Patroli Kekeringan

Sejak awal Juli 2015 kemarin saya dan Asri (POPT) beserta Ibu Umi (PPK) berpatroli memonitoring pertanaman padi yang ada di wilayah Kecamatan Dramaga. Patroli ini selain melakukan pengamatan terhadap tumbuh kembang tanaman padi, juga sekaligus memantau ketersediaan air bagi padi mengