Cinta Rupiah, Cinta Indonesia

cinta-rupiah

“Nabung Dolar aja Ev, soalnya kalau Dolar naik terus kursnya”

Sudah tiga kali saya mendengar saran tersebut dari seorang teman ketika mengutarakan keinginan untuk pergi umroh. Saat ini saya memang sedang menghimpun dana untuk berangkat ke tanah suci dan teman yang mengetahui rencana tersebut mengutarakan pendapat agar saya menabung dalam bentuk Dolar saja. Alasannya karena nilai mata uang Dolar cenderung naik terus, sementara Rupiah cenderung labil.

Lalu apakah saya mengikuti saran tersebut? jawabannya tentu saja tidak. Saya memiliki beberapa alasan untuk tidak mengikuti saran tersebut. Alasan yang pertama adalah jika saya mengikuti saran tersebut bisa jadi saya termasuk salah satu orang yang menyebabkan nilai Rupiah cenderung labil. Terpuruknya nilai Rupiah salah satunya adalah karena belum berdaulat di negeri sendiri akibat banyaknya transaksi menggunakan mata uang asing. Kemudian alasan yang kedua adalah saya termasuk orang yang sering mengaku cinta Indonesia sampai menuliskan tagar #ILoveIndonesia ketika mengibarkan Bendera Merah Putih di puncak gunung. Jika mengaku cinta Indonesia, masa’ iya saya memakai uang negara lain untuk menghimpun dana? Gugur dong cinta Indonesianya.

Dan alasan ketiga adalah saya bekerja menjadi abdi negara yang mendapatkan imbalan gaji berupa Uang Rupiah. Uang tersebut merupakan uang yang salah satu sumbernya dibayarkan oleh masyarakat dalam bentuk pajak. Dari sana terdapat segala peluh dan susah yang dituangkan untuk mendapatkan Rupiah. Lalu apakah saya tega menjual Uang Rupiah dan menggantikannya menjadi uang asing untuk menghimpun dana? Jawabannya tentu saja tidak.

Menjaga Kedaulatan Negeri Dengan Cinta Rupiah

Di suatu sore yang cukup sejuk, saya pernah berbincang dengan bapak saya yang merupakan pensiunan marinir. Bapak bercerita kalau di zamannya dulu, dia harus mengangkat senjata ketika berada di daerah perbatasan agar Bendera Merah Putih tetap berkibar. Nyawa menjadi taruhan dan hal tersebut adalah sebuah fakta yang harus kami terima saat bapak diwajibkan untuk pergi ke daerah perbatasan.

Syukur alhamdulillah, masa tersebut sudah lewat, bapak masih hidup bersama kami. Meskipun kondisi saat ini sudah lebih damai, namun pekerjaan rumah bagi kita masih banyak. Apalagi dengan hadirnya era perdagangan bebas, mau tidak mau kita harus siap menghadapi masuknya arus teknologi termasuk datangnya produk impor. Hal tersebut tentu memberikan dampak terhadap nilai Rupiah apabila kita tidak mampu mengimbangi.

Nilai Rupiah dapat menjadi lemah karena disebabkan oleh berbagai hal kompleks. Salah satu yang menyebabkan nilai Rupiah melemah adalah karena banyak orang lebih memilih menginvestasikan dana serta bertransaksi dengan menggunakan mata uang asing. Padahal di dalam pasal 21 Undang-undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang dijelaskan bahwa Rupiah wajib digunakan dalam setiap transaksi yang mempunyai tujuan pembayaran, penyelesaian kewajiban lainnya yang harus dipenuhi dengan uang, dan/atau transaksi keuangan lainnya yang dilakukan di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Namun tau kah teman-teman bahwa menggunakan mata uang asing dapat memberikan dampak sangat besar bagi kedaulatan negeri?.

‘Mencintai Rupiah Berarti Mencintai Kedaulatan. Setiap lembar Rupiah adalah bukti kemandirian Indonesia, kemandirian ekonomi kita di tengah ekonomi dunia’

Presiden Joko Widodo

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Presiden Joko Widodo di Jakarta ketika pada tanggal 19 Desember 2016 lalu meresmikan pengeluaran dan pengedaran Uang Rupiah tahun emisi 2016 di Bank Indonesia. Beliau menyampaikan apabila mencintai dan bertransaksi menggunakan Rupiah, berarti masyarakat juga mencintai kedaulatan dan kemandirian Bangsa Indonesia. Beliau mengajak agar masyarakat menggunakan Rupiah setiap kali bertransaksi di dalam negeri serta ketika menyimpan dan menginvestasikan dana dalam bentuk tabungan.

