Dari Leuwiliang, Membangun Cita-Cita Sejahtera Bersama Bangsa





leuwiliang

Pagi itu di Leuwiliang Kabupaten Bogor, udara sangat sejuk meskipun gerimis turun membasahi bumi yang terkenal dengan daerah agropolitan tersebut. Kondisi itu tidak menyurutkan langkah saya untuk menelusuri jejak-jejak perjalanan penuh inspirasi dari sebuah perusahaan yang selama enam dekade telah berkiprah terhadap negeri. Langkah saya saat itu diawali dengan bertemu salah seorang pelaku di bidang pertanian pemilik P4S Pandan Wangi. Dia adalah Bapak Zulfakar, ketua P4S Pandan Wangi di Kampung Parungsinga, Desa Karehkel, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. P4S merupakan kependekan dari Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya yang salah satu misinya adalah mengajarkan serta menyebarkan semangat membangun pertanian dari desa.

Untuk mewujudkan misi tersebut, sasarannya tidak hanya dari para petani atau orang yang tertarik dengan pertanian saja, tetapi juga generasi muda agar dapat mewariskan potensi yang ada di Leuwiliang sebagai daerah agropolitan. Meski tidak menjadi petani, paling tidak anak-anak muda dapat memahami apa itu dunia pertanian sehingga dapat mengembangkan potensi daerahnya. Itu sebabnya Bapak Zulfakar merasa sangat bersyukur ketika mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam pembinaan pertanian di sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) Kecamatan Leuwiliang bersama PT Astra International Tbk (Astra) melalui Yayasan Pendidikan Astra-Michael D. Ruslim (YPA-MDR).

Saya ‘gak pernah nyangka, kalau di Leuwiliang masih ada SD yang seperti itu, lokasinya juga agak masuk ke dalam” ujar Pak Zulfakar membuka perbincangan kami saat itu.

Pak Zulfakar mengingat kembali memori beberapa tahun lalu saat dirinya diajak oleh YPA-MDR berkeliling ke beberapa sekolah yang letaknya di pedalaman Leuwiliang tersebut.

zulfakar

Bapak Zulfakar, Ketua P4S Pandan Wangi

Kecamatan Leuwiliang letaknya memang cukup jauh dari ibu kota Kabupaten Bogor. Untuk mencapai Kecamatan Leuwiliang, maka kita harus menempuh jarak sekitar 58 km dari ibu kota kabupaten atau memakan waktu sekitar 3 jam jika tanpa hambatan. Kemudian apabila ingin menuju ke sekolah-sekolah tersebut maka harus melanjutkan perjalanan agak masuk ke pedalaman dari arah kecamatan. Faktor tersebut yang memungkinkan mengapa pembangunan belum merata hingga ke pelosok daerah Leuwiliang.

Seperti hujan yang turun setelah kemarau, kabar baikpun datang bagi beberapa sekolah yang ada di pedalaman tersebut. Setelah dilakukan pengecekan oleh pihak YPA-MDR, beberapa sekolah yang ada di pedalaman Leuwiliang dinyatakan dapat dibina karena sesuai dengan kriteria prasejahtera. Hal tersebut sesuai dengan visi YPA-MDR untuk membantu sekolah-sekolah yang berada di daerah prasejahtera menjadi sekolah unggul. Beberapa sekolah tersebut di antaranya adalah SD Hegarmanah, SD Karyasari 1, SD Karyasari 2, SD Karyasari 3, SD Pabangbon 1, SMPN 4 Leuwiliang, dan SMKN 1 Leuwiliang.

Leuwiliang merupakan daerah pertama di Bogor yang dibina oleh YPA-MDR dan sejak tahun 2006 proses pembinaan tersebut dimulai. Tercatat, YPA-MDR telah membina guru binaan sebanyak 91 orang serta siswa binaan berjumlah 1.553 orang.

