Apa kabar Bumiku?

bumi

Saya senang sekali ketika menonton film yang menggambarkan bumi, planet atau hal-hal lain yang berkaitan dengan galaksi. Semua itu membuat saya takjub dan juga berpikir, ternyata begini tho keadaan bumi atau keadaan alam semesta. Seperti yang saya alami ketika menonton film Allegian yang merupakan salah satu film dari tetralogy Divergent.

Digambarkan pada film Divergent bahwa bumi sedang mengalami kerusakan bahkan sisi kemanusiaanpun dipertanyakan. Untuk mempertahankan keberadaan umat manusia maka dibuat pembagian kelompok berdasarkan sifat dominan yang dimiliki. Di film pertama hingga kedua masih berkisah seputar perjuangan sekelompok manusia untuk bertemu sekelompok manusia lain yang berada di luar tembok pembatas. Nah, dalam film Allegian ini kelompok tersebut berhasil menembus tembok pembatas sehingga dapat ke luar menuju peradaban yang lebih baik.

Paling tidak itu yang diharapkan oleh kelompok tersebut, tetapi apa yang mereka bayangkan sangat bertolak belakang. Tidak ada ladang yang hijau, manusia yang ramah, sekelompok binatang atau danau yang indah. Yang ada hanyalah tanah tandus, air hujan darah akibat cemaran mineral, dan langit tanpa pantulan biru laut yang mempesona.

bumi

Kondisi bumi yang rusak dalam film Allegiant, sumber: The Divergent Series: Allegiant Official TV Spot – β€œ#1 Movie”

Melihat tayangan tersebut membuat saya tersadar mungkin saja kejadian itu akan menjadi kenyataan pada suatu hari nanti. Bumi yang dulu hijau mungkin akan gersang dan tidak lagi lestari. Lalu bagaimana nasib generasi masa depan kita nanti?

Sayapun penasaran dan mulai mencari bagaimanakah kondisi bumi saat ini, paling tidak di negara Indonesia yang merupakan salah satu negara subur dengan hutan tropisnya. Dari hasil pencarian, saya menemukan beberapa hal yang patut kita waspadai.

Berkurangnya luas hutan (deforestasi)

Berdasarkan informasi yang diberikan oleh National Geographic disebutkan bahwa laju deforestasi hutan Indonesia mencapai 840.000 hektar pada tahun 2012 seperti yang tertulis pada hasil penelitian di Natural Climate Change. Laju deforestasi ini mengalahkan Brasil sebesar 460.000 hektar pada tahun yang sama. Namun Kementerian Kehutanan mengklarifikasi bahwa laju deforestasi di Indonesia hanya berkisar 450.000 hektar saja tiap tahunnya [1].

Tetapi angka tersebut juga termasuk angka yang besar bukan? Padahal Indonesia termasuk negara yang diharapkan dapat memberikan sumbangan oksigen dan menyerap emisi karbon bagi dunia selain Brasil, Rusia, Kanada serta negara lain yang memiliki jumlah hutan terbesar.

bumi

Sumber: http://www.mongabay.co.id/2013/11/15/temuan-peta-hutan-google-laju-deforestasi-meningkat-di-indonesia/

Berkurangnya luas hutan ini akibat dari adanya illegal logging, konversi kawasan hutan, penambangan, kebakaran hingga penebangan yang tidak lestari. Itu sebabnya hingga tahun 2012, tercatat bahwa luas dan penyebaran lahan kritis hutan di Indonesia masih cukup tinggi yaitu sebesar 27.295.000 hektar berdasarkan data yang tercatat pada Biro Pusat Statistik tahun 2014 [2].

Itu baru di Indonesia saja lho ya, bagaimana dengan kondisi hutan di negara lain? Sebut saja Brazil, negara tropis yang memiliki hutan hujan tropis terbesar kedua di dunia juga tak luput dari laju deforestasi. Hingga akhir juli 2013 diketahui bahwa hutan Brazil sudah mengalami deforestasi hingga mencapai angka 29%. Diperkirakan lebih dari 1.000 km persegi luas hutan Brazil telah hancur di tiap negara bagian [3]. Penurunan luas lahan hutan tentunya akan memberikan dampak negatif bagi bumi serta makhluk hidup yang ada di dalamnya sehingga laju deforestasi harus dihentikan.

