Hari Tani Nasional: Belajar dari Content Creator yang Gemar Menanam

hari-tani-nasional

Setiap kali bertemu dengan orang pusat atau orang kabupaten, saya sering ditanya bagaimana regenerasi untuk petani atau kelompok tani? Terus terang kalau di wilayah binaan saya memang agak susah. Anak muda yang memiliki orang tua berprofesi sebagai petani lebih senang memilih untuk bekerja di pabrik, berdagang, menjadi supir angkot, atau bahkan tukang ojeg ketimbang melanjutkan usaha orang tuanya. Bisa jadi mereka tidak mau melanjutkan karena image kotor di bidang pertanian. Tetapi jangan salah, ada lho yang orang tuanya sukses menjadi petani hortikultura dengan image yang lebih baik ketimbang petani padi, tetap saja belum menggugah sang anak untuk terlibat di usaha yang dilakukan orang tuanya.

Di tengah permasalahan regenerasi ini, saya mencoba mencari apakah masih ada anak muda yang lulus sekolah atau kuliah namun pikirannya tidak melulu bekerja di bank, tidak melulu kerja di kantoran, tetapi lebih memilih untuk usaha agribisnis. Ternyata ada lho, setelah sebelumnya saya mengulas tentang usaha empat orang anak muda di bidang hidroponik, kali ini saya ingin bercerita tentang sosok anak muda yang bahkan tidak ada darah pertanian di keluarganya namun dia suka menanam. Siapakah dia? Sebentar tahan dulu ya.

Baca ini yuk: Fruitable Farm, Menanamkan Cinta Pertanian Melalui Hidroponik Kekinian

Artikel ini saya tuliskan dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional yang dirayakan setiap tanggal 24 September setiap tahunnya. Peringatan Hari Tani Nasional ini berdasarkan Keppres No. 169 tahun 1963 yang ditetapkan oleh Presiden Soekarno. Nah, mumpung sedang hari tani nih, yuk kita beramai-ramai mengucapkan “Selamat Hari Tani Nasional” untuk para petani Indonesia karena tanpa mereka ketahanan pangan nasional yang sedang diusahakan mungkin tidak tercapai. Terima kasih bapak ibu petani.

hari-tani-nasional

Handiko, si Content Creator yang Gemar Menanam

Sebagian teman-teman blogger pasti sudah mengenal dengan sosok anak muda dari Semarang ini. Bagi yang belum mengenal, kita kenalan dulu yuk. Namanya adalah Handiko Rahman Pebrianto. Pemuda yang terbiasa menghasilkan karya out of the box ini sehari-harinya dipanggil dengan nama Diko. Aktivitas Diko sekarang ini adalah menekuni profesi sebagai Blogger sekaligus freelancer. Tetapi dia sedang prepare untuk lanjut kuliah lagi lho. Wah semangat ya Diko, mumpung masih muda lanjutkanlah karena semangat belajarnya masih tinggi, jangan seperti saya, kelamaan niat kuliah tapi sampai sekarang belum lanjut juga hehe.

Saya mengenal Diko ini awalnya dari lomba blog, dia muncul di antara persaingan blog hunter dengan membawa sentuhan fresh, lucu, dan enak dilihat pada konten yang dihasilkan. Itu karena Diko berhasil meramu design grafis yang katanya diolah melalui CorelDraw dengan warna-warni dan garis-garis yang enak dipandang.

handiko

Ini lho yang namanya Handiko Rahman Pebrianto

Saya kaget lho, di balik keseriusannya menggarap konten, ternyata sosok yang mengaku introvert ini suka dengan hal-hal yang berbau Korea seperti drama Korea hingga K-Pop. Ya ampun saya pikir untuk orang yang serius, hal tersebut itu “enggak” banget deh. Nyatanya buat Diko, drama Korea dan K-Pop itu menyenangkan. Kalau tidak salah, saya pernah membaca cuitannya di media sosial tentang alasan mengapa dia menyukai drama Korea. Itu karena dia juga sekalian belajar cinematography-nya, secara pengambilan gambar di setiap adegan di K-drama itu maksimal banget.

Nah, baru-baru ini saya dibuat terkaget lagi oleh Diko saat dia bertanya mengenai tanaman. Rupanya Diko sedang gemar menanam lho. Saya tidak habis pikir, kok bisa orang yang sering berhadapan dengan laptop, tiba-tiba jadi memegang tanah, benih, pupuk, pot, dan perintilan pertanian lainnya?.