Pilar Pembinaan Sesuai dengan Potensi Daerah

Sambil memindahkan bibit tanaman cabai yang ada di dalam kebun pembibitan, Pak Zulfakar kembali bercerita awal mula mengapa akhirnya P4S Pandan Wangi terlibat dalam pembinaan pertanian di sekolah.

“Jadi Astra meskipun niatnya membantu, tetap berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda), kira-kira apa sih yang bisa dikembangkan di daerah Leuwiliang. Ternyata Pemda beri arahan kalau Leuwiliang itu daerah agropolitan, jadi kalau mau dikembangkan potensi daerah ya di pertanian, lalu ketemulah dengan P4S ini” cerita Pak Zulfakar dengan penuh semangat.

Berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah memang termasuk ke dalam misi YPA-MDR dengan membangun sinergitas antara sekolah binaan bersama para stakeholders demi terciptanya sekolah unggul. Sinergitas pembinaan ini tidak hanya melibatkan elemen pemerintah saja, tetapi juga elemen pendidik, fasilitator, dan supporter yang apabila semuanya bersinergi maka dapat mewujudkan sekolah swapraja menuju sekolah unggul.

Di tahun pertama pembinaan, YPA-MDR melakukan pembangunan fisik sekolah seperti penambahan sarana ruangan dan renovasi gedung sekolah beserta mebelnya agar kegiatan belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik dan berkualitas.

astra-ypamdr

Salah satu fasilitas sarana pendidikan dari PT Astra International Tbk melalui YPA-MDR

Setelah bangunan sekolah dan sarana memadai, baru kemudian dilakukan pembinaan lebih lanjut berdasarkan empat pilar dasar pembinaan yaitu:

  1. Akademis, agar siswa dan sekolah berkualitas dari sisi akademik
  2. Karakter, memiliki karakter yang didasarkan pada nilai luhur Bangsa Indonesia
  3. Kecakapan hidup, memiliki kompetensi kecakapan hidup
  4. Seni budaya, mampu melestarikan seni budaya daerah

Apa yang dilakukan oleh Pak Zulfakar bersama YPA-MDR di sekolah binaan sesuai dengan pilar ketiga yaitu kecakapan hidup yang disesuaikan dengan potensi daerah, dalam hal ini adalah pertanian yang sesuai dengan potensi Leuwiliang. Hal tersebut dilakukan selain karena untuk mengembangkan potensi Leuwiliang, juga sebagai langkah agar tidak terjadi arus urbanisasi apabila siswa telah lulus sekolah. Tetapi justru dapat memajukan Leuwiliang beserta potensinya dengan membangun dan berkarya di sana.

Berdasarkan cerita Pak Zulfakar, kegiatan pembinaan pertanian ini dilakukan melalui mata pelajaran mulok atau muatan lokal yang dilakukan setiap minggunya dengan melibatkan semua kelas. Seluruh siswa terlibat aktif mulai dari kelas 1 hingga kelas 6 untuk SD, dan kelas 7 hingga kelas 9 untuk SMP.

astra-ypamdr

Siswa SD Karyasari 2 sedang membuat pembibitan tanaman, foto dokumentasi Pak Zulfakar

“Tujuannya bukan untuk mencetak ahli-ahli pertanian, bukan itu. Tetapi apapun profesinya nanti, mereka tetap paham apa itu pertanian sehingga tidak lupa dengan potensi daerahnya, kalau jadi dokter ya dokter yang paham pertanian, kalau jadi polisi ya polisi yang paham pertanian, intinya itu” terang Pak Zufakar menjelaskan lebih lanjut mengapa pertanian menjadi kompetensi kecakapan hidup yang dikembangkan oleh YPA-MDR di Leuwiliang.

Pak Zulfakar bersama dengan timnya, mengajarkan pertanian menjadi sesuatu yang menyenangkan. Kurikulumnya disesuaikan dengan tingkatan kelas di sekolah. Ada yang mulai dari pengenalan tanaman, melakukan praktek budidaya, hingga membuat temuan baru dengan memanfaatkan potensi sekitar sebagai bahan yang dapat digunakan dalam bertani.

