Berhasilkah Indonesia Menjadi Raja Pangan di Dunia?




pangan

Assalamualaykum para pembaca blog Evrina!

Sebenarnya meski orang mengenal saya sebagai blogger ekonomi dan investasi yang gondrong, dunia pertanian nggak pernah jauh dari kehidupan saya. Kakek nenek yang ada di pedesaan sudah sejak lama mengenalkan sawah, kebun, dan segala isinya. Namun karena dasarnya matre, ya jadinya kecenderungan lebih sering ngomongin duit.

Dalam beberapa kesempatan ke daerah-daerah, sering sekali saya tanyakan tentang kondisi pertanian setempat terutama padi. Meski enggak semua provinsi di Indonesia menggunakan padi sebagai makanan pokoknya, tidak bisa dipungkiri perekonomian kita sangat tergantung dari perut yang ujung-ujungnya ke masalah nasi.

Coba deh berandai-andai, jika  dalam sebulan BBM nggak disuplai, negeri ini akan ricuh, tapi butuh waktu sampai kericuhan itu terjadi. Nah seandainya yang di stop adalah nasi? Dijamin nggak butuh waktu lama sampai negeri yang terkenal dengan sebutan “gemah ripah loh jinawi”  ini kacau balau.

Benarkah kekurangan SDM di Bidang Pertanian?

Sayang seribu sayang, salah satu keluhan yang paling sering saya dengar dari teman-teman di pemerintah daerah itu begini:

Begini Mas, tanah disini sebenarnya bagus. Tapi pemudanya sungkan untuk bertani, mereka lebih memilih menjadi buruh pabrik. Lebih keren katanya. Jadilah orang-orang tua yang meneruskan pertanian disini.

Tulisan ini nggak akan menyalahkan siapapun, baik si pemuda, pemerintah daerah, pemerintah pusat, atau manapun. Tapi ayok coba kita telaah bareng-bareng, kita mulai dari keluhan kawan tadi. Benar nggak sih jumlah orang yang menggarap sawah itu berkurang dari tahun ke tahun.

pangan

Sebenarnya jumlah petani nggak turun banyak banyak banget sih, bisa dibilang masih produktif dan mencukupi kebutuhan kita semua. Dilihat dari sisi lahan garapan si padi ini juga meningkat meski tidak signifikan, walaupun terjadi perubahan iklim perekonomian yang cenderung industrialisasi sebagai bentuk modernisasi.

Terlebih lagi kita wajib takjub dengan terjaganya jumlah lahan. Memang jika kita telusuri lebih jauh, hal ini disebabkan munculnya daerah-daerah pertanian baru seperti Bangka Belitung, Maluku Utara, dan Papua Barat.

Secara realitas akan sulit untuk menjadi raja pangan dunia, sebabnya pertumbuhan penduduk jauh lebih cepat daripada pertumbuhan lahan maupun petani. Saya nggak akan nyuruh Anda ber-KB, malah minta kalian beranak pinak biar SDM nya makin banyak.

Tapi dari obrolan tadi, kita layak optimis loh! Paling tidak, Indonesia nggak akan kekurangan nasi jika bisa menjaga kesejahteraan petani dan jumlah lahan. Untuk menggenjot peningkatan produksi, bisa diakalin dengan menggunakan teknologi terbarukan.

Impor Beras

Tapi, di TV kok kita harus impor beras terus?

Pertanyaan itu juga sering banget muncul di kepala, ternyata sudah nggak ngomongin masalah agrikultur doang, tetapi sudah masuk ke area perekonomian bangsa dan negara. Baaah!!

Jadi begini saudaraku, ternyata yang namanya impor beras itu perlu dilakukan untuk menjaga harga bahan pangan stabil. Kalau pun naik, ya tidak akan signifikan. Sehingga dengan adanya kebijakan impor dari pemerintah, masyarakat luas tidak akan mengeluh dan terkaget-kaget dengan kenaikan harga si butir nasi.

