Menelusuri Jejak Cita Rasa Kopi Bogor


kopi-bogor

Jika diberikan pertanyaan mengenai Bogor identik dengan apa, maka teman-teman akan menjawab bagaimana? Sebagian orang yang saya tanya rata-rata menjawab seperti ini: kebun raya, talas, tugu kujang, puncak, bahkan angkot *ups. Padahal Bogor punya lebih dari itu lho, apalagi Kabupaten Bogor dengan kondisi wilayah yang sangat luas dari ujung timur hingga ujung barat. Kira-kira pada tau โ€˜gak kalau Kabupaten Bogor ini memiliki Kopi Bogor yang nikmat dan mampu bersaing dengan kopi lainnya? Sebagian besar sepertinya belum tau ya. Tetapi jangan khawatir, karena saya akan memberi tau tentang Kopi Bogor ini, agar ketika teman-teman main ke Bogor, yang dinikmati tidak hanya itu-itu saja, tetapi juga Kopi Bogornya yang nikmat.

Nah, perlu diketahui kalau di Kabupaten Bogor ini terdapat perkebunan kopi tetapi merupakan kopi rakyat. Ada dua jenis kopi yang dikembangkan yaitu kopi robusta dan arabica. Ada perbedaan mendasar antara kopi robusta dan arabica lho, kalau robusta memiliki ukuran yang lebih kecil dan berbentuk bulat, sedangkan arabica memiliki ukuran yang lebih besar dan berbentuk bulat lonjong. Dari segi rasa juga berbeda, kopi Arabica memiliki aroma yang lebih wangi sehingga membuatnya lebih mahal dari pada kopi robusta. Tetapi peminat kedua kopi ini sama banyaknya lho sehingga baik robusta maupun arabica sama-sama berpotensi untuk dikembangkan.

Oke kembali lagi ke perkebunan kopi di Kabupaten Bogor. Berdasarkan informasi dari Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Kabupaten Bogor, Ibu Ir. Siti Nurianty, MM, dalam website Kabupaten Bogor menyebutkan bahwa Luas kawasan sentra kopi di Kabupaten Bogor mencapai 2.927 ha dengan produksi kopi berasan sebanyak 2.177,5 kg [1]. Untuk lokasi pengembangannya sendiri terletak di beberapa kecamatan yaitu Kecamatan Sukamakmur, Megamendung, Cigudeg, Rumpin, Pamijahan, dan Cijeruk.

Di akhir bulan April 2018 ini, saya berkesempatan untuk mengunjungi salah satu sentra Kopi Bogor di Kecamatan Sukamakmur. Seperti apa sih pengembangan kopi di sana? Berikut saya paparkan lebih lanjut ya.

Cita Rasa Itu Terletak di Sukamakmur

Saya sudah pernah sekali mengunjungi Kecamatan Sukamakmur. Pada kunjungan pertama saat itu, tujuan saya adalah wisata ke Curug Ciherang yang berada di ketinggian. Saat itu saya menggunakan motor dengan waktu tempuh sekitar 2 jam dari ibu kota Kabupaten Bogor, Cibinong. Nah, perjalanan kedua saya ke Sukamakmur agak lebih lama dibandingkan sebelumnya karena menggunakan mobil, ditambah dengan lokasi yang dikunjungi ternyata lebih tinggi lagi dari Curug Ciherang.

Di manakah itu? letaknya adalah di Gunung Arca, tempat para petani kopi di Kecamatan Sukamakmur berada, lebih tepatnya di Desa Sukawangi. Saya tidak menyangka kalau di balik pepohonan serta bukit yang tinggi itu hidup sekelompok masyarakat yang membudidayakan kopi menjadi Kopi Bogor.

kopi-bogor

Sukamakmur

Desa Sukawangi adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Desa ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Cianjur diketinggian sekitar 1200 mdpl. Desa yang memiliki jumlah penduduk sebanyak 2.500 kepala keluarga itu memiliki perkebunan kopi yang cukup luas yaitu sebesar 544 ha dari total 1.700 ha luas Desa Sukawangi. Berdasarkan informasi, masing-masing petani memiliki lahan perkebunan kopi seluas minimal satu ha. Dalam setahun, para petani tersebut mampu menghasilkan satu ton biji kopi/ha [2].

