Belajar Membuat Video Perjalanan

video-perjalanan

Saya paling senang mengabadikan setiap moment perjalanan baik dalam bentuk foto maupun video perjalanan. Bagi saya, setiap jejak langkah yang dipijakkan pada tanah berbeda itu sangat berharga untuk diabadikan. Gunanya untuk apa? untuk mengenang kembali hal-hal penting yang terjadi selama perjalanan. Kadang itu menjadi ide tersendiri bagi saya untuk menulis lho. Ketika mendaki gunung walau di medan yang agak sulit sekalipun saya berusaha untuk mengabadikan lokasi serta suasananya. Hal itu saya lakukan untuk menghidupkan tulisan dan agar pembaca dapat melihat suasana yang sebenarnya walaupun sudah saya deskripsikan melalui tulisan.

Akan tetapi, saya masih kesulitan ketika membuat video perjalanan. Selain dari segi teknis pengambilan gambar, saya juga masih harus belajar dalam menghasilkan video perjalanan yang bermakna. Itu sebabnya pada tanggal 15 Mei 2016 yang lalu, saya bersama teman-teman lainnya belajar membuat video perjalanan bersama Mas Teguh Sudarisman. Sudah pada tau kan Mas Teguh itu siapa? Yup Mas Teguh adalah Founder Penulis Pengelana sekaligus Editor-in-Chief TGIF! Magazine dan KALSTAR Inflight Magazine. Mau tau apa saja yang saya pelajari? Berikut akan saya ulas apa saya yang saya dapat selama belajar bersama Mas Teguh, tetapi tidak saya jabarkan secara detail ya.

Mengapa Membuat Video Perjalanan?

Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, saya senang mengabadikan moment ketika melakukan perjalanan selain untuk mengenang kembali, juga sebagai alat untuk memberikan kondisi real kepada para pembaca. Nah, menurut Mas Teguh, memasukkan video ke dalam tulisan blog itu juga perlu lho karena kebanyakan orang tertarik apabila melihat tulisan dengan deskripsi yang jelas tidak hanya melalui gambar atau foto. Ketika melihat tayangan audio visual berbentuk video, orang akan mudah menangkap pesan yang diberikan meskipun dalam beberapa menit saja. Dan video ini bermanfaat untuk memberikan penjelasan yang rumit apabila dituangkan di dalam tulisan.

Berdasarkan pemaparan dari Mas Teguh diketahui bahwa trend orang menonton video itu meningkat lho. Hal ini memberikan gambaran bahwa kita dapat menciptakan peluang melalui perangkat audio visual ini. Pada tahun 2016 saja diketahui bahwa 50% orang sudah menonton video dari perangkat mobile dan 45% video yang ditonton via perangkat mobile umumnya kurang dari 6 menit. Kemudian diperkirakan pada tahun 2018 nanti 69% trafik internet ada dalam bentuk video (sumber: materi workshop show your travel stories with smartphone).

video-perjalanan

Nah, khusus untuk video dengan durasi yang pendek, ternyata itu disukai oleh kebanyakan orang lho. Mereka cenderung bosan membaca artikel yang panjang tetapi betah menonton video karena framenya berganti setiap beberapa detik. Saya termasuk yang senang dengan penggunaan video dalam tulisan karena lebih atraktif sehingga tidak membuat bosan.

Jika sudah mengerti mengapa video perjalanan itu penting, sekarang kita lihat bagaimana sih short travel video itu?. Eh tapi boleh lah melihat video perjalanan saya (berbentuk photo story dalam video) yang saya masukan dalam sebuah postingan blog. Ini sebelum workshop jadi harap maklum ya kalau belum berkualitas dan lebih banyak narsisnya hehe.

Baca: Petualangan Mahameru: (5) Summit Attcak (Arcopodo-Puncak Mahameru-Ranu Kumbolo)

Membuat Video Perjalanan

Sebelum membuat video perjalanan, kita perlu mengetahui dulu sebenarnya berapa durasi ideal dari video yang kita buat agar penonton dapat mengambil pesan penting di dalamnya. Jangan sampai terlalu panjang sehingga membuat penonton menjadi bosan atau terlalu pendek tetapi pesan yang disampaikan terlalu padat sehingga belum tentu tersampaikan.

