Air dan Kehidupan: Langkah Kecil untuk Indonesia Sehat

Sejak di dalam kandungan, manusia sudah membutuhkan air. Air ketuban dalam perut ibu menjaga kita agar terhindar dari benturan sehingga kita aman didalam fase awal kehidupan. Tidak hanya manusia, makhuk hidup lain seperti hewan dan tumbuhan juga sangat bergantung akan keberadaan air, bahkan pada bumi yang kita cintai ini. Bumi sangat membutuhkan air untuk mempertahankan ekosistem dunia melalui siklus hidrologi. Siklus hidrologi atau siklus air ini memungkinkan air yang ada di bumi ini tetap jumlahnya dan dapat digunakan oleh seluruh makhluk hidup.

Mari kita lihat peranan air dalam skala mikro dengan mengamati bagaimana air mempengaruhi fungsi sel makhluk hidup….

Kita ambil contoh pada sel tumbuhan dimana air salah satunya mempengaruhi kehidupan awal sel tumbuhan. Agar benih dapat tumbuh membentuk akar dan daun maka dia membutuhkan air untuk melakukan proses yang disebut dengan imbibisi atau penyerapan air ke dalam sel. Kalau tidak ada air maka dia akan tetap menjadi benih. Itulah sebabnya setelah menanam kita harus menyiramkan air. Berikut ini adalah prosesnya:

Proses Imbibisi Pada Benih

Proses Imbibisi Pada Benih

Setelah terjadi proses imbibisi maka air akan masuk kedalam embrio benih dan membasahi protein serta koloid (partikel) lain. Kemudian terjadi pembentukan atau pengaktifan enzim, yang menyebabkan peningkatan aktivitas metabolik. Setelah itu akan terjadi pemanjangan sel radikal, diikuti munculnya radikula (akar) dari benih sehingga terjadi pertumbuhan kecambah (Salisbury and Ross.1992 diambil dari fapertaunw) [1]

Sama seperti halnya pada manusia, air sangat mempengaruhi sel dalam tubuh. Beberapa sumber menyebutkan bahwa 70-75% tubuh manusia terdiri dari air, dimana air merupakan kandungan utama dari cairan sel yang disebut dengan sitoplasma dengan kandungan mencapai 90%. Bisa kita bayangkan apa yang terjadi dengan tubuh apabila kekurangan air. Tubuh akan mengalami dehidrasi yang dapat berujung pada kematian. Apabila kita kekurangan air maka sel tidak dapat melakukan fungsinya sehingga menyebabkan kegagalan kinerja beberapa organ tubuh. Untuk mengatasi hal tersebut maka manusia harus mencukupi kebutuhan air minum sebanyak 2 liter air per hari.

Sekarang mari kita lihat peranan air pada skala makro yaitu pada ekosistem dunia….

Air sangat dibutuhkan dalam ekositem untuk keberlangsungan makhluk hidup. Ketersediaan air dalam suatu ekosistem berbeda satu dengan lainnya. Hal ini menjadi penyebab keunikan flora maupun fauna yang mendiami suatu wilayah. Contohnya pada daerah beriklim tropis dengan ketersediaan airnya yang melimpah cenderung dihuni oleh pepohonan besar dan hijau dengan fauna yang beraneka ragam, sedangkan pada daerah beriklim kering seperti gurun sedikit sekali flora maupun fauna yang mendiaminya. Hanya makhluk hidup tertentu saja yang mampu beradaptasi pada iklim gurun tersebut seperti hewan unta maupun tanaman kaktus.

