Jika Kau sudah Memilih, Maka Ikhlaskanlah

Pagi-pagi saya langsung kepoin blognya Mbak Ophiziadah untuk Giveawaynya. Sebenarnya saya sudah membookmark postingan mana yang disukai sejak bulan April lalu. Mau tau? yang ini lho:

Ikhlash itu …

Dalam tulisan itu Mbak Ophi bercerita tentang profesinya sebagai perancang peraturan perundang-undangan yang ternyata juga merupakan salah satu pekerjaan fungsional dalam dunia ASN. Mbak Ophi menceritakan bahwa menjadi seorang fungsional tidak semudah jabatan struktural yang dalam jangka empat tahun otomatis bisa naik pangkat atau golongannya. Sedangkan seorang fungsional harus mengumpulkan sejumlah angka kredit lengkap dengan barbuknya (barang bukti) untuk kenaikan pangkat. Masalahnya angka kredit dari setiap kegiatan itu kisarannya hanya nol koma, jadi untuk mengumpulkan angka satu bulat saja bisa membutuhkan banyak barbuk lho.

Saya menyukai postingan ini karena menyadarkan saya untuk ikhlas menjalankan profesi yang telah saya pilih. Ketahuilah Mbak Ophi, jenis fungsional sebagai seorang penyuluh pertanian juga kurang bergema di telinga orang-orang. Kesulitan memperoleh angka kredit dari para tim penilai juga saya rasakan. Segepok barbuk yang sudah dijilid layaknya tumpukan skripsi tesis dan disertasi itu tak dilirik tim penilai, hanya dilihat saja dan diserahkan kembali kepada si empunya. Sehingga timbul gosip bahwa kita akan naik pangkat jika sudah empat tahun kerja meskipun angka kredit sudah mencukupi.

Barbuk saya di tahun 2014 menunggu untuk dinilai nih

Awalnya saya dan teman-teman kecewa, kami jadi berpikir untuk apa kerja keras dan rajin mengumpulkan angka kredit jika hasilnya sama saja. Apalagi sekarang ini penyuluh pertanian sedang banyak beban pekerjaan, ditambah lagi kemarin saya baru saja mendapatkan SK baru yang mengatakan bahwa wilayah binaan bertambah menjadi dua desa sehingga total ada empat desa yang harus dipegang. Padahal idealnya adalah satu desa satu penyuluh.

Tapi saya sepakat dengan Mbak Ophi:

โ€œKecewanya, sakit hatinya, tak perlu lah membuat saya menutup mata dan hati dari adanya kebenaran bahwa tangan Tuhan bekerja meski saat kita tertidur. Jadi memang mungkin begitulah rencana Tuhan. Kita tak pernah tahu apa yang terbaik menurut Tuhan atas diri kitaโ€

Banyak yang mengatakan bahwa untuk menjadi seseorang kita perlu ditimpa dengan beban berat. Jika saya pikir kembali, ini adalah jawaban dari Allah atas doa-doa saya terdahulu. Saya menginginkan bekerja langsung untuk pertanian karena sesungguhnya saya tidak terlalu suka jika terlalu banyak bekerja di kantor. Lalu ketika doa itu sudah dikabulkan mengapa masih saja mengeluh?

Ikhlas dalam menjalankan tugas sangat penting karena akan membawakan kedamaian tersendiri ketika menjadi seorang penyuluh pertanian. Ketika ikhlas itu datang, senyuman ramah dari para petani membuat saya kembali bersemangat meskipun tugas yang datang juga menumpuk. So, jadilah pribadi yang ikhlas dalam menjalankan tugas.

Catatan: sedikit saran untuk blog Mbak Ophi, mungkin bisa ditambahkan menu bar tertentu di bagian atas dekat header sehingga pengunjung bisa mudah memilih jenis postingan berdasarkan kategori yang hendak dibaca. Memang sih ada label tetapi itu terlalu banyak dan harus men-scroll dulu ke bawah untuk mendapatkan kategori yang dimaksud. Kemudian blog Mbak Ophi masih belum terlalu bertema tulisannya (sama sih seperti saya yang lebih parah terlalu gado-gado hehe), jadi kalau bisa agak bertema misalnya apakah blog khusus travelling, parenting dll. Atau memang enak gado-gado saja ya Mbak? hehe ย ย 

*492 kata

33 Comments

  1. apri ani

    Reply

    Hayoooooo,,, semangaaaaattt!!! kurangi mengeluh perbanyak bersyukur… #Selfreminder jg buat akuhhhhh ini ๐Ÿ˜€

    • Reply

      ah iya jangan mengeluh ketika ditagih data saban minggu yangs etiap minggunya belum tentu cukup untuk ngumpulin data di 4 desa

  2. momtraveler

    Reply

    Ikhlas bikin semua yg kita kerjain jd lebih enak ya mak.
    Sukses GA nya… mampir ke punyaku jg dong :p

  3. Reply

    Lha tak kira fungsional cepet naik pangkatnya ya mbak Ev, asal PAK terpenuhi segera naik pangkat, ternyata tidak semudah itu yaa. Yang penting krj dengan iklas ya mbak, rejeki biar Tuhan yg ngatur.

  4. nani djabar

    Reply

    Betul mbak…kita tdk pernah tau apa yg terbaik buat kita di sisi Tuhan…maka slalu bersyukur aja…:)

    • Reply

      betul kadang saya suka lupa bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Mengetahui dan paling memahami apa yang terbaik untuk kita

  5. Reply

    Puk puk mak Ev dan peluk erat.
    Bismillah ya mak… semoga kita bisa terus menjaga keikhlasan kita dlm “beribadah”.
    Semangat semangat semangat
    Makasih sdh ikutan n goodluck ya mak

  6. Beby

    Reply

    Ah.. Aku pun harus belajar ikhlas jugak nih Mbak, biar ngga jadi makhluk kufur ๐Ÿ™

  7. Reply

    Bener, tantangan banget yang fungsional sekarang, Alhamdulillah (sementara ini) saya terbebas dari urusan angka kredit.

    Kalau di kantor saya mak, di Provinsi ada tim penilai yang dibentuk, yah..walaupun harus akrobat dengan perkerjaan-pekerjaan lain, tapi mereka sering kali hidup dari rapat 1 ke rapat lainnya. Ya..sambil bawa setoran barbuk-barbuk seperti punya mak Ev itu.. ๐Ÿ˜€

    • Reply

      iya sih tim penilai di sini juga super sibuk jadi mungkin belum kenilai deh barbuk saya ya mak, tak apa2lah sekarang sih ikhlas aja aku nya, yang penting kerjanya enjoy

  8. Reply

    Ikhlas itu memang susah banget. Mau ditulis ikhlas, diucapkan ikhlas, tapi kalau di hati belum ya tetep aja nyesek. *curcol*

  9. ara

    Reply

    Saya mungkin mungkin ngucap ikhlas tapi terkadang banyak mengeluh juga dalam mengerjakan tugas saya.
    Hem… ikhlas itu lebih sulit daripada yang dibayangkan ternyata.

    Liat foto barbuknya… mata saya terasa sakit. Semangat ya Mbak.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.