Berkurangnya kualitas sumberdaya air

Berkurangnya sumberdaya hutan juga mempengaruhi kualitas sumberdaya air. Hutan sebagai daerah hulu adalah penyimpan mata air yang menopang segala kehidupan. Salah satu contohnya adalah hutan yang ada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Gunung Gede Pangrango. Hutan di Gunung Gede Pangrango adalah penyuplai sumber air bersih bagi masyarakat di sekitarnya hingga ke ibu kota. Dulunya aliran air dari hutan gunung ini dialirkan melalui sungai dengan kualitas yang cukup baik. Namun saat ini, kualitas air pada sungai bahkan di daerah penyangga sekalipun seperti halnya Bogor sudah mengalami penurunan. Sehingga eksploitasi terhadap sumber air bersih perlahan merambah hingga dataran tinggi di kaki gunung.

bumi

Pipa ini melintang dari sumber mata air yang ada di kaki Gunung Guntur menuju pemukiman warga

Eksploitasi sumberdaya air yang berlebihan tentu akan membuat langkanya sumberdaya air bersih yang menjadi kebutuhan vital makhluk hidup. Sungai besar yang mengalir di sepanjang jalan kota seolah menjadi pembuangan sampah bersama. Tidak hanya sampah fisik, sampah yang bersumber dari limbah rumah tangga dan industri turut serta memberikan sumbangan terhadap keberlangsungan sumberdaya air. Jika kita biarkan, maka suatu saat nanti kita akan kebingungan untuk mendapatkan sumber air bersih untuk kebutuhan vital sehari-hari.

Mengenai sumberdaya air sudah pernah saya tuliskan dalam postingan berikut ini:

Baca: Bahu-Membahu Melestarikan Air dan Lingkungan

Alih fungsi lahan yang merajalela

Cibinong tempat tinggal saya dulunya adalah salah satu DAS yang didominasi oleh hutan bambu. Saat itu mata air mudah ditemukan dimana-mana, namun sekarang dengan maraknya pembangunan pemukiman, hutan bambu sudah tidak lagi ada, berganti dengan pemukiman yang nyaris hingga mencapai ke pinggir DAS seingga debit mata air menjadi berkurang.

Tidak hanya itu, lahan pertanian yang menjadi sumber pangan bagi seluruh masyarakat juga mengalami degradasi mencapai 80.000 hektar per tahun [4]. Berkurangnya lahan pertanian ini akibat dari perluasan pemukiman serta pengembangan industri. Jika kondisi ini terus berlanjut bagaimana dengan kondisi ketahanan pangan kita?.

Peningkatan jumlah penduduk

Alih fungsi lahan akibat pengembangan pemukiman erat kaitannya dengan peningkatan jumlah penduduk. Diproyeksikan oleh PBB bahwa populasi absolut Indonesia di masa depan, akan memiliki jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa pada tahun 2015, lebih dari 270 juta jiwa pada tahun 2025, lebih dari 285 juta jiwa pada tahun 2035 dan 290 juta jiwa pada tahun 2045 [5].

bumi

Pertumbuhan Populasi di Indonesia, Sumber: http://www.indonesia-investments.com/id/budaya/demografi/item67

Besarnya jumlah penduduk ini tentu akan berdampak pada berbagai sektor termasuk kebutuhan pangan, tingkat pengangguran, kesehatan hingga kriminalitas. Tanpa adanya management yang baik dan kesadaran untuk melestarikan lingkungan, maka ledakan penduduk juga dapat menjadi suatu ancaman bagi ekosistem.

Pencemaran lingkungan (tanah, air, udara)

Baru kemarin kita merasakan bencana kabut asap yang diakibatkan oleh kebakaran hutan gambut. Masih terasa sekali bencana asap ini menyebabkan berbagai macam kerugian seperti timbulnya penyakit ISPA, menggangu perekonomian, transportasi hingga kepercayaan negara lain terhadap Indonesia dalam menangani bencana ini. Maklum, asap yang dihasilkan juga mencemari udara negara tetangga kita sehingga menjadi sorotan dalam hal keseriusan menangani bencana asap. Bersyukur bahwa kualitas udara di beberapa daerah di Indonesia masih termasuk level aman termasuk ketika bencana mereda. Namun kita juga perlu waspada terhadap pencemaran lingkungan lainnya yaitu rusaknya kondisi tanah.

bumi

Lahan sawah ini rusak dipenuhi sampah dan dibiarkan saja oleh pemiliknya

Kita ambil contoh kecil saja yaitu pemakaian sumberdaya lahan untuk usaha pertanian. Belum semua pelaku pertanian sadar akan pentingnya mengembalikan unsur hara tanah dengan pemberian pupuk organik atau unsur hara lainnya yang ramah lingkungan. Hal ini menyebabkan tanah menjadi terlihat kurus, tandus, tidak gembur sehingga mudah sekali pecah merekah karena tidak ada kandungan unsur hara. Jika hal ini terus dibiarkan maka akan mengganggu produksi bahkan keberlangsungan organisme yang hidup di dalam tanah.

