Menulis dengan Gaya Story Telling


story-telling

Sebagai orang yang sering menulis dengan gaya ilmiah populer, saya agak kesulitan jika harus menulis dengan gaya story telling. Maklum di pekerjaan mana boleh saya menulis dengan gaya tersebut, bahkan menyebutkan kata saya sebagai subjek saja menjadi luntur ilmiah populernya. Tetapi saat saya sedang switch menjadi seorang blogger, mau tidak mau saya harus bisa menulis dengan gaya tersebut karena pada umumnya pembaca lebih menyukai artikel ringan terutama dengan gaya story telling. Kecuali target pembaca saya adalah orang di bidang keilmuan tertentu baru deh tulisan agak serius dapat dibuat. Namun karena saya menuliskannya di blog maka saya ingin menuliskannya dalam bentuk feature dengan tambahan story telling.

Nah, pada saat Danone Blogger Academy saya mendapatkan pengetahuan mengenai cara menulis dengan gaya story telling yang dimentori langsung oleh Mas Iskandar Zulkarnain alias Mas Isjet dari Kompasiana. Berikut adalah ulasan lengkapnya.

Story Telling: Show Don’t Tell

Pada awal pembukaan presentasi, Mas Isjet menyuguhkan dua buah artikel berbeda namun dengan gaya penuturan yang sama. Artikel pertama bercerita tentang pengeboman di Starbuck Sky line dan artikel kedua mengisahkan tentang sosok Panji Hilmasyah saat masih kecil.

story-telling

Mas Isjet sedang menerangkan dalam Danone Blogger Academy

Dari situ Mas Isjet mengatakan bahwa untuk menyampaikan sebuah peristiwa maupun menceritakan sosok seseorang dapat menggunakan teknik story telling. Apalagi jika tulisannya ditayangkan di blog pribadi atau kanal citizen journalism maka gaya menulis dengan story telling dapat digunakan. Manfaatnya adalah untuk menarik minat pembaca agar tulisan tidak monoton.

Untuk membuat tulisan dengan gaya story telling maka si penulis harus bisa memaparkan secara detail maksud yang ingin disampaikan, bukan mengatakan.

Show, don’t tell

Misalnya kita ingin menyampaikan bahwa wanita itu cantik, jangan katakan secara langsung bahwa dia cantik, namun deskripsikan secara detail dari sudut pandang tertentu yang mampu membuat pembaca membayangkan dan menyimpulkan bahwa si wanita tersebut cantik.

Story atau bercerita berarti penulis harus menginformasikan tujuan apa yang ingin disampaikan. Kemudian di dalam cerita tersebut penulis harus bisa menjelaskan guna mencapai tujuan yang dimaksud. Dan terakhir tulisan dikemas menjadi sesuai yang memberikan inspirasi atau bermanfaat.

Memulai Story Telling

Mas Isjet mengatakan jika ingin membuat tulisan, maka kita harus mampu menjawab “mengapa pembaca harus membaca cerita ini?” Bayangkan satu buah judul yang mampu membuat pembaca penasaran terhadap isinya sehingga mereka ingin sekali membacanya. Tetapi jangan sekali-kali menipu pembaca dengan membuat judul yang terlalu ‘click bait’ namun isinya tidak relevan. Jika memiliki kesulitan dalam menentukan judul, Mas Isjet menyarankan agar kita menulis dulu baru menentukan judulnya.

Cerita dapat diawali dengan membuat beberapa bentuk berikut ini yaitu diawali dengan sebuah pernyataan; kalimat tanya; percakapan; sebuah aksi; penyajian masalah; mendeskripsikan orang, tempat, dan waktu.

Di dalam story telling, Mas Isjet mengatakan bahwa sebuah cerita sebaiknya mengandung unsur 5W, dan SW, apa saja kah itu?

