Kisah si Tomboy yang Belajar Syar’i

Si tomboy, siapakah itu? ya saya sendiri.

Jika teman-teman sudah lama mengenal saya atau hampir setiap hari bertemu dengan saya pasti sudah tau deh mengapa saya disebut sebagai ibu-ibu yang tomboy. Meskipun sudah memakai kerudung berwarna pink ditambah dengan lipstick berwarna pink juga, tetap saja kesan tomboy masih melekat di dalam diri saya.

Sebelum membahas lebih lanjut, saya mau menceritakan dulu beberapa kondisi yang pernah saya alami terkait image tomboy tersebut.

Kondisi 1: bertemu seorang teman setelah saya berhasil mencapai puncak Gunung Rinjani

Teman (T): “Mbak Ev, perkasa banget sih bisa sampai puncak gitu”

Evrina (E): “Hehe…iya itu juga susah payah banget lho”

Saat itu saya merasa antara senang dengan bingung karena disebut perkasa, soalnya perkasa itu bukankah identik dengan laki-laki ya?.

Mbaknya sudah tomboy, narsis pula XD, suatu hari di Rinjani

Kondisi 2: sedang isi bensin motor di SPBU

E: “Pertamax 20 ribu ya”, sambil menyerahkan uang 50 ribu rupiah

Petugas SPBU: “Ini kembaliannya mas”

Petugas SPBU itu mengembalikan uang tanpa melihat wajah saya. Lalu setelah beberapa detik baru deh dia sadar kalau dia sudah salah panggil setelah melihat wajah saya.

Petugas SPBU: “Eh maaf kirain laki-laki mbak”

E: no comment langsung menyalakan motor dan pergi

Kondisi 3: Pakai seragam baru dari kantor, seragamnya berupa setelan rok, saat itu saya memesan setelan rok karena biasanya yang digunakan adalah setelan celana.

Senior (S): “Pegawai baru ya?”

E: “Maksude piye pak?”

S: “Tumben pakai rok, asa beda (terlihat beda)”

E: no comment lagi, sambil tepok jidat

Dari ketiga kondisi tersebut, saya sadar kalau ternyata kesan tomboy ini benar-benar sudah melekat di dalam diri. Habis mau gimana lagi, hawong kerjaan saya sehari-hari blusukan ke lapangan yang menuntut supaya saya stay strong layaknya para pria.

Eh tapi, ada teman kantor yang tetap feminin memakai rok ketika ke sawah. Bahkan teman saya tersebut tetap konsisten mempertahankan pakaiannya pada saat menanam padi. Atasan saya yang sebelumnya juga sama, ke mana-mana tetap berpenampilan layaknya muslimah pada umumnya, menggunakan hijab sesuai dengan syariat atau banyak orang yang mengatakan dengan istilah syar’i.

Lalu saya ingat bahwa menyerupai laki-laki itu tidak boleh karena tidak sesuai dengan kodratnya.

Tidak masuk golongan kami para wanita yang menyerupai diri dengan kaum pria dan kaum pria yang menyerupai diri dengan kaum wanita”
(HR. Ahmad)

Begitu sebuah hadist shahih mengatakan. Sayapun mulai berpikir untuk mengubah citra tomboy menjadi lebih feminin, mungkin tidak secara langsung tetapi bertahap.

My #Journeytosyari: Bermula dari Keinginan untuk Lebih Feminin

Mengubah citra diri dari wanita tomboy menjadi feminin mulai saya lakukan secara bertahap. Awalnya saya masih menggunakan celana dengan pakaian atasan yang panjang hingga menutupi lutut. Lalu ketika menggunakan jaket, saya akan memilih jaket yang lebih terlihat sisi kewanitanya untuk digunakan pada saat motoran, dan mengganti tas ransel dengan bentuk serta warna yang lebih feminin.

Bagaimana, sudah lebih feminin belum? saya masih menggunakan celana namun dengan atasan yang panjang

Saat itu saya masih menganggap bahwa menggunakan rok ketika beraktivitas pasti agak ribet sehingga saya tetap memilih memakai celana dengan atasan yang panjang. Pakaian tersebut saya gunakan saat bekerja, ketika jalan-jalan, atau menghadiri suatu acara karena menurut saya akan lebih nyaman untuk bergerak.

Hingga akhirnya seorang teman di kantor bernama teh Ani Apriani (makasih ya teh) mengatakan begini: “Evrina tuh bagus lho kalau pakai rok, keliatan lebih tinggi”.

Dari situ saya jadi penasaran, apa benar dengan apa yang dikatakan oleh teh Ani?. Lalu saya iseng mencoba untuk memakai rok ketika bekerja. Eh ternyata kok asik ya, tidak ribet, malah menyenangkan saat menggunakan rok.

Sambil iseng, saya mengatakan keinginan untuk mencoba menggunakan rok kepada pak suami. Pak suami langsung geleng-geleng kepala karena sebenarnya dia sudah mengatakan sejak dulu agar saya lebih feminin. Akhirnya dengan senang hati diapun sangat mendukung keinginan istrinya yang ingin mengubah diri sesuai dengan kodratnya.

Rok hitam abu-abu menjadi rok pertama yang saya miliki setelah berstatus sebagai ibu-ibu. Terkadang kalau sedang jalan-jalan atau menghadiri suatu acara, rok tersebut sering saya gunakan berpadu dengan atasan kaos. Lalu lama kelamaan tanpa sadar jumlah rok yang saya miliki saat ini sudah bertambah lho menjadi empat buah, Alhamdulillah.