Air juga menjadi sumber mata pencaharian bagi jutaan umat manusia. Sektor pertanian, perikanan dan kelautan sangat bergantung akan kehadiran air. Keberlangsungan air ini tetap terjaga karena terdapat siklus hidrologi dengan hujan sebagai komponen utama. Diketahui bahwa air sebanyak 505.000 kubik kilometer (121,000 cu mi) jatuh sebagai hujan setiap tahunnya di seluruh dunia dimana 398.000 kubik kilometer (95,000 cu mi) air tersebut jatuh di lautan (Sumber: Wikipedia) [2]. Banyak sekali air yang sudah turun ke bumi ini, itulah sebabnya mengapa air tetap tersedia di planet ini meskipun umurnya sudah mencapai ribuan tahun. Namun bagaimanakah kondisi air saat ini?

Kondisi Air Saat Ini

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa dari segi kuantitas, jumlah air pada bumi ini sejak dulu adalah tetap. Air selalu bergerak mengikuti siklus hidrologi dari daratan ke lautan, dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah begitu seterusnya hingga membentuk siklus yang kontinyu. Hanya saja kualitas air sudah mulai berubah, kini kualitas air cenderung menghawatirkan.

Menurut data, 70% permukaan bumi kita adalah air. Air yang tersedia ini terdiri dari air asin yang mendominasi sebanyak 97% dan air tawar hanya sebesar 3%. Prosentasi air tawar masih terbagi lagi menjadi es, air tanah, air permukaan dan uap air dengan persentase tertentu. Permasalahannya adalah tidak semua air tawar yang ada di daratan itu layak untuk diminum, air tersebut juga belum termasuk air yang tercemar oleh manusia dan tidak semua daerah di dunia ini mendapatkan porsi air yang cukup [3].

Banyaknya Air yang ada di Bumi

Banyaknya Air yang ada di Bumi

Laporan Perkembangan Air Dunia PBB (UN World Water Development Report) yang diluncurkan bersamaan dengan acara Forum Air Dunia di Marseille menyebutkan bahwa jumlah permintaan pangan yang melampaui perkiraan, urbanisasi yang terus meningkat dan perubahan iklim adalah faktor utama yang menyebabkan air bersih semakin langka. Dalam laporan tersebut juga terungkap bahwa pada 2050 permintaan pangan dunia akan naik sebesar 70%, menyebabkan kebutuhan air untuk pertanian melonjak sebesar 19%. Sedangkan saat ini sebanyak 70% air tawar (freshwater) sudah digunakan untuk kebutuhan pertanian [4].

Lalu bagaimana pemenuhan air bersih untuk kebutuhan lainnya? Sebuah sumber menyebutkan bahwa dengan jumlah penduduk yang diperkirakan mencapai hampir 9 milyar pada tahun 2050 dan semakin meningkatnya pertumbuhan di negara-negara berkembang menyebabkan krisis air bersih akan semakin buruk. Hal tersebut dapat menyebabkan keanekaragaman hayati serta peradaban manusia dalam keadaan terancam. Diperkirakan satu dari enam orang di bumi ini tidak memiliki akses untuk mendapatkan air bersih; dua dari enam orang tidak memiliki sanitasi yang memadai; dan empat dari enam orang terkena penyakit yang berhubungan dengan kekurangan air bersih [5].

Oleh karena itu penyusutan sumber daya air tidak bisa kita abaikan dan harus kita lestarikan mulai saat ini juga.

Melestarikan Air dan Lingkungan

Sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa air sangat dibutuhkan oleh mahluk hidup. Dapat dibilang keberadaan air sehari-hari menjadi wajib hukumnya. Saya sendiri termasuk galau apabila sumur di rumah sedang kering seperti tahun lalu karena air tidak hanya digunakan untuk dikonsumsi saja tetapi digunakan pula untuk pemenuhan aktivitas sehari-hari seperti memasak, mencuci dan lain sebagainya. Sebagian besar pemukiman ditempat saya berada masih mengandalkan air tanah sebagai sumber air sehari-hari. Hal tersebut terjadi karena jumlah pemukiman yang ada belum sepadat di wilayah lain. Area-area terbuka masih memungkinkan sebagai daerah tangkapan air. Dari pengamatan secara fisik baik rasa, warna, bau dan tingkat kekeruhan, kualitas air yang ada di tempat kami masih sangat baik. Tetapi bagaimanakah sebenarnya air itu?