Trus si petani dapat duit sedikit dong?

Muncul lagi pertanyaan ini. Well, sekarang Bulog memang membeli gabah lebih murah daripada tempat penggilingan padi atau rice mills. Namun, tidak ada larangan yang memaksa petani untuk menjual gabahnya dengan harga yang lebih tinggi daripada Bulog. Dengan demikian si petani bisa menjual gabahnya ke rice mills, dan memang praktik itu kadang terjadi sekarang ini.

Jadi kalau menurut saya sih, dengan adanya beberapa opsi tadi tidak akan merugikan petani. Yang harus diperhatikan justru penanggulangan hama yang kerap merusak jadwal panen ataupun maintenance tingkat kesuburan tanah. Dan itu tidak mudah, karena biaya investasi teknologinya cukup tinggi.

Dengan dana APBN 2016 yang cukup kecil dibandingkan bidang perumahan rakyat misalnya, maka inovasi teknologi perlu pikiran ekstra. Nggak ada salahnya juga untuk mengajak mahasiswa-mahasiswa pertanian, toh trend sekarang para mahasiswa ini sangat kreatif ketika meng-create sesuatu. Siapa tahu dengan bantuan mereka, akan ketemu solusi-solusi sederhana untuk menjawab pertanyaan yang luar biasa.

Nampaknya segitu dulu ya obrolan dari saya, satu hal yang saya salut dari Mba Evrina ini karena beliau adalah blogger agrikultural. Sangat langka! Majulah Indonesia, majulah perut rakyatnya!

Wassalamualaykum pembaca blog Evrina…

Biografi Penulis

Andhika Diskartes,

Ekonom dan investor gondrong dari diskartes.com jadwalnya kalau siang bekerja di Kemenkeu, sore nutup portofolio saham atau forex, dan malam nongkrong di kafe buat kenalan sama gadis-gadis.


Hai teman-teman, ini merupakan guest post dari sahabat saya Andhika, thanks to Andika yang sudah berkenan untuk membantu saya meng-update blog. Andhika bercerita tentang kemungkinan Indonesia menjadi raja pangan dunia. Menurut teman-teman mungkin tidak? Bagi saya sendiri bisa iya bisa tidak, iya kalau semua faktor (lahan, teknologi, kebijakan, regulasi dan SDM) mendukung, dan tidak kalau pertanian masih saja menjadi sektor yang belum diprioritaskan. Masalahnya sektor pertanian ini berhubungan dengan makhluk hidup (tanaman, ternak) dan juga iklim yang sulit untuk dikendalikan. Tetapi kita tidak boleh pesimis juga, karena ada tenaga-tenaga ahli termasuk mahasiswa yang dapat kita libatkan demi kemajuan pertanian, seperti yang disampaikan oleh Andhika.

Mengenai SDM bidang pertanian, memang di wilayah saya sendiri sulit untuk menemukan regenerasi, jarang sekali anak muda yang terlibat untuk terjun ke lahan langsung. Saya sampai berpikir bagaimana nasibnya pertanian nanti kalau regenerasinya kurang. Tapi teman-teman tidak usah terlalu memikirkan, biar kami-kami saja yang memang sudah menjadi tugasnya untuk memotivasi bapak ibu petani agar terus berkiprah di pertanian. Doakan saja semoga bapak ibu petani kita selalu sejahtera meskipun harga turun naik agar mereka tetap semangat menjadi pahlawan ketahanan pangan bagi kita semua. Mungkin itu sedikit komentar dari saya, kalau kepanjangan nanti malah jadi postingan tersendiri hehe. Sekali lagi terimakasih ya Andhika.

 

Related Post

37 Comments

  1. Anne Adzkia

    Reply

    Ooh jadi impor beras itu sebenernya menolong ya? Selama ini aku ikut aja dgn anggapan orang bahwa impor itu merugikan petani kita.

