium dilengkapi kaca etalase. Penjual yang ada di tempat saya juga tidak hanya menjual kue putu, dia juga membawa kue klepon untuk dijajakan bersama kue putu.

Masih dalam ingatan masa kecil, dulu ketika penjual kue putu datang, saya paling senang pada saat Bapak penjual meramu pembuatan kue. Saya memperhatikan setiap langkahnya mulai dari membuka laci kecil tempat tepung beras berada, kemudian memasukkan setengah tepung beras pada selongsong bambu berukuran, lalu ditambahkan gula aren dan dimasukkan kembali tepung berasnya. Bapak penjual kemudian meratakan adonan dengan alat yang dia punya lalu mendirikan kue pada uap yang keluar dari kaleng  kecil berisi rebusan air. Dia membuat lagi bahan yang sama dan mendirikan selongsong bambu kedua sambil menunggu kue pertama matang. Setelah matang, kue dilepas dengan dorongan alat berupa bambu kecil atau ujung sendok, lalu kue putu diletakkan pada secarik kertas dan diberikan taburan kelapa. Hmmm rasanya nikmat, manis dan gurih apalagi jika disantap pada saat panas. Maknyusss!

kue putu

Penjual Kue Putu sedang membuat kue putu

Kue Klepon

Dia juga menjual Kue Klepon

kue putu

Kue putu sedang di kukus dengan uap air

kue putu

Kue Putu sudah matang

Saya melihat kalau Bapak penjual kue ini tidak lagi menggunakan bambu untuk membentuk kue putu. Mungkin itu karena bambu-bambu kecil sudah jarang sekali ditemukan di daerah kami. Padahal tempat tinggal kami ini dulunya terkenal sebagai penghasil bambu. Tetapi karena semakin banyak jumlah pemukiman penduduk, maka vegetasi alami bambu mulai terkalahkan. Bambu boleh kalah, namun keberadaan kue putu tidak boleh kalah dengan perkembangan zaman. Kue Putu harus terus eksis karena ini merupakan warisan kuliner nusantara yang menjadi kenangan tersendiri bagi saya.

Kue putu

Menggunakan pipa ya?

Ada satu kenangan lagi mengenai Kue Putu ini. Dulu sekitar tahun 2006, saya dan beberapa orang teman kampus melakukan magang di daerah Kudus. Namanya anak muda, kami senang untuk menjelajah ke berbagai daerah. Saya ingat dulu kami melakukan wisata kuliner di daerah Yogyakarta. Teman saya Dita kemudian membawa kami ke suatu daerah di pinggir jalan yang menjual Kue Putu. Seingat saya saat itu malam sudah terlalu larut sekitar pukul 23.30 WIB. Namun kue putunya memang baru dijual pada malam hari sehingga wajar jika pada pukul tersebut Bapak penjual masih menjajakan kuenya.

Kami berempat menikmati Kue Putu yang sudah matang sambil melihat lalu-lalang jalanan Yogyakarta menjelang dini hari. Kue Putu yang kami nikmati saat itu memang lezat sekali, pantas saja Dita sampai “ngebela-belain” mengajak kami untuk mencoba kue putu ini. Rasa yang dimiliki tidak hanya manis dan gurih tetapi juga sangat wangi. Sayangnya waktu itu saya belum memiliki kamera digital sehingga tidak ada dokumentasi yang menyimpan Kue Putu maknyuss di jalanan Yogyakarta ini. O iya jangan tanya saya ya di Yogyakarta sebelah mana. Saya lupa dan waktu itu saya tidak hapal ada dengan daerahnya. Seingat saya, kami menikmati kue putu ini di pinggir jalan menggunakan alas tikar dekat dengan jembatan bercat putih.

kue putu

Bunyi khas penjual kue putu keluar dari sini

Terhadap hal-hal yang mengesankan tentu kita akan selalu mengingatnya, termasuk untuk kue putu ini. Bagi saya kue putu sangat khas tidak hanya dari proses pembuatan tetapi juga ciri khas yang dimiliki sang penjual. Masih ingat kan bunyi khas yang dimiliki penjual kue putu? Sebuah bunyi suara yang keluar dari bambu atau pipa yang nyaring bunyinya. Bunyi ini dihasilkan dari uap air panas, sehingga ketika bunyi tersebut dihasilkan, siapapun tau kalau penjual kue putu sudah datang.

Seperti sore tadi, akhirnya Bapak penjual kue putu datang lagi. Terimakasih ya Pak sudah ikut menjaga kelestarian kuliner asli Indonesia. Semangat terus untuk usahanya 😀

26 Comments

  1. Reply

    Lha….depan rumahku masih sering ada yang lewat mb penjual putu kayak gini. Namanya putu bumbung….karena masih dari bambu. Formatnya juga masih pake gerobak dorong… Klo nggak salah 500 rupiah per potong mb harganya. Murah-meriah pokoknya…:-)

  2. hendri hendriyana

    Reply

    ini mah jajanan say waktu kecil, tapi sayang sekarang tukang kue putu sudah jarang ditempat saya mbak, malah banyak makanan yang katanya dari jepang seperti ramen.heuheu

  3. Reply

    Woow jajanan kesukanan mulai kecil ni mbak, sekarang masih ada yang lewat satu dua orang, per biji seribu rupiah, cemilan murmer bikin kenyang hehe

  4. Reply

    Salah satu kue yang mempunyai ciri khas suara tuuuuut
    Di tempat tinggal saya, sudah jarang sekali yang jual kue putu, padahal enak sekali. Waduh jualnya kuenya sampai tengah malem… kirain cuma siang sampai sore…

  5. Reply

    Saya tinggal di Jogja. Perasaan akhir2 ini ya jarang tahu ada tukang putu lewat. Trakhir kali beli tahun 2012 klo nggak salah. 1 kue putu dihargai Rp 1200. Eh, jembatan putih yang dimaksud itu mungkin sekitar jembatan Gondolayu. Memang di sana jadi tempat nongkrong kalau malem.

  6. Sultan

    Reply

    Kue putu termasuk salah satu makanan favorite sy. Kue klepon itu juga enak banget. Sy mah hampir semua kue tradisional pasti suka 🙂

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.