Asiknya Liburan Sambil Bernostalgia di Malang

Sudah dari Januari kemarin saya sudah merencanakan untuk kembali ke Malang, kota indah nan sejuk yang berada di Provinsi Jawa Timur (Jatim). Malang selalu menjadi kota yang saya rindukan. Selain keindahannya, suasana serta destinasi wisata yang beraneka ragam  mulai dari kuliner hingga wisata budaya membuat siapapun ingin mengunjunginya.

Kota ini tidak hanya cocok untuk liburan melepas penat. Wisata heritage membuat kita merasakan atmosfer nostalgia Malang Tempo Dulu. Ya, ketika dulu masih berada di Jatim saya sering diajak oleh teman untuk mengikuti festival Malang Tempo Dulu. Pada acara ini ditampilkan berbagai hal yang mengingatkan kita tentang Malang sewaktu masih berada pada zaman colonial Belanda.

Pada era colonial Belanda, Kota Malang pernah mendapatkan penghargaan The Loveliest Town in Southeast Asia. Pada masanya, Malang memang menjadi kota favorit para ekspatriat Belanda untuk menghabiskan hari tua. Meskipun waktu sudah berlalu, Malang masih diakui sebagai salah satu kota tercantik di Indonesia. Tak heran jika di beberapa sudut kota terdapat beberapa bangunan bergaya arsitektur kolonial yang membuat Malang semakin dirindukan.

Bangunan Belanda yang terkenal kokoh ini masih sangat terawat. Selain untuk dilihat, bangunan ini juga berfungsi lho. Salah satunya digunakan sebagai hotel untuk menginap para wisatawan. Ada dua hotel paling terkenal di Malang yang mengembangkan peninggalan bersejarah ini menjadi tempat untuk beristirahat sekaligus bernostalgia, yaitu Hotel Tugu dan Hotel Riche.

Hotel Tugu

Jika teman-teman mau beristirahat atau sekedar makan malam sambil bernostalgia dengan Malang Tempo Dulu, Hotel Tugu adalah jawaban yang tepat. Hotel ini terkenal dengan koleksi barang antik yang telah berusia ratusan tahun. Benda-benda kuno yang bersejarah ini sangat menarik para wisatawan lho. Suasana adem khas tempo dulu membuat kita nyaman untuk berlama-lama di sana.

Ada satu ruangan yang paling terkenal di hotel ini yaitu The Sugar Baron Room. Ruangan ini merupakan ruangan yang didedikasikan khusus untuk Oei Tiong Ham dan anaknya Oei Hui Lan. Siapa sih Oei Tiong Ham ? Beliau adalah “Raja Gula Semarang” yang terkenal itu lho. Nah, di ruangan ini terdapat lukisan asli Oei Hui Lan yang terlihat sangat mirip dengan sosok semasa hidupnya. Lukisan ini selalu menjadi pusat perhatian pengunjung hotel beserta dengan koleksi benda-benda antik peninggalan masyarakat Jawa Peranakan yang ada di sekelilingnya.

Selain interior khas tempo dulu yang unik, hotel ini juga memanjakan para pengunjung dengan layanan premium yang menjadi ikon fasilitas Hotel Tugu. Apabila kita menginap di sana, setiap sore kita akan dijamu dengan daily sunset high tea. Teh premium yang berkualitas semakin terasa nikmat dengan sajian jajanan tradisional Malang yang disediakan oleh hotel. Wow asik banget kan?.

Itu belum seberapa bila dibandingkan dengan layanan premium yang satu ini yaitu sensasi sarapan pagi di Gunung Bromo. What? Iya Hotel Tugu juga menyediakan paket sarapan pagi di Gunung Bromo. Sensasi sarapan sambil menikmati matahari terbit di atas gunung paling populer di Jawa Timur itu tak tergantikan. Gunung Bromonya saja sudah indah, apalagi jika sambil sarapan di sana. Perut dan mata sama-sama kenyang. Saya sendiri sudah pernah merasakan sensasi memasak dan sarapan di puncak gunung, nikmatnya itu lho lantaran mendapatkan perasaan nyaman dan bahagia tersendiri. Sekali-kali cobain deh sarapan yang anti main stream di dekat gunung, pastinya nikmat sekali.

