Identitas Koper dan Curhat Sebelum Berangkat

ransel

Jalan-jalan bersama Alfi, cukup bawa ransel saja

*Warning! Tulisan ini curhat abis lho, jadi daripada nyesel mending tak usah dibaca hehe*

Menatap jam dinding sebelum berangkat, masih ada beberapa jam lagi sebelum nanti harus berangkat di sore hari. Biasanya kalau bepergian sendiri yang memakan waktu agak lama, saya sering menjadi baper (bawa perasaan). Baper karena harus ninggalin Alfi untuk beberapa waktu, tapi nanti kalau sudah tiba di tempat tujuan biasanya hilang sendiri hehe.

Ceritanya saya mau bepergian ke suatu tempat selama seminggu. Sudah dari jauh hari saya membuat list apa saja yang harus dibawa termasuk memenuhi kebutuhan Alfi selama saya pergi. Pagi-pagi sekali saya sudah membereskan rumah, memasak untuk Alfi dan menyelesaikan tugas yang tertunda. Tetapi sesungguhnya tugas saya masih banyak dan belum kepegang *nangis di pojokkan*, semoga setelah pulang nanti tidak lupa sama tugas yang belum selesai. Aamiin.

Kemudian perjalanan kali ini agak berbeda buat saya karena yang biasanya membawa ransel, saya harus membawa travel bag berupa koper. Rupanya ransel yang saya miliki tidak cukup untuk membawa pakaian dan beberapa perlengkapan lainnya. Inginnya nih, ketika pergi ke suatu tempat saya tak perlu membawa tentengan. Cukup membawa ransel dan badan saja, nikmat deh rasanya. Tetapi setelah dikurang-kurangi kok tetap saja bawaan masih banyak ya?.

Apa karena saya wanita ya? Konon katanya wanita memang agak ribet kalau bepergian karena harus bawa ini-itu. Meskipun saya agak maskulin, saya masih belum bisa misalnya tidak membawa peralatan mandi dan kosmetik sendiri. Untuk pakaian saja, saya masih perhitungan, kecuali kalau sedang mendaki gunung aja sih yang berbeda. Saya masih bisa memakai pakaian yang kemarin untuk mendaki lagi di hari kedua *ketauan deh ah*.

Balik lagi ke soal travel bag, kemarin itu saya membaca berita di detik.com mengenai pembobolan isi koper. Saya jadi paranoid sendiri, itu sebabnya saya lebih suka membawa ransel daripada koper. Karena jika membawa ransel, saya bisa meletakkannya di kabin yang terlihat oleh mata kepala sendiri. Tetapi kalau koper kan kita tidak bisa menjamin apakah aman atau tidak dengan maraknya pencurian. Selain ketakutan karena alasan tersebut, saya juga takut apabila ada orang iseng yang sengaja menaruh benda haram semacam narkotika *naudzubillah* ke koper kita. Bisa panjang urusan kan? Semoga itu tidak terjadi oleh kita semua ya. Aamiin.

Pembobolan isi koper yang terekam CCTV, Sumber: http://news.detik.com/

Sebenarnya tulisan ini idenya berasal dari koper yang saya miliki. Saya sedang bingung nih bagaimana caranya supaya koper yang kita miliki ini udah dikenal ketika hendak diambil dari konveyer nanti. Tadinya mau ditulis dengan spidol permanent, tapi sayang amat ya dicorat-coret. Terus mau dikasih gantungan kunci tak ada tempat untuk menggantung. Tadinya mau membuat stiker tempel tapi malah lupa untuk membuat. Akhirnya saya buat tulisan saja kemudian ditempel di permukaan koper. Jadi deh koper beridentitas haha.

koper

Koper dan ransel akhirnya bersatu, kaya mau pindahan aja kau mbak

Baiklah, persiapan sudah 90%. Tinggal dieksekusi nanti, sekarang mending istirahat dulu saja supaya tidak terkuras energinya. Bagi teman-teman yang sengaja atau tidak sengaja mampir ke curhatan geje ini, mohon doanya ya semoga perjalanan saya nanti lancar hingga kembali lagi ke rumah. Terimakasih atas doanya. Salam hangat dari Bogor lagi.

28 Comments

  1. Anne Adzkia

    Reply

    Waah jadi juga berangkat. Deg-degan pasti ya, antara excited dan ninggalin Alfi. Moga lancar dan mabrur #eh.

  2. Reply

    biasanya koper/tas/kardus yang unik dan beda lebih enak dititeni daripada yang umum ya mbak^^
    semoga perjalanannya lançar ya mbak^^

  3. Reply

    Hampir tidak pernah bepergian denga koper. Tp kalau digembok gitu masih bisa gitu dibobol yach? Hiksss..

    Semiga perjalananmu lancar yach dan have fun.

  4. Reply

    Beli name tag yang bisa dipasang di koper. Biasanya dijual di toko yang jual koper atau perlengkapan traveling.
    BTW, selamat jalan-jalan dan ditunggu ceritanya.

  5. Reply

    Kalo aku gini caranya.. aku ambil kantong kresek ..trus aku pelintir2 hingga bisa diikatkan pada gagang koper.. Dari jauh dah kelihatan koq kalau itu koper milikku.. Jarang kan ada orang yang mengikatkan kantong kresek sebagai identitas koper, hehe.. kalau pakai pita atau label kan dah banyak yg pakai cara itu..

  6. Budi Mulyono

    Reply

    Aku beneran lho mbak gak baca semuanya… daripada nyesel. Lihat photonya saja.

  7. Tia Yusnita

    Reply

    Waktu itu aku juga ketakutan banget Mbak, akhirnya kopernya aku tandain pake pita dan dipasangin gembok hehe. Ditunggu ceritanya Mbak Ev 😀

  8. Rosanna Simanjuntak

    Reply

    What is wrong with “curhat?”
    Kog pakai “warning”, bun
    Pan blog tempatnya curhat ~_*
    Kirain ada apa dalam artikelnya.
    Sempat worry, awalnya
    Hahaha…

  9. Reply

    Aku baru bisa BW nih mbak, hehehe

    Dulu pas berangkat haji, aku kasih scarf buatan sendiri jadi special gak ada yg ngembari. Gitu aja suami bingung nyari koper kami di antara ratusan koper jemaah lain:)

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.