Nostalgia di Semarang

Sebenarnya postingan ini sudah lama ingin saya tulis, tapi karena sok sibuk jadi lupa deh. Untungnya tidak sampai penuh jaring laba-laba ya, coba kalau penuh bisa pusing juga nih untuk merangkai kata *apaan sehhh*.

Banyak lho orang-orang yang bertemu dengan saya kemudian mereka berkata: “mbaknya pasti bukan asli Bogor ya?” saya kemudian menjawab: “kok tau?” mereka kemudian membalas:”soalnya di daerah manapun selalu terbayang wajah mbaknya”, saya yang ge-er:” eaaaa”.

Eh bukan ding pemirsa, ini seriusan tadi mah just a joke. Jadi banyak lho orang yang bertemu saya kemudian mengatakan kalau saya pasti bukan asli Bogor. Lalu sayapun akan mengiyakan, kemudian bingung menjawab pertanyaan selanjutnya. Kalau bukan asli Bogor lalu mbaknya asli mana?

Saya aslinya keturunan Jawa, mamah dan bapak saya dari Jawa Tengah, tapi kalau saya mengaku asli Jawa namun tidak bisa berbahasa Jawa, saya kudu piye?. Kemudian jika mengaku orang sunda tapi tak lancar bahasa sunda rasanya bagaimana gitu. Terus kalau mengaku asli Jakarta karena numpang lahir di sana juga kurang pas, soalnya sejak kecil sudah lama di Bogor. Dan jawaban yang paling aman adalah saya asli Indonesia. Wes ngono thok, sing nanya mboten gelem nanya lagi *lha itu iso boso jawa? Iyo sa’itik*.

Semarang Tawang

Semaranggg, aku dataaang

Jadi Mama dan Bapak dulunya asli Kabupetan Semarang, mama dari Sraten dan Bapak dari Banyubiru. Tapi keluarga Bapak kemudian pindah ke Ngawi di Jawa Timur. Nah, pada lebaran tahun ini rencananya kami mau pulang kampung ke Sraten tempat mama dulu dilahirkan. Di sana masih ada si Mbah dan saudara. Mama sempat mengomeli saya, gunung yang jauh-jauh didaki, tapi mbahnya yang deket gitu tidak ditengok. Wehhh mak jleb deh, betul juga sih. Supaya tidak menjadi cucu durhaka akhirnya awal Agustus 2015 lalu, saya dan keluarga besar kemudian pulang kampung ke Semarang.

Jika dihitung berarti saya sudah 8 tahun belum pulang lagi ke rumah mbah. Pantesan mama ngomel ya, 8 tahun bayangin aja *cukup dibayangkan dan jangan teriak*. Kota Semarang masih sama, tidak terlalu banyak berubah, masih ada simpang lima dan Lawang Sewu masih berdiri kokoh di sana *ya iyalah ev, semuanya juga tau kelesss*. Tapi ada perbedaan significant memang ketika saya sampai di rumah mbah. Rumah mbah berubah, yang dulunya ada di depan ternyata pindah ke belakang. Bangunan lama dirobohkan berganti bangunan baru. Sayangnya kebun salak milik si mbah sudah tidak ada, katanya sudah dijual. Padahal dulu merupakan tempat bermain saya sewaktu kecil.

sraten semarang

Di Bogor mana ada jalan sesunyi ini hehe

Mbah terlihat menua, tapi masih sehat. Alhamdulillah. Saya kemudian berpikir, saya ini benar-benar putunya si mbah yang durhaka karena memang terlihat sekali kalau si mbah rindu sekali dengan kami para cucunya. Tak apa ya mbah, kami sudah kembali ke tempat mbah, semoga mbah memaafkan.

Mbah selalu membuatkan masakan khasnya berupa sambal pecel. Jangan salah, sambel pecel buatan mbah berbeda dengan sambal pecel yang beredar di Bogor, ini asli dari tangan si mbah. Ada rasa manis, pedas dan gurih yang bercampur menjadi satu ditambah dengan aroma daun jeruk yang memberikan wewangian. Seketika pecel buatan si mbah ludes dihabiskan oleh kami para cucunya. Ckckckck laper apa doyan nih?.