Dr. Masaru Emoto seorang peneliti Jepang yang terkenal dengan penemuan kristal air menyebutkan bahwa air sangat sensitif terhadap suatu bentuk energi yang sulit dilihat secara kasat mata yang disebut sebagai Hado. Bentuk energi inilah yang mempengaruhi kualitas air dan kristal yang terbentuk. Apabila kita memperlakukan air dengan kata-kata yang baik serta memberikan perlakukan yang positif pula maka kristal air yang terbentuk akan sangat indah. Namun bentuk kristal akan menjadi buruk bahkan tak berbentuk apabila kita memberikan perlakuan negatif pada air. Dengan mengetahui bahwa air tidak hanya sekedar unsur, tetapi memiliki kemampuan lebih dalam menangkap energi, maka kita sudah seharusnya memperlakukan air dengan sebaik-baiknya melalui pelestarian sumber daya air yang ada.

Kristal AIr dengan Perlakuan Berbeda, Sumber: www.kaskus.co.id

Sayangnya menurut Dr. Hary Harjono, Kapuslitbang Limnologi LIPI, dikutip dari Kamusilmiah.com mengatakan bahwa banyak pihak masih belum sadar akan arti penting air sehingga banyak yang memperlakukan air dengan semena-mena. Hal ini mengakibatkan keadaan perairan semakin menyedihkan. Aktivitas manusia, eksploitasi yang melebihi daya dukung sumber air serta limbah-limbah akibat kegiatan manusia menyebabkan kondisi sumber daya air makin tertekan. Oleh karena itu Beliau memberikan saran untuk melestarikan air melalui pendekatan baru yaitu Ekohidrologi yang merupakan gabungan dari Ekologi dan Hidrologi.

Ekologi dan Hidrologi adalah sebuah pendekatan dimana penanganan air dan lingkungan menjadi satu melalui peranan manusia didalamnya. Melakukan pelestarian lingkungan juga dapat melestarikan air karena air dan lingkungan adalah satu rangkaian ekosistem yang tidak terpisahkan. Hal ini sudah dilakukan sejak lama oleh AQUA Danone dalam aktivitasnya mewujudkan Indonesia sehat sekaligus melestarikan lingkungan.

AQUA, dari Kita untuk Indonesia

Ada satu ingatan saya tentang AQUA, ketika dosen menerangkan bagaimana Bapak Tirto Utomo sebagai pendiri AQUA mengenalkan AMDK sejak tahun 1973. Ketika pertama kali dikenalkan kepada masyarakat, kebanyakan orang menganggap sebelah mata karena produk yang dijual adalah air minum yang saat itu dianggap tidak memiliki nilai komersil. Namun siapa sangka hasil kerja keras dan inovasi yang telah dilakukan sejak lebih dari 40 tahun yang lalu justru menjadi inspirasi dalam melestarikan lingkungan termasuk sumber daya air yang sangat penting bagi manusia.

Sejak awal berdiri, AQUA memang telah berkomitmen untuk terus mengembangkan inovasi dalam memberikan air minum yang berkualitas. Dimulai dari pengembangan kemasan, penerapan sistem produksi in line yang memungkinkan proses produksi menjadi lebih hygiene hingga bergabung dengan Danone untuk peningkatan kualitas produk yang membawa AQUA sebagai produsen AMDK terbesar di Indonesia.

Berkat kerja keras dan komitmennya dalam mempersembahkan air minum yang berkualitas maka AQUA berhasil memenangkan banyak penghargaan sejak tahun 2002. Seperti baru-baru ini, AQUA Grup mampu meraih 20 GKPM Awards 2014 berkat program yang mampu memberikan kontribusi bagi pelaksanaan percepatan MDGs 2015. Dalam menjalankan bisnisnya, Danone AQUA juga turut serta memperhatikan kepentingan sosial dan lingkungan. Komitmen ini disebut sebagai komitmen ganda dimana Danone mengkombinasikan tujuan ekonomi dengan tujuan sosial dan lingkungan.

