Harapan untuk Sekolah

Membaca kisah Bintang Makan Siang dalam buku Mommylicious karya mak Arin dan Mak Rina membuat saya menerawang mengingat kenangan dimasa sekolah dulu. Apa yang diceritakan mak Arin mengenai pendidikan ketika Ia kecil hampir sama seperti yang saya rasakan dulu dimana aspek kognitif (kemampuan intelektual) menjadi nomor satu meskipun aspek afektif (kemampuan emosional) dan psikomotorik (keterampilan) juga turut dikembangkan. Setidaknya itulah yang saya rasakan sejak kecil hingga berada di bangku kuliah dimana prestasi menjadi ukuran terpenting untuk melihat kemajuan peserta didik.

SMA Negeri 3 Bogor, sekolah ku

Sebagai anak daerah yang sejak sekolah dasar (SD) hingga menengah pertama (SMP) hanya berkutat di kabupaten saja, membuat saya bersiap diri ketika memutuskan untuk sekolah di sekolah menengah atas (SMA) unggulan kedua Kota Bogor saat itu. Saya yakin persaingan di kota akan lebih berat, apabila saya tidak bisa menyesuaikan diri tentu akan sangat ketinggalan. Nyatanya itulah yang terjadi, ketika akhirnya saya dapat diterima di  SMA Negeri 3 Bogor.

Sejak pertama bersekolah, saya sudah melihat pemandangan beberapa orang siswa yang nampak hilir mudik membawa beberapa buah buku. Salah satu teman kemudian bertanya “les dimana?” yang membuat saya cukup tertegun. Sejak SD saya tidak pernah mengikuti les, saya hanya belajar dari buku, dan menyerap apa yang disampaikan oleh guru maupun orang tua. Semua itu cukup untuk membantu saya lulus sekolah. Rupanya beberapa teman di kota tidak seperti itu, mereka sudah terbiasa dengan les diluar jam pelajaran sekolah khususnya bahasa inggris. Saat itu saya merasa benar-benar ketinggalan. Untuk urusan eksakta saya dapat bersaing dengan teman-teman yang lain, tapi untuk urusan bahasa inggris bisa dibilang saya kalah total. Sewaktu di kabupaten dulu, seingat saya kami jarang sekali didorong untuk mengimprove kemampuan bahasa asing. Anak-anakpun tidak mengambil kursus bahasa inggris seperti kebanyakan anak-anak saat ini. Tempat les bahasa inggris bisa dibilang hampir tidak ada di wilayah Bojonggede ketika saya masih SMP dulu. Saat itu saya pun menyadari untuk membuka wawasan kita harus pergi ke tempat lain agar pengetahuan lebih berkembang terutama arus informasi.

SMA Negeri 3 Bogor, Sumber: http://i.ytimg.com/vi/FBuo4a8kXAU/maxresdefault.jpg

Namun, berada di lingkungan sekolah unggulan dan ditengah-tengah persaingan yang sportif tidak membuat saya tertekan. Deretan piala yang terpampang di laboratorium sekolah justru membangkitkan semangat saya untuk turut berprestasi. Akhirnya diakhir tahun pelajaran ketiga, saya ditempatkan di kelas 3 IPA 1 yang saat itu bisa dibilang sebagai salah satu kelas yang diunggulkan karena beberapa juara kelas dipertemukan pada kelas itu. Peringkat kelas pun meluncur menjadi 4-6. Sedih? tidak, saya bangga sekali karena bisa bersaing sportif dengan teman-teman sekelas yang sangat cerdas. Bapak dan Ibu guru juga sangat mendukung dan selalu membangkitkan semangat kami untuk berprestasi.

