Menjadi Konsumen Cerdas Era MEA untuk Indonesia

konsumen-cerdas

Tahun 2016 adalah tahun berlangsungnya Masyarakat Ekonomi ASEAN atau yang lebih dikenal dengan MEA. Semua pihak saling berlomba guna menyambut kedatangan MEA dengan meningkatkan kualitas yang dimiliki. Ada empat hal yang menjadi fokus MEA saat ini, yaitu kawasan Asia Tenggara dijadikan satu wilayah kesatuan pasar dan basis produksi, adanya kawasan dengan tingkat kompetisi tinggi, menjadi kawasan dengan perkembangan ekonomi merata, dan terciptanya kawasan terintegrasi terhadap perekonomian global dengan menciptakan sistem untuk peningkatan koordinasi antar negara anggota. Hadirnya MEA memberikan berbagai macam dampak tidak hanya terhadap arus barang tetapi juga jasa.

Dari segi produsen, mereka beramai-ramai meningkatkan kualitas produknya karena dalam era perdagangan bebas ini tingkat kompetitif suatu produk sangat tinggi. Apalagi sekarang tidak ada lagi hambatan tarif, yang ada hanyalah hambatan kualitas. Hanya produk berkualitas saja yang mampu bersaing di era perdagangan bebas ini. Kemudian dari segi konsumen, mereka akan dihadapkan dengan berbagai macam produk pilihan. Banyaknya barang impor yang akan masuk ke Indonesia tidak hanya menjadi ancaman bagi industri lokal, tetapi juga menjadikan konsumen Indonesia sebagai target perekonomian yang dapat mempengaruhi neraca perdagangan bangsa Indonesia.

Peluang Pasar dan Sifat Konsumtif Masyarakat Indonesia

Berbagai macam produk dan jasa serta arus investasi dapat dengan mudah masuk ke Indonesia pada saat berlangsungnya MEA. Bahkan, saat ini negara-negara di Eropa juga berminat untuk mencari pasar di Indonesia. Mengapa begitu?, karena Indonesia adalah negara besar dengan jumlah penduduk ke-empat terbanyak di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat. Banyaknya jumlah penduduk ini menjadikan Indonesia sebagai target pasar yang memberikan peluang bisnis para investor.

Mari kita bandingkan data berikut yang diambil dari liputan khusus kontan.co.id pada bulan Desember 2015 [1]:

hari-konsumen-nasional

Sumber: kontan.co.id

Apabila kita bandingkan, terlihat bahwa nilai impor negara partner lebih besar daripada nilai ekspor Indonesia ke negara partner seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Hal ini menandakan bahwa Indonesia memang menjadi target bagi para investor asing serta produsen untuk memasarkan produknya ke Indonesia mengingat konsumen Indonesia jumlahnya cukup banyak. Apalagi saat ini kelas konsumen di Indonesia jumlahnya semakin meningkat.

Hasil survey yang dilakukan oleh McKinsey (2014) menyebutkan bahwa dari 70 juta orang masyarakat kelas konsumen di Indonesia, sebanyak 55 juta di antaranya tinggal di perkotaan dan 15 juta tinggal di pedesaan. Sebanyak 15 juta orang warga desa ini ternyata telah mengadopsi sikap penduduk kota [2].

Sementara itu Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa pertumbuhan kelas menengah yang ada Indonesia sangat signifikan sejak tahun 1980-an. BI melansir sekitar 5 dari 10 penduduk Indonesia berada dalam kategori kelas menengah. Meningkatnya kelas menengah ini tentu saja sangat menarik bagi para produsen. Mengapa demikian?, karena salah satu ciri dari kelas menengah ini adalah sifat konsumtif. Mereka umumnya selalu tertarik dengan produk-produk baru walaupun barang yang sama sudah dimiliki. McKinsey kembali memperkirakan bahwa sebanyak 45 juta penduduk berada di kelas konsumtif dan akan meningkat lagi menjadi 135 juta pada tahun 2020 [3].‎

hari-konsumen

Melihat beberapa fakta di atas, apa yang dapat kita simpulkan?