Komitmen Ganda AQUA

Komitmen Ganda AQUA

Khusus pengembangan komitmen lingkungan, AQUA sudah melakukannya sejak tahun 2003 dimana AQUA menyelenggarakan program AQUA Peduli dengan melakukan daur ulang botol plastik AQUA menjadi materi plastik yang dapat digunakan kembali. Kemudian AQUA juga menghadirkan konsep AQUA Lestari sejak tahun 2006 untuk pengelolaan sumber daya air secara terpadu melalui program akses air bersih dan penyehatan lingkungan. Pengembangan AQUA Lestari terdiri dari empat pilar yaitu Pelestarian air dan lingkungan, Praktik Perusahaan Ramah Lingkungan, Pengelolaan Distribusi Produk serta Pelibatan dan Pemberdayaan Masyarakat. AQUA Lestari telah direalisasikan dengan melaksanakan berbagai kegiatan pada bidang sosial dan lingkungan yang mencakup wilayah sub-Daerah Aliran Sungai (DAS) mulai dari hulu, tengah, dan hilir di lokasi AQUA Group beroperasi.

Saat ini AQUA Grup kembali meluncurkan gerakan kepedulian terhadap Indonesia melalui Gerakan “Dari Kita untuk Indonesia (DKUI)”dengan tujuan untuk mewujudkan Indonesia yang sehat. Gerakan ini berkontribusi terhadap peningkatan akses air bersih dan penyehatan lingkungan melalui pemberdayaan masyarakat serta kemitraan multipihak. Gerakan DKUI juga turut serta mengajak masyarakat dalam upaya  menjaga kualitas, kuantitas serta keberlanjutan air melalui pelestarian lingkungan, sekaligus mengundang seluruh konsumen AQUA Grup untuk berpartisipasi dalam program tersebut. Dengan meminum AQUA kita turut berpartisipasi dalam penyediaan air bersih untuk Indonesia. Sebuah langkah yang mudah dan murah untuk mewujudkan Indonesia Sehat.

Gerakan dari Kita untuk Indonesia, Sumber: www.aqua.com

Jika AQUA sudah melakukan pelestarian sumber daya air dan lingkungan sejak dulu, bagaimana dengan kita?

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kita juga bisa melakukan beberapa langkah untuk melestarikan sumber daya air dan lingkungan sekaligus dari rumah. Lakukan apa saja yang bisa kita lakukan walau kecil sekalipun. Karena apabila kita melakukannya setiap hari maka langkah kecil tersebut justru akan memberikan manfaat yang besar. Teman-teman pasti mempunyai cara sendiri untuk melaksanakannya. Kalau saya, karena saya senang menanam, maka saya mengkombinasikan hobi tersebut bersamaan dengan pengelolaan sampah untuk melestarikan lingkungan serta sumber daya air.

Kebetulan di rumah saya ada warung dan menyediakan AMDK. Botol plastik hasil buangan AMDK ini dapat kita gunakan sebagai wadah untuk menanam misalnya untuk menanam sayuran. Sebaiknya sayuran yang ditanam dengan menggunakan botol plastik adalah sayuran berdaun yang tidak membutuhkan media terlalu banyak. Nah, untuk menghemat penggunaan air maka kita dapat menyusunnya secara vertikal berurutan dari atas ke bawah sehingga air yang turun dari atas dapat jatuh ke wadah yang ada di bawahnya.

