Mengenal Good Handling Practices (GHP) Hortikultura




good-handling-practices

Setelah belajar mengenal Good Agricultural Practices (GAP) pada budidaya pertanian, kini  kita lanjutkan pada manajemen mutu selanjutnya yaitu Good Handling Practices (GHP) yang menitik beratkan penanganan produk pada saat panen dan setelahnya agar produk yang dihasilkan berkualitas dan memiliki nilai jual yang tinggi. Pada pembahasan kali ini, kita akan mengupas manajemen GHP untuk produk hortikultura. Produk lainnya seperti pangan dan florikultura juga bisa menerapkan karena pada prinsipnya sama saja. Bagi teman-teman yang belum membaca apa itu GAP hortikultura dan florikultura, dapat membaca tulisan saya sebelumnya berikut ini:

Baca: Mengenal Good Agricultural Practices

Baca: Good Agricultural Practices (GAP) Florikultura

Pengertian Good Handling Practices

Good Handling Practices (GHP) adalah pedoman umum dalam melaksanakan pasca panen hortikultura secara baik dan benar sehingga kehilangan dan kerusakan hasil dapat ditekan seminimal mungkin untuk menghasilkan produk yang bermutu atau memenuhi standar mutu yang berlaku seperti standar nasional Indonesia (SNI).

Kementerian Pertanian RI selalu mendorong para petani untuk menerapkan GAP dan GHP secara berkesinambungan seperti yang dijelaskan pada pemaparan di Tabloid Sinar Tani. Sebenarnya potensi produksi buah tropis yang dimiliki oleh Indonesia sangat besar yaitu mencapai 18,65 juta ton dengan potensi pasar internasional buah tropika juga sangat menjanjikan. Untuk itu diperlukan peningkatan mutu hasil daya saing produk hortikultura sesuai dengan standar GAP (good agriculture practices), GHP (good handling practices) dan GMP (good manufacturing practices). Dengan menerapkan GHP maka persoalan seperti produk hortikultura yang bersifat musiman, fluktuasi harga, susutnya hasil panen dan penampilan produk olahan yang sangat sederhana dapat teratasi.

good-handling-practices

Para petani mentimun sedang melakukan proses pasca panen

GHP menitikberatkan pada proses pasca panen yang memiliki tujuan:

  1. Mempertahankan mutu produk segar agar tetap prima sampai ke tangan konsumen.
  2. Menekan losses atau kehilangan karena penyusutan dan kerusakan
  3. Memperpanjang daya simpan dan meningkatkan nilai ekonomis hasil pertanian.

Persyaratan Manajemen GHP

Ada beberapa persyaratan manajemen yang harus dipenuhi ketika hendak menerapkan GHP seperti spesifikasi produk dan penanganannya, cara pencatatan, bagaimana perilaku personil, peningkatan sumber daya manusia serta fasilitas yang tersedia. Untuk lebih jelasnya mari kita kupas satu persatu.

  1. Spesifikasi Produk dan Penanganan

Proses penanganan, pengemasan dan penyimpanan harus dicatat. Produk yang sudah sesuai dengan standar harus dicek terlebih dahulu oleh supervisor, pemanen dan manager, baru kemudian dikonfirmasi kepada pelanggan.

  1. Identifikasi dan Ketelusuran Produk

Setiap produk yang siap dikirim harus diberi kode identitas dan catatan (tanggal panen, identitas lot, pengemasan dan tanggal kirim, tujuan produk dikirim, serta asal produk dari blok lahan tertentu.

  1. Personil

Personil yang terlibat dalam proses pasca panen harus sehat, bebas luka atau penyakit yang dapat mengakibatkan pencemaran. Setiap personil sebelum melakukan pekerjaannya harus mencuci tangan terlebih dahulu, tidak makan-minum, merokok atau meludah selama bekerja.

  1. Training

Petugas yang melakukan sortasi (pemilihan) dan grading (pengkelasan) harus bersertifikat, staf pemanenan harus dilatih dan seluruh staf sudah melaksanakan prinsip hygiene personil.

  1. Fasilitas

Lokasi pasca panen harus terhindar dari tempat yang kotor, bebas sampah, tidak ada pencemaran hewan kebun, bebas dari zat kimia dan terhindar dari bencana alam. Sedangkan bangunannya harus berdasarkan perencanaan, hygiene, mencegah kontimasi silang dan lampu ruangan harus diberi pelindung, terang dan memiliki persyaratan kesehatan.

Pada bangunan juga harus tersedia fasilitasi sanitasi seperti tersedianya air bersih, sarana pembuangan, toilet dan wastafel. Kemudian terdapat alat penanganan yang digunakan berdasarkan perencanaan yang memenuhi persyaratan teknis dan hygiene.

Ruang Lingkup Good Handling Practices

Pada proses penanganan pasca panen yang baik, ada 13 ruang lingkup penanganan yang harus dipenuhi. Semuanya terintegrasi satu sama lain sehingga apabila ada satu atau dua langkah yang mengalami error maka akan mengganggu proses selanjutnya. Berikut adalah ruang lingkup GHP:

  1. Pengumpulan

Pada tahap ini perlu diperhatikan lokasi tempat pengumpulan yang disarankan agar dekat dengan tempat pemanenan untuk menghindari penyusutan kualitas. Kemudian penanganan terhadap komoditas harus disesuaikan dengan jenisnya, misalnya apakah produk hortikultura yang mudah rusak ataukah yang aman apabila mengalami benturan. Usahakan agar tempat pengumpulan berada di tempat yang teduh untuk menghindari penguapan yang dapat menurunkan kualitas.

good-handling-practices

Jambu Kristal milik petani sedang dikumpulkan sehabis panen

  1. Sortasi

Sortasi diperlukan untuk memisahkan produk dari campuran benda lain yang tidak diinginkan. Proses sortasi harus segera dilakukan guna menghindari pembusukan, kotoran atau ancaman lain yang dapat menurunkan kualitas.