Selepas bersantap ria, kamis sekeluarga diajak berkunjung ke mbah yang satu lagi. Namanya Mbah Sri di dekat Rawa Pening menuju Ambarawa. Saya juga banyak menghabiskan waktu di sini karena rumah si mbah sungguh sangat asri dekat dengan persawahan. Dulu ada penapilan reog Ponorogo yang membuat Maya adik saya nangis ketakutan lantaran sang reog memakan beling. Kalau saya? Jangan ditanya, kecil saja sudah tomboy, kata adik saya malah menonton dari jarak dekat. Seperti kalau saya menonton lagi tidak akan berani deh, soalnya sudah bisa membayangkan rasanya memakan beling. Duh ampun apa itu rasanya.

semarang

Kelakuan cucunya si mbah ya begini

semarang

untung mereka paham kalau cucunya narsis abis

Daerah di sekitar Mbah Sri masih sama, sejuk asri, jalanan terawat, sawah-swah masih terhampar hanya saja pemukiman terlihat lebih padat.  Di tempat si Mbah masih ada tungku api lho, saya suka sama si Mbah yang masih mempunyai alat masak tradisional ini. meskipun waktu terus berputar dia masih menjaga kebudayaan.

semarang

Sawahnya masih luas pemirsa

semarang

Jalanan di depan rumah kaya begini

semarang

Jalanan menuju rumah mbah

semarang

Masih ada hau lho

Tak ada salahnya berkunjung kembali ke tempat Mbah, saya jadi bernostalgia ke masa lalu. Tetapi yang lebih penting adalah membahagiakan si Mbah yang kepingin melihat cucunya. Maaf ya Mbah kami baru balik lagi ke Semarang. Nanti lebih sering buat mampir deh. Doa kami selalu tercurah untuk Mbah agar si Mbah sealu dalam lindungan Allah swt. Aammin ya Rabballamin.

25 Comments

  1. momtraveler

    Reply

    Owalah…pantes ngerti boso jowo ternyata wong banyubiro yo hehehhe…. awas ya klo ke semarang lagi ga mampir2 :p

  2. Reply

    Woalaah simbah berasal dari banyubiru tho, tempatnya sejuk dan asri. Deket rawapening kayaknya ya mbak. Ayo harus sering2 nengok simbah, biar nggak menahan kangen pada cucunya ^_^

  3. fanny fristhika nila

    Reply

    selalu suka tiap mudik ke kampung suami di solo… ngelewatin semarang juga, malah kadang2 kita sengaja mampir ke kota2 lain yg msuk pelosok.. kyk kemarin itu melenceng dikit ke bumiayu… lumayan mba, bisa ngeliat yg masih ijo2 dan bersih drpd sumpeknya jkt ;p

    • Reply

      ahhh iya saya juga suka pergi menuju daerah ke timur, masih hijau soalnya, tapi apa daya kita sudah ditakdirkan untuk tinggal dan membesarkan daerah barat

  4. Alaika

    Reply

    Wow,8 tahun? Teganya… Teganya… *malah nyanyi. Hehe
    Emang ada sensasi happy tersendiri kalo pulang ke kampung, ya, Ev. Kenangan manis akan hadir kembali. Si mbah pasti bahagia banget deh dikunjungi oleh para cucu…

    • Reply

      iya mbak Al, ke semarangnya memang sudah 8 tahun belum ke sana lagi, tapi kalo ketemu mbah sudah di tahun 2010 waktu mbah main ke Bogor, terus mamah juga sering pulang ke sana tapi saya gak bisa ikut hehe

  5. Reply

    Ada darah Jawa tho mak,kirain org sunda. Klo didaerah jateng masih asri tempatnya.paasti seneng bgt ya nengokin mbah didesa ketemu sodara2, semoga mbah slalu sehat

    • Reply

      aamiin makasih mbak. iya aku jawa tulen kok. tempat mbah ku masih asri dan dingin, semoga begitu terus, jadi jangan sampai padat dan panas kaya bogor

  6. Reply

    Haaaa orang Ngawi juga hahahaaa. Bapakku orang Ngawi, ibuku kota lain, aku lahir di kota lain lagi, sekarang beliau pensiun di kota yg berbeda, aku tinggal di kota lain juga. Aku pernah tinggal di Semarang 2 tahun. Ditanya aslinya mana aku nggak pernah bisa jawab karena aku manusia abal2. Nggak jelas heheheee

  7. TITIS AYUNINGSIH

    Reply

    Semarang. .aku terakhir kesana Januari tahun ini . kulineran di pusat
    Oleh” Bandeng Juwana Mbak ^^

  8. Pingback: Jalin Silaturahim Melalui Arisan Keluarga | evRina shinOda

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.