Ide Hebat: Tambahan Penghasilan dari Rumah Melalui Optimalisasi Pekarangan

Beberapa waktu yang lalu tetangga di sekitar rumah banyak mengeluh dikarenakan kebutuhan pokok meningkat seiring dengan meningkatnya harga bahan bakar minyak beserta tarif dasar listrik maupun gas elpiji. Hal itu juga saya rasakan pada bulan-bulan tertentu dimana pengeluaran menjadi besar pasak dari pada tiang karena gaji masih tetap sama sementara pengeluaran jumlahnya lebih besar. Untuk mengatasi hal tersebut, saya menyiasati dengan melakukan gerakan penghematan. Akan tetapi gerakan penghematan belum merupakan solusi jitu untuk mengatasi besar pasak dari pada tiang tersebut. Sudah saatnya kita keluar dari zona nyaman dan melihat di sekitar apakah ada potensi yang dapat kita kembangkan untuk menambah penghasilan keluarga.

Sebenarnya ada suatu ide bisnis yang menjadi peluang usaha bagi ibu rumah tangga apabila dia jeli dalam memanfaatkannya. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan lahan pekarangan. Mungkin teman-teman akan bertanya, apa yang bisa dihasilkan dari pekarangan? Karena tidak semua rumah memiliki pekarangan luas untuk dijadikan peluang usaha. Tidak usah khawatir karena semua itu bisa dilakukan asal kita yakin dan tekun dalam menjalankannya. Saya mengenal Ibu Atih yang hanya memiliki luas pekarangan sekitar 10m2 tetapi bisa menghasilkan nugget sayuran untuk dipasarkan di sekolah-sekolah, juga Ibu Ratna yang hanya memiliki lahan pekarangan kurang dari 15m2 tetapi bisa berternak ayam kampung dan ikan gurame, begitu pula dengan Ibu Hani yang sedikit-demi sedikit dapat mengurangi kebutuhan belanja dapur dari hasil pekarangan bahkan hingga bisa memberikan hasil panennya ke tetangga di sekitar rumah. Bagaimana bisa? Semua itu bisa dilakukan melalui salah satu ide bisnis yaitu optimalisasi lahan pekarangan.

Menurut Arifin et al. (2009) Pekarangan merupakan lahan atau halaman disekitar rumah dengan batas yang jelas dan memiliki fungsi multi-guna antara lain sebagai tempat dipraktekkannya sistem agroforestri, konservasi sumberdaya genetik, konservasi tanah dan air, produksi bahan pangan dari tumbuhan dan hewan, tempat terselenggaranya aktivitas yang berhubungan dengan sosial-budaya, terutama bagi pekarangan yang berada di perdesaan. Diketahui bahwa luas pekarangan di Indonesia sangat berpotensi untuk dikembangkan dengan total luas lahan mencapai 10,3 juta hektar (Kementan RI, 2012). Berdasarkan potensi tersebut, kita bisa melakukan pengembangan untuk memperoleh tambahan hasil bagi ibu-ibu rumah tangga.

Idenya begini, diketahui bersama bahwa rumus Keuntungan (ฯ€) sama dengan pendapatan (TR=Total Revenue) dikurangi pengeluaran atau biaya (Total Cost):

ฯ€= TR-TC

semakin besar TR maka semakin besar keuntungan begitu pula sebaliknya jika semakin besar pengeluaran (TC) maka semakin kecil keuntungan yang kita sebut dengan besar pasak dari pada tiang.

Dalam kehidupan, keuntungan bisa kita terjemahkan menjadi kelebihan yang dapat kita gunakan sebagai tabungan. Nah, melalui optimalisasi pekarangan ini diharapkan kita bisa mendapatkan tambahan hasil dengan cara meningkatkan pendapatan dan mengurangi biaya. Meningkatkan pendapatan misalnya dengan melakukan pengolahan pangan lokal yang berasal dari pekarangan, membuat kerajinan atau usaha lainnya. Sedangkan untuk mengurangi biaya dapat dilakukan dengan penanaman di pekarangan dan atau pemeliharaan ternak kecil yang tentunya dapat menurunkan biaya pengeluaran dapur.