Selain melakukan pembelajaran di dalam kelas, siswa binaan juga diajak untuk melakukan kunjungan lapang agar wawasan mereka menjadi bertambah bahwa berkarya di dunia pertanian tidak harus selalu kotor.

“Saya bersyukur banget bisa terlibat bersama YPA-MDR, salah satu manfaatnya selain bisa mengajar anak-anak, P4S untuk pertama kalinya punya RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) sendiri. Soalnya kalau mau ngajar, kami harus punya RPP supaya terukur pembelajarannya” tutup Pak Zulfakar mengakhiri perbincangan kami saat itu.

Itu baru satu pilar pembinaan saja, bagaimana dengan tiga pilar pembinaan lainnya? Saya mencari tau lebih lanjut dengan mengunjungi salah satu sekolah binaan YPA-MDR yaitu SD Karyasari 3.

Tidak Hanya Membangun Fisik, Tetapi Juga Kualitas

SD Karyasari 3 terletak di Kampung Hegar Rasa, Desa Karyasari, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Untuk memasuki area sekolah tersebut, saya harus melewati gang kecil yang hanya muat untuk motor dari arah jalan besar. Sekolah tersebut terlihat asri dengan nuansa warna yang cerah pada seluruh dinding bangunan sekolah. Saat saya memasuki gerbang sekolah, tampak seorang siswi sedang berlari keluar bersama dengan temannya.

astra-ypamdr

Asrinya lingkungan sekolah semakin sejuk dengan keramahan para guru saat saya menyapanya. Wawasan tentang SD Karyasari 3 mulai terbuka saat Ibu Yuliana, Kepala Sekolah SD Karyasari 3, menemani penelusuran saya di siang hari itu. Ibu Yuliana yang mengenakan kerudung abu-abu terlihat semangat sambil tersenyum bahagia ketika menceritakan bagaimana peningkatan kompetensi terjadi di sekolah ini.

“Walau ibu baru bertugas di sini bulan Oktober 2014, tapi ibu merasakan sendiri bagaimana peningkatan sekolah setelah Astra datang. Dulu bangunan sekolah ‘gak seperti ini, tapi kemudian dibantu oleh Astra hingga seperti sekarang ini” tutur Ibu Yuliana sambil menunjukan ruangan dan sarana sekolah yang dibantu oleh Astra.

Bagian yang paling disukai oleh Ibu Yuliana adalah bahwa YPA-MDR membantu meningkatkan kualitas pendidikan di SD Karyasari 3 tidak hanya dari segi fisik saja, tetapi juga dari segi akademis yang memang menjadi poin pertama dari empat pilar dasar pembinaan YPA-MDR.

Para guru yang ada di SD Karyasari 3 mendapatkan pelatihan dan semuanya difasilitasi oleh pihak YPA-MDR. Ibu Yuliana menyebutkan bahwa seorang guru dituntut untuk membuat Penelitian Tindakan Kelas atau disingkat PTK namun belum semuanya mahir. Setelah dilatih oleh fasilitator dari YPA-MDR, kini guru yang ada di SD Karyasari 3 sudah lebih mahir dalam membuatnya.

Untuk pelatihannya sendiri, Ibu Yuliana menyebutkan bahwa bentuknya berbeda. Guru yang ikut pelatihan benar-benar didampingi hingga akhir meskipun pelatihannya sudah selesai. Jika ada kesulitan, para guru bisa berkomunikasi dengan narasumber untuk memecahkannya. Dengan adanya fasilitasi tersebut, guru dapat meningkatkan kompetensi dalam pembelajaran agar diimplementasikan ke siswa sehingga mereka menjadi berprestasi dan memungkinkan untuk merancang masa depan yang lebih baik.

Selain meningkatkan kompetensi guru, kepala sekolah juga mendapatkan pelatihan seperti manajemen kepala sekolah yang bentuknya berupa workshop serta pendampingan yang tidak hanya berhenti pada saat pelatihan saja. Sama seperti untuk pelatihan guru, narasumber mendampingi terus hingga mereka mandiri meskipun pelatihan sudah selesai.