Pemilik blog di https://www.handikoo.com ini kemudian mengaku kalau aktifitasnya setiap hari hampir selalu berhubungan dengan layar laptop hingga berjam-jam. Saking lamanya berada di depan laptop, Diko merasa jenuh dan berpikir untuk memiliki hobi baru. Sampai akhirnya, dia lewat di depan toko kebun dan iseng untuk membeli bibit tanaman. Rencananya dia ingin bercocok tanam sendiri hingga akhirnya keterusan dan menjadi hobi barunya saat ini. Diko mengatakan bahwa hobinya ini mirip dengan pepatah “jodoh tak akan lari kemana”.

handiko

Tidak memiliki latar belakang di dunia pertanian, bukan berarti menjadi sebuah hambatan bagi seorang Diko untuk menekuni hobi barunya. Awalnya dia mengaku cukup sembrono ketika menanam. Saking semangatnya menanam, Diko rajin menyiram bibit yang sudah tumbuh setiap jam. Pernah juga benih yang dia tanam tidak tumbuh lantaran Diko memilih media tanam yang tidak subur. Diapun tidak menyerah dan langsung mencari informasi di internet dan mempelajari semua tentang bercocok tanam sampai akhirnya benih tersebut bisa tumbuh baik.

Saya sengaja menebalkan kalimat terakhir di atas karena saya sangat mengapresiasi sekali akan semangatnya dalam menanam. Dari yang tidak tau menjadi tau karena ingin belajar. Segini dipraktikan oleh orang yang tidak memiliki latar belakang pertanian, coba deh kalau anak-anak muda yang memang sudah tau seluk-beluk dunia pertanian lalu mengamalkannya, insyaaAllah dunia pertanian Indonesia semakin maju.

bibit-tanaman

Bibit cabai dan tomat hasil tangan dingin Diko

Saya pribadi merasakan banyak manfaat dari kegiatan menanam. Selain membantu dalam penghijauan, juga memberikan rasa senang tersendiri di dalam hari. Itu juga yang dirasakan oleh Diko. Dia mengatakan bahwa ada perasaan bahagia ketika menanam mulai dari menabur benih, melakukan penyiraman setiap hari hingga dapat melihat tanamannya tumbuh perlahan. Rasanya seperti memiliki hewan peliharaan, yang harus dirawat dan dijaga sebaik mungkin. Bedanya tanaman tidak bisa bergerak bebas seperti hewan, tetapi tanaman bisa menghasilkan buah atau daun yang bermanfaat, lingkungan menjadi sejuk dan banyak manfaat lainnya. Itulah letak keseruan menanam menurut pemuda berkaca mata ini.

Melihat keseruan aktivitas penanaman yang dilakukan Diko di rumah, tentu mengundang tanda tanya dari keluarga. Diko mengatakan kalau mereka kaget melihat aktivitas Diko belakangan ini. Wajar saja, biasanya dia berkutat di depan laptop, tiba-tiba jadi senang menanam. Soalnya Diko mengaku kalau dulu dia paling males untuk mengurus tanaman pekarangan lalu tiba-tiba menjadi orang yang rajin bercocok tanam. Alhamdulillah keluarganya sangat mendukung hobi baru Diko ini dan senang kalau melihat Diko jadi suka bercocok tanam. Rumah menjadi terasa adem dan sejuk menurut keluarga Diko.

bibit-tanaman

Rajin banget sampai diberi label

Setelah merasakan sendiri proses penanaman, Diko mengakui kalau menumbuhkan tanaman termasuk memegang tanah dan pupuk kandang itu tidak menjijikkan. Menurutnya, kotor karena menanam itu tidak masalah karena tidak selamanya kotor itu buruk. Diko masih mau kok menanam lagi, dia mengaku tidak kapok untuk menanam.

Tuh kan apa saya bilang, tidak perlu sekolah pertanian dulu untuk bisa menanam. Siapapun bisa, asalkan memiliki kemauan dan tidak takut kotor tentunya. Lagian pertanian sekarang sudah modern kok, tidak harus berkembang di lahan yang luas, menanam di lahan sempit pekarangan juga sudah bisa dilakukan.

Dari kegiatan penanaman yang Diko lakukan, dia memiliki banyak harapan, di antaranya adalah:

  1. Dapat menyebarkan virus bercocok tanam di kampung. Diko berharap semoga setelah dia rajin bercocok tanam, maka keluarga bisa ikut dan tertarik untuk melakukan hal yang sama. Termasuk para tetangga yang setiap sore melihatnya sedang bercocok tanam di pekarangan rumah. Diko sudah membagikan berpuluh-puluh pot ke tetangga, semoga mereka juga tertarik untuk mengembangkan penanaman minimal di pekarangannya masing-masing.
  2. Diko berharap agar dia dapat lebih expert lagi dalam hal bercocok tanam. Dia mengaku masih banyak yang harus dipelajari dan kedepannya akan menulis tentang bercocok tanam di blog dan media sosial. Sekarang Diko memiliki mimpi baru yaitu ingin memiliki rumah kaca tempat berkebun pada suatu hari nanti sehingga dia lebih bebas bertanam. Aamiin.