Layanan premiumnya tidak hanya berhenti disitu saja lho. Masih ada layanan premium lainnya yaitu layanan spa dari Hotel Tugu yang tercatat dalam daftar world’s best spas by Robb Report USA. Apsara Spa sebagai penyedia layanan spa di Hotel Tugu selalu menggunakan resep tradisional dan bahan-bahan alami berkualitas untuk memanjakan tamunya. Itu sesuai sekali dengan tema tempo dulu yang diusung oleh pihak hotel. Resep tradisional dan bahan alami berkualitas khas Indonesia terkenal keeksotisannya lho.

Tapi, kalau dipikir-pikir semua layanan premium yang disediakan oleh Hotel Tugu pastinya tidak murah ya. Namanya juga premium maka tarifnya juga premium. Namun jangan khawatir, kita bisa kok mencari harga hotel yang sesuai dengan budget baik melalui website maupun aplikasi pada smartphone. Kita bisa melakukan proses pencarian dan membandingkan harga antara hotel satu dengan yang lainnya dengan lebih mudah dan cepat dengan menggunakan aplikasi smartphone. Contohnya adalah perusahaan Traveloka yang sudah mengembangkan layanan Traveloka App-solutely.

Layanan tersebut dapat membantu kita dalam membooking hotel di berbagai daerah termasuk kota Malang via mobile app. Jadi, melalui mobile application ini kita bisa mendapatkan harga yang lebih murah dibandingkan dengan booking via website. Kalau sudah begini, kita bisa dong menikmati layanan premium Hotel Tugu. Bukan begitu?!.

Hotel Riche

Ingin bernostalgia dengan Malang Tempo Dulu tetapi memiliki budget terbatas? Di sini jawabnnya. Hanya dengan tariff kurang dari Rp. 500.000 saja per malam kita sudah bisa mendapatkan kamar yang ekslusif ditambah dengan keramahan para staf hotel.

Hotel Riche merupakan hotel tertua di Malang yang dibangun pada tahun 1938. Menginap di Hotel ini akan membawa kita seolah berada di zaman Belanda dulu. Seluruh sudut hotel yang bernuansa colonial akan membawa kita seolah kembali ke zaman dulu. Dijamin deh kita akan merasa seperti para ekspatriat Belanda itu yang selalu mendapatkan layanan prima.

Selain bangunannya yang antik, dekorasi interior hotel juga menjadi nilai plus tersendiri lho. Setiap kamar di hotel dilengkapi dengan furnitur buatan tangan para pengrajin yang berdesain klasik. Ah benar-benar nyaman rasanya, senyaman masa dulu yang dirindukan.

Untuk mencapai Hotel Riche sangat mudah karena letaknya berada tepat di jantung kota Malang. Selain lokasinya yang mudah ditemukan, hotel ini dekat dengan alun-alun dan Toko Oen yang terkenal dengan sajian tempo dulu. Lengkaplah sudah, nuansa tempo dulunya dapet, kulinernya juga dapet. So, mau liburan sambil bernostalgia? Ke Malang aja!

16 Comments

  1. Reply

    2 orang kakakku rumahnya di Malang (Sukarno Hatta dan Dinoyo). Jadi hampir tiap tahun mudik ke Malang. Pesona Malang salah satunya…tidak macet

  2. Reply

    Malang juga sering lo dijadikan homebase bagi pekerja di luar kota. Tempat wisata banyak, kuliner juga banyak.
    Tapiiii, malang itu macet loh, hehe….., maklum saya tinggal di malang dan tiap hari melalui jalan-jalan di malang. Yah, walaupun tidak semacet Surabaya sih, hehe…..
    Salam kenal ya ^^

    • Reply

      tidak semacet bogor yang banyak angkotnya kan ya? hehe. asiknya si mbak di Malang, adem banget kan mbak di sana, salam kenal juga

  3. Reply

    Dulu, waktu masih ngantor, kalau lagi dinas ke Jatim, makan malamnya suka diajak ke hotel tugu. Tpai, nginepnya tetep di Surabaya 😀

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.