  1. Indonesia menjadi pasar empuk bagi masuknya barang impor
  2. Penduduk desa sudah mulai mengadopsi perilaku penduduk kota yang meningkatkan kelas konsumen mereka ke kelas menengah yang dikenal sebagai kelas konsumtif
  3. Sifat konsumtif masyarakat Indonesia terhadap produk baru apabila tidak ditanggulangi maka akan merugikan diri sendiri serta kondisi perekonomian bangsa apabila produk impor menjadi pilihan masyarakat untuk dikonsumsi
  4. Jika tidak ditanggulangi maka produsen mungkin akan mendapatkan untung namun hak dan kewajiban sebagai konsumen dapat terancam

Itu sebabnya sebagai konsumen, kita harus cerdas. Jangan sampai hanya dijadikan sebagai target pasar saja. Konsumen juga harus menunjukkan kekuatannya agar iklim perdagangan menjadi sehat.

Jangan Menjadi Target Pasar, Tunjukan Kekuatan Konsumen

Sebagai konsumen kita mempunyai kekuatan terhadap peredaran arus barang dan jasa. Perilaku konsumen dapat mempengaruhi kebijakan yang akan dilakukan oleh perusahaan guna memasarkan produknya. Namun, konsumen Indonesia perlu berhati-hati karena produsen asing yang masuk ke Indonesia sebelumnya sudah melakukan riset terlebih dahulu mengenai prevalensi konsumen Indonesia. Mereka tidak segan untuk mengakuisisi perusahaan lokal dan mengadopsi identitas lokal untuk memperkuat merek asing [2]. Berbagai macam usaha seperti riset atau survey memang telah dilakukan oleh perusahaan asing guna menarik minat konsumen Indonesia agar produknya berhasil dipasaran. Sekarang, keputusan ada di tangan konsumen Indonesia apakah akan menjadi target pasar atau menunjukkan kekuatannya demi pertumbuhan ekonomi yang sehat bagi semua.

konsumen-cerdas

Seorang konsumen sedang membaca petunjuk pada kemasan produk, salah satu ciri konsumen cerdas, sumber: lifestyle.sindonews.com

Sebagai konsumen, kita bisa menunjukkan kekuatan melalui sikap dan keputusan yang diambil ketika memilih produk. Contohnya, dulu pada saat isu kebocoran ozon mencuat, konsumen Indonesia beramai-ramai untuk menghentikan penggunaan CFC yang dapat merusak ozon. Hal ini mampu menekan produsen untuk menghasilkan produk yang ramah lingkungan dan tidak mengandung CFC hingga saat ini. Jika kekuatan tersebut digunakan kembali secara bersama, maka hak dan kewajiban konsumen tentu akan terjaga.

Apabila konsumen sudah paham mengenai hak dan kewajibannya, maka akan tercipta konsumen cerdas yang bijak dan selektif dalam mengkonsumsi sebuah produk. Konsumen cerdas tidak hanya akan mendorong perusahaan untuk menghasilkan produk berkualitas tetapi juga dapat menjaga stabilitas perekonomian negara.

Menjadi Konsumen Cerdas di Era MEA

Hari Konsumen Cerdas diperingati setiap tanggal 20 April. Peringatan ini berdasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 13 Tahun 2012 dengan mengacu kepada Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Tanggal 20 April ditetapkan sebagai Hari Konsumen Nasional karena pada tanggal tersebut merupakan tanggal ditetapkannya Undang-Undang Perlindungan Konsumen.

Tema perayaan Hari Konsumen Nasional masih sama seperti tahun sebelumnya yaitu “Gerakan Konsumen Cerdas, Mandiri dan Cinta Produk Dalam Negeri” dengan sub tema “Konsumen Cerdas Dengan Nasionalisme Tinggi Menggunakan Produk Dalam Negeri”. Tema ini sejalan dengan berlangsungnya MEA yang menuntut konsumen Indonesia untuk cinta produk dalam negeri yang berkualitas.

konsumen-nasional

Puncak perayaan Hari Konsumen Nasional, Sumber: http://ditjenspk.kemendag.go.id/

Menurut Kementerian PPN/Bappenas (2016), peringatan Hari Konsumen Nasional pada dasarnya memiliki beberapa tujuan, diantaranya adalah [4]:

  1. Sebagai upaya penguatan kesadaran secara massif akan arti pentingnya hak dan kewajiban konsumen serta sebagai pendorong meningkatnya daya saing produk yang dihasilkan pelaku usaha dalam negeri.
  2. Menempatkan konsumen pada subyek penentu kegiatan ekonomi sehingga pelaku usaha terdorong untuk dapat memproduksi dan memperdagangkan barang atau jasa yang berkualitas serta berdaya saing di era globalisasi.
  3. Menempatkan konsumen untuk menjadi agen perubahan dalam posisinya sebagai subyek penentu kegiatan Ekonomi Indonesia.
  4. Mendorong pemerintah dalam melaksanakan tugas mengembangkan upaya perlindungan konsumen di Indonesia.