Selain di bidang akademis, pilar selanjutnya yang juga menjadi dasar pembinaan YPA-MDR adalah karakter, agar anak didik memiliki karakter yang didasarkan pada nilai luhur Bangsa Indonesia. Karakter dasar yang ditanamkan untuk SD di antaranya adalah jujur, bersih, dan peduli. Jika anak didik sudah masuk ke tingkat SMP ada pembinaan karakter yang ditambahkan yaitu berupa daya juang.

Penanaman karakter dilakukan dengan melakukan hal kecil yang lambat laun dapat membentuk pribadi bernilai luhur tinggi. Karakter bersih diwujudkan dengan membiasakan diri untuk mencuci tangan, sedangkan membantu menghijaukan pekarangan sekolah juga termasuk ke dalam penanaman karakter peduli akan lingkungan di sekitar.

Untuk membangun karakter jujur di dalam diri siswa, SD Karyasari 3 dengan fasilitasi dari YPA-MDR membangun Kantin Jujur. Di kantin tersebut seorang siswa harus melayani dirinya sendiri ketika membeli makanan atau minuman, termasuk ketika mengambil uang kembalian.

“Berkat Kantin Jujur, SD Karyasari 3 alhamdulillah dapet juara 3 Lomba Kantin Sehat dari Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor. Padahal adanya kantin tersebut memang buat sekolah, Ibu ‘gak nyangka kalau ternyata dilombakan dan mendapatkan juara”. Ungkap Ibu Yuliana seraya menunjukkan Kantin Jujur di sisi kiri bangunan sekolah yang terlihat bersih.

Selain pilar pembinaan akademis, karakter, dan kecapakan hidup, pilar selanjutnya yang menjadi fokus YPA-MDR adalah seni budaya yang disesuaikan dengan budaya daerah. Untuk SD Karyasari 3 dikembangkan seni memainkan angklung, degung, dan tarian bekerja sama dengan Sanggar Dewi Ratih. Dengan adanya pembinaan seni budaya ini, siswa menjadi tidak lupa akan budaya daerah sendiri di tengah perkembangan zaman.

Setelah mendapatkan begitu banyak fasilitas mulai dari bangunan sekolah, sarana, hingga pembinaan melalui 4 pilar dasar, tentu tidak membuat SD Karyasari 3 menjadi terlena. Justru semakin membuat sekolah bergerak maju untuk mandiri. Apalagi setiap tahun, kinerja sekolah selalu dievaluasi oleh pihak YPA-MDR untuk melihat kemajuannya. Sejak tahun 2015, SD Karyasari 3 sudah mendapatkan evaluasi peringkat sekolah. Dimulai dari Sekolah Mandiri di tahun 2015, hingga kini menuju Sekolah Unggul Tahap 3: Reinforcement di tahun 2017.

“Yang pasti dengan adanya Astra, ibu merasakan sekali banyak manfaatnya. Tidak hanya buat guru, tapi juga anak-anak. Dampaknya sudah jelas berbeda, guru dan siswa mendapatkan lebih banyak pengalaman yang mungkin tidak didapatkan di tempat lain” tutup Ibu Yuliana mengakhiri perbincangan kami saat itu.

Harapan untuk menjadi sekolah yang lebih baik dilontarkan oleh Ibu Yuliana sebagai rasa syukur atas semua fasilitas yang diberikan. Apalagi berdasarkan penuturannya, semua fasilitasi tersebut bersifat kontinyu, tidak berhenti begitu saja.

Pembinaan yang Kontinyu, Tidak Berhenti Begitu Saja

Saat saya sedang berada di SD Karyasari 3 ternyata sedang berlangsung kegiatan Riset School yang juga digagas oleh YPA-MDR. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari yaitu tanggal 13-14 Desember 2017, melibatkan siswa di tingkat SD dan SMP yang menjadi binaan YPA-MDR di Leuwiliang.