#AdaAQUA di Warung Saya

Selain itu kita juga bisa menyusun botol plastik dengan corong tampungan air di atas tanaman sehingga air yang jatuh ke tanaman dapat diatur sedikit demi sedikit, selain menghemat air, kita juga tidak perlu menyiramnya setiap hari. Sebelum memasukkan air pada corong air di bagian atas, kita masukkan terebih dahulu tanah dan batu-batu kecil untuk memperlambat jatuhnya air, sehingga air yang turun dapat jatuh setetes demi setetes. Berikut ini adalah cara pembuatannya:

Menanam dengan Menggunakan wadah botol plastik

Menanam dengan Menggunakan wadah botol plastik

verti2

Apabila cara pertama terlalu rumit maka ada cara kedua, cara ini kebalikan dari yang pertama. Corong penampung air dijadikan sebagai wadah tanaman, sedangkan bagian yang lain digunakan sebagai penampung air. Kalau tanaman sudah agak besar maka akarnya akan turun ke bawah menuju tempat air berada. Walaupun akar masih pendek dan belum mampu menembus air kita tidak perlu khawatir karena penguapan akan menyebabkan kelembaban pada tanah di atasnya sehingga tanaman tidak kesulitan memperoleh air dan kita tidak perlu melakukan penyiraman setiap hari. Cara ini sangat cocok untuk pekarangan tertutup yang tidak mendapat akses langsung terhadap air hujan.

Menanam dengan menggunakan wadah botol plastik

Menanam dengan menggunakan wadah botol plastik

Selain menggunakan wadah AMDK, kita juga bisa menggunakan wadah lainnya untuk penanaman seperti kaleng bekas, kantong plastik, wadah kaca yang tidak terpakai dan lain sebagainya. Semua wadah yang kita gunakan tadi adalah jenis sampah anorganik yang tidak dapat terurai secara alami, sedangkan sampah organik seperti sisa olahan dapur baik sayuran, daun-daunan serta bahan alami lainnya dapat kita olah menjadi kompos atau pupuk organik cair. Sebenarnya sampah organik ini akan terurai sendiri secara alami, hanya saja prosesnya memakan waktu cukup lama. Apabila kita biarkan saja, maka sampah organik ini akan menumpuk dan dapat mencemari lingkungan. Maka ada baiknya sampah organik ini kita olah menjadi kompos atau pupuk cair. Untuk menguraikan sampah ini kita bisa menggunakan nasi basi, ragi atau bakteri pengurai yang dijual di toko pertanian. Prosesnya juga cukup mudah hanya memakan waktu 2-4 minggu saja maka kompos atau pupuk organik cair akan terbentuk.

Menghasilkan kompos sendiri

Menghasilkan kompos sendiri

Yuk kita menanam, gunakan wadah bekas untuk mengurangi jumlah sampah dan melestarikan lingkungin

Yuk kita menanam, gunakan wadah bekas untuk mengurangi jumlah sampah dan melestarikan lingkungin

Melakukan penanaman pada wadah bekas dan memproduksi kompos sendiri banyak memberikan manfaat diantaranya adalah hasil panen yang kita tanam dapat mengurangi pengeluaran untuk belanja dapur, sayuran yang kita panen juga aman untuk dikonsumsi karena bebas pestisida, kemudian tanaman tersebut mampu memberikan sumbangan oksigen disekitar rumah serta wadah bekas yang digunakan dapat mengurangi sampah yang ada. Kalau teman-teman mempunyai pekarangan cukup luas dan terdapat tanah di dalamnya maka sebaiknya melakukan penanaman langsung pada tanah karena tanaman tersebut nantinya dapat mengikat dan menyerap air.

Menggunakan kembali wadah AMDK merupakan salah satu bagian dari prinsip 3R yaitu Reuse (menggunakan kembali). Prinsip lainnya seperti Reduce atau mengurangi juga dapat kita lakukan dengan mengurangi pemakaian barang-barang yang berdampak langsung terhadap lingkungan seperti tisu, kertas, plastik dan lain sebagainya. Untuk mengurangi sampah plastik, sebaiknya gunakan kantong berbahan kain atau bahan lainnya ketika berbelanja. Kemudian apabila kita bepergian sebaiknya membawa air minum sendiri. Karena saya seringnya di lapangan, maka membawa air minum adalah hal yang wajib. Jika airnya habis saya cukup meminta air minum kepada petani ketika singgah. Nah, kalau tidak ada, cukup membeli AQUA maka rasa hauspun hilang. Selain mendapatkan kesegaran AQUA, kita juga turut serta membangun Indonesia Sehat melalui program Dari Kita Untuk Indonesia hanya dengan membeli AQUA.