Begitu pentingnya konsumen hingga menjadi penentu kegiatan ekonomi dan agen perubahan menuntut kita untuk paham bagaimana caranya menjadi konsumen cerdas.

maskot

Menurut Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan Republik Indonesia yang pada awalnya bernama Direktorat Jendral Standardisasi dan Perlindungan Konsumen (alamat website http://ditjenspk.kemendag.go.id/ ), menyebutkan bahwa konsumen cerdas adalah konsumen yang:

  1. Menegakkan hak dan kewajiban sebagai konsumen
  2. Teliti sebelum membeli
  3. Membeli sesuai kebutuhan
  4. Memastikan produk sesuai standar mutu (SNI)
  5. Memperhatikan label, Manual dan Kartu Garansi Bahasa Indonesia
  6. Memperhatikan masa kadaluwarsa
  7. Menjadikan Produk Dalam Negeri sebagai pilihan utama

konsumen-cerdas

 

Konsumen cerdas di era MEA memang diharapkan lebih teliti lagi dalam memilih barang yang akan dikonsumsi, membeli produk yang memang dibutuhkan (tidak konsumtif) dan mengutamakan penggunaan produk dalam negeri. Hal ini dianjurkan karena perdagangan bebas MEA akan menyebabkan Indonesia kebanjiran arus barang dan jasa yang membuat konsumen cenderung konsumtif akibat berbagai macam penawaran dari produsen luar. Dengan menumbuhkan rasa untuk mencintai produk dalam negeri dan menegakkan hak serta kewajiban sebagai konsumen, diharapkan dapat meningkatkan perekonomian bangsa di tengah persaingan MEA.

Sayangnya keberdayaan konsumen di Indonesia masih jauh lebih rendah daripada negara maju. Hasil pemetaan Indeks Keberdayaan Konsumen (IKK) Indonesia yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan RI di tahun 2015 menunjukkan bahwa nilai IKK Indonesia tahun 2015 hanya sebesar 34,17 dari nilai maksimal 100. Sedangkan nilai perhitungan IKK di 29 negara Eropa sudah lebih tinggi lagi yaitu mencapai 51,31. Hal ini menunjukkan bahwa keberdayaan konsumen Indonesia masih berada dan baru ada di level paham. Konsumen Indonesia sudah mengenali dan memahami hak serta kewajibannya sebagai konsumen, namun belum sepenuhnya mampu menggunakannya untuk menentukan pilihan konsumsi serta belum berperan aktif dalam memperjuangkan haknya sebagai konsumen. Berdasarkan survey tersebut diketahui bahwa perilaku complain konsumen Indonesia juga masih sangat rendah. Dari 1 juta penduduk Indonesia, jumlah pengaduan konsumen hanya sebesar 4,1 saja. Sementara di Korea Selatan, jumlah pengaduan konsumen di setiap 1 juta penduduk sudah mencapai 64 pengaduan [5].

konsumen-cerdas

Sumber: https://kominfo.go.id/

Untuk meningkatkan fungsi konsumen cerdas, sudah sepatutnya kita sebagai konsumen menggunakan momentum Hari Konsumen Nasional ini sebagai salah satu upaya meningkatkan kepedulian kita terhadap implementasi hak dan kewajiban sebagai konsumen. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa menjadi konsumen cerdas itu penting sekali karena kita sebagai agen perubahan penentu ekonomi bangsa yang memiliki kekuatan untuk mendorong produsen menghasilkan produk berkualitas. Kondisi ini dapat menciptakan iklim perdagangan yang sehat dan bermanfaat bagi semuanya.

Menjadi Konsumen Cerdas, Mendorong Produk Berkualitas

Menjadi konsumen cerdas tidak hanya dapat menciptakan iklim perdagangan yang sehat di tengah persaingan perdagangan bebas. Kita sebagai negara yang menjadi salah satu target pasar dunia benar-benar harus peduli terhadap arus barang serta jasa yang masuk ke Indonesia. Pemerintah memang telah melakukan berbagai upaya untuk perlindungan konsumen. Namun, upaya pemerintah ini juga harus didukung oleh kita selaku konsumen untuk cerdas dalam menentukan produk yang akan dikonsumsi. Hal ini perlu dilakukan mengingat masih banyak ditemukan kasus peredaran produk impor yang tidak sesuai dengan kualitas standar nasional Indonesia atau kesepakatan perdagangan bebas MEA.