Nah, durasi yang cocok untuk membuat video pendek adalah sekitar 2-3 menit yang memuat beberapa frame. Mas Teguh mencontohkan kalau kita mau membuat video pendek, maka dalam satu kali pengambilan gambar (shot) memuat durasi sepanjang 5 detik. Jadi, kalau nanti kita membuat video pendek dengan durasi 3 menit, maka kita harus melakukan pengambilan gambar dengan frame yang berbeda sebanyak 36 shot. Bagi yang belum ahli seperti saya ini, kita dapat membuat bagan khusus atau urutan pengambilan gambar di sebuah catatan. Tetapi sebelum itu kita harus menguasai dulu medan yang akan kita ambil gambarnya berikut dengan cerita yang ingin disampaikan.

Supaya lebih mendapat gambaran lagi, Mas Teguh memberikan 10 langkah dalam membuat video sebagai berikut:

  1. Bertanya pada diri sendiri apakah memang perlu belajar membuat dan mengedit video?

Saya sempet berpikir kenapa Mas Teguh bertanya seperti ini ya? mungkin ini diperlukan mengingat hal yang akan dilakukan nanti butuh kesabaran termasuk dalam proses pengambilan hingga editing. Kalau saya perlu banget, dan memang suka mengedit video walau hasilnya masih video narsis hehe.

  1. Menyiapkan perangkat keras/alat-alat untuk syut maupun edit

Saya pernah melibatkan seorang teman ketika membuat video dengan menggunakan dslr. Luar biasa deh perlengkapannya, mulai dari tripod, lighting sampai microphone. Mas Teguh kemarin memperlihatkan beberapa perangkat yang dibutuhkan ketika memproduksi video dengan menggunakan smartphone, tidak terlalu berat dan mahal seperti professional kok, masih terjangkau oleh kita-kita ini.

Berikut adalah perangkat yang dibutuhkan untuk memproduksi video: Smartphone (Android, iOS, WindowsPhone, Blackberry), Kamera poket, Tripod, Monopod/tongsis, Remote control/tomsis, Holder tripod, Microphone tambahan, Voice recorder (alternatif), Lakban, gunting, dan Laptop. Banyak aja Ev? Tidak harus semuanya ada kok, disesuaikan saja dengan kebutuhan. Buat saya yang terpenting harus ada smartphone atau kamera poket, tripod dengan holdernya serta microphone. Nah, kemarin itu saya naksir sama perangkat Egg timer yang ditunjukkan oleh Mas Teguh. Egg timer ini bermanfaat untuk memproduksi video yang berputar 360 derajat dengan menggunakan timer. Nanti coba dicari ya sambil googling.

video-perjalanan

Ini lho egg timernya

  1. Menyiapkan perangkat lunak/aplikasi untuk shooting maupun editing

Karena judulnya menggunakan smartphone, maka kita dapat menggunakan aplikasi yang dapat diunduh di smarphone. Kalau saya menggunakan aplikasi Power Director serta Viva Video untuk editing melalui smartphone. Aplikasi Power Director itu sudah oke lho karena fiturnya sesuai dengan yang ada pada PC. Jika tidak ingin ada water mark pada video yang kita hasilkan, teman-teman dapat meng-upgrade aplikasi tersebut.

  1. Mempelajari perangkat keras dan lunak tersebut

Nah ini penting, setelah mendownload aplikasi dan membeli beberapa perangkat pendukung, kita perlu banget untuk mencobanya sampai memiliki feel tertentu untuk mengambil angle terbaik ketika menghasilkan video termasuk proses editingnya.

  1. Mempelajari konsep dan teknik syuting

Teknis shooting ini ada macam-macam, saya tidak perlu menggunakan bahasa inggris ya, yang jelas ada tekniknya. Misalnya pengambilan dari kiri ke kanan atau sebaliknya, dari atas ke bawah atau sebaliknya, di zoom atau pengambilan dari jarak jauh dan sebagainya. Teknik ini nih yang masih harus saya pelajari lebih lanjut, yang pasti kita harus overall ya mengambil gambarnya.