Sekolah ku 😀 Sumber:http://andiasnada.blogspot.com/2011/08/why-we-heart-sma-negeri-3-bogor.html

SMA Negeri 3 Bogor yang sejuk, Sumber: http://andiasnada.blogspot.com/2011/08/why-we-heart-sma-negeri-3-bogor.html

Sekolah ini selain bangunannya yang menurut saya sangat sejuk, juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti laboratorium bahasa, laboratorium IPA, perpustakaan, laboratorium komputer, dan fasilitas lainnya yang sangat mendukung aktivitas kami untuk belajar. Selain prestasi akademik, SMA Negeri 3 Bogor juga langganan menjadi juara pada kegiatan ekstrakulikulernya. Saat itu hampir setiap tahun kegiatan ekstrakulikuler mampu menyumbangkan piala untuk sekolah. Saya ingat ketika itu lemari piala bahkan sudah tidak muat lagi untuk menampung tambahan piala yang datang, sebagian ada yang disimpan di ruang kepala sekolah dan sebagian lagi di ruang guru. Seiring dengan pergantian generasi, prestasi SMA Negeri 3 Bogor hingga kini kian meningkat terbukti dengan beberapa penghargaan yang berhasil diraih oleh peserta didik. Ada satu keunggulan yang didapat oleh sekolah saat itu tepat sebelum saya lulus pada tahun 2002. SMA Negeri 3 Bogor menjadi satu-satunya sekolah negeri yang dipercaya Pemerintah Daerah Kota Bogor melalui Dinas Pendidikan Kota Bogor untuk melaksanakan program Akselerasi. Sekolah kami dipercaya menjadi sekolah yang menerapkan sistem akselerasi pertama di Kota Bogor berkat prestasi akademik maupun non akademik yang diperoleh sekolah.

Alumni SMAN 3 Bogor, Sumber: http://www.amy-amy.com/?amy=video&v=0K-eVOZnMRc

Namun ada satu point penting yang menurut saya masih kurang untuk dikembangkan pada kurikulum saat itu yaitu pendidikan membangun karakter. Pendidikan moral memang diberikan melalui beberapa pelajaran seperti agama, pendidikan kewarganegaraan serta bimbingan dari guru BK (Bimbingan dan Konseling) atau pada saat tertentu dimana pihak sekolah dengan siswa bertemu, akan tetapi porsinya hanya kecil karena memang tidak tercantum dalam kurikulum. Aspek kognitif tetap menjadi primadona saat itu. Beberapa orang guru bahkan memberikan reward bagi siswa yang nilainya melampaui rata-rata atau target yang telah ditentukan. Bagi saya hal tersebut sah-sah saja karena sayapun menyukainya lantaran turut serta membakar semangat untuk belajar. Tapi hal ini mungkin tidak dirasakan oleh siswa lainnya. Siswa yang memiliki nilai rendah bukan berarti dia tidak bisa, banyak faktor yang mempengaruhi mengapa dia tidak bisa seperti rekan lainnya. Saat itu, beberapa pelajaran yang tidak disukai justru membuat beberapa siswa berada di luar lingkungan sekolah yang kemudian mengundang kejadiandiluar kehendak sekolah. Barulah saat itu pembinaan terus-menerus dilakukan namun porsinya tetap lebih kecil ketimbang pelajaran pada umumnya.