  1. Pembersihan/Pencucian

Pembersihan atau pencucian harus memperhatikan standar baku mutu air yang digunakan. Pencucian umumnya dilakukan dengan proses pembersihan seperti penyikatan pada produk tertentu. Setelah dibersihkan, maka proses selanjutnya adalah penirisan dengan alat atau melalui hembusan angin hingga kering.

  1. Grading

Grading atau pengkelasan adalah mengelompokkan produk berdasarkan ukuran, bentuk, warna hingga tingkat kematangan. Masing-masing komoditi memiliki syarat mutu tertentu untuk pengkelasannya yang diatur dalam sebuah Standard Operational Procedure (SOP). Grading bermanfaat untuk menghasilkan produk yang seragam sehingga dapat memberikan kepuasan bagi konsumen.

good-handling-practices

contoh pengkelasan pada jambu kristal di salah satu produsen buah di Bogor

  1. Pengemasan

Pengemasan bermanfaat untuk melindungi produk dari kerusakan mekanis, menjaga kebersihan, memberikan nilai tambah produk, memperpanjang daya simpan hingga menciptakan daya tarik bagi konsumen.

good-handling-practices

Proses pengemasan di salah satu petani

  1. Pelabelan

Label produk hortikultura harus memenuhi Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Pelabelan dan Periklanan Pangan. Label harus dibuat dengan ukuran, warna dan/atau bentuk yang berbeda untuk tiap jenis produk agar mudah dibedakan. Pelabelan diberikan pad aluar kemasan dan berisi nama komoditi, nama produsen, alamat produsen, berat bersih, tanggal produksi dan tanggal kadaluarsa.

  1. Pemeraman/Ripening

Pemeraman adalah proses untuk merangsang pematangan buah atau sayuran agar matang secara merata dengan menggunakan bantuan etilen dan suhu yang digunakan berkisar 18-28 C.

  1. Penyimpanan

Bermanfaat untuk mempertahankan daya simpan dan melindungi produk dari  kerusakan. Ruang penyimpanan sebaiknya memiliki kisaran temperature 8-10 derajat celcius, kelembaban 85-90% dan bebas hama serta penyakit gudang.

  1. Transportasi

Kondisi udara (suhu dan kelembaban) pada saat pengangkutan perlu dijaga. Atur penataan pada saat pengangkutan, jangan sampai karena benturan, gesekan dan tekanan menimbulkan tekanan pada produk.

  1. Standarisasi Mutu

Standarisasi mutu disesuaikan dengan standard yang telah ditetapkan untuk masing-masing komoditas, misalnya dengan syarat mutu komoditas berdasarkan standar nasional Indonesia (SNI).

  1. Sarana dan Prasarana

Pada GHP diperlukan sarana dan prasarana pendukung seperti sarana untuk pembersihan, grading, sortasi, pelabelan dan pengemasan serta prasarana berupa bangunan untuk tempat pengumpulan, bangunan untuk sortasi, grading dan lain-lainnya.

  1. Keamanan dan Keselamatan Kerja (K3) dan Pengelolaan Lingkungan

Keselamatan dan keamanan pekerja harus selalu diperhatikan, karena dalam management mutu selain memuat mutu produk juga harus memperhatikan keselamatan pekerja dan lingkungan.

  1. Pengawasan dan Pembinaan

Pengawasan dapat dilakukan secara internal maupun eksternal untuk menjamin mutu produk dan dilaksanakannya sistem manajemen mutu.

Good Handling Practices merupakan salah satu proses penanganan dalam satu rangkaian manajemen mutu sejak produk berada di lapangan hingga nanti melaui proses manufacturing. Penerapan GHP sangat membantu dalam menekan losses (kehilangan) untuk menghasilkan produk bermutu. Setelah mempelajari GAP dan GHP, maka pembahasan kita selanjutnya adalah mengenai GMP atau Good Manufacturing Practices yang akan saya bahas pada postingan selanjutnya.

 



13 Comments

  1. Reply

    Di negara kita penanganan pasca panen nya itu ya mba yg masih kurang siip. Sayur dinaikin mobil bak terbuka trus diinjek. Bnyk yg kebuang

  2. Reply

    jambunya…ngilerrr.. asyik ya mba kalau punya kebun sendiri. dari dulu aku punya cita-cita pengen punya kebun sendiri untuk tanam-tanam tapi ga punya lahan waakkkkwwkw

  3. Reply

    Saya baru melihat jambu kristal mbak kalau ditempat saya mah tidak ada karena tidak ada juga yang nanamnya jadi baru kali ini saya lihat secara detailnya, mungkin kalau prosesnya lebih steril mah pasti bagus juga untuk dijual ke pasarnya, karena kebanyakan kalau saya survei itu dalam proses pengiriman barangnya suka tidak sesuai prosedur mbak dan kadang asal asalan saya kadang merasa prihatinnya disana meskipun tidak semua tapi masih ada yang begitu.

    • Reply

      iya memang petani kita masih banyak yang belum paham di penanganan pasca panen, padahal itu sangat menentukan kualitas produk, apalagi barang hortikultura yang mudah busuk dan mudah rusak

  4. Reply

    untuk pelatihan kira-kira kota yang sudah ada daerah mana saja ya… saya dari jatim pengen belajar hortikultura

  5. noniky

    Reply

    Alhamdulillah sangat bermanfaat setelah saya baca, terimakasih mbak sudah di share ilmunya

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.