Berkunjung ke PUSTAKA

Atasan saya dulu pernah bertanya pada suatu forum mengenai kapan terakhir kali para penyuluh datang ke perpustakaan?. Saat itu hanya ada satu orang saja yang menjawab. Beliau menyayangkan mengapa para penyuluh ini tidak memanfaatkan teknologi dan informasi yang sudah dihasilkan peneliti dengan salah satunya mengakses melalui perpustakaan. Sebenarnya bukan penyuluh tidak mengakses, hanya saja saat ini sudah tersedia berbagai materi dan informasi digital yang mudah didapatkan tanpa harus pergi ke perpustakaan. Saya termasuk salah satu pengguna digital information itu. Biasanya saya mengakses cyber extention, e-petani, atau website-website milik balai penelitian guna mencari informasi seputar pertanian. Namun, berkunjung ke perpustakaan juga tetap harus dilakukan untuk mengeksplore lebih jauh terhadap materi yang dibutuhkan.

Untuk menunjang kebutuhan materi penyuluhan, hari Selasa tanggal 7 Juli 2015 saya dengan empat orang penyuluh dari BP3K Dramaga mengunjungi PUSTAKA yang ada di Jalan. Ir. H. Juanda No. 20 Bogor 16122. PUSTAKA merupakan kependekan dari Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian yang bernaung di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Sesuai dengan namanya, PUSTAKA merupakan pusat perpustakaan Kementan RI. Di dalam PUSTAKA terdapat publikasi hasil penelitian pertanian. Tetapi tidak hanya tentang pertanian saja rupanya, buku sejarah dan catatan zaman Hindia Belanda juga ada di PUSTAKA yang usianya sudah ratusan tahun.

Kunjungan ke PUSTAKA diawali dengan penjelasan mengenai konservasi buku-buku berumur tua namun sarat informasi di Laboratorium Preservasi dan Konservasi. Kebanyakan buku-buku tersebut ditulis pada zaman Belanda dengan menggunakan bahasa Belanda. Untuk mentranslate bahasa Belanda ke dalam bahasa Indonesia, PUSTAKA telah memiliki seorang ahli yang merupakan lulusan Sastra Belanda Universitas Indonesia. Buku yang harus diterjemahkan sangat banyak, jumlahnya mencapai 6000an, sementara PUSTAKA baru mampu menerjemahkan hingga selesai sebanyak 25-30 buku pertahunnya.

Lamanya proses ini karena memang buku-buku tersebut harus melalui tahapan perlakuan. Salah satunya adalah dengan melakukan Laminasi. Laminasi adalah proses pemberian lapisan kertas pada buku-buku tua untuk mencegah dari kepudaran atau kerapuhan. Kertas yang digunakan ini bukanlah kertas sembarangan karena didatangkan langsung dari Jepang. Lapisan buku yang dilaminasi juga membutuhkan waktu hingga lembaran buku tersebut benar-benar telah aman dan terselamatkan.

Setelah melalui proses laminasi, buku bisa langsung diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh ahlinya. Ini juga memakan waktu karena memang bukunya sangat tebal dan tulisannya padat sehingga membutuhkan tenaga ekstra untuk mendapatkan ikhtisarnya. Kemudian buku-buku tersebut di scan dengan alat scanner yang canggih untuk dialihkan menjadi versi digital sehingga tanpa memegang bukunya, kita sudah dapat mengakses tiap lembaran informasi yang terdapat pada buku-buku tua tersebut.

Ini adalah hasil scanning bukunya #pustaka

A photo posted by Evrina Budiastuti (@evrinasp) on

Kunjungan kami lanjutkan ke Ruang Kerja Pengolahan Koleksi Antiquariat yang didalamnya terdapat koleksi Antiquariat. Ruangan ini merupakan ruangan untuk menyimpan buku2 berumur tua. Koleksi Antiquariat sendiri merupakan buku-buku yang memiliki umur lebih dari 50 tahun dan memiliki nilai sejarah yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan serta perkembangan budaya bangsa. Koleksi Antiquariat yang dimiliki oleh Pustaka terbit pada tahun 1615 dan saat ini jumlah koleksinya mencapai 6.715 eksemplar. Ibu Nunik yang mengantarkan kami saat itu mengatakan bahwa Belanda pada zaman itu benar-benar mendokumentasikan segala sesuatunya termasuk besaran gaji para pegawai, harga bahan pokok hingga besaran tarif kendaraan. Semua itu berasal dari jurnal yang mereka tulis sehari-hari dalam bentuk log book harian yang kemudian dijadikan dalam satu buku. Ibu Nunik mengatakan bahwa sebenarnya kita juga bisa seperti itu asal mau mencatat segala sesuatu yang kita temukan setiap hari.  

