Ibu, Kemana Aja?




kwt

Ibu-Ibu kwt yang saya kangenin

“Ibu, kemana aja lama gak keliatan?”

Kalau ditanya begitu sama petani ada dua penafsiran yang harus diselami dan dipahami. Yang pertama itu artinya ibu penyuluh ini jarang datang ke kelompok untuk membina. Nah yang kedua adalah bisa jadi petani itu kangen alias membutuhkan penyuluhnya sehingga mereka bisa bertanya seperti itu. Kalau buat saya pribadi, dua penafsiran itu benar adanya, alias memang terjadi pada saya. Saya menyadari banget kalau ternyata bulan kemarin itu jarang sekali datang ke kelompok untuk berkunjung atau membina. Baru sekarang setelah menatap lama kalender 2016, saya baru sadar kalau sudah sebulan saya tidak berkunjung ke kelompok. Pantesan Bapak Ibu petani bertanya begitu.

Sebenarnya saya antara malu dan senang juga, malu karena jarang datang, dan senang karena masih dibutuhkan. Bulan Desember kemarin saya memang jarang sekali mengadakan pertemuan karena terlalu sibuk menyelesaikan laporan akhir tahun serta rapat ini-itu. Awal tahun juga masih saja membereskan administrasi perencanaan serta rapat. Tapi akhirnya saya bisa membagi waktu untuk sekedar berkunjung dan bersilaturahmi dengan Bapak Ibu petani. Sekarang sudah akhir Januari, waktu benar-benar tidak terasa, itu artinya saya harus ngebut untuk mengejar ketinggalan.

Minggu kemarin, saya melakukan semacam inspeksi sawah bersama Petugas Pengendali Organisme Tanaman (POPT). Kami memantau luasan sawah yang ditanam beserta memantau hama penyakitnya. Alhamdulillah tidak terlalu ada masalah, hanya serangan burung saja yang memang harus dikendalikan secara mekanis oleh petani. Meskipun kami sudah blusukkan ke sawah, ada saja petani yang mengatakan kalau kami belum menengok, itu salah kami sih karena tidak anjangsana dulu ke ketua kelompok sehingga dianggap kami tidak berkunjung. Maklum waktu kami terbatas untuk mengunjungi empat desa, jadi kami langsung terjun ke sawah bertemu dengan petani yang ada.




penyuluh

Jalan yang harus dilalui kalau ke lapangan, alhamdulillah aman soalnya sudah biasa naik turun gunung *eh

Lain halnya dengan para ibu kelompok wanita tani (KWT). Setelah saya menghubungi mereka untuk berkumpul, rupanya mereka mengatakan kalau sudah kangen. Anggota waktu itu belum bisa berkumpul karena ada yang sakit dan sedang persiapan umroh. Saya merasa bersalah karena sudah terlalu lama tidak ke sana. Terlebih ketika mengetahui kabar bu haji yang sakit, sedih rasanya.

Tapi ada yang membuat saya bahagia, para ibu ini meskipun saya tidak datang membina, kegiatan mereka tetap jalan. Mereka masih melakukan penanaman dan pemanenan. Kemarin kami panen kangkung, bayam, daun singkong dan kemangi untuk dijual dan dimasukkan lagi ke dalam kas kwt. Saya kagum dengan mereka, ini adalah ciri-ciri kelompok independent yang akan tetap jalan meskipun penyuluhnya tidak datang. Mereka sudah bisa merencanakan dan melaksanakan kegiatan sendiri tanpa tergantung penyuluhnya. Beda dengan desa sebelah yang sangat tergantung dengan kehadiran saya, jadi kalau saya tidak mendampingi maka kelompok itu akan vakum. Kalau sudah begitu bahaya sekali kan? Nah itu masih menjadi PR bagi saya bagaimana membuat mereka menjadi mandiri.

Tahun 2016 ini tugas saya sebagai penyuluh akan lebih berat karena target swasembada pangan di tahun 2017. Tapi saya tidak terlalu ambil pusing karena tugas pokok dan fungsi utamanya adalah membangun sumber daya manusia pertanian agar mereka mencapai kesejahteraan. Yang penting bagaiamana caranya juga ibu penyuluh ini tetap fit karena harus menangani empat desa. O iya perlu dicatat nih, yang ditangani itu adalah manusia bukan benda mati, manusia yang banyak sekali perbedaan sifat, kemauan serta kepentingan. Tidak gampang lho membina manusia, tetapi tidak susah juga asal terus optimis. Ganbate!

24 Comments

  1. Reply

    Dulu, ketika aku masih bekerja di kelurahan aku sering berinteraksi dengan penyuluh pertanin sebagai mitra.. Berbagai program pertanian disampaikan oleh penyuluh pertanian kepada masyarakat di kelurahan .. Salah satunya adalah program pemanfaatan tanah pekarangan dan menyulapnya menjadi lahan budi daya kebun sayur mayur.. Sayangnya, ketika dah mulai panen aku sdh tidak bekerja di kelurahan lagi, ttp aku puas akan hasilnya, masyarakat yang dibina menikmati hasilnya.. Dan selalu mendapat kunjungan dari pemkot dan tamu2 lainnya…

  2. Reply

    Menyenangkan ya mbak Evri, bisa berada ditengah-tengah petani dan kehadiran kita sangat dinanti untuk memberikan ilmu kepada mereka.

    Dan pemandangannya indah sekali. ditengah pepohonan serba hijau, jadi segar deh 🙂

  3. Reply

    Hebat sekali ibu penyuluh ini. Pastas saja mereka sangat rindu dengan kehadiran mbak.e
    Semoga program di tahun 2016 bersama ibu KWT bisa berjalan dengan sangat baik ya mbk. Untuk trciptanya sumberdaya manusia yg mncpai ksjhteraan tsb hhhee

  4. Reply

    Apalagi orang desa ya, sopan santunnya masih hierarkis, kudu sowan tokohnya, baru dianggap hadir. Semoga stock sabar melimpah. Sehat terus ya, energimu memang luar biasa.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.