Sewaktu mengunjungi Desa Sukawangi, saya sempat bertanya kepada salah satu petugas, mengapa kopi hanya ditumbuhkan di dataran tinggi saja. Menurutnya selain karena faktor agorekosistem lokal yang memberikan cita rasa tersendiri jika ditanam di dataran tinggi, juga karena tanaman kopi membutuhkan jarak tanam yang cukup luas sehingga apabila ditanam di dataran rendah akan memakan luasan. Sementara di dataran rendah umumnya ditanami tanaman seperti padi, palawija, dan sayuran sehingga membuat tanaman kopi lebih banyak ditanam di dataran tinggi.

kopi-bogor-sukamakmur

Desa Sukawangi

Pada kesempatan tersebut, saya sempat mewawancari dua orang petani Kopi Bogor yang ada di Desa Sukawangi. Kedua petani tersebut juga merangkap sebagai ketua kelompok yang terus mengajak anggotanya untuk menerapkan budidaya tanaman kopi sesuai dengan anjuran agar Kopi Bogor yang dihasilkan benar-benar berkualitas.

Para Penggerak Kopi Bogor dari Ketinggian

Orang pertama yang saya temui adalah Bapak Ali Sungkowo seorang petani kopi, khususnya kopi robusta, merangkap sebagai ketua kelompok tani, sekaligus guru matematika di MTS Annur Sukamakmur. Guru lulusan STKIP Arrahmania Depok Cabang Sukamakmur ini sehari-hari mengusahakan Kopi Bogor mulai dari budidaya, pasca panen, hingga menjadi produk yang dijual untuk melayani para pecinta kopi.

Bapak Ali adalah ketua kelompok tani Catang Malang Agung Perkasa yang beranggotakan 30 orang dengan luas lahan garapan kelompok adalah 48 ha. Sebanyak 99% petani di kelompok tersebut menghasilkan kopi robusta yang memang banyak peminatnya. Proses yang dilakukan Bapak Ali dalam pasca panen kopi adalah natural, honey, semi wash dan full wash. Untuk proses pasca panennya tidak akan dijelaskan di sini ya karena perlu pendalaman lebih lanjut.

kopi-bogor

Bapak Ali Sungkowo

Kopi robusta Bogor cukup banyak permintaannya, akan tetapi kapasitasnya belum terpenuhi karena memang produksinya dari kelompok tani Catang Malang Agung Perkasa belum banyak. Dari sekian anggota yang tergabung dalam kelompok, hanya sekitar 10-15% saja yang sudah menerapkan SOP untuk menghasilkan biji kopi berkualitas. Bapak Ali, selaku ketua kelompok memiliki cita-cita dalam 2-3 tahun kedepan, sekitar 50% anggota kelompok taninya sudah menerapkan budidaya yang sesuai dengan SOP. Dengan begitu, permintaan biji kopi berkualitas dapat terpenuhi.

Dalam segi budidaya, Bapak Ali mengatakan tidak terlalu menemui hambatan. Hanya saja belum ada keseragaman antara petani yang satu dengan lainnya yaitu dalam hal pemangkasan. Diakuinya memang ada plus minus antara perlakuan pemangkasan tanaman kopi dengan yang tidak.

Untuk tanaman kopi yang dipangkas, otomatis tanamannya menjadi berupa tanaman perdu sehingga lebih mudah dalam perawatan dan juga proses pemanenan apabila dibandingkan dengan tanaman kopi yang tidak dipangkas. Gulma juga tidak banyak tumbuh di sekitar tanaman kopi yang dipangkas sehingga memudahkan pemeliharaan. Tanaman kopi yang dipangkas juga lebih banyak menghasilkan buah dalam bentuk cherry. Dalam hal ini, usia tanaman kopi yang dipangkas di atas 5 tahun sudah bisa menghasilkan 25 kg cherry per tanaman dalam sekali panen, sedangkan kalau tidak dipangkas hanya menghasilkan 10-15 kg cherry saja. Tetapi dari segi umur panen, memang tanaman kopi yang dipangkas umur panennya lebih lama ketimbang tanaman yang tidak dipangkas. Sehingga terdapat plus minus yang harus dipertimbangkan dalam pemangkasan ini karena mempengaruhi produksi dan kontinuitas hasil panen.