  1. What untuk menentukan plot
  2. Who menentukan karakter
  3. When menggambarkan kronologinya
  4. Where sebagai tempat kejadian
  5. Why sebagai motifnya
  6. So What, setelah menuliskan semuanya lalu apa kesimpulan yang ingin dicapai.
story-telling

Contoh penerapan 5W, SW dari slide presentasi Mas Isjet

Sebagai seorang blogger, ada baiknya dalam menulis kita memberikan insight di dalam tulisan. Ada peranan diri penulis di dalamnya. Berbeda dengan tulisan berbentuk berita yang cenderung lebih kaku tanpa insight pribadi di dalamnya. Berikut adalah perbedaan antara tulisan berita dengan cerita dalam bentuk opini:

Berita

Cerita

Tulisan yang disampaikan berupa fakta

Penulis dapat memilih fakta yang ingin disampaikan

Menyampaikan peristiwa

Pendapat atas peristiwa

Ada narasumber dalam tulisan

Disampaikan dari sisi penulis sendiri

Terakhir Mas Isjet menyampaikan bahwa untuk menemukan cerita dapat diambil dari pengalaman pribadi atau melalui hasil pengamatan. Dan ada satu catatan penting yang saya ingat bahwa ketika kita membuat tulisan perhatikan banyaknya kalimat dalam paragraph. Paragraf di dalam sebuah tulisan sebaiknya tidak lebih dari 4-5 baris dan kalimat dalam satu baris tidak lebih dari 20 kata.

Saya masih harus belajar lagi tentang story telling ini. Kalau mau lebih lancar lagi sebaiknya sering membaca novel karena jelas story tellingnya kuat di sana. Sayangnya saya termasuk yang kurang menyukai novel karena dan lebih suka buku dengan tampilan visual seperti komik. Tetapi tidak ada salahnya ya untuk membaca novel supaya lebih paham lagi mengenai teknik story telling. Semoga bermanfaat.

41 Comments

  1. Reply

    Waduh harus lebih bisa belajar storytelling, biar bisa bikin cerita ga kaku dan lebih menarik untuk di baca.

    Tapi itu hal pernah dan sedang saya alami. Makasih kak infonya
    Beguna sekali ini, dan sekarang saya harus semakin giat mencoba tehnik tersebut

  2. Atik muttaqin

    Reply

    Sama mbak, saya terbiasa nulis dgn gaya essai dgn banyak footnote dan daftar pustaka, begitu nulis diblog utk ikut lomba kok kalah terus, mungkin karena gaya tulisan saya kurang bertutur, bermanfaat sekali mbak, btw tulisan bertutur atau story telling dgn feature itu beda apa sama mbak?

  3. Reply

    Kirain abis 5W itu 1H, eh ini malah SW, which means = so what. Haha baru denger dan tahu nih, thanks ka buat ilmunya.

    Di 2018 kayanya saya bakalan buat project buat artikel storytelling deh, kaya buat postingan isinya cerita pendek dalam Bahasa inggris. Mau dijadiin lomba blog juga sih, nanti ya, sehabis lomba pertamanya sukses. Hihi >_<

    Thanks buat tulisan menginspirasinya ya ka

    • Reply

      agung sih bahasa inggrisnya gak perlu diragukan lagi, iya aku juga mau perlahan membuat tulisan agak story telling supaya tulisannya lebih hidup

  4. Sulis

    Reply

    He eh mba..klo mbaca yang gaya story telling gitu enak, nggak cepet ngantuk klo aku. Klo yang formal, kadang berasa baca buku pelajaran.

    Cuma untuk nulisnya..aku juga mesti belajar. Makasih ilmunya mba evrina

  5. Mahmud

    Reply

    Jadi inget pas pertama belajar nulis artikel tentang story telling waktu lomba blog tahun lalu. Dan anehnya saya langsung bisa, ternyata story telling itu artikel dengan gaya bercerita

  6. Reply

    Ada kesamaannya kita, terbiasa menulis laporan, yang formil. Susah banget rasanya switch ke gaya story telling. Akibatnya belakang aku sering BW temen-temen bloher yang punya gaya story telling. Termasuk buku.
    Beruntung dirimu dapet pelatihan semacam ini. BTW boleh donk aku diajarin juga. Ujungnya gak nodong hehehe.