Sumber: https://tempo.co/

Sumber: https://tempo.co/

Contohnya terjadi di Pekanbaru pada bulan Februari 2016 lalu. Ditemukan produk makanan impor bukan dari negara-negara ASEAN yang membanjiri pasar tradisional hingga di toko-toko pinggir jalan di samping pusat perbelanjaan modern. Kondisi itu membahayakan keamanan konsumen karena kebanyakan produk impor tersebut tidak mencantumkan label halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pemerintah daerah hanya dapat mengawasi peredaran barang impor dari negara non ASEAN karena dalam kesepakatan MEA, pemerintah daerah tidak bisa melakukan pelarangan barang masuk dari negara ASEAN [6].

Nah, apabila masyarakat Indonesia sudah teredukasi sebagai konsumen cerdas, maka kita dapat melindungi diri sendiri dari peredaran produk tidak bertanggung jawab. Ketegasan sikap konsumen untuk selektif dalam memilih produk dapat mengedukasi produsen agar mereka hanya menghasilkan produk-produk yang berkualitas serta aman dikonsumsi. Karena jika mereka tetap menghasilkan produk yang tidak sesuai dengan prevalensi konsumen, maka produk tersebut tidak akan laku dipasaran. Jadi, sikap konsumen juga turut menentukan langkah produsen untuk menciptakan produk yang berkualitas.

Kiat Menjadi Konsumen Cerdas di Era MEA

Untuk menjadi konsumen cerdas sebenarnya sangat mudah, yang terpenting adalah bagaimana kita mau bersikap tegas dan disiplin dalam mengambil keputusan. Ingat bahwa peran konsumen sangat besar sebagai penentu perekonomian dan agen perubahan. Agar kita dapat menjadi konsumen cerdas di era MEA, maka dapat menerapkan beberapa hal berikut ini:

1. Memahami isi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (UUPK)

Sebagai negara hukum, apapun tindakan yang kita lakukan berkaitan dengan hukum, termasuk ketika menjadi konsumen. Memahami UUPK yang melindungi konsumen sangat perlu dilakukan terutama di era persaingan bebas MEA saat ini. UUPK menjadi pedoman kita untuk bertindak dan mengambil keputusan selaku konsumen. Akan tetapi menurut Kementerian PPN/Bappenas (2016) diketahui hanya 30% saja masyarakat yang sudah mengetahui adanya UUPK, bahkan 52% diantaranya hanya pernah mendengar saja [4]. Kini sudah saatnya konsumen memahami UUPK yang menjadi dasar mereka untuk mendapatkan perlindungan sehingga hak dan kewajiban konsumen dapat dijalankan tanpa hambatan.

konsumen-cerdas

Sumber: http://www.referensibisnis.com/

2. Menjalankan hak dan Kewajiban konsumen

Hak dan kewajiban konsumen diatur dalam pasal 4 dan 5 UU Nomor 8 Tahun 1999. Hak dan kewajiban konsumen diantaranya:

konsumen-cerdas

Hak konsumen antara lain:

  1. hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
  2. hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
  3. hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;
  4. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;
  5. hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
  6. hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
  7. hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
  8. hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau  jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
  9. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Kewajiban konsumen adalah:

  1. membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;
  2. beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;
  3. membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;
  4. mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen.

3. Cerdas dalam memilih produk

Meskipun Indonesia dibanjiri produk impor dan menjadi sasaran target pasar Internasional, bukan berarti konsumen mudah tergoda dengan berbagai macam tawaran yang diberikan oleh produsen. Sebagai konsumen, kita harus memiliki sifat selektif dan mengutamakan fungsi ketika memilih produk. Lakukan beberapa hal berikut ini sebelum membeli yaitu baca petunjuk dan informasi produk, pastikan produk memiliki standar nasional Indonesia (SNI) dan sesuaikan dengan kebutuhan.

konsumen-cerdas

4. Berani melindungi diri

Sebagai konsumen, kita dituntut untuk dapat melindungi diri walaupun pemerintah sudah berupaya memberikan perlindungan terhadap konsumen. Beberapa hal yang dapat dilakukan konsumen untuk melindungi dirinya adalah dengan berani menanyakan informasi yang kurang jelas pada produk, berani memberikan masukan terhadap produk yang kualitasnya dirasakan kurang sesuai serta berani menggunakan pengaduan untuk diketahui oleh lembaga, perusahaan atau instansi terkait agar dapat ditindak lanjuti.