Bagaimana dengan kondisi air? Jika dulu kita masih melihat ikan kecil berenang di antara parit sawah. Sekarang kondisi tersebut sulit ditemukan pada lahan pertanian yang dekat dengan kota, karena telah berganti dengan tumpukan sampah yang terbawa aliran air pada parit-parit sawah.

Pemanasan Global

Peningkatan suhu bumi terjadi akibat adanya efek rumah kaca. Salah satu gas penyumbang efek rumah kaca adalah CO2 yang secara kasat mata tidak terlihat namun sangat berbahaya. Gas CO2 dihasilkan dari pembakaran, pertanian dan industri termasuk hasil pernapasan kita. Untuk itu sangat diperlukan sekali perombak gas karbon menjadi oksigen yang salah satunya berasal dari tumbuhan.

bumi

Efek Rumah Kaca, Sumber: http://sains.me/gas-rumah-kaca-dan-panas-yang-terperangkap-di-atmosfer-bumi

Berdasarkan informasi dari United Nation Information Centre diketahui bahwa konsentrasi CO2 di atmosfer mencapai 397,7 bagian per juta (ppm) pada tahun 2014. Konsentrasi CO2 di belahan bumi bagian utara telah meningkat secara signifikan dari tingkat 400 ppm pada musin semi tahun 2014, ketika CO2 sangat berlimpah. Pada musim semi 2015, konsentrasi CO2 rata-rata global telah melampaui 400 ppm [6].

Wow bayangkan jika gas rumah kaca meningkat, apa yang terjadi? Pemanasan global menyebabkan es mencair di kutub utara dan kutub selatan sehingga meningkatkan permukaan air laut, terjadinya kekeringan yang mengancam kondisi pangan, bencana banjir serta timbulnya penyakit. Kita harus benar-benar serius menanggapi ancaman gas rumah kaca, karena lingkupnya sudah mencapai global sehingga negara manapun akan mengalami hal yang sama.

Bencana alam

Bencana alam terjadi akibat kelalaian maunia maupun fenomena alam. Bencana banjir dan longsor adalah jenis bencana yang salah satunya disebabkan oleh kelalaian manusia. Laju deforestasi menyebabkan terjadinya penggundulan hutan sehingga bencana banjir bandang tidak terelakkan. Sedangkan bencana longsor di lereng-lereng perbukitan terjadi karena tidak adanya pepohonan di sekitar lereng sehingga dikala debit air hujan meningkat, maka tanah tidak mampu menahan tanah dan jatuh menimpa pemukiman yang ada di bawahnya. Jika itu sudah terjadi maka korban bencana jiwa dan kerugian baik material maupun psikis sulit untuk dihindarkan.

bumi

Banjir di rumah warga akibat penyempitan aliran sungai

Munculnya gejala penyakit baru

Perubahan iklim dan lingkungan juga turut serta membawa gejala penyakit baru. Penyakit baru ini disebabkan oleh kuman yang berevolusi sehingga membawa dampak buruk bagi kesehatan manusia. Jika tidak diimbangi dengan kondisi lingkungan yang bersih dan hygienist maka kuman penyakit ini akan mudah berkembang menjangkiti siapapun yang rentan terhadapnya. Umumnya kuman penyakit lebih banyak berasal di wilayah yang padat penduduk serta tidak disertai dengan lingkungan hidup yang sehat seperti rendahnya kualitas drainase dan aerasi.

Krisis pangan

Nah, ini juga menjadi satu hal yang membahayakan jika kita abai terhadap kondisi bumi saat ini. Ancaman global warming menjadikan krisis pangan dapat terjadi pada suatu waktu akibat kekeringan. Masih ingatkan dengan gejala El-Nino pertengahan tahun 2015 lalu? Beberapa lumbung pangan mengalami kekeringan sehingga tidak bisa menghasilkan. Salah satu kejadian kekeringan akibat El-Nino sudah saya tuliskan dalam postingan berjudul Patroli Kekeringan. Hal ini membuat pemerintah waspada terhadap ketersediaan pangan pokok bagi masyarakat.

bumi

Kekeringan di salah satu sawah pada gejala El-Nino tahun 2015

Informasi dari Majalah Sains Indonesia disebutkan bahwa Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memprediksi penurunan produksi beras di negara-negara produsen utama beras dunia mencapai 67,587 juta ton. El Nino kuat dan panjang berpengaruh besar pada penurunan produksi sebesar 14,13% dari 478.285.000 pada tahun 2014 menjadi 410.698.000 ton pada tahun 2015. Penurunan signifikan juga dialami oleh Thailand sebesar 2,35 juta ton atau sekitar 12% dari poduksi tahun sebelumnya sebesar 18,75 juta ton menjadi 16,4 juta ton tahun 2015 [7].