  7. Reply

    Terimakasih udah share kak…
    Saya ingin bisa menulis, minimal seperti tulisan kakak ini lah yaa…
    harusnya lebih banyak belajar dan mencoba nih,

  8. Chacha Dwi

    Reply

    Makasih sharingnya, Mbak 😀

    Karena nggak biasa nulis, saya juga punya masalah yang sama. Tulisan rasanya formal banget, kaku dan bingung kalau mau bikin tulisannya agak “asik”

    Btw Danone Blogger Academy itu one-time event atau kita bisa ikutan belajar di sana secara rutin ya Mbak?

  9. Latifika Sumanti

    Reply

    wah, berarti saya tipe story telling ya… soalnya susah banget buat yg serius *makanya ga pernah menang lomba* 😀

  10. Annisa

    Reply

    Halo mbak, saya lagi cari artikel tentang story telling. Ternyata mampir kesini. Terimakasih buat ulasannya, menambah referensi saya tentang teknik story telling menulis 🙂 salam kenal ya

  11. Arif

    Reply

    Di dalam kajian ilmiah pun, ada kok model tulisannya storytelling. Namanya Etnografi, pernah baca tesis temen saya dengan gaya tulisan storytelling, dan itu diperkenankan di kampusnya (antropologi UGM), baca tesis seperti baca novel, kalau dalam jurnalistik, ada istilah jurnalisme Sastrawi, seperti tulisan2 di majalah tempo.

    • Reply

      Oh tapi jurusannya antropologi ya, kalau isi tesisnya membicarakan Tanaman, teknologinya, dan budidayanya, sepertinya saya Belum menemukan deh

  12. Arif

    Reply

    Etnografi memang sementara ini model penulisan ilmiah atau bisa disebut juga model penelitian yang digunakan oleh disiplin ilmu2 sosial (dlm hal ini masuk jenis penelitian kualitatif) saya juga kurang tahu apakah model penelitian/penulisan seperti ini bisa diterima oleh disiplin ilmu2 alam,,,mungkin saat ini belum ada, atau belum bisa diterima, tapi mungkin saja suatu saat nanti bisa saja ada, toh batasan ilmu pengetahuan skg ini semakin tipis saja,,,banyak kajian lintas disiplin ilmu campuran antara ilmu sosial dan alam, bahkan muncul jurusan2 baru yg sebelumnya belum ada, misal kajian linguistik komputasi, gabungan kajian linguistik, statistik, dan koding komputer. Barangkali suatu saat nanti ada tulisan ilmiah dg model Etnografi yg memaparkan bagaimana suatu tumbuhan dipergunakan oleh sekelompok manusia,,,😂,,owya di Etnografi ada jg kok yang membahas tentang gizi,,,hahaha,,

    • Reply

      Kalau Yang berhubungan dengan manusia sudah Ada ya, rada bingung juga kalau kajian ilmiah dengan storytelling khusus memang untuk forum ilmiah tapi, tapi untuk tulis2 di blog bisa Saja ya

  13. Arif

    Reply

    Bisa2 ajalah mbak, dicoba aja, mungkin baca artikel tentang jurnalisme sastrawi (istilah lainya itu Etnografi awam) mungkin membantu untuk membentuk gaya penulisan storytelling, sebab kl nerapin Etnografi secara penuh dalam suatu artikel memang tidak mungkin sepertinya. Trus aliran Etnografi itu juga banyak banget macam variasi nya,,😂😂😂

      • Arif

        Reply

        Haha,,cuma buat tambahan pengetahuan aja mbak, apa salahnya,,😁, nggak mesti tahu jg apa itu semantik, pragmatik, sintaktik dan teori linguistik lainya,,😂😂, kl menurutku capaian tulisan yg kental dg nuansa storytelling, bisa kita temukan dalam jurnalisme sastrawi, kalau dalam penelitian ya Etnografi tentunya. Majalah tempo dan liputan khusus di DetikX detik.com, menurutku masuk dalam kategori ini. Kalau novel, Ahmad Tohari tulisan2nya disebut sebagai novel Etnografi, seperti dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk. Hehe

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.