Pendidikan karakter menurut saya sangat penting karena mampu mempersiapkan anak atau siswa ketika dia berada di masyarakat nanti. Seorang pelajar atau mahasiswa bukankah menjadi teladan juga dalam masyarakat karena dianggap terpelajar dan berilmu. Seorang yang berilmu tentunya memiliki sikap yang baik juga bukan? Namun nyatanya aspek kognitif tetap dinomor satukan oleh berbagai pihak. Saya ingat ketika dulu ada seorang kakak kelas yang bercerita bahwa dia dinyatakan tidak diterima bekerja lantaran pihak perusahaan melihat nilai IPK (indeks prestasi kelulusan) yang dimilikinya jauh dibawah rata-rata standart perusahaan. Diapun meminta perusahaan agar memberikan kesempatan baginya untuk melakukan psikotes terlebih dulu. Hasilnya cukup membuat tercengang perusahaan saat itu, ternyata nilai psikotes yang dihasilkan kakak kelas diatas rata-rata. Diapun pada akhirnya dapat diterima bekerja dan kini menjadi salah satu karyawan yang diandalkan. Ada satu lagi cerita mengapa pendidikan karakter itu penting, kisah ini saya dapat dari Ibu Fia seorang Widyaiswara disalah satu pusat pelatihan, Beliau bercerita ketika dia dan beberapa rombongan peneliti Indonesia ditugaskan untuk berangkat ke Laos Kamboja. Dapat dikatakan tak ada peneliti yang mau dikirim kesana saat itu karena Kamboja dikenal sebagai negara berkembang yang jauh dari Indonesia. Kenyataan itu memang benar adanya dan lagi-lagi membuat rombongan Ibu Fia merasa sombong karena kondisi Indonesia jauh berada di atas Laos. Tetapi diakhir perjalanan para peneliti ini mengakui bahwa masyarakat Kamboja itu hebat karena meskipun dianugerahi kondisi geografis yang tidak mendukung serta bantuan yang sulit didapat dari pemerintah justru membuat mereka mampu menghasilkan. Mereka mampu mengekspor padi organik ke Eropa hanya dengan luasan 2 ha saja. Apa kunci keberhasilan mereka? yaitu karena ketulusan. Ketulusan orang-orang didalamnya baik petani maupun para petugas yang tidak membeda-bedakan dan saling percaya satu sama lain justru membawa Kamboja selangkah lebih maju dari Indonesia. Bagaimana dengan kita?

Sungguh pendidikan karakter itu penting, dan itulah harapan saya untuk pendidikan Indonesia. Semoga nilai akademik tidak serta merta menjadi acuan utama sebagai alat ukur kemajuan peserta didik tetapi juga tingkah laku dan keterampilan agar prestasi yang didapat mampu diemplementasikan dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat.

 

 

8 Comments

  1. Reply

    Pengalaman kakak kelas yang meminta psikotest terlebih dahulu supaya bisa diterima kerja, itu belom tentu dikabulkan oleh perusahaan lain, Mak. Biasanya memang IPK yang jadi tolok ukur seleksi berkas terlebih dahulu. :'(

    • Reply

      kebetulan kakak kelas saya waktu di wawancara pertama dia berani mak, dia bilang jangan lihat dari IPK nya saat itu, terus minta perusahaan lihat hasil psikotes, ternyata hasilnya bagus mak, makanya dia diterima

  2. Reply

    Oh ternyata alumnus SMA 3 ya. Saya pernah sekali ke SMA 3 untuk berjumpa seorang muridnya. Ada pemandangan unik waktu itu. Meskipun bukan SMA Islam macam MAN, tapi saya takjub anak-anak masih mau mencium tangan guru2 mereka. Masih ada rasa hormat.

    Walaupun saya datang dengan maksud mengorbitkan salah satu murid mereka, tidak lantas dibolehkan ketemu begitu aja. saya musti nunggu sampe jam istirahat. Memang sekolahnya enak, deket ma Giant dan Gramedia Pajajaran ya Mbak hehe.

    Saya jd teringat ucapan anies baswedan, “Kompetensi mengantarkan seseorang pada peluang. Nah, karakterlah yang menentukan bagaimana sikap seseorang menghadapi peluang.”

    Semoga sukses, Mbak!

    • Reply

      Kalo mencium tangan guru bukankah di semua sekolah gitu ya mas? iya SMA 3, saya juga udah lama gak kesana, kangen banget sama sekolah dan guru-gurunya, waktu zaman saya dulu peraturan cukup ketat, sekarang lebih ketat lagi. Inget banget gara2 keretanya telat saya jadi terlambat masuk. diperbolehkan masuk karena ada surat keterangan dari PT KAI hehe

    • Reply

      makasih mbak sudah mampir, iya karakter itu penting, karena turut serta membentuk kepribadian bangsa, indonesia kan dulu dikenal sebagai negara yang santun jadi harus dipertahankan

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.