Bapak Budi Priyantoro dari YPA-MDR yang saya temui saat acara berlangsung menjelaskan bahwa Riset school merupakan pilot project di tahun 2017 ini. Pesertanya adalah 6 orang siswa kelas 4 hingga kelas 5 didampingi 1 guru dari lima SD binaan YPA-MDR. Sedangkan untuk Riset School di tingkat SMP pesertanya adalah seluruh siswa kelas 7 dan kelas 8 di SMP binaan YPA-MDR. Tujuan dari Riset School ini adalah mengajak siswa untuk mengembangkan cara berpikir ilmiah terutama dalam menghadapi era teknologi. Di sana mereka diajarkan bagaimana proses menemukan sesuatu, termasuk secara tidak langsung pembinaan karakter melalui disiplin terhadap tahapan.

astra-ypamdr

Kegiatan Riset School, tampak di sebelah kanan ada Bapak Budi Priantoro dari YPA-MDR

Riset School adalah salah satu bukti bahwa program yang dilaksanakan oleh YPA-MDR untuk membentuk sekolah unggul bersifat kontinyu hingga nanti sekolah benar-benar sudah mandiri menjadi sekolah unggul sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.

“CSR Astra bersifat kontinyu tidak hanya setahun-dua tahun saja, tetapi juga tidak berarti selamanya, harus sesuai dengan level. Di MOU pertama masih level pembinaan, dengan fokus dasar dari segi fisik sesuai dengan pelayanan minimal, renovasi dilakukan sesuai kebutuhan sekolah apakah total atau sebagian saja. Kemudian ada level swa praja, level mandiri, lalu level unggul, baru kemudian bisa dilepas untuk benar-benar mandiri” tutur Pak Budi ketika menjelaskan bentuk pembinaan YPA-MDR.

Keberadaan SD dan SMP yang dibina oleh YPA-MDR telah membantu mengurangi kejadian putus sekolah. Hal tersebut diakui oleh Ibu Yuliana ketika dulu menyaksikan beberapa siswa tidak melanjutkan sekolah lagi. Melihat fenomena tersebut, maka YPA-MDR juga turut membangun dan mengembangkan pendidikan hingga tingkat SMP serta SMK agar anak dapat melanjutkan sekolah sehingga semakin banyak sumber daya manusia berkualitas di Leuwiliang yang dapat membangun daerah.

Menurunkan Angka Putus Sekolah dan Arus Urbanisasi

Dari SD Karyasari 3, saya melanjutkan penelusuran ke sekolah binaan YPA-MDR di Leuwiliang. Sekolah tersebut adalah SMKN 1 Leuwiliang yang beralamat di Kampung Angsana, Desa Cibeber II, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Dari arah SD Karyasari 3, saya harus turun ke jalan besar dan masuk ke sebuah gang besar di kiri jalan. Dari gang tersebut, saya harus mengikuti jalan sampai akhirnya bertemu bangunan besar dengan corak yang cerah bertuliskan SMKN 1 Leuwiliang.

astra-ypamdr

Gedung SMKN 1 Leuwiliang

Saat memasuki gerbang sekolah, terasa sekali kemegahan yang tersaji di dalamnya berkat area parkir serta lobby sekolah yang cukup luas. Di sana terdapat beberapa siswa yang sedang berkumpul sambil berbincang dengan teman-temannya. Rupanya SMKN 1 Leuwiliang baru saja mengadakan lomba tumpeng di sekolah sebagai salah satu bentuk kreatifitas.

Kedatangan saya kemudian disambut oleh dua orang guru yang bernama Ibu Yuni dan Bapak Dimo. Melalui Ibu Yuni, saya mendengarkan bagaimana perjuangan SMKN 1 Leuwiliang sejak dulu hingga akhirnya bisa sukses seperti saat ini.