Dari situ sudah jelas bahwa Rupiah tidak hanya sekedar mata uang saja, melainkan sebuah alat untuk menjaga kedaulatan serta kemandirian bangsa. Soalnya kalau kita bertransaksi dengan mata uang asing di negeri sendiri, tentu akan menekan keberadaan Rupiah.

Pelajaran Dari 100 Rupiah 

Kita tinggalkan dulu sejenak dampak Rupiah secara luas terhadap kedaulatan bangsa. Mari kita melihat ke dalam cakupan yang lebih kecil. Melihat ke atas selalu membuat kita terpukau atau berandai-andai, tetapi ketika melihat ke bawah akan membuat kita lebih merenung dan menyadari banyak hal yang sebenarnya lupa untuk disyukuri.

Saya ingat dengan perkataan salah seorang ibu tani bernama Ibu Inah di tempat saya bekerja. Waktu itu tanpa sengaja saya menjatuhkan Uang Rupiah dalam bentuk koin sebesar Rp. 100,- saat hendak mengeluarkan kunci motor dari saku jaket. Saya memang terbiasa meletakkan beberapa pecahan Rupiah di dalam saku jaket untuk memudahkan pengambilan jika membutuhkan Uang Rupiah dalam bentuk pecahan koin.

“Bu uangnya jatuh tuh” Ibu Inah berkata sambil menunjuk ke bawah motor saya. “Oh iya, ‘gak apa-apa bu”. Jawab saya sambil hendak turun dari motor. “Ulah kitu, seratus ‘ge aya manfaatna (jangan begitu, seratus juga ada manfaatnya)” Ujar Bu Inah sambil menyerahkan uang koin yang terjatuh tersebut.

Dari situ saya teringat sekali akan banyak orang yang susah payah mencari Rupiah untuk kehidupannya seperti Bu Inah. Dia sangat menghargai berapapun nominal Rupiah yang dimiliki sehingga sangat menjaganya agar tidak rusak, hilang, bahkan terbuang.

Terbuang? ya terbuang, mungkin ada sebagian orang yang tanpa sengaja menjatuhkan Uang Rupiah yang sudah susah payah dihasilkan. Orang mungkin akan lebih peduli jika nominal yang jatuh sekitar Rp. 10.000,- atau bahkan Rp. 50.000,- tetapi jika yang jatuh merupakan pecahan kecil, bisa jadi akan ditinggalkan begitu saja. Padahal untuk mengedarkan Uang Rupiah ke penjuru negeri membutuhkan perjuangan berat. Mungkin tidak terlalu terasa bagi kita yang tinggal di daerah perkotaan dengan berbagai kemudahan akses. Namun lain halnya dengan saudara-saudara kita yang jauh dari pusat kota. Bahkan untuk menjangkaunya saja harus melalui jalan laut serta udara.

Perjalanan sebuah Rupiah melibatkan berbagai proses serta prosedur yang harus dipatuhi. Dimulai dari perencanaan, proses pencetakan, hingga distribusi yang melibatkan peralatan canggih hingga pengawalan ketat. Semua itu membutuhkan pengorbanan baik tenaga, waktu, serta biaya demi agar Rupiah hadir merata di seluruh lapisan masyarakat. Perjalanan panjang sebuah Rupiah sudah sepatutnya menjadikan kita untuk lebih menghargai Rupiah agar bukan hanya dijadikan sebagai mata uang belaka.

Cintai Rupiah, Cinta Indonesia

Uang bukan hanya sekedar alat transaksi saja, melainkan sebuah simbol dan identitas bangsa. Sehingga apabila kita menghargai mata uang negeri sendiri secara tidak langsung turut membuktikan bahwa kita juga mencintai negara. Cinta Rupiah berarti mencintai Indonesia dan untuk mengimplementasikannya sebenarnya sangatlah sederhana. Berapapun nominalnya dari nilai terbesar hingga terkecil kita harus menghargai keberadaan Rupiah karena sekecil apapun nilainya turut mempengaruhi ritme kehidupan.