Pekarangan memang belum memberikan hasil maksimal seperti peluang usaha lainnya. Apalagi pada masing-masing daerah memiliki karakteristik pekarangan yang berbeda baik dari aspek agroekologi, sosial, budaya dan ekonomi. Tetapi paling tidak kita dapat meminimalisir biaya untuk belanja dapur terutama kebutuhan akan sayuran. Contohnya saja untuk komoditas cabe, ketika harga cabe merangkak naik menjelang puasa atau lebaran, bagi ibu rumah tangga yang banyak memiliki tanaman ini di pekarangan tentu tidak akan terlalu berpengaruh. Contoh lainnya adalah komoditas toga atau tanaman obat keluarga semacam kunyit, jahe, lengkoas yang juga berfungsi sebagai rempah-rempah dapur. Kemudahan pemeliharaannya membuat siapapun dapat menanam di pekarangan sehingga dapat meminimalisir pengeluaran.

Permasalahannya adalah bagaimana cara mengoptimalkan fungsi lahan pekarangan hingga dapat memperoleh tambahan hasil khususnya bagi ibu-ibu rumah tangga.

Pertama, identifikasi kondisi pekarangan di rumah sendiri dan tentukan komoditas yang cocok untuk ditanam di pekarangan. Jika pekarangannya cukup luas (>120 m2) maka dapat ditanam aneka komoditas seperti buah-buahan, sayuran, toga hingga sumber karbohidrat. Kemudian tentukan jenis komoditasnya yang sesuai baik dari segi agroekologi maupun selera atau kesukaan anggota keluarga. Misalnya di suatu pekarangan tidak cocok menanam terong karena terlalu banyak hama kepik yang memakan daun, maka dapat diganti dengan sayuran lainnya yang disukai keluarga.

Kedua, membentuk kelompok ibu-ibu rumah tangga yang dapat memanfaatkan pekarangan dan sedikit demi sedikit mengarahkan mereka untuk mendapatkan hasil dari pekarangan. Misalnya mengajak ibu-ibu dalam satu RT untuk menanam satu jenis komoditas secara serentak di pekarangan masing-masing. Nanti hasil panennya dikumpulkan dan dipasarkan atas nama kelompok untuk menjaga kestabilan harga. Jika dilakukan sendiri, bisa jadi harga sayuran atau buah yang dipasarkan berbeda antara ibu yang satu dengan ibu lainnya. Cara ini dapat dilakukan apabila pemenuhan kebutuhan pangan dari pekarangan sudah dapat memenuhi keluarga sendiri. Karena hasilnya lebih maka dapat dijual ke pasaran, sehingga selain mengurangi belanja dapur, ibu-ibu juga mendapatkan tambahan penghasilan.

Ketiga, lakukan optimalisasi pekarangan secara berkelanjutan. Yaitu dengan menanam satu jenis komoditas dengan jeda waktu yang berbeda. Misalnya minggu ini menanam kangkung beberapa baris, maka minggu berikutnya menanam kangkung kembali agar pasokan kangkung tetap tersedia.

Keempat, komoditas yang diusahakan tidak hanya produk segar saja tetapi juga bibitnya. Selain hasil panen segar, ibu-ibu juga dapat menjual bibit tanaman yang memiliki nilai jual seperti cabe, tomat, seledri, dan tanaman obat keluarga jenis sirih merah, binahong dan lainnya. Jadi, selain untuk pemenuhan kebutuhan keluarga, kita juga bisa memperoleh tambahan hasil dari penjualan bibit.

Keempat, bila satu RT berjalan lancar, dapat diikuti oleh RT lainnya hingga menjadi kawasan agrowisata yang dapat menambah pemasukan bagi masyarakat di kawasan.

Mungkin masih ada satu permasalahan lagi yang harus dipecahkan terkait optimalisasi pekarangan ini, yaitu bagaimana melakukan optimalisasi pekarangan di lahan yang sempit (<120m2) dan tidak memiliki tanah?