“Dulu itu masih banyak anak yang putus sekolah, ada juga yang menikah muda. Lalu Astra melalui YPA-MDR itu membantu bangun sekolah supaya anak-anak lanjut sekolahnya di SMKN 1 Leuwiliang. Dulu kita masih numpang di SMPN 4, sekarang sudah punya bangunan sendiri” ungkap Ibu Yuni sambil mengingat sejarah awal SMKN1 Leuwiliang.

SMKN 1 Leuwiliang mulai didirikan sejak bulan Maret tahun 2011 dengan memanfaatkan sebagian lahan SMPN 4 Leuwiliang. Saat itu masih berupa SMKN rintisan dengan kompetensi keahlian TPHP (Teknologi Pengelolaan Hasil Pertanian). Karena jumlah siswa semakin banyak, maka PT Astra International Tbk bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor membangun dan mengembangkan gedung SMKN 1 Leuwiliang beserta fasilitas pendukungnya. Sejak 12 Juli 2017, akhirnya perjuangan tersebut berbuah manis, SMKN 1 Leuwiliang resmi menempati bangunannya sendiri.

“Kalau dulu ada anak yang sedang sekolah terus dipanggil orangtuanya untuk pulang, ada juga yang beberapa hari tidak masuk sekolah karena bantuin panen. Sekarang sudah tidak lagi, kesadaran orangtua semakin meningkat, jadi anak bisa sekolah” tutur Ibu Yuni sambil mengajak saya berkeliling.

PT Astra International Tbk melalui YPA-MDR mengarahkan sekolah agar memiliki wawasan global sehingga sangat mendukung akan perlengkapan IT termasuk laboratorium itu sendiri. Karena disesuaikan dengan potensi Leuwiliang yang bergerak di bidang pertanian, maka kompetensi SMKN 1 Leuwiliang diarahkan pada keahlian APHP atau agribisnis pengelolaan hasil pertanian yang sebelumnya disebut sebagai TPHP. Semua peralatan laboratorium yang dibutuhkan benar-benar dilengkapi termasuk pendaftaran ISO 9001 tahun 2015 yang sudah berhasil dimiliki oleh SMKN 1 Leuwiliang. Semua itu demi tercapainya proses pembelajaran untuk menghasilkan lulusan dengan kompetensi yang berkualitas.

astra-ypamdr

Salah satu laboratorium yang ada di SMKN 1 Leuwiliang

Sama seperti yang diungkapkan oleh Kepala Sekolah SD Karyasari 3, selain memfasilitasi dari segi fisik, YPA-MDR juga melaksanakan pilar pembinaan akademis dengan turut meningkatkan kompetensi guru. Guru yang ada di SMKN 1 Leuwiliang diberikan pelatihan dari awal hingga akhir untuk jurusan APHP. Hasil pelatihan tersebut kemudian diturunkan kepada anak didik agar mereka lebih terlatih di bidang APHP.

Untuk pembinaan kecakapan hidup, sekali lagi YPA-MDR menyesuaikan dengan potensi daerah. Karena keahlian yang ditawarkan oleh SMKN 1 Leuwiliang adalah APHP, maka para siswa dilatih untuk mengolah potensi pertanian yang ada di sekitar menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Beberapa produk yang telah dihasilkan di antaranya: aneka tepung, aneka keripik, olahan produk hewani, hingga olahan dari tanaman obat keluarga.

astra-ypamdr

Dengan adanya keahlian tersebut, diharapkan selain dapat meningkatkan potensi daerah, juga dapat memutus arus urbanisasi sehingga lulusan sekolah dapat bekerja dan membangun daerahnya sendiri. Hal tersebut sesuai dengan tujuan dari YPA-MDR yaitu melahirkan generasi muda yang mandiri dan peduli untuk membangun daerahnya sejalan dengan cita-cita PT Astra International Tbk: Sejahtera Bersama Bangsa.