Namun sayangnya menurut Kementerian PPN/Bappenas (2016) sebanyak 42% konsumen yang mengalami masalah dalam pembelian dan/atau penggunaan barang/jasa, lebih memilih untuk tidak melakukan pengaduan, dengan alasan utama resiko kerugian tidak besar (37%); tidak tahu lokasi tempat pengaduan (24%); beranggapan prosesnya rumit dan lama (20%) [4]. Padahal dalam UUPK sudah dijelaskan hak konsumen untuk mendapatkan informasi yang benar, didengar keluhannya dan mendapatkan kompensasi atas barang/jasa yang tidak sesuai sebagaimana mestinya. Oleh karena itu diperlukan keberanian dan kemauan dari konsumen itu sendiri agar dapat melindungi dirinya.

5. Cintai produk dalam negeri

Menjadi konsumen cerdas di era MEA dituntut untuk cinta terhadap produk dalam negeri. Produk dalam negeri hasil karya anak bangsa juga tidak kalah saing dengan produk impor yang banyak masuk ke dalam negeri. Mencintai di sini bukan berarti tidak boleh mengonsumsi produk impor sama sekali. Akan tetapi lebih selektif dalam membeli produk impor, jika produk dalam negeri memiliki kualitas yang sama dengan harga yang bersaing mengapa tidak menggunakan produk dalam negeri saja. Apabila semua konsumen memiliki sikap seperti itu, maka perekonomian bangsa dapat terselamatkan.

konsumen-cerdas

Bahkan pedagang bubur ayam juga mengajak konsumen untuk mencintai produk dalam negeri

6. Berwawasan luas dan terus mengupdate informasi

Era MEA menuntut kita untuk terus mengupdate arus informasi agar tidak ketinggalan dengan trend yang sedang berlangsung saat ini. Akan tetapi, konsumen juga tetap harus menyaring segala informasi yang datang agar tidak tersesat dalam pemberitaan. Seperti misalnya kasus buah impor dengan lapisan berbahaya tertentu. Kita dapat menggali informasi lebih jauh melalui pakar yang expert di bidangnya atau menanyakan langsung kepada petugas pemerintah terkait.

7. Turut serta mendukung kelestarian lingkungan

Pada era perdagangan bebas MEA, produk yang dipasarkan sudah diharuskan untuk ramah lingkungan terutama untuk produk segar. Produk segar diharuskan memiliki sertifikat bebas cemaran untuk dapat keluar masuk dari dan ke suatu negara. Di sinilah diperlukan konsumen cerdas agar dapat menggunakan produk yang ramah lingkungan guna mendukung alam tetap lestari. Di luar negeri kampanye ini sudah dilaksanakan, mereka bisa saja menolak produk Indonesia yang tidak ramah lingkungan, kitapun juga harus melakukan hal yang sama agar produk yang tidak seharusnya beredar tidak dapat berada di Indonesia.

Gegap gempita MEA sudah terjadi, tinggal kita yang harus memposisikan diri apakah akan terbawa arus saja ataukah mengikuti arus namun tidak terhanyut?. Sebagai konsumen cerdas sudah sepatutnya kita mengambil sikap tegas agar dapat melindungi diri dan keluarga dari hal-hal yang tidak diinginkan akibat perdagangan bebas. Dan perlu diingat bahwa peran kita selaku konsumen sangat besar yaitu sebagai agen perubahan dan penentu kebijakan. Maka jadilah konsumen cerdas saat ini juga agar dapat berkontribusi pada perekonomian bangsa yang sehat dan dinamis.

Sumber Informasi:

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan Republik Indonesia  http://ditjenspk.kemendag.go.id/

[1] Kontan. 2015. Fakta Penting Ekspor Impor Negara MEA http://lipsus.kontan.co.id/v2/mea/read/280/Fakta-penting-ekspor-impor-negara-MEA [diakses tanggal 25 April 2016].