    • Reply

      mmmm pegimana ya, untuk menjaga stabilitas harga pangan di seluruh wilayah stok impor memang diperlukan, cuma ya itu, yang tadinya harga bisa didapat lebih tinggi untuk petani jadinya stabil lagi atau normal lagi

  2. adi nugroho

    Reply

    bagus tulisannya… sederhana tapi mengena…
    Semoga sejahtera masyarakat kita….

    Lam kenal dari klaten

  3. Reply

    pengen juga serius jadi blogger di bidang nanem-nanem, kalau di luar negeri udah banyak banget.

    Eh, pantesan di awal bingung kok teh Eh blogger gondrong oh ternyata…..dia

    • Reply

      iya andhika guest untuk blog post ku, kalo mau jadi guest di aku juga bisa, hayuuu atuh ikut menyebarkan cinta menanam, itu udah bagus namanya bulir jeruk

  4. Reply

    Sekarang yg ada, lahan kian sempit. Apalagi banyak pengembang yg menjadikan sawah jadi perumahan 🙁

    Dah gitu, nyari pupuk, di daerah kami masih sedikit kesulitan.

    • Reply

      pupuk sulit diperoleh ya di sana? biasanya kiosnya memang dekat dengan kecamatan jadi agak jauh dari lokasi penanaman, kalo mau dikoordinir dengan kelompok untuk pengambilannya

  5. Uci

    Reply

    Alhamdulillah mba ev kalo ada lagan pertanian baru yaa mba, seperti yg ditulis di atas. Berarti petani kita masih banyak..
    Mba ev keren blogger agriculture

  6. Reply

    suka bangat lihat kolaborasi Evrina dan Dhika dalam memuat tulisan seperti ini. satu dari sisi keuangan dan satu dari sisi agrikultur.

    semoga kesejahteraan petani meningkat dan pertanian kita maju yach.

  7. Reply

    Iya miris ya lahan padi makin langka berubah jd property.. andai di sekolah digalakkan lagi bangga jadi petani, mdh2an Indonesia bisa jadi Raja beras di negeri sendiri.

  8. dikatama

    Reply

    Sekarang di Desa anak petani sudah ngga mau jadi petani mba :v
    Harus sekolah sampai tingkat tinggi.

  9. Reply

    Berhasil atau tidaknya menjadi raja pangan saya sepakat dengan mba Ev, semoga mba dan profesional dalam bidang ini senantiasa optimal demi memotivasi para petani dalam pertanian. Semangat dan sukses mba ^^

  10. Hidup mulia

    Reply

    Saya tinggal di Bogor jawa barat? dari artikel di atas saya menjawab. Indonesia gagal menjadi raja pangan di dunia. karena di wilayah saya tinggal sawah-sawah menjadi bangunan yang dilapisi tembok baja.

  11. Reply

    Wa’alaykumussalaam. Ma syaa Allah informatif dan ‘intelek’ sekali, mbak. Sebagai seorang pemuda, saya merasa tersentil dengan kutipan paling pertama di atas. Rasa-rasanya memang, petani hari ini dipandang sebelah mata.

    Btw, saya santri dari Pesantren Sintesa yang tujuannya juga ‘reboisasi’ pemuda. Minta do’anya, mbak, barangkali model belajar mengajarnya bisa sedikit memberikan kontribusi untuk bangsa. Aamiin.

    • Reply

      Aamiin ya Rabb, wuihh keren ada anak muda yang bersemangat untuk membangun bangsa, lanjutkan ya, kereeen, pasti bisa, salut sama anak2 muda yang mau berbakti untuk negara

  12. Reply

    Sebelah komplek saya tdny sawah, enak klo pagi dan sore nongkrong di balkon, pemandangannya sawah atau petani yg lg panem… skarang udah berubah jd perumahan jg…

  13. Pingback: Bekatul Sebagai Pangan Alternatif untuk DIversivikasi Pangan

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.