  1. Merencanakan liputan

Sebelum membuat liputan tentu harus sudah membuat apa saja yang harus kita lakukan termasuk list objek yang akan dishoot, timingnya, duras hingga perlengkapan.

  1. Melakukan shooting

Ketika melakukan shooting kita bisa mengambil gambar secara berurutan berdasarkan rencana, atau tidak sesuai dengan urutan asalkan kita memberikan identitas yang jelas supaya tidak merepotkan sewaktu editing. Tetapi kemarin Mas Teguh memcontohkan agar proses shooting harus berurutan dengan menggunakan fitur play dan pause untuk memudahkan editing. Jika mau melakukan hal tersebut, berarti kita sudah harus memiliki konsep yang jelas.

  1. Melakukan editing

Nah ini bagian yang saya sukai yaitu proses editing. Nanti disesuaikan saja dengan aplikasi yang digunakan dan tema yang akan diangkat.

  1. Upload ke Youtube dan atau channel video lain

Sebaiknya kita memproduksi video dengan jenis format file MOV atau MP4 yang bagus untuk Youtube. Tetapi pilihlah resolusi yang Full-HD (1920×1080 piksel). Apabila sizenya terlalu besar, kita dapat meresizenya dengan menggunakan aplikasi HandBrake (handbrake.fr).

  1. Sharing dan promosi

Setelah memproduksi video berkualitas jangan lupa untuk men-sharenya ya. kita bisa memasukkan di dalam postingan blog atau di share melalui media sosial.

Yak, itu tadi garis besar materi yang saya dapatkan dari Workshop Show Your Travel Stories with Smartphone. Kalau mau bertanya lebih lanjut atau mau tau lebih lanjut dapat bertanya langsung ke expertnya yaitu Mas Teguh Sudarisman ya teman-teman. Habis ini saya masih ada PR lagi yaitu membuat video perjalanan, sebenarnya ada sih stok video tapi masih tremor semua alias goyang. Menurut Mas Teguh itu video belum berkualitas, artinya saya masih harus jalan-jalan lagi *eh belajar lagi ding hihi.

Mas Teguh dan para peserta, saya gak diajak T_T

 

61 Comments

  1. Teguh Sudarisman

    Reply

    Thanks liputannya Evrinaaaa! Nanti tanggal 4 Juni ada lagi ya workshop video ini di Setu Babakan. Yang mau ikut silakeun cek timeline Fb saya. Kalau punya komunitas dan mau undang saya juga boleh, asal cocok waktunya. (eh promosi :D)

    • Reply

      hahaha gpp mas, saya off dulu bulan juni, mau ujian soalnya, seru waktu itu, sayang saya gak ada fotonya, hiksss

  2. Reply

    Wah haris dicoba nih.selama ini lerlengkapannya cuma table sama aplikasi editing,itupun aplikasinya didownload dan editing dikerjakan pakai tablet. Kalau power director bisa di tab/smartphone ga?

  3. Reply

    Ya ampun tipo parah..haris=harus, table=tablet, lerlengkapan=perlengkapan.

    Wah tanggal 4 juni ya, setu babakan dekat dg rumah saya yg di depok Mas Teguh, kalau mau daftar kontak kemana? Siapa tahu, suami mau ikut setelah kukompor2in=D

  4. dian eato

    Reply

    saya sekarang lagi blajar ngedit video mba. ๐Ÿ˜€ emang betul trafik org menonton video skrg lg meningkat yah.. kuota saya sering habis kalau streaming. Hihihi…
    kalau mba ngedit video pake app apa ??