Tahapan Selanjutnya: Dari Feminin Menuju Syar’i  

Setelah belajar menjadi feminin, saya mulai belajar untuk mengenakan pakaian muslimah yang syar’i meski hingga saat ini masih terseok-seok hehe. Saya memakainya pada kondisi tertentu, saat bekerja saya masih menyesuaikan dengan kondisi lapangan.

Pakaian muslimah yang syar’i itu yang bagaimana sih? Tentunya yang sesuai dengan syariat islam, mengikuti aturan dari Allah swt, cmiiw ya. Dari hasil penelusuran di dunia maya, saya mengetahui bahwa pakaian muslimah yang syar’i itu gambarannya seperti ini:

  1. Menutupi keseluruhan aurat wanita kecuali yang memang boleh ditampakkan seperti wajah dan telapak tangan.
  2. Tidak memperlihatkan lekuk tubuh termasuk ketika mengenakan kerudung maka harus menutupi dada.
  3. Menggunakan bahan yang tidak transparan.

Jika melihat ketiga kriteria tersebut, pakaian muslimah yang paling enak untuk dikenakan bisa berupa atasan dengan bawahan rok atau menggunakan gamis.

Saya sudah mulai menyukai gamis nih 😀

Nah, sekarang saya lagi suka mengoleksi gamis nih. Itu juga masih gara-gara teh Ani yang lagi-lagi “ngomporin” saya untuk menggunakan gamis. Katanya kalau saya pakai gamis jadi terlihat lebih cantik dan feminin. Sepertinya saya harus dipuji dulu ya supaya mau pakai baju yang sesuai syariat. Jadi niatnya karena Allah atau karena ingin dipuji Ev? Ya pinginnya memang karena mengikuti syariat, doakan saja karena saya masih belajar.

Kegemaran saya menggunakan gamis mulai terbentuk saat mengikuti perjalanan ke Jepang bersama teh Ani. Waktu itu saya menanyakan kira-kira pakaian apa yang akan digunakan ketika di Jepang mengingat saat itu masih musim dingin. Teh Ani kemudian menyarankan agar menggunakan gamis saja supaya bebas bergerak. Akhirnya saya mengikuti saran teh Ani tersebut dan saya berhasil mencetak rekor sebagai perjalan pertama saya dengan tampilan syar’i. Horeee alhamdulillah.

evrinasp-journey-to-syari

Saya dan teh Ani

Bagaimana rasanya ketika traveling mengenakan pakaian gamis yang syar’i? Saya pikir awalnya bakalan ribet, tapi setelah dikenakan kok rasanya lebih enak, lebih luwes, lebih adem, dan membuat saya terlihat lebih cantik (‘gak apa-apa ya muji diri sendiri).

Saat berlarian mengejar kereta, berlarian mengejar bis, hingga main salju dengan menggunakan gamis rasanya menyenangkan sekali. Terlihat lebih anggun, feminin, dan lebih nyaman. Saya suka banget pokoknya.

Sejak itu, saya jadi suka mengumpulkan gamis untuk digunakan pada berbagai kesempatan. Iya saya masih belum mengenakan gamis setiap saat karena masih menyesuaikan dengan kondisi namun berusaha agar tetap syar’i.

Tampil feminin, memakai rok, hingga berpakaian gamis, menjadi beberapa langkah dalam #journeytosyari versi saya. Sebenarnya tidak hanya dari segi fisik saja sih, teutama hati juga harus sudah syar’i dengan menjalankan ketentuan yang sudah diberikan oleh Allah swt.

Sambil memperbaiki diri, saya selalu berdoa agar si tomboy yang sedang belajar syar’i ini dapat terus mendapatkan petunjuk dari Allah swt. Semoga nanti benar-benar menjadi muslimah yang sesungguhnya ya. Mohon doanya teman-teman.

21 Comments

  1. Rica sevtia

    Reply

    Salut kak, aku sendiri suka travelling pake rok ehehe, sebenernya pingin banget gamisan, tapi apalah daya kalau mau dapet gamis nabung dulu ehehe. Pingin bangettt travelling ke luar negri mashaallahhh

  2. Reply

    mba Ev ku juga saat ini lagi mau kumpulin gamis 🙂 semoga istiqamah hehe emang nyaman banget pake gamis ya mba
    salfok sama bannernya keren ih muslimah traveler ^^

  3. Reply

    Emang beneran ko ev, pake gamis terlihat lebih bercahaya ( kalau berdiri di depan lampu, wkwkwk.. becanda deh)… tapi emang jadi lebih cantik ko, kalau liat eev pake gamis atau rok dibandingkan pake celana panjang mah, jadi muslimah sejati gitu ^_^ … Semangaattt !!

  4. Reply

    alhamdullilah, senang banget bacanya, ada temen lagi yang sama-sama lagi belajar hijab syar’i.

    share sedikit yah mbak evrina, aq berhijab sejak 2011 dan sejak itu memutuskan untuk tidak memakai celana bahan/jeans mengganti penampilan dengan rok, dress atau gamis sampe sekarang alhamdullilah gak pernah lagi beli celana bahan/jeans tapiiii… kalau lagi olahraga masih belum nemu outfit yang cocok, karena nyaman memang pakai celana training tapi menghindari banget pake legging.

    semoga selalu istiqomah yah mbak evrina ^__^

  5. Reply

    Sekarang terlihat lebih cantik, anggun dan feminin dengan gamis.
    Memang gamis itu bikin lebih leluasa, dengan bahan yang nyaman dan longgar tidak bikin sesak.
    Saya juga sekarang lebih suka pakai bahan yang nyaman. Kurang suka lagi pakai jeans atau yang terlalu ketat….

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.