Kemudian yang perlu dipikirkan adalah bagaimana memenuhi kebutuhan pangan masyarakat karena meningkatnya jumlah penduduk juga harus diimbangi dengan kebutuhan pangan. Sementara alih fungsi lahan pertanian masih saja terus terjadi. Jangan sampai kita mengalami krisis pangan karena sekali lagi pangan juga merupakan kebutuhan vital makhluk hidup.

Semua point di atas adalah beberapa hal yang harus kita waspadai terkait dengan kondisi bumi saat ini. Kadang kita sebagai manusia terlena dengan terus memanfaatkan sumberdaya yang ada tanpa mengembalikannya seperti semula. Jika semua itu terus kita lakukan, maka bagaimana kelak nasib anak cucu kita di masa depan?

Sumber Informasi:

[1] National Geographic. 2014. http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/07/laju-kerusakan-hutan-indonesia-mengalahkan-brasil [diakses tanggal 8 April 2016].

[2] BPS. 2016. https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1720. [diakses tanggal 8 April 2016].

[3] BBC. 2014. http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2014/09/140911_iptek_amazon. [diakses tanggal 8 April 2016].

[4] Pikiran Rakyat. 2013. http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2013/12/25/263653/alih-fungsi-lahan-pertanian-di-indonesia-80-ribu-hektar-tahun. [diakses tanggal 8 April 2016].

[5] Indonesia Investment. http://www.indonesia-investments.com/id/budaya/demografi/item67. [diakses tanggal 8 April 2016].

[6] UNIC. 2015. http://unic-jakarta.org/2015/11/10/konsentrasi-gas-rumah-kaca-capai-rekor-tertinggi-badan-cuaca-pbb/. [diakses tanggal 8 April 2016].

[7] Sain Indonesia. 2015. http://www.sainsindonesia.co.id/index.php/rubrik/laporan-utama/2046-krisis-pangan-global [diakses tanggal 8 April 2016].

61 Comments

  1. Diarysivika

    Reply

    Duh, mba ulasannya selalu lengkap πŸ˜€ saya sampai geleng-geleng kepala hahahaha

  2. Reply

    Isu ketersediaan air juga lagi jadi isu hot di Jogja. Padahal jogja punya 3 sungai besar. Karna pembangunan hotel & mall disini gila2an. Dan beberapa di antaranya enggak pake PDAM tpi ambil air tanah. Jadinya warga was-was kehabisan air bersih. >.<

  3. Wida Zee

    Reply

    Wah aku malah belum nonton kelanjutan film dari Divergent, film yang menunjukan bumi lain juga film The Martian itu film bagus banget menurutku mbak Evrina πŸ™‚

  4. awenfals

    Reply

    Tingkat kesadaran yang minim memang menjadi pemicu terjadinya kerusakan di bumi pertiwi ini.
    saya kira peningkatan jumlah penduduk tidak terlalu berpengaruh kalau alam di negeri ini tidak tercemar mah, toh tidak ada manusia yang kekal hidup di bumi ini kan Teh ? πŸ™‚

  5. Reply

    kerusakan bumi diakibatkan ulah manusia itu sendiri, ladang dan sawah d daerah sya sudah habis di gusur oleh pengembang, biasa kalau lagi libur pergi ke sawah mancing belut skrg sdh tidak bsa lagi πŸ™‚

  6. Reply

    Ulasan Jeng Rina sungguh komprehensif, bumi sedang merintih. Trim Jeng berbagi ilmu cinta bumi. Salam

  7. Reply

    aku biasanya suka nonton natgeo channel, tentang perubahan alam bahkan migrasi hewan yang tidak seperti biasanya atau secara besar – besaran karena ulah manusia itu sendiri πŸ™

  8. Reply

    Saya eksploitasi hutan dalam bentuk buku dan jalan-jalan, Mbak.

    Eh, lupa, jualan mebel juga ding…. hihihi… tapi jati kan memang ditanam untuk dipanen. πŸ˜‰
    Semoga semakin banyak yang sadar lingkungan, terutama perusahaan2 besar yg mengambil porsi terbesar.

    • Reply

      kalo itu sama mbak, kalo hutan indutri beda ya, karena ada peremajaan kembali, yang dipermasalahkan karena tidak sustainable itu

  9. Reply

    kita harus menjaga bumi ini sebaik-baiknya. karena bumi semakin tua umurnya. salah satunya menjaga yaitu, tidak membakar hutan, tidak membuang sampah di sungai2. dll. semoga kedepannya lebih bisa baik lagi menjaga bumi.