[2] Tempo. 2014. Kelas Konsumen RI Bertambah 5 Juta Orang per Tahun https://m.tempo.co/read/news/2014/01/21/090546842/kelas-konsumen-ri-bertambah-5-juta-orang-per-tahun [diakses tanggal 25 April 2016].

[3] Republika. 2015. Potensi Besar Konsumen Indonesia dibalik Geliat Sosial Media http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/15/04/16/nmvnf5-potensi-besar-konsumen-indonesia-di-balik-geliat-sosial-media [diakses tanggal 25 April 2016].

[4] Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS). 2016. Hari Konsumen Nasional 2016: Momentum Tingkatkan Martabat Konsumen http://www.bappenas.go.id/id/berita-dan-siaran-pers/hari-konsumen-nasional-2016-momentum-tingkatkan-martabat-konsumen/ [diakses tanggal 25 April 2016].

[5] Siaran Pers Bersama Kementerian Perdagangan dan Bappenas Tahun 2016. Peringati Harkonas 2016, Pemerintah Ajak Konsumen Aktif Perjuangkan Haknya. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS).

[6] RRI. 2016. Produk Impor Bukan dari Negara Mea Membanjiri Pekanbaru. http://rri.co.id/voi/post/berita/244960/ekonomi/produk_impor_bukan_dari_negara_mea_membanjiri_pekanbaru.html [diakses tanggal 25 April 2016].

 

Related Post

26 Comments

  1. Reply

    Cerdas itu wajib ya mbak..apalagi dalam menghadapi MEA…dan ga selamanya produk dalam negeri itu kualitasnya buruk..
    Btw saya suka infografisnya

    • Reply

      terimakasih mbak cheila, iya produk asli Indonesia kan sudah dibekali juga dengan SNI, pasti sudah berkualitas juga

  2. Reply

    Moga sukses ya artikelnya. Memang benar, kita sbg WNI harus cerdas dalam menjadi konsumen, seperti membeli produk dengan memperhatikan tgl expirednya, misal sebulan lagi kadaluarsa, mending beli yang masih lama expirednya 🙂

  3. Reply

    Masyarakat Indonesia memang cenderung konsumtif ya, mbak Ev. Pengeluaran untuk belanja cenderung banyak. Makanya harus diimbangi dengan kecerdasan dalam berbelanja, supaya tidak menyesal. Saya dari dulu sih selalu pilih produk dalam negri, mbak. Selain lebih murah kualitasnya juga bagus kok 🙂

    Gambarnya lucu-lucu dan bagus mbak, semoga menang ya, aamiin 🙂

    • Reply

      aamiin yra terimakasih ya, iya aku juga mulai mengatur pengeluaran supaya gak lebih besar pasak daripada tiang

  4. Reply

    Hmm sepertinya kalau kita mau jadi konsumen yang cerdas kita tau lebih tau produk dalam negeri jangan malah produk luar negeri diuttamakan.

  5. Reply

    Aku masih belajar buat jadi konsumen yg tidak khilaf nih… cerdas sih kayaknya udah mayan cerdas tapi begitu khilaf bubar semua..hahaha

  6. Anne Adzkia

    Reply

    Sebenernya panduan buat kita sbg konsumen ataupun produsen sudah jelas ya, tinggal aplikasikan. Dan dibuat untuk keuntungan kita sendiri. Tapi banyak yg nggak ngeh deh kayaknya. Main tabrak aja.

    • Reply

      Iya mbak. Makanya pas banget moment harkonas untuk kembali mengedukasi konsumen indonesia agar bijak membeli produk

  7. Reply

    Sekarang semua harga barang dah naik banyak. Jadi menjadi consumer yang cerdik amat penting supaya uang yang kita belanja layak dengan barang yang kita beli.

  8. Levina Mandalagiri

    Reply

    Betul Mbak. Label perlu tuh. Plus label halal Mbak, selain SNI. Kalau ngga begitu bagaimana kita akan proteksi produk dalam negeri. Dengan adanya label ini justru memberikan nilai tambah bagi produk dalam negeri.

  9. Sri Luhur Syastari

    Reply

    Kita terkadang tertipu sama merk. Kalo pada rame beli merk A kitapun ikut. Tanpa tau efek samping, penyebab, manfaat, dsb. Dan mmg masyarakat kita masih butuh edukasi mendalam soal menjadi konsumen yang cerdas

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.