Berikut adalah beberapa cara saya mencintai Rupiah dalam lingkup yang sederhana:

1. Berkontribusi dengan menggunakannya

Gunakan Uang Rupiah untuk transaksi sehari-hari di seluruh wilayah Indonesia, termasuk ketika hendak menabung. Tidak perlu tergoda dengan iming-iming kurs mata uang asing karena dengan begitu kita sudah turut memperkuat nilai Rupiah.

2. Menghargai Uang Rupiah hingga nominal terkecil

Sekecil apapun nominal Uang Rupiah hargailah dengan menjaganya. Contoh kecilnya apabila ada uang koin senilai Rp. 100,- terjatuh maka segera ambil, karena nilai Rp. 100,- itu juga mempengaruhi harga suatu barang atau jasa, jadi tidak hanya Uang Rupiah dengan nominal yang besar saja yang mempengaruhi.

3. Menjaga Rupiah dengan Semestinya

Menghargai Uang Rupiah juga dapat dilakukan dengan cara menjaganya agar kondisi Uang Rupiah tetap baik dan tidak rusak. Caranya adalah dengan menyimpan pada tempat yang benar seperti diletakkan secara teratur dan rapih di dalam dompet. Kemudian tidak menjepit lembaran Rupiah yang membuatnya menjadi rusak, tidak melipat atau meremas Uang Rupiah, tidak melubangi dengan stepler, tidak membasahi, dan tidak mencorat-coret setiap lembaran Uang Rupiah. Dengan begitu kondisi Uang Rupiah tetap dalam kondisi baik sekaligus sebagai bentuk penghargaan akan simbol negara. Hal tersebut juga diatur di Pasal 25 Ayat 1 UU No. 7 Tahun 2011 yang menyebutkan bahwa setiap orang dilarang merusak, memotong, menghancurkan, dan/atau mengubah Rupiah dengan maksud merendahkan kehormatan Rupiah sebagai simbol negara.

4. Memperlakukan dengan Selayaknya

Mencintai Uang Rupiah secara sederhana juga dapat dilakukan dengan tetap menuliskan nominal Uang Rupiah seperti layaknya, bukan disingkat atau mengggunakan penulisan lain yang terkadang membuat bingung sebagian orang. Misalnya dengan tetap menuliskan Rp. 10.000,- pada suatu produk, bukan 10K saja tanpa embel-embel Rupiah.

5. Membantu meningkatkan nilai Uang Rupiah

Banyak cara untuk meningkatkan nilai Uang Rupiah. Menggunakannya dalam setiap aktivitas sehari-hari sudah jelas memperkuat nilai Rupiah itu sendiri. Namun ada beberapa tindakan sederhana lain yang dapat meningkatkan nilai Uang Rupiah, contohnya adalah dengan gemar menggunakan produk dalam negeri. Dengan menggunakan produk dalam negeri maka membantu pemerintah dalam meningkatkan devisa negara yang banyak hilang akibat penggunaan produk impor. Dengan begitu kita sudah turut membantu meningkatkan nilai Uang Rupiah.

6. Peduli dengan Rupiah

Jika kita peduli dengan Rupiah, maka jagalah keberadaannya dengan tidak merusak bentuknya. Contoh sederhana lain yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemeriksaan terhadap saku baju maupun celana untuk mengecek apakah ada Uang Rupiah yang tertinggal agar tidak tercuci. Soalnya kalau Uang Rupiah sudah basah nanti jadi rusak atau robek yang mungkin dapat membuatnya tidak dapat digunakan lagi.

Kemudian jangan diam saja apabila menemukan Uang Rupiah yang dipalsukan, segera melaporkan kepada pihak berwenang dalam hal ini adalah Bank Indonesia serta pihak terkait lainnya. Untuk tindakan pemalsuan, pemerintah akan memberikan sanksi tegas karena termasuk tindakan yang merendahkan Uang Rupiah.

Mencintai Rupiah sama dengan mencintai Indonesia. Dengan mencintai Rupiah kita juga membantu menjaga kedaulatan negara. Menjaga kedaulatan negara bukan hanya tugas pemerintah saja, tetapi tugas bersama. Kita tentu tidak mau menjadi negara yang kembali terjajah padahal sudah susah payah memperjuangkan kemerdekaan. Jadi, mari kita memperkuat keberadaan Uang Rupiah di negeri sendiri, dengan begitu kecintaan mu terhadap negeri tidak perlu diragukan lagi karena cinta Rupiah berarti cinta Indonesia.

