Kurangi Sampah Plastik Yuk!

Kurangi sampah plastik

Sewaktu membereskan dapur, saya agak kebingungan melihat satu kantong plastik besar yang berisi beberapa buah kantong plastik. Kantong plastik ini sudah saya kumpulkan sejak Alfi masih bayi bersama dengan bungkusan kado serta kardus tak terpakai. Harapannya supaya nanti bisa dipakai kembali sehingga dapat mengurangi jumlah sampah yang ada. Kalau kertas kado bekas dan kardus sudah banyak berkurang, tetapi kalau kantong plastik rasanya masih belum berkurang juga. Ya mau bagiamana bisa berkurang, wong ada saja anggota keluarga yang membawa kantong plastik ke rumah untuk mengirim ini-itu. Jadi makin bertambah saja deh kantong plastik di rumah.

Lha memangnya kenapa Ev kok pusing amat sama kantong plastik? Begini, ceritanya saya sedang berusaha mengurangi konsumsi kantong plastik untuk diri saya sendiri dan keluarga. Ingat ya mengurangi, belum sampai tahap tidak memakai sama sekali, soalnya saya masih memakai beberapa produk berbahan plastik. Saya juga masih membutuhkan kantong plastik untuk digunakan menjadi fungsi tertentu seperti wadah sampah. Tetapi bolehlah kita mengurangi penggunaan kantong plastik sintetis ini untuk mengurangi jumlah sampah yang ada karena jumlah sampah terutama sampah plastik semakin hari semakin mengkhawatirkan lho. Sebagai bukti, mari kita lihat informasi dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia tahun 2015 ini:

Jumlah peningkatan timbunan sampah di Indonesia telah mencapai 175.000 ton/hari atau setara 64 juta ton/tahun. Tantangan terbesar pengelolaan sampah adalah penanganan sampah plastik yang tidak ramah lingkungan. Untuk menanggulangi masalah tersebut, pemerintah sedang melakukan berbagai upaya seperti pembatasan penggunaan kantong plastik belanja, baik di retailer modern maupun pasar tradisional, optimalisasi daur ulang sampah, kemitraan pemerintah dan produsen penghasil barang dan/atau barang dengan kemasan plastik, dan sosialisasi program pemilahan dan daur ulang sampah plastik melalui Program Bank Sampah”

–disampaikan dalam Rangkaian HLH 2015, Dialog Penanganan Sampah Plastik-

Tuh kan banyak banget sampah plastik yang kita hasilkan. Masalahnya sampah plastik berbahan sintetis ini susah terurai secara alami lho dan sangat membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengurainya. Coba kita lihat pada lingkungan sekitar, kebanyakan dari kita (termasuk saya sendiri) masih mengolah sampah plastik ini dengan cara dibakar kan? Hanya sedikit sekali yang mempraktekkan reuse atau recycle karena tidak semua produk berbahan plastik ini bisa digunakan kembali, contohnya adalah kantong plastik berbahan sintetis. Berbeda dengan kemasan plastik lainnya seperti botol plastik yang dapat kita reuse atau recycle. Oleh karena itu tindakan untuk mengurangi penggunaan sampah kantong plastik perlu dong kita lakukan.

Bagaimana cara melakukannya? Kalau saya sering membawa kantong berbahan kain sendiri yang diletakkan dalam bagasi motor sehingga ketika membutuhkan tidak akan lupa untuk memakainya. Cara ini cukup mengurangi jumlah kantong plastik di rumah.

Kantong berbahan kain

Kemudian cara kedua adalah dengan mengkonsumsi produk berbahan alami yang ramah lingkungan atau disebut sebagai Green Product. Produk ini tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga aman dikonsumsi dan aman bagi kesehatan. Green product atau produk hijau adalah barang-barang yang menggunakan material ramah lingkungan, dapat didaur ulang dan menggunakan manajemen pengelolaan sampah yang baik. Penggunaan Green Product itu penting lho karena dapat mengurangi pemanasan global akibat proses pengolahan sampah; menjaga kesehatan produsen, konsumen dan lingkungan; dan meningkatkan nilai jual produk.

green product

Jangan salah lho, sekarang masyarakat dunia sudah sangat menyadari pentingnya penggunaan bahan alami, dan slogan back to nature kini tak hanya isapan jempol saja. Hampir seluruh masyarakat dunia sudah sangat mendukung upaya menghijaukan alam kembali. Bahkan Asian Productivity Organization (APO) yang merupakan organisasi kerjasama multilateral dalam bidang program peningkatan produktivitas juga telah mencanangkan Produktivitas Ramah Lingkungan (Green Productivity) yang dicanangkan sejak tahun 1994 ini di klaim tidak hanya sebagai strategi pengelolaan lingkungan tetapi strategi bisnis secara total. Jadi upaya penyelamatan lingkungannya dapet, keuntungannya juga dapet, seimbang deh!.