Saat ini telah dikembangkan teknologi penanaman seperti vertikultur yaitu penanaman secara vertical (berundak atau bertingkat) baik menggunakan wadah talang, bambu, atau wadah-wadah lainnya yang disusun secara vertical. Kemudian ada juga cara penanaman dengan vertical garden menggunakan karpet pada dinding-dinding tembok. Nah, ada lagi teknologi penanaman dengan cara hidroponik yang bisa dilakukan pada pekarangan tanpa tanah, selain hasil tanamannya lebih bagus karena nutrisinya terjaga, penanaman dengan hidroponik memiliki nilai estetika tersendiri juga.

Kemudian untuk pemenuhan kebutuhan pupuk atau kompos bisa menggunakan sampah-sampah organik yang diolah menjadi kompos atau pupuk. Ibu rumah tangga dapat melakukannya karena langkah-langkahnya sangat mudah dan bahan yang digunakan juga tersedia di pasaran. Bagi rumah tangga yang memiliki ternak kecil seperti kelinci, kotorannya dapat digunakan untuk pupuk organik. Beternak ikan lele juga mendapatkan keuntungan lainnya yaitu airnya dapat digunakan sebagai pupuk yang disiramkan pada tanaman. Akan tetapi akan lebih baik jika air yang digunakan adalah air bagian bawah karena mengandung unsur nitrogen (N) dan phospor (P) yang cukup tinggi dan sangat dibutuhkan oleh tanaman. Sementara kandungan N dan P yang tinggi dapat menyebabkan racun atau toksik bagi ikan lele.

Sambil menunggu tanaman di pekarangan dapat di panen, selain memisahkan sampah organik untuk kompos, sampah anorganik seperti plastik dapat ibu-ibu kreasikan menjadi kerajinan tangan yang memiliki nilai jual. Misalnya ibu-ibu dapat mengumpulkan bungkus plastik bekas wadah kopi yang dirakit hingga membentuk barang kerajinan tangan berupa dompet atau tas. Saat ini sudah banyak ibu-ibu rumah tangga yang dapat melakukan hal tersebut.

Banyak cara untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari rumah bagi ibu-ibu rumah tangga salah satunya adalah melalui optimalisasi pekarangan ini. Jika dilaksanakan dengan tekun maka hasil dari pekarangan bisa memberikan nilai tersendiri bagi keluarga. Selain membantu pemenuhan gizi, jika hasil panennya berlebih maka akan memberikan tambahan penghasilan atau minimal mengurangi biaya belanja dapur. Satu lagi, mengoptimalkan fungsi pekarangan juga turut serta membantu menyejukkan bumi berkat oksigen yang dihasilkan oleh tanaman.

Sumber Informasi:

Arifin, et al. 2014. Optimalisasi Fungsi Pekarangan Melalui Program P2KP di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. FGD BKP5K Kabupaten Bogor.

Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. 2013. Beragam Sayuran dari Pekaragan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian RI.

http://www.pertanian.go.id/pug/admin/perencanaan/GENDER-BUDGET-STATEMENT-LITBANG-2013.pdf.

Related Post

32 Comments

  1. sofia zhanzabila

    Reply

    Mbakku… itu rumus keuntungan=TR-TC baru semester lalu aku pelajari, di matkul Agribisnis. Iya setuju, pekarangan di Indonesia memang potensial banget, terutama untuk rumah-rumah yang ada di lokasi pedesaan. Jadi kalau di sawah mereka menanam makanan pokok, sementara di pekarangan untuk hortikultura. Vertikal Garden tuh yang lebih menarik lagi. Sukses Mbakku!

    • Reply

      makasih sofi, saya baru mau mulai nih mengijaukan pekarangan, vertical garden belum punya, tapi sudah niat, sedikit demi sedikit mau mulai menata

  2. momtraveler

    Reply

    Keren euy vertikal garden..cocok banget buat rumah2 perkotaan yg lahannya sempit.. duuhb jadi penen euy bikin vertikal garden di rumah ๐Ÿ™‚

  3. Reply

    Di halaman rumahku yang kecil tumbuh beragam tanaman: bayam, cabai, bahkan ada salak..semuanya tumbuh dengan sendirinya, tanpa dirawat..tapi kalau sudah siap panen ya dipetik..xixi.. dengan tanaman yang tumbuh liar itu saja, kami sudah merasa terbantu, apalagi kalau dirawat dengan baik ya?