Kurangi penggunaan kantong plastik yuk

Kurangi penggunaan kantong plastik yuk

Nah, sampah-sampah anorganik seperti kemasan AQUA dapat kita kumpulkan untuk didaur ulang sesuai dengan prinsip ketiga yaitu Recycle. Kalau tidak bisa melakukannya sendiri, maka kemasan-kemasan tersebut dapat kita kumpulkan dan diserahkan pada bank sampah atau pengumpul barang bekas yang ada di sekitar. Melakukan hal ini sekali lagi dapat mengurangi sampah, menjaga kelestarian lingkungan dan menambah pemasukan.

Menggunakan air secara bijak sesuai dengan kebutuhan juga merupakan cara untuk melestarikan sumber daya air. Kita bisa melakukannya dari hal kecil terlebih dahulu misalnya ketika mandi sebaiknya menggunakan shower ketimbang gayung karena lebih menghemat air; ketika mencuci beras tidak perlu sampai berkali-kali dibilas karena justru akan menghilangkan kandungan nutrisi dan menghabiskan banyak air; menggunakan air sisa mencuci beras, sayuran, daging dan sebagainya untuk menyiram tanaman karena pada air sisa tersebut terdapat nutrisi untuk tanaman; menampung air hujan untuk keperluan sehari-hari serta beberapa langkah kecil lainnya. Langkah kecil tersebut apabila dilakukan setiap hari tentu akan menghemat sumber daya air yang ada.

Langkah lain untuk melestarikan lingkungan dan sumber daya air adalah dengan melakukan edukasi kepada keluarga dan masyarakat. Penanaman dalam wadah bekas seperti di atas sebenarnya adalah salah satu bentuk edukasi yang saya lakukan untuk keluarga. Saya cukup mencontohkan tanpa banyak bicara pada orang-orang dewasa yang ada di rumah maupun di sekitar rumah. Karena orang dewasa sudah banyak pengalaman sehingga mereka memerlukan contoh untuk membentuk pemikiran dan opini. Usaha ini cukup berhasil karena ada beberapa tetangga yang akhirnya menyumbangkan kaleng atau botol bekasnya ke rumah lantaran mereka tahu kalau saya menggunakan wadah-wadah tersebut untuk menanam. Orang tua pun akhirnya turut serta membantu menanam dan memelihara tanaman di sekitar. Saya juga tidak perlu mengajak anak saya untuk menanam karena dia pada akhirnya datang sendiri serta ikut membantu mamahnya ketika saya sedang asik menanam dan merawat tanaman.

Untuk mengedukasi masyarakat, kita bisa sesuaikan dengan profesi dan kemampuan yang dimiliki. Kebetulan karena bidang saya dipenyuluhan pertanian maka saya dapat dengan mudah mengajak masyarakat yang dalam hal ini adalah petani untuk bersama-sama melestarikan lingkungan serta sumber daya air. Ini memang bagian dari tugas saya untuk mengarahkan petani melaksanakan budidaya yang ramah lingkungan.

Beberapa inovasi dan teknologi ramah lingkungan sebenarnya dapat dengan mudah diterapkan oleh petani, karena pada dasarnya teknologi yang dihasilkan para peneliti berdasarkan sumber daya yang ada di sekitar petani. Salah satunya dengan memanfaatkan wadah bekas AMDK, selain dapat digunakan untuk penanaman, wadah AMDK juga dapat digunakan untuk perangkap hama lalat buah. Bila dibandingkan dengan menggunakan pestisida, cara ini sangat murah, mudah dan ramah lingkungan. Kemudian komponen teknologi lainnya yang dapat dilakukan oleh petani adalah dengan melakukan sistem pengairan berselang yang merupakan salah satu komponen pengelolaan tanaman terpadu. Sistem ini selain menghemat sumber daya air juga termasuk salah satu cara untuk mengurangi serangan hama keong.