Nah sekarang nih sudah mulai banyak kan ya penggunaan kantong plastik biodegradable, walaupun masih terbatas untuk swalayan atau minimarket saja. Plastic biodegradable ini merupakan Kemasan Ramah Lingkungan atau biasa disebut dengan sustainable packaging untuk produk makanan dan minuman. Nah, plastik biodegradable ini dapat dibuat dari polimer alami atau biasa disebut dengan Polylactic Acid (PLA). Polylactic Acid (PLA) diproduksi melalui proses fermentasi gula atau starch oleh Lactobacillus menjadi lactic acid yang selanjutnya dipolimerisasi dengan bantuan panas dan katalis logam menjadi PLA. Polylactic Acid itu sendiri memiliki sifat tahan panas & kuat, serta merupakan polimer yang plastik.

biodegradable

Saya jadi ingat nih, petani saya di salah satu desa memproduksi singkong khusus untuk diambil acinya untuk dijadikan bahan pembuatan plastik biodegradable. Saat ini proses kerjasamanya masih berlangsung dan diharapkan akan tumbuh lagi perusahaan sejenis sehingga produksi kemasan biodegradable ini semakin banyak hingga menembus ke pasar tradisional. Kalau sudah begitu jumlah sampah plastik yang sulit terurai sedikit demi sedikit akan semakin berkurang jumlahnya. Di negara maju sudah banyak menggunakan green product dan kemasan biodegradable lho, semoga nanti Indonesia segera menyusul ya. Sambil menunggu, ya sudah mending kita kurangi penggunaan sampah plastik sintetisnya, ganti dengan kantong berbahan kain yang bisa digunakan berulang, kemudian kurangi penggunaan kemasan plastik lainnya ya. Yuk ah kita kurangi sampah plastik dari sekarang! Tulisan ini berlaku untuk kamu juga lho Ev yang masih nimbun kantong plastik di dapur *mendadak ingat dapur, langsung beberes lagi*.

Sumber Informasi:

Putri, F. 2013. Green Product. Pelatihan Mendukung Nilai tambah Hortikultura. Kementerian Pertanian.

Dirjen Pengolahan dan Pemasaran hasil Pertanian. 2009. Asian Productivity Organization (APO) Mencanangkan Pembangunan Masyarakat Pertanian Berbasis Teknologi Pengolahan. http://pphp.pertanian.go.id/news/14/asian-productivity-organization-apo-mencanangkan-pembangunan-masyarakat-pertanian-berbasis-teknologi-pengolahan. [diakses tanggal 20 Desember 2015]

Kementerian Lingkungan Hidup. 2015. Rangkaian HLH 2015-Dialog Penanganan Sampah Plastik. http://www.menlh.go.id/rangkaian-hlh-2015-dialog-penanganan-sampah-plastik/ [diakses tanggal 20 Desember 2015]

52 Comments

  1. Pertiwi Soraya

    Reply

    Setuju mbak….kita mulai dari diri sndiri aja dulu…kalau blanja ke pasar bawa kantongan sendiri hehe…syukur2 ada yang terinspirasi.:)
    Kalau udah terlanjur ada numpuk plastik dirumah…didaur ulang aja mbak…akhir2 ini byk postingan di sosmed ttg mengolah sampah plastik jadi berbagai kerajinan tangan unik n brnilai bisnis malah 🙂

  2. Reply

    Sudah saatnya ya Mba kita kampanyekan gerakan pakai kantong yang bukan terbuat dari plastik.. Tentunya berawal dari diri sendiri dan kita tularkan kpd keluarga dan teman terdekat… kalo aku suka bawa sendiri kantong belanjaan berbahan serat.. Kantong2 itu biasanya aku dptkan saat mengikuti kegiatan Bimtek atau Sosialisasi..hehe..

    • Reply

      oh aku tau mbak, aku nih udah banyak kantong kain, aku masih pake terus selama belum rusak or robek, cuma plastik juga belum berkurang nih, kayanya mau aku sumbangkan ke warung aja

  3. Reply

    Duh, aku tu punya tas gitu banyak tak simpen saja di container plastik. Tiap belanja selalu lupa bawa. Mendingan ditaruh di tas ya, kan bisa dilipat tipis.

  4. Reply

    Setuju mbak.. mari belajar mengurangi sampah plastik. Saya juga lagi senang senangnya memisahkan sampah plastik dgn yg lainnya nih. Thanks for sharng 🙂

  5. hendri hendriyana

    Reply

    kalo plastik biasa memangnya butuh waktu berapa tahun mbak untuk didaur ulang?kayana kita perlu beralih ke papperbag aja, soalnya ramah lingkungan banget ataau setidaknya plastik yang ramah lingkungan seperti diatas ya..