Dari Leuwiliang, Sejahtera Bersama Bangsa

PT Astra International, Tbk memiliki misi mulia yaitu Sejahtera Bersama Bangsa. Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan hal konkrit yang salah satunya diimplementasikan melalui YPA-MDR guna tercapainya pendidikan berkualitas. Dengan adanya pendidikan yang berkualitas maka semakin banyak orang yang mandiri hingga akhirnya mengetahui standar harkat dan martabat untuk meningkatkan kualitas masing-masing. Jika SDM yang berkualitas sudah terpenuhi maka cita-cita mewujudkan sejahtera bersama bangsa dapat tercapai.

Selain misi mulia dalam sejahtera bersama bangsa, Astra juga memiliki goal besar di tahun 2020 yaitu Proud of The Nation seiring dengan era globalisasi. Untuk mewujudkan hal tersebut maka Astra memperkuat potensi bangsa dengan mengangkat potensi daerah karena kekuatan globalisasi pada suatu negara terletak pada lokalitasnya yang menjadikannya sebagai potensi bangsa. Itu sebabnya mengapa Astra kemudian melakukan pembinaan berbasis potensi daerah untuk mengembangkan SDM berkualitas yang peduli akan daerahnya.

“Dengan semua fasilitas yang diberikan Astra, semoga kami bisa memanfaatkan sebesar-sebarnya bantuan yang sudah diberikan, terutama untuk meningkatkan kualitas kompetensi lulusan dan bisa berimbas ke masyarakat luas, terutama masyarakat di sekitar” tutup Ibu Yuni yang juga memiliki harapan yang sama agar lulusan sekolahnya turut memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Perjalanan saya selama satu hari menelusuri jejak-jejak perjalanan penuh inpirasi telah memberikan pemahaman dan wawasan baru, bahwa suatu keberhasilan akan lebih terasa manfaatnya jika memberikan efek terhadap masyarakat serta lingkungan di sekitar sehingga keberhasilan tersebut dapat dirasakan bersama. Seperti perjalanan penuh inspirasi dari Astra di Leuwiliang yang memberikan harapan serta membangkitkan cita-cita untuk menjadi manusia yang lebih baik dengan memanfaatkan potensi daerah. Sebuah kisah perjalanan penuh inspirasi bersama Astra, dari Leuwiliang untuk membangun cita-cita sejahtera bersama bangsa.




 

25 Comments

  1. Mohyiyi Abas

    Reply

    Keren.
    Smg lebih banyak generasi muda yang siap menghadapi tantangan zaman now. Meminimalisir generasi micin.

  2. lia djabir

    Reply

    kereeen. anak sd sudah di ajar untuk peduli sama pertanian. jgn sampe mereka gak tau asal muasal beras kayak anak kota sekarang ini

  3. Haerul Fajar

    Reply

    Semoga dengan adanya bantuan oleh PT Astra International Tbk, di beberapa sekolah di leuwiliang bisa menyelesaikan masalah pendidikan di wilayah leuwiliang khususnya.. Kerenn….

  4. monda

    Reply

    kalau mau jadi dokter ya biar ngerti tanaman juga…
    setuju banget sama yang ini, apapun profesinya masih boleh kok tetap senang bertanam
    semoga juga nantinya jadi mencukupi kebutuhan pangan keluarga

  5. Reply

    Bagus mba sekolahnya. Pas baca dari atas udah deg2an. Jarak 58 km dari ibukota.. lumayan banget itu jauhnya. Alhamdulillah ya terfasilitasi, moga semangat sekolah anak2 dsana..

    • Reply

      saya berangkat dari rumah ke Leuwiliang saja sudah deg-degan, selain memang jauh, jalur utama banyak dilalui truk besar, kalau berkendara harus hati-hati

  6. Reply

    Wah aku ikutan happy pas tau ASTRA punya peran besar memajukan daerah di Indonesia yaaa.. Semoga Astra bisa semakin sukses dan terus turut serta memajukan daerah-daerah di Indonesia yaaa

  7. Reply

    Wah keren nih Astra. Semoga CSR perusahaan lainnya juga ikut peduli ya. Mau ikutan lombanya tapi nyari info CSR Astra ke mana yak? ,?

  8. Pingback: Anak Petani - Evrina Budiastuti

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.