kopi-bogor

Kopi Bogor

Selain kendala dalam keseragaman proses pemangkasan, hambatan lain yang dirasakan oleh Bapak Ali dalam memproduksi Kopi Bogor robusta adalah kendala cuaca yang tidak menentu. Bapak Ali masih mengandalkan sinar matahari untuk mengeringkan biji kopi. Saat ini dia belum mengetahui apakah menngunakan mesin pengering kopi akan mempengaruhi kualitas biji kopi mengingat biji kopi bersifat higroskopis alias menyerap bau-bauan. Sehingga saat ini Bapak Ali masih mengandalkan pengeringan secara alami dengan sinar matahari.

Meskipun begitu, Bapak Ali tetap optimis akan perkembangan Kopi Bogor ini. Buktinya, meskipun berada di lokasi yang sangat jauh dari kota dengan kondisi kontur jalan yang berbukit, tidak lantas membuat Kopi Bogor kesulitan dalam pemasaran. Bapak Ali sampai kewalahan memenuhi pemesan biji kopi dari pelanggannya di kota.

kopi-bogor

Proses penjemuran kopi

Selain mengunjungi Bapak Ali, saya juga mendatangi salah satu ketua kelompok tani kopi yang lebih memfokuskan pada budidaya kopi arabica. Namanya adalah Bapak Budi Irawan, ketua kelompok tani Mekar Wangi Jaya yang terletak di Kampung Arca, Desa Sukawangi, Kecamatan Sukamakmur.

Berbeda dari Bapak Ali, kapasitas usaha kopi di kelompok Bapak Budi sudah lebih banyak, hal tersebut terlihat dari telah dibangunnya unit pengolahan hasil (UPH) untuk kopi di kelompoknya. Kelompok Bapak Budi sendiri beranggotakan 50 orang dan sudah turun-temurun mengusahakan kopi. Hanya saja baru dalam jangka waktu dua tahun belakang ini, kopi yang dikelola oleh kelompok memiliki peluang yang sangat menjanjikan.

kopi-bogor

Bapak Budi Irawan

Dulu, sebelum terfasilitasi oleh Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bogor (Distanhorbun), Bapak Budi yang berada dalam bimbingan penyuluh yaitu Bapak Asep Saefudin dari UPT PTPH XV Wilayah Jonggol mengolah kopi yang dihasilkan kelompok dengan cara didulang atau ditumbuk. Baru kemudian setelah ada fasilitasi dan bimbingan dari Distanhorbun, cara lamapun ditinggalkan seiring dengan masuknya teknologi yang memudahkan proses pasca panen.

Saat petani belum terfasilitasi, pemasaran hanya terbatas pada tengkulak saja yang tentunya dijual dengan harga rendah. Baru kemudian pada dua tahun terakhir karena ada fasilitasi dari dinas dan pihak terkait lainnya untuk pemasaran membuat petani termotivasi berkat adanya jaminan harga yang menjanjikan. Petani yang dulunya asal dalam melakukan budidaya dan pemanenan, sekarang lebih memperhatikan segala aspeknya demi tercapai biji kopi berkualitas.

kopi-bogor

Biji kopi yang sudah matang

Sama seperti di tempat Bapak Ali, di kelompok ini juga belum menerapkan pemangkasan sepenuhnya. Namun di bawah bimbingan penyuluh, perilaku untuk melakukan pemangkasan tersebut sedikit demi sedikit dapat teratasi karena sudah dirasakan perbedaan kuantitas kopi Arabica antara yang dipangkas dengan yang tidak dipangkas.

Pak Budi sudah rutin melayani satu cafe dengan permintaan sebanyak 450 kg green bean per bulan, ditambah dengan lima cafe lainnya yang juga meminta supply dari kelompok Bapak Budi. Terbayang kan bagaimana sambutan pasar akan Kopi Bogor ini?.