Perangkap Lalat Buah dari wadah AMDK

Perangkap Lalat Buah dari wadah AMDK

Mengedukasi petani untuk meminimalisir penggunaan bahan kimia seperti pupuk sintesis dan pestisida juga perlu dilakukan. Hal ini disebabkan karena bertani sangat erat kaitannya dengan sumber daya air. Air merupakan pelarut yang terbaik, bahan-bahan kimia yang disemprotkan pada tanaman dapat hilang karena tercuci dan terbawa air, itulah sebabnya mengapa saat ini kita sulit menemukan lindung serta ikan-ikan kecil di persawahan. Apabila ditelusuri, maka aliran air irigasi akan bermuara ke sungai yang mengalir terus ke daerah lainnya. Jika air tersebut digunakan oleh masyarakat di daerah lain tentu akan sangat berbahaya bagi kesehatan. Oleh karena itu pemakaian bahan-bahan kimia perlu dibatasi dan harus digantikan dengan bahan-bahan alami seperti penggunaan pupuk organik serta perangkap mekanik dan pestisida nabati untuk mengendalikan hama penyakit.

Suatu hari jika semua sektor saling berintegrasi, pasti makhluk hidup di dunia ini tidak akan merasa terancam terhadap perubahan alam dan lingkungan serta sumber daya air akan tetap lestari.

***

Melestarikan lingkungan serta sumber daya air tidak terpisahkan karena keduanya saling berinteraksi dalam siklus kehidupan. Lingkungan yang bersih mendukung tersedianya sumber daya air yang sehat untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia sehari-hari. Apabila itu terpenuhi maka kita bisa mewujudkan cita-cita menjadi negara Indonesia yang sehat. Mari kita lestarikan lingkungan dan sumber daya air saat ini juga, kalau bukan kita, siapa lagi?

Dari Kita Untuk Indonesia Sehat………

Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Blog Anugerah Jurnalistik AQUA (AJA) IV

Sumber Informasi:

[1] Faperta Unwinku. 2011. Imbibisi Biji. http://fapertaunwimku.blogspot.com/2011/06/imbibisi-biji.html#!/2011/06/imbibisi-biji.html

[2] Wikipedia. 2014. Hujan. http://id.wikipedia.org/wiki/Hujan

[3] Kementerian Pekerjaan Umum. 2013.Kondisi Air Baku di DKI Jakarta Cukup Parah. http://www.pu.go.id/m/main/view/8566

[4] Hijauku. 2012. Pasokan Air Dunia Semakin Menipis. http://www.hijauku.com/2012/03/13/pasokan-air-dunia-semakin-menipis/

[5] Conservation. 2014. Air. http://www.conservation.org/global/indonesia/inisiatif/air/Pages/air.aspx

Emoto, M. 2006. The True Power of Water. Bandung: MQ Publishing. 192hal.

http://aqua.com/

http://www.kamusilmiah.com/lingkungan/kondisi-air-makin-menyedihkan/

http://www.medkes.com/2014/07/gejala-penyebab-dan-pengobatan-dehidrasi.html

http://nutrisiuntukbangsa.org/10-manfaat-air-untuk-kesehatan/

Related Post

57 Comments

  1. momtraveler

    Reply

    Woooowww komplit,mantap, n keren bgt postingannya mbak 🙂
    Sukses ya ngontesnya 😉

  2. Reply

    Kita kadang sembrono dalam melakukan air ya Jeng.
    Boros,menghambur-hamburkan air ketika mandi, mencuci pakaian atau mencuci mobil,menyirami tanaman. Juga suka mencemari air sungai,kolam,danau,laut.
    Artikelnya bagus, komplit dengan sentuhan gambar yang menarik.
    Semoga berjaya dalam lomba
    Salam hangat dari Surabaya

