Penyuluh Digital Memanfaatkan Informasi Geospasial untuk Pembangunan Pertanian

geospasial

Sejak dulu saya menyukai hamparan hijau persawahan. Rasanya bahagia sekali jika sedang berada di sana. Untuk itu saya sangat bersyukur ketika ditakdirkan bekerja sebagai penyuluh pertanian. Selain dapat melihat hamparan sawah nan hijau, saya juga bisa membantu para petani meningkatkan kesejahteraannya.

Langkah awal yang saya lakukan ketika terjun sebagai penyuluh adalah mempelajari potensi desa melalui monografinya berupa peta wilayah desa, data sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusianya (SDM). Setelah itu saya melakukan penggalian terhadap masalah yang ada di desa serta peluang pengembangan. Langkah terakhir adalah melakukan pemetaan terhadap potensi dan masalah untuk menemukan usaha pertanian yang cocok sehingga dapat meningkat kesejahteraan para petani.

Untuk menggapai itu semua, saya memerlukan informasi geospasial yang akurat sebagai bahan dasar penentuan luas lahan berdasarkan komoditas. Sayangnya saat itu peta yang saya miliki berupa peta administratif tanpa adanya keterangan lebih lanjut mengenai topografi lahan serta luasannya. Padahal informasi tersebut sangat bermanfaat untuk menentukan program apa saja yang dapat saya kembangkan di desa berdasarkan potensi yang ada.

cikarawang
Peta administrative Desa Cikarawang, tempat saya melakukan kegiatan penyuluhan

Agar kegiatan penyuluhan tetap berjalan, maka saya memanfaatkan data dan informasi yang ada dari beberapa instansi terkait seperti data monografi tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten. Hanya saja tidak semua instansi memiliki data yang update setiap tahunnya seperti data di tingkat desa yang sebenarnya sangat diperlukan karena lebih terinci lagi.

Mengapa data yang akurat sangat diperlukan hingga level desa?

Karena sebagai bahan dasar untuk melakukan perencanaan sebelum melaksanakan program. Jangan sampai program yang dilaksanakan salah sasaran karena tidak sesuai dengan potensi yang ada.

Pembangunan pertanian di tingkat desa memang tetap dapat berjalan walaupun mungkin belum optimal. Namun hal tersebut tidak dapat dibiarkan saja, apalagi saat ini kami para penyuluh tidak hanya wajib membangun pertanian di desa tetapi juga diwajibkan untuk mendukung program swasembada pangan Pajale (padi, jagung, kedelai) yang dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia.

Program tersebut sejalan dengan kegiatan penyuluhan yang saya lakukan, namun pada awalnya saya agak bingung karena terdapat tumpang tindih data terutama pada data luas lahan. Padahal kami para penyuluh diwajibkan untuk terus melaporkan kondisi lahan yang dapat ditanam padi sebagai dukungan terhadap program swasembada pangan. Hal ini cukup mempengaruhi ketika melakukan pelaporan berapa kemungkinan lahan sawah yang dapat ditanami padi. Terjadi perbedaan persepsi antara kenyataan di lapangan dengan data di atas kertas karena bisa jadi data di atas kertas belum diupdate sesuai dengan kondisi di lapang.

Beruntung sekarang semua permasalahan tersebut terjawab setelah mengenal Ina-Geoportal yang dapat diakses baik melalui laptop maupun secara mobile dengan menggunakan smartphone.

logo-big-trans-2-

Ina-Geoportal adalah portal Geospasial Indonesia yang secara resmi diluncurkan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) pada tanggal 17 oktober 2011. Ina-Geoportal dibangun dengan partisipasi berbagai kementrian, lembaga, serta pemerintah daerah di indonesia, sebagai bukti apresiasi terhadap kebutuhan data geospasial di tanah air Indonesia.

Salah satu menu di Ina-Geoportal yang sangat membantu saya sebagai seorang penyuluh ketika sedang melakukan monitoring pertanaman padi adalah SIMOTANDI atau Sistem Informasi Monitoring Pertanaman Padi. Melalui SIMOTANDI maka saya dapat melihat kondisi pertanaman padi apakah sedang masa tanam yang diukur melalui HST atau hari setelah tanam, sudah dipanen, atau bahkan diberakan. Kemudian saya juga dapat mengukur berapa luasan lahan dengan melakukan pengukuran secara digital melalui map di SIMOTANDI.

Berdasarkan hal tersebut, tumpang tindih data diharapkan tidak terjadi lagi karena dapat dibuktikan secara bersama melalui satu pintu yaitu Ina-Geoportal. Apabila sedang menyamakan data terhadap kemungkinan luas tanam padi, saya dapat menyampaikan apa yang terdapat di SIMOTANDI sebagai bukti bersama diiringi dengan pengecekan secara langsung ke lapangan. Dengan adanya akurasi data dapat membantu melakukan evaluasi untuk perencanaan program kegiatan selanjutnya.

Data tersebut merupakan Informasi Geospasial Dasar (IGD) yang menurut UU No. 4 Tahun 2011 merupakan informasi geospasial yang berisi tentang objek yang dapat dilihat secara langsung atau diukur dari kenampakan fisik di muka bumi dan dan yang tidak berubah dalam waktu yang relatif lama. Informasi geospasial ini membantu dalam perumusan kebijakan, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan ruang kebumian yang dalam hal ini adalah lahan sawah sesuai dengan tempat saya bekerja.

Berikut adalah pengalaman saya dalam memanfaatkan informasi geospasial dalam kegiatan penyuluhan:

Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bogor tempat saya bekerja sangat memperhatikan keakuratan data IGD karena terkait dengan program yang dilaksanakan. Baru-baru ini kantor kami telah melakukan kerja sama bersama BIG untuk mendata secara real kondisi di lapangan terutama terkait luas lahan sawah. Karena tidak dapat dipungkiri pesatnya pembangunan juga berdampak pada alih fungsi lahan pertanian ataupun sebaliknya.

Intinya saat ini saya sebagai penyuluh sangat terbantu sekali dengan kemudahan akses informasi geospasial secara digital melalui Ina-Geoportal. Kalau dulu hanya terpaku pada peta administratif dan monografi saja, sekarang saya sudah menjadi penyuluh digital yang dapat melihat kondisi wilayah binaannya secara real dan update melalui Ina-Geoportal. Dari sini saya bersama pihak terkait dapat merumuskan program dan kegiatan yang dapat dilakukan demi pembangunan pertanian untuk kesejahteraan para petani. Jaya terus pertanian Indonesia!.

logo-big-trans-2-

Sumber Informasi:

Ina-Geoportal: http://tanahair.indonesia.go.id/

BIG. Profil BIG. Badan Informasi Geospasial. Cibinong. 36hal.

14 Comments

  1. Hari

    Reply

    Super sekali mba Ev, baru tau tuh ada situs BIG, yang familiar dengan kontroversi data luasan lahan yg beda jauh sama data dari kementan, itu versi ppk y ?.
    Terlepas dari hal tersebut, ternyata teknologi di Indonesia khususnya pemerintah udah mulai meningkat, biasanya klo saya pakai gmaps atau Google earth klo soal “pencitraan”??

    • Reply

      Haha, apa aja bisa dipakai ri, banyak aplikasinya, ini kalo Ina Geoportal sudah menjadi kebijakan satu peta, jadi acuan nasional kecuali peta tematik

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.