  5. Lestarie

    Reply

    Aku beberapa kali bikin video tapi gaptek pas mau editnya, Hiks. Harus belajar lebih keras lagi nih. Semoga bisa ikutan workshopnya Mas Teguh ๐Ÿ™‚

    Makasih sharingnya, Mbak. Nanti share ya videonya ๐Ÿ™‚

  6. Reply

    belom pede sih mba bikin video, masih sebatas mengamati dan belajar teori. Btw makasi banyak dapat masukan ilmunya ๐Ÿ™‚

  7. Reply

    Uda lama banget pengen bikin video TP ga jelas mau bagaimana modelnya.
    Kan sayang kalo bikinnya asal2an
    Kmrn pas Mas Teguh ngadain acara juga kepengen dateng tp ternyata ga bisa
    Pas banget ada ulasannya di sini.
    Makasih ya mba ev… ๐Ÿ™‚

  8. Reply

    Keren mbak Ev, tapi buat saya sangat ribet, hehe

    Tapi mantap nih sharenya, saya harus belajar lebih serius pokoknya ๐Ÿ™‚

  9. Reply

    Kak, besok-besok kalau ada workshop lagi, kita barengan ya. Enak nih, diringkasin hehehe.
    Nice post! Ayo semangat, dipakai ilmunya biar manfaat ๐Ÿ™‚

    Makasih udah posting yaaa ๐Ÿ˜‰

  10. Reply

    Aku pernah jalan bareng sekali dg para blogger traveller profesional. Gumun banget dg energi mereka, planning pribadi mrk diluar acara & gerakan mereka tu nggak norak kyk aku yg mburu foto. Kayaknya mrk nggak nunduk terus ke layar juga, tapi kok twitter & IG sudah langsung nongol aja foto2 & video perjalanan yg sdh edited. Bagus2. Ckckckk pancen beda orang2 spt beliau2 ini.

    • Reply

      iya mbak, para traveler ini sudah punya perencanaan matang, apa saja yang harus dilihat, diliput bahkan di upload, bahkan feelnya dapet banget

  11. Levina Mandalagiri

    Reply

    Belum bisa bikin video Mbak e. Bagaimana mula2 plus editingnya juga. Hiks.

  12. Reply

    sesuatu yang baik memang harus didukung dengan hal yang baik juga ya.. perangkat kerasnya belum punya nih, makanya video buatanku suka goyang2 heheu

  13. Reply

    Saya juga mau belajar seperti yang Mbak Evrina lakukan. Kalau foto, alhamdulillah semenjak mulai ngeblog, saya berusaha untuk memfoto setiap moment yang saya lalui selama baterai handphone masih mendukung.

  14. ayu

    Reply

    wah point yang nomor satu bagus banget, heheh makasih ya Mbak, terus semangat dan terus bekarya

  15. Reply

    Wah ini pasti karena efek perjalanan ke Gunung Rinjani kemaren. Dan mengabadikannya dalam bentuk video emang menjadi lebih hidup. Keberadaan video di dalam artikel sebuah blog juga menjadi nilai plus tersendiri, apalagi untuk blog hunter kayak saya *yang sering banget kalah* ๐Ÿ™

  16. Reply

    Tampaknya harus belajar juga nih. Beberapa kali traveling rada seru kokya sering bgt lupa video-in. Ha…ha… harus ngelengkapin peralatannya dulu nih keknya. TFS ya Ev ๐Ÿ™‚

  17. Reply

    Selama ini kalau bikin video gitu masih ngandelin vivavideo. Udah belajar premiere di kampus, tapi tetap belum “ngeh” juga hehehehe

  18. Ipin Lambar

    Reply

    wah banyak ilmu yang didapat ya mbk dari mengikuti workshop tersebut ya mbk. saya secara pribadi sih menyukai hal hal untuk mengabadikan moment tertentu,ya termasuk membuat vidio. namun vidio yang pernah saya hasilkan sangat buruk mbk. emz, kayanya perlu belajar banyak dari mbknya.

    btw, salam kenal mbk.

  19. Yuni Astutik

    Reply

    Nge-Vlog emang akhir-akhir ini juga lagi booming ya.. belum pengen coba sih.. perlengkapannya belom memadai hehe

  20. Reply

    Udah nyoba praktek dari baca livetweet temen2 yg ikutan. Masih perlu balajar teknis lebih buanyaak

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.