Setelah dari Ruang Koleksi Antiquariat, kami diajak untuk mengunjungi Ruang Produksi Audio Visual. Perlu diketahui bahwa dokumentasi dan publikasi yang ada di PUSTAKA tidak hanya berbentuk buku, tetapi juga dalam bentuk audio visual yang dituangkan pada compact disc atau CD. Bapak Ifan yang merupakan salah satu pengelola pada Ruangan Audio Visual ini mengatakan bahwa lingkup kerja untuk menghasilkan sebuah informasi audio visual ini mencakup seluruh Indonesia. Jumlah personil yang bekerja di bidang audio visual ini tidak terlalu banyak, meskipun begitu mereka cukup terbantu oleh rekan-rekan lain yang ada pada balai-balai penelitian untuk memproduksi sebuah video. Koleksinya cukup lengkap, mulai dari kaset, slide show hingga bentuk CD Room. Bagi masyarakat yang ingin mengakses informasi pertanian dalam bentuk audio visual, PUSTAKA sudah menuangkannya dalam bentuk video yang dapat diakses melalui Youtube.

Ruang produksi audio visual yang kedap suara #pustaka

A photo posted by Evrina Budiastuti (@evrinasp) on

Sesi terakhir, kami diajak ke dalam ruang publikasi. Kami diperbolehkan membawa beberapa buku untuk menunjang keperluan penyuluhan. Ada satu buku yang saya cari, yaitu mengenai tanaman toga dan pengolahan pasca panen buah-buahan. Syukurlah buku tersebut ada di PUSTAKA dan kami bebas membawa beberapa buku sesuai kebutuhan kami.

Pustaka

Buku-buku dari PUSTAKA

Kunjungan hari itu berjalan lancar, terimakasih kepada PUSTAKA yang sudah berkenan menerima kedatangan kami. Bagi masyarakat yang ingin berkunjung bisa datang langsung ke PUSTAKA yang beralamat di:

Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian
Jl. Ir. H. Juanda No. 20 Bogor 16122 Telp. +62-251-8321746 (Hunting System) Faks. +62-251-8326561
Webmaster: pustaka@litbang.deptan.go.id

Perpustakaan ini terbuka untuk umum dan bagi siapapun yang ingin mendapatkan informasi seputar pertanian  silahkan datang langsung ke PUSTAKA atau kunjungi websitenya di http://pustaka.litbang.pertanian.go.id/

15 Comments

    • Reply

      iya berada di perpus itu rasanya seneng banget apalagi melihat sederetan buku2 dalam lemari, bawaannya pengen megang aja

  1. Hastira

    Reply

    memang sangat banyak dibutuhkan perpustakaan yang menunjang banyak aktivitas masarakat yang masih kurang di Indonesia. Oang gak suka untuk datang ke perpus.

    • Reply

      perpustakaan jumlahnya masih kurang ya mbak? iya sih hanya ada di beberapa tempat tertentu seperti instansi pemerintahan, balai penelitian atau akademisi

  2. Reply

    Klo jepara adanya perpus daerah. Terakhir ke sna 2 minggu lalu. Sabtu ini balik akunya, balikin buku hihi

    eh itu buku yg dibawa dibalikin apa gmn mb?

  3. Reply

    Ya ini, seharusnya Indonesia sbg negara agraris punya ini sejak dulu. Semoga programnya terus mengalami kemajuan dan yang penting bisa terus menerus diakses publik.

  4. Pingback: My 7 Days Fruits Diary: Buah Lokal Pemberi Semangat | Evrina Budiastuti

  5. Amira Larasati

    Reply

    waaah blognya sangat membantu mbaa, mau tanya disana masih kah ada kekurangan dari segi koleksi atau layanan maupun SDM nya mba ? soalya td mba review yg di audiovisual itu orgnya kurang bnyk ya mba? hehe

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.