Peran Pemerintah Kabupaten Bogor Terhadap Kopi Bogor

Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Distanhorbun sangat mendukung pengembangan Kopi Bogor ini. berbagai upaya telah dilakukan di antaranya dengan membuat kawasan sentra kopi di Kecamatan Sukamakmur dan kecamatan lainnya sebagai penunjang, serta kegiatan fasilitasi lainnya.

Fasilitasi kegiatan yang sudah dilakukan di antaranya adalah kegiatan pengembangan tanaman kopi, pembibitan, pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman), serta pengembangan pengolahan dan mutu hasil kopi. Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk sehingga mampu berdaya saing serta memiliki nilai tambah sekaligus meningkatkan kualitas kebun, produksi, dan produktivitas tanaman perkebunan.

kopi-bogor

green bean

Tahun 2018 ini Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Distanhorbun kembali mengangkat kopi Bogor yang akan diikut sertakan pada Hari Krida Pertanian tingkat Provinsi Jawa Barat di Gor Pakansari Cibinong. Bagi yang masih penasaran tentang kopi Bogor ini, makanya nanti merapat ya di bulan Juli 2018 saat Hari Krida Pertanian tingkat Provinsi Jawa Barat digelar.

Oke kembali ke peran pemerintah, selain memfasilitasi dari segi fisik, management, dan pemasaran, juga dilakukan melalui kegiatan penyuluhan. Para kelompok tani kopi ini diberikan pendampingan secara berkesinambungan oleh penyuluh setempat. Bapak Asep Saefudin, selaku penyuluh Desa Sukawangi, Sukaharja, dan Sukamulya, di Kecamatan Sukamakmur yang ketiganya merupakan daerah berpotensi kopi turut menjembatani pemasaran kopi Bogor ini.

Baru-baru ini, Beliau bersama kelompok berhasil memasarkan Kopi Bogor dengan merk Kopi Gunung Arca ke daerah Cibubur. Saat ini permintaanya memang belum terlalu banyak, baru sekitar 25 kg per bulan, akan tetapi prospeknya jelas sangat menjanjikan karena dari beberapa cafe yang sudah mencoba Kopi Bogor Gunung Arca ini rata-rata mengatakan kalau kopi arabica Gunung Arca memiliki cita rasa yang berbeda, unik dari kopi lainnya. Hal ini yang membuat kemudian para pembeli rela menempuh jarak jauh untuk membeli biji Kopi Bogor berkualitas langsung dari kelompok tani berkat keunggulan komparatif yang dimiliki.

kopi-bogor

Kiri: Bapak Asep Saefudin (penyuluh), kanan: Bapak Budi Irawan (petani kopi)

Peran pemerintah dalam memajukan kelompok tani untuk menghasilkan Kopi Bogor berkualitas sangat dirasakan sekali oleh Bapak Ali dan Bapak Budi sebagai pelaku utama. Kalau dulu pemasaran untuk kopi jenis cheery sangat rendah ketika berada di tangan tengkulak, kini saat pemerintah memfasilitasi pertemuan dengan pihak yang membutuhkan kopi, maka para petani kopi dapat memiliki bargaining position yang lebih tinggi.

Dengan adanya harga yang tinggi tentu saja akan meningkatkan kesejahteraan para petani yang secara tidak langsung menuntut mereka untuk menerapkan budidaya sesuai dengan standart demi mempertahankan kualitas. Jadi, tanpa harus diminta, para petani sudah dapat melaksanakan komponen teknologi budidaya yang baik dan benar secara mandiri.

Bapak Ali juga mengutarakan hal yang sama. Baginya, dukungan Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Distanhorbun ini sangat luar biasa. Terbukti di tahun pertama saat dikenalkan dengan potensi pasar kopi, lalu di tahun kedua sudah menyelenggarakan festival kopi. Bagi para petani kopi di Sukamakmur itu merupakan sambutan yang luar biasa akan keberadaan mereka di dalam dunia agribisnis.