  10. Reply

    saya baru nonton divergent ajah Mba Ev, Jadi penasaran mau nonton Allegian ini πŸ™‚

    ayo jaga bumi kita..!!
    selalu sedih setiap melihat kerusakan alam yang nampaknya semakin hari semakin luas πŸ™

  11. Reply

    Musim kering, banyak kabut asap kebakaran dan air susah. Musim hujan, kebanjiran.
    Hem, sedih rasanya.
    Padahal kampanye menjaga lingkungan banyak. Tapi kok masih banyak yg kurang care? Semoga kedepannya semakin banyak yang peduli dengan lingkungan. Setidaknya bisa melakukan tindakan kecil seperti mengurasi sampah plastik. Oka sendiri kalau gak diingatkan suka lupa. Aaa, thank you mbak ev sudah di ingatkan kembali pentingnya menjaga bumi. πŸ™‚

  12. Pingback: Perempuan Menyulam Bumi | RyNaRi

  13. Reply

    Mari kita lakukan hal-hal mudah yang kita bisa untuk menjaganya.. misalnya mematikan listrik yang tidak dibutuhkan, mengurangi konsumsi plastik, etc

  14. Reply

    Wah, artikelnya mantap, didukung oleh banyak data.
    Tampaknya saja kita masih baik2 saja, padahal kondisi bumi sudah kritis. Kebayang, kalau gaya hidup manusia masih seperti ini terus, suhu bumi terancam naik 4 derajat celsius. Dan ketika itu terjadi, keruntuhan global yg kita hadapi.

    Kunci sustainabilitas itu memang harus inget nasib anak-cucu kelak.

  15. fajri

    Reply

    Kalau kesadaran akan pentingny menjaga lingkungan pasti semuanya akan lebih baik
    mari mulai dari diri kita sendiri

  16. fajri

    Reply

    Kalau kita memahami akan pentingnya menjaga lingkungan pasti semuanya akan lebih baik
    mari mulai dari diri kita sendiri

  17. Levina Mandalagiri

    Reply

    Iya Mbak, suka sedih juga yak. Ada bagusnya juga sih kita mulai dari hal-hal kecil untuk melakukan perubahan besar. Mungkin saya sendiri masih melakukan pemborosan-pemborosan tapi setidaknya dengan muncul kesadaran peduli terhadap bumi, lambat laun kita akan mengambil langkah pasti ya Mbak…hehe.

      • Levina Mandalagiri

        Reply

        iya Mbak. Kadang imaginasi saya suka kemana-mana. Gimana kalau nanti anak saya ternyata ngga bisa mendapatkan air dalam artian air benar2 susah di dapat. Bagaimana hidupnya kelak…jadi takut sendiri Mbak. Saya suka kebanyakan berandai andai…hiks

  18. Reply

    Bumi semakin tua.. And have more and more new challenges nowadays.. Pembahasan mengenai climate change dan segala dampaknya cukup panjang di PBB mba. Satu hal yang pasti, it’s our shared responsibility to protect God’s green earth! All of us..

  19. Reply

    Waw lengkap banget nih mbak, saya membaca artikel mbak jadi semangat soalnya komplit banget mbak πŸ™‚
    Di kampung saya juga sawah2 semakin menipis soalnya banyak yang membangun rumah dan perum-perum mbak, jadi ngak bisa main lagi tuh mbak ,..

  20. Mia

    Reply

    Jadi inget sawah di kampung pernah diminta disewa tengahnya aja buat dibikin jalan supaya truk bisa lewat ngangkut pasir yang ada di bukit di seberang sawah. Aneh kali tu orang yah sawah mau ditimbun tanah buat jalan. Ga ada kasiannya sama tanah

  21. Aireni Biroe

    Reply

    Liat ikan-ikan kecil di sawah mengingatkan pada masa kecilku dulu, Mbak hehe

  22. Reply

    Hmm film yang bertema bumi pasti seru termasuk saya juga penggemar film yang bertemakan bumi karena kebanyakan film yang saya tonton itu bertemakan tentang bumi.

  23. Donna Imelda

    Reply

    Tulisan Evrina saking lengkapnya bisa jadi referensi ilmiah populer lho, keren euy.

  24. Pingback: Potong 10 Persen, Membuat Kita Menjadi Generasi Hemat Energi

  25. Cara Mencegah Stroke

    Reply

    klo baca2 artikel semacem ini tuh bikin baper ya πŸ™ kerasa bgt kalo bumi udh makin tua

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.