    • Reply

      terimakasih pak dhe, nanti saya mampir ke tempat pak dhe, saya juga masih sulit mengontrol untuk mencuci pakaian, maklum bocah2 pakaiannya kalau habis main kotor banget, jadi sebisa mungkin gimana caranya bersih dengan menghemat air, suwun pak dhe, salam dari bogor

      • Ranni

        Reply

        Mbak, bagaimana step by step menanam dala kaleng susu bekas? Apa kaleng susu dilubangi juga… mohon penjelasan. Thank’s

        • Reply

          Halo Rani terimakasih sudah mampir ke blog saya. Pake kaleng apapun tetap harus dibolongin bawahnya agar air keluar dan akar dapat menembus ke tanah dr kaleng. Terus nanti untuk medianya pake campuran tanah, sekam, dan pupuk kandang perbandingan satu banding satu semuanya

  3. Reply

    air adalah sumber kehidupan… air juga adalah menyangkut hajat hidup orang banyak… tanpa air manusia tak kan pernah bisa hidup… selamat ngontes Mbak semoga sukses ya…

    • Reply

      aamiin terimakasih, semoga sukses juga buat syamil Qurannya ya, saya bener2 mundur hehe, benar air itu segala2nya buat makhluk hidup

  4. Inge Mutiaranie

    Reply

    Blh tuh tips2nya, tar mw dipraktekin ah d rm vertikultur dr botol2 aqua nya.
    Siip.. tks bu tipsnya kereen..

  5. sofia zhanzabila

    Reply

    Wah mbakku….lengkap sekali… Air bersih memang harus mendapat perhatian lebih dari seluruh rakyat Indonesia. Ya, untuk anak kosan seperti saya, setidaknya bisa menghemat air dengan cara mandi satu kali sehari. *eh
    Guod luck ya mbakku….

    • Reply

      Wah klo mandi satu kali sehari masih mending, ada yg lebih hemat lagi, artis siapa gitu yg males mandi hehe. Makasih sofi aamiin

  6. arifah wulansari

    Reply

    Salut mbak dengan upaya pembibitan tanaman menggunakan botol bekas aqua..kayanya perlu ditiru nih…semoga juara ya mbak 🙂

  7. Indah Juli

    Reply

    Air erat kaitannya dengan kehidupan ya, apalagi untuk kita (manusia)
    Tulisannya lengkap, menarik apalagi pakai praktek gitu, jadi nambah informasinya.
    Goodluck ya semoga lomba ini menjadi berkah untukmu ^_^

    • Reply

      makasih mak indah. aamiin. semuanya bagus2 kok idenya, saya sangat mendapat masukan dari filosopi yang mak indah beri ditulisan. makasih mak

  8. oRiN

    Reply

    Salah satu yang bikin jiper sebelum mulai nulis… asli, ini ulasannya lengkap banget dan keren. Plus bukan cuma teori… Dari yang gak tau jadi tau, itu lalat bisa masuk botol ya? Kirain cuma takut sama plastik berisi air donk… hahaha

    Mak Ev jempol deh 😀

    • Reply

      ah, yang sering langganan juara kok merendah hehe itu pake petrogenol semacam cairan penarik lalat mak, itu diterapkan di petani horti

    • Reply

      saya tadi sudah mampir juga ya mak, saya jagoin semua emak2, ini sekalian bagi ilmu tentang kerjaan saya hehe, tapi blm lengkap juga

  9. Pingback: Budidaya Sayuran di Pekarangan: Wadah Penanaman | Evrina Budiastuti

    • Reply

      tolong cantumkan sumbernya jika ingin mengambil beberapa materi, saya tidak mengizinkan jika hanya mengcopas tanpa mencantumkan sumbernya

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.