Bapak Ali sendiri mengatakan sejak mengikuti festival kopi tersebut meskipun tidak menjadi juara, dia mendapatkan keuntungan lainnya yaitu kopi yang dihasilkannya menjadi dikenal oleh banyak orang. Sejak itu order terhadap kopi yang dihasilkannya mulai bermunculan hingga saat ini.

Ini Dia Kopi Bogor yang Termasyur

Dari tadi saya menjelaskan soal Kopi Bogor terus ya. Bagaimana sih kopinya? Ini lho Kopi Bogor yang termasyur itu. Saya sendiri sudah mencoba jenis Kopi Bogor tersebut dan rasanya memang beda. Lebih harum, ringan ketika masuk ke dalam perut, dan membuat saya ingin meminumnya lagi.

kopi-bogor

Kopi Gunung Arca

Kepala Bidang Perkebunan Distanhorbun, Ibu Irma Villayanti menjelaskan bahwa kopi asal Kecamatan Sukamakmur, Cariu, dan Tanjungsari telah melalui penilaian dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember. Untuk kopi Sukamakmur, mendapat nilai yang memuaskan yaitu 82,75 dengan catatan cita rasa acidy, caramelly, spicy dan chocolat. Sedangkan, kopi Tanjungsari mendapat skor 80,175 dengan catatan cita rasa, nutty, soy bean, caramelly, mild dan rather [3].

Jadi sesuai ya dengan apa yang sudah diulas sebelumnya kalau Kopi Bogor yang dihasilkan oleh para petani kopi Kabupaten Bogor ini memiliki cita rasa yang khas, unik, berbeda dari yang lainnya. Itulah keunggulan komparatif yang tidak dimiliki oleh kopi dari daerah lainnya.

Nah, kalau misalnya penasaran dengan Kopi Bogor ini, teman-teman bisa datang ke cafe-cafe yang ada di Kota Bogor atau kalau misalnya mau membeli langsung dari para petani kopi bisa menghubungi nomor kontak berikut ini:

Bapak Ali Sungkowo (Robusta, sebagian Arabica): 085723135230/081517866935

Bapak Budi (Arabica dan Robusta): 085793788129

Bapak Asep Saefudin (penyuluh): 085710954228

Demikian sekilas info mengenai Kopi Bogor. Nanti kalau ada yang bertanya Bogor identik dengan hal apa, jangan lupa memasukan Kopi Bogor di dalamnya ya.

Sumber Informasi:

[1] Kabupaten Bogor. 2015. Kopi Nikmat Andalan Kecamatan Sukamakmur. http://bogorkab.go.id/index.php/post/detail/2314/kopi-nikmat-andalan-kecamatan-sukamakmur#.WufBfTMnjDc [diakses tanggal 1 Mei 2018]

[2] Radar Bogor. 2018. Genjot Produksi Kopi Lokal. http://www.radarbogor.id/2018/03/22/genjot-produksi-kopi-lokal/ [diakses tanggal 1 Mei 2018]

[3] Radar Bogor. 2017. Mengunjungi Penghasil Kopi Terbesar di Kabupaten Bogor. http://www.radarbogor.id/2017/10/30/mengunjungi-penghasil-kopi-terbesar-di-kabupaten-bogor/ [diakses tanggal 1 Mei 2018]

30 Comments

  1. Reply

    Aku baru tau sekarang kalo Bogor ternyata juga ada perkebunan dan penghasil kopi,kak.
    Selama ini identiknya kan kebun teh,ya …
    Terutama di daerah Puncak.

    • Reply

      Iya jadi sekarang kalau ditanya soal Bogor, masukin kopi Bogor ke dalamnya ya, soalnya gak kalah nikmat dengan kopi dari daerah lain kok

  2. Reply

    Kalau ditanya, Bogor identik dengan apa? Hmm, kalau aku sih identik dengan hawanya yang sejuk kalau di puncak hehe.. Hawanya enak.. Ngomong-ngomong tentang biji kopi ternyata berbeda-beda yaa dan cita rasanya pasti berbeda setiap jenisnya.. Apalagi di Bogor, pemda sudah menaruh perhatian terhadap pengembangan kopi Bogor.. Salut!! ๐Ÿ™‚