Kita doakan yuk semoga impian Diko ini dapat tercapai. Aamiin. InsyaaAllah impian yang baik akan disambut juga dengan baik, apalagi impiannya berupa memakmurkan bumi, insyaaAllah dikabulkan. Aamiin.

bibit-tanaman

Bibit tanaman yang berhasil ditumbuhkan Diko

Terakhir, saya bertanya kepada Diko, apakah ada statement khusus terkait kegiatan yang dilakukan? Nah, berikut adalah pernyataan dari Diko:

“Harapanku, sebagai anak muda aku ingin sekali melihat generasiku juga peduli dan peka terhadap lingkungan hijau di sekitar kita. Menyelamatkan bumi bisa dilakukan dari hal-hal kecil, salah satunya seperti menanam tanaman. Enggak usah pusing-pusing, mulai dulu dari satu pot lalu berlanjut ke pot-pot berikutnya. Lupakan semua stigma tentang menanam itu kotor, ribet dan butuh banyak uang. Pada akhirnya, kita sendiri yang bisa menyelamatkan bumi. Karena hal-hal besar berawal dari hal kecil terlebih dahulu”.

Cakeeeep banget. Presiden Soekarno pernah mengatakan “berikan aku 10 pemuda, niscaya akan ku guncangkan dunia”. Ini tidak jauh berbeda dengan pertanian “berikan aku 10 pemuda, maka ku majukan pertanian”. Semoga ada Diko lainnya di tempat lain yang memulai dari hal kecil namun bermanfaat bagi bumi.

Sekali lagi selamat Hari Tani Nasional, jayalah terus pertanian Indonesia.

29 Comments

  1. Reply

    Hai mbak Ev. Aku baru tahu kalo mas Diko suka menanam tanaman di pot. Aku anak petani loh mbak. Tapi dulu aku lebih memilih jadi kuli pabrik karena gajinya lumayan dan sabtu minggu libur. Dari kecil hingga usia 22 tahun saat ini aku selalu akrab dengan dunia pertanian. Kalo di kampungku jadi petani itu enak tapi susah dijalani.

    • Reply

      Iya soalnya memang jadi petani itu imagenya masih di bawah ya, beda dengan pekerja lainnya. Kecuali untuk petani horticulture yg pamornya Sudah naik

  2. Reply

    Mungkin kreativitas mas Diko karena hobinya dalam menanam. Kata orang tua, orang yang hobinya menanam dan tanamannya tumbuh dengan baik, itu berarti tangannya ‘adem’, kalo melakukan pekerjaan apapun hasilnya baik.
    Sama juga kayak mbak Evrina, kalo lomba sering menang, kayak lomba Asusnya mbak Uniek kemarin.. hehe

  3. Reply

    Tomato ternyata. Kalau saya penasaran sekali sama buah buahan yang di polibek Mbak, misal jambu kristal, jambu air, jeruk, tapi yang pohonya pendek, paling cuma 1 meter dan berbuah lebat, karena rencana saya pengen tanan pohon buah yang seperti itu. Kmaren liat di IG bagus bagus banget

  4. Reply

    Selamat Hari Tani Nasional.

    Kalau saya dulu pas jaman SMA, mbak. Lumayan seneng buat ngurus taneman di rumah. Tapi setelah kuliah dan ngekost, semangat buat bermain tanah dan taneman mulai luntur. Hehe…

    Kalau masalah Korea-korea’an, mungkin kalau saya lebih seneng sama alur cerita di film atau dramanya sih. Bagus 🙂

  5. Reply

    dulu waktu masih sekolah karena kebetulan punya halaman rumah luas, orang tua aq pernah menanam bayam karena lumayan banyak terus di jual ke tetangga-tetangga, duh senang deh dulu tuh, tiap sore aq siramin tapi sekarang sudah gak ada halaman lagi, tapi kita tetap suka berkebun sih, cuma nggak seperti dulu lagi paling hanya tanam di pot kecil saja…

    semoga makin banyak anak-anak muda yang suka bertani atau berkebun

  6. Ashan He

    Reply

    Membaca post ini membuat niat saya untuk berhidroponik kembali tumbuh. Sayangnya, dunia saya habis di depan laptop karena deadline pekerjaan. Belum bisa mengatur waktu untuk hal lain.

    Anyway, salam kenal.

  7. Reply

    Kok salfok yaa sama yang bahas kalau diko seorang introvert tapi suka K-Pop, hehe..
    Tapi aku salut karena dia berani mencoba hal baru yg sebelumnya ga pernah dilakukan di dunia pertanian

  8. Reply

    Bercocok tanam itu emang mengasyikkan loh..
    Apalagi kalo masak bahan bakunya sebagian dari kebun mini milik sendiri hehehe puas rasanyaaa

  9. Pingback: Hari Tani Nasional: Sosok Inspirasi Petani di Era Milenial - Agricultural Extension Officer, Blogger, and Dreamer

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.