Related Post

26 Comments

  1. Reply

    bener banget tuh mbak kalau buat kita yang tinggal di kota uang receh nggak ada harganya, padahal buat yg tinggal di desa/kampung receh itu bisa buat beli sesuatu, aq ngalamin sendiri soalnya, makanya sekarang kalo ada uang receh di kumpulin di kaleng nanti kalo mudik bisa di bagikan atau kalau sekarang udah jarang mudik, uang receh di kumpulin trs tukerin deh di alfa/indomart itu mereka mau loh agar membantu mereka juga biar nggak ngasih kembalian dalam bentuk permen.

    Mudah-mudahan tahun depan uang tabungan cukup yah mbak bisa berangkat umroh.

    • Reply

      Aamiin makasih atas doanya. Iya adikku nih yg rajin ngumpulin Uang Rupiah dalam bentuk koin, nanti kalau sudah banyak ditukarkan ke minimarket, kalau saya terpakai untuk belanja atau bayar2 yg gak perlu mengeluarkan Uang Rupiah dalam bentuk besar

  2. Haerul Fajar

    Reply

    Haduh.. Emg terkadang kita tidak menghargai Rupiah, terutama utk nominal yg kecil.. Terimakasih sudah menyadarkan sy..

  3. lia djabir

    Reply

    kadang kita mikir uang 100 rupiah gak ada artinya padahal kalau dikumpul jadi banyak juga yaa

  4. Rodame

    Reply

    uang oh uang, mataku langsung ijo liat uang yang baru dikeluarkan ama BI itu Ev, hahaha. Uang memang harus diperlakukan dengan baik ya Ev biar awet.

  5. Achy

    Reply

    Rupiah sekecil apapun nominal nya adalah berarti…thanks udh ingetin kadang klo 100an koin berserakan dimana aja ampe ilang entah kmana,,nahh pas lagi butuh Baru dehh menyayangkan kenapa yg berserakan ga dikumpulin….

  6. Reply

    Wah ternyata dalam juga ya makna cinta rupiah itu, inshaaAllah seluruh warga negara Indonesia bisa semakin mencintai mata uang rupiah kita ya mak Ev.. Aaaaaminnn

  7. Fanny Fristhika Nila

    Reply

    Aku tuh sbnrnya pengeeeen bgt tau proses IDR di buat di pabriknya sampai bisa diedarkan kemana2. Kalo iklan distribusinya kan udh banyak, tp cara pembuatan dari awalnya :D. Prosedur dan segala macamnya.

    Eh, skr kan juga utk travel umroh atopun bukan, harga yg dicantumin udh wajib IDR kan. Ga boleh lagi dlm USD. Aku nabung utk umroh juga skr dlm IDR mba.

    Tp jujur aja gaa.. Krn aku kerja di bank asing, dan kita provide 11 mata uang asing, ga bisa dipungkiri, aku jg punya banyak tabungan dlm mata uang asing. Tp tujuannya, utk traveling. Jd karna ATM ku bisa di connect ke maksimal 6 mata uang, utk mata uang seperti EUR, USD, SGD, AUD, GBP, dan IDR aku connect in ke atm. So, kalo misalnya aku traveling ke negara2 yg menggunakan mata uang di atas, aku tinggal tarik aja di atm2 HSBC di negara2 tadi. Jd ga usah terlalu banyak bawa cash nya. Ga ada pertukaran rate dari IDR nya juga. Aku untung jadinya . Krn tau sendiri, rate tukar utk bank asing biasanya gede.

    Dan utk kegiatan2 yg masih pakai IDR, pasti aku nabungnya dlm IDR. Cuma kalo tabungan, sekedar saving aku ga mau IDR. Hanya utk investasi reksadana, dan bonds. Lebih menguntungkan soalnya truatama jk panjang.

  8. Reply

    bagus banget mba, tulisannya mengalir gitu jadi asyik baca dan lihat foto-fotonya. Saya nih tipe yang cuek sama duit seribuan dan dua ribuan kalau lagi awal bulan. Kalau akhir bulan, dipungutin deh bahkan dikorek-korek di kantong celana hihi.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.