    • Reply

      Iya ini menjadi salah satu komoditas unggulan lho, selain kopinya yang memang nikmat, juga bisa dijadikan potensi agrowisata

  3. Nunuy

    Reply

    Orang Bogor harus ” bangga kopi Bogor” ,kopi Bogor punya rasa yang khas , dan rasa yg khas tsb, di mulai dgn cara panen yg baik dan benar ” petik merah” dan cara proses pengolahan yg baik dan benar, yg sesuai dgn SOP, akan menciptakan greanbean yg berkualitas. Kita nikmati kopi Bogor, dan peduli petani kopinya. Arabika n robusta kopi Bogor, mulai dilirik , banyak penikmat kopi , yg bertanya, dan merasa tidak yakin ,akan nikmatnya kopi Bogor, namun setelah mereka mencicipi, baru la mereka sadar, ada kopi yg nikmat, dan lokasinya tidak begitu jauh dari sekitaran Jabodetabek,
    Bangga kopi bogor

    • Reply

      Betul, ternyata Kabupaten Bogor memiliki kopi berkualitas juga, nah tugas kita memboomingkannya agar tidak kalah dengan kopi lainnya

  4. Irma

    Reply

    Mantafff terima kasih tulisannya itu baru satu tempat kebun kopi dan pengolahannya yg dikunjungi masih banyak wilayah potensi kopi di kabupaten bogor yg lebih dasyat tempatnya dan cita rasa kopinya sekaligus berwisata kopi ke gunung lendong tanjungsari dan kopi cibulao puncak

    • Reply

      Sekalian agrowisata ya bu, mungkin infrastructure jalan perlu diperbaiki dulu bu untuk meningkatkan akses ke petani kopi

  5. ilham

    Reply

    baru tau ternyata bogor juga punya kopi yang mampu bersaing dengan kopi” lainnya mantab dah..
    walau pun saya bukan pecinta kopi , tanpanya mata ini mungkin terus terpejam ketika bekerja seharian hehehe

  6. Reply

    Suamiku bulik2nya tinggal di bogor.. klo ke jogja mbawanya kue yang kayak donat, bulet2 tapi keras..kayaknya dari beras.

    Ahh..seandainya di oleh-olehin kopi ya mba. ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

  7. Reply

    Wah habis lebaran nih acaranya, di bulan Juli ya.
    Penasran akan rasanya, dan saya baru tahu juga nih kalau di Bogor ada penghasil kopi gini, makin mudah deh kalau cari kopi disaat maen ke Bogor ya, Teh..

  8. Reply

    Saya baru aja curcol di IG story kalau lagi kangen banget ngopi. Selama Ramadan kayaknya brenti ngopi dulu. Tapi, baru juga masuk hari keempat udah kangen berat. Apalagi baca postingan ini ๐Ÿ˜€

  9. Josef CS

    Reply

    Mba …sya mau buat event ttg kopi di bogor ….boleh saya jadikan referensi ya mba? ttg perkebunan kopi bogor …

  10. ramdhani

    Reply

    akhrnya nemu artikel kopi bogor, kalo pengen main ke kebun kopi di megamendung ngobrol2 sambil liat proses penanaman kopi contact siapa ya mba?

  11. Wahyu Darmawan

    Reply

    Asalamualaikum. makasih Neng Evrina untuk infonya, susah sekali saya dapet info tentang perkebunan kopi bogor. Btw boleh tanya Neng,
    1. kalo perjalanan kesana dari jl. Raya puncak, terus kmana lagi ya ?,
    2. Kalo kopi di daerah leuwiliang sebelah mana ya ?
    3. Apakah biji kopi yg belum di sangrai dijual eceran ?, (maksud saya Kiloan)

    Makasih sebelumnya,

    • Reply

      1. nah ini ke arah kecamatan sukamakmur saja pak, saya juga kurang hapal karena letaknya memang agak ke dalam, bisa hubungi no telepon yang tercantum

      2. saya belum tau kalau daerah leuwiliang nanti saya tanya dulu

      3. iya dijual kiloan saat saya berkunjung ke sana

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.