    Saya sudah lama ingin membuatkan taman vertikultur untuk ibu, mengingat ibu penyuka tanaman khususnya bunga.. tapi sepertinya oke kalo ditanami tanaman yang bisa bantu dapur ya? itung-itung buat tetangga juga kalau butuh ๐Ÿ˜€

    • Reply

      iya mbak Irly, saya nih baru mau mulai menghijaukan pekarangan, baru mulai nanam kangkung, oyong dan caisin, nanti bertambah lagi sedikit demi sedikit komoditasnya. asik aja setiap hari mantau perkembangannya

  4. Reply

    kalo punya 10 jempol, aku mo sodorin semua deh buat mba evrina, idenya brilian bingitttt..aku tertarik sama vertikal garden itu mba, kebetulan Aira udah bolak-balik minta dibeliin bibit ke ayahnya, pasti cantik kalo di tanamin bunga juga ya mba ๐Ÿ™‚

    • Reply

      bagi dong mbak Leyla, saya di belakang baru ada pepaya dan singkong, di depan baru sayuran sedikit2 masih bentuk bibit

      • Reply

        Sewaktu masih SD dan SMP, dulu saya juga suka mengelola pekarangan rumah untuk ditanami berbagai macam tanaman seperti cabe, tomat, pare dan sebagainya.

  5. Reply

    Wah ide yang bagus banget nie mbak, memanfaatkan pekarangan rumah untuk ditanami dengan berbagai macam tanaman yang memiliki daya jual sehingga bisa mendatangkan penghasilan tambahan.

  6. Reply

    Assalamualaikum,
    Salut dan dua jempol untuk para ibu yang kreatif dan antusias memanfaatkan lahan dan pekarangan rumah untuk menanam berbagai tanaman produktif, terimakasih untuk sharing ilmunya.
    Saya jg penyuka tanaman, pasca pensiun setahun lalu selain menekuni fotografi bersama istri, saya sedang menata dan merekonstruksi pekarangan rumah, baik dibelakang maupun didepan untuk tanaman buah dan sayuran, dan tulisan serta semangat para ibu diatas menjadi “pupuk organik” bagi saya. Terimakasih untuk para ibu yang telah menyebarkan “bibit” kebaikan.salam

    • Reply

      Waalaikumsalam pak yulianto. Alhamdulillah jika informasi ini bermanfaat. Saya juga baru merehap pekarangan rumah setelah selesai pembangunan. Sedikit demi sedikit rumah akan saya hijaukan dgn tanaman2. Saya juga ingin mengajak para tetangga ikut menanam dgn mencontohkan terlebih dahulu kepada mereka melalui rumah saya

  7. Reply

    simple dan memamng penting sih…temenku juga mulai rajin lah manfaatin halamannya. kalau di kota besar ya urban farming gituhlah

  8. hendri hendriyana

    Reply

    ternyata jika dioptimasi pekarangan rumah juga lumayan ya mbak, ga perlu lagi belanja2 kepasar kan??jadi lebih irit setidaknya ๐Ÿ˜€

  9. Pingback: Budidaya Bunga Aster di Pekarangan dengan Mudah

  10. Reply

    Setelah baca artikelnya, sangat terstruktur dan rapi. Ga kaget setelah baca di halaman tentang avrina ternyata lulusan ipb. Semangat terus mbk…

  11. Ami

    Reply

    Assalamualaikum mbaa,,
    Sy sdkit curhat ini sy ibu 1 anak yg jga bkerja kantoran dan jdwal sy dibagi 3 shift,,pkrangan rmah sya ckup luas mba krna mgkn rmah Jawa kuno ya mba,,ingin sekali rasanya merealisasikan ide2 mba akan ttapi ya ad bbrpa kndla mba,,,slah satunya tetamgga2 rmah yg suka jahil mncuri gtu mba,,alangkah baiknya pkrangan rmah sya ditanami apa ya mba?trmksh sblmnya, Ami

    • Reply

      Kalau khawatir ada gangguan, paling ditanam tanaman buah yang agak lama masa hidupnya, sayuran bisa ditanam mungkin yg jaraknya dekat dgn pintu rumah

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.