    • Reply

      ratusan tahun tuh kata temen, lama kan? soalnya dia bahan sintetis, jadi ebih baik gunaakn green product yang ramah lingkungan

  6. Reply

    Setuju banget Mba.. Kalau diingat-ingat lagi, ibu saya dulu sudah cinta bumi, soalnya kalau ke pasar pasti bawa keranjang sendiri jadi ga perlu plastik.
    Iya ya, harus dimulai. Karena bumi sudah tidak bisa menunggu lagi.

  7. Reply

    jadi ingat ibu saya kalo ke pasar bawa jinjingan tas dari anyaman gitu, selain faktor kapasitas yang besar sampe muat beberapa belanjaan, juga sebagai kampanye mengurangi ketergantungan sama plastik ya.

    sama ingat liat video di youtube, ternyata plastik itu susah diurai sampe ratusan tahun… ngeri juga mbak

    • Reply

      ya itu dia makanya kudu wajib banget mengurangi penggunaan plastik sintesis, gak kebanyang deh gimana banyaknya sampah plastik yg kita hasilkan

  8. Reply

    kami juga masih pake kantong plastik Mbak Ev 🙁
    mudah-mudahan seiring berjalannya waktu saya dan keluarga bisa mengurangi pemakaian sampah plastik ini..

  9. fanny fristhika nila

    Reply

    sama mbaa… plastik di rumahkupun makin lama makin bnyk aja -_-. tp ttp perlu utk menampung sampah dapur sih… masih blm bisa spertinya ngolah sampah dapur spy jd pupuk ;p Mau beli tas kain , tp kok ya bnyk tas yg aku beli talinya pd ga kuat, trs harga masih agak mahalan.. pdhl di LN, harga tas2 kain belanja itu murahh bgt kalo di rp-in.. aku beli banyak, tp sampe jkt malah di bagi2 ;p

  10. Reply

    Aku pun galau kalau lihat tumpukan tas plastik. Padahal udah berupaya ngurangin dengan cara bawa tas sendiri. Tapi ternyata tas-tas kantong kain itu sering “masalah” di ukuran. Aku punya beberapa gak ada yg gede banget. Kayaknya kudu bikin sendiri nih …

  11. Reply

    Saya nih suka lupa mau bawa tas aja kalo belanja di supermarket hu hu. Tapi kalau supermarket & minimarket rata-rata sudah pakai yang biodegradable sih. Cuma supermarket brand lokal di sini belum pakai plastik macam itu.

  12. muhammad mukhlis

    Reply

    mendaur ulang sampah memang sangat bagus ya mb, salah satunya bisa dijadikan beberapa hiasan, saya sempat tengoin di metro kick andi ntah, banyak kesuskesan dari daur ulang samapah 🙂

  13. Reply

    Heee ndek rumah juga plastik kresek.a bejibun mbk
    Kdang2 juga buat nyalain apii di tungku. :3

    Tpi, ada juga warga yg mmnfaatkan plastik buat aneka tas, dompet gitu mbk heeee

  14. Reply

    Informasi keren, Mbak.
    Memang pemakaian plastik makin banyak yah. Sy ingat dulu tante saya kalo kepasar bawanya keranjang besar. Keranjangnya berat kalo sudah selesai belanja ini-itu. Sekarang, peara pedagang di pasar menyediakan kantong kresek bagi pembelinya. Memang sih lebih mudah buat pembeli tapi nyatanya menambah sampah plastik ya.

  15. Novita

    Reply

    Lagi nyari ide manajemen sampah eh nyasar ke blognya mba eev…jadi makin semangat nih ngelola sampah…

  16. Reply

    edukasi ke masyarakatnya supaya ga ‘malas’ bawa kantong sendiri rada susah sih
    kecuali bener-bener sudah ga ada kantong plastik lagi
    pernah di supermarket yg di kota jogja bikin peraturan kalau tidak menyediakan kantong plastik, kalau mau belanja pakai dus, atau beli kantong lipat.
    yang ada supermarket itu jadi agak sepi, trus diprotes sm yg belanja.
    mungkin harusnya serempak satu kota ga sediain kantong plastik, kalau ada yg masih sediain di denda, nah baru masyarakatnya mau :)) mungkin lho
    yang malas itu buanyak

  17. elkilani kurnia

    Reply

    Mari kurangi sampah plastik dan penggunaanya sekarang jugaaa…

  18. Pingback: Evrina Budiastuti: Sang Pecinta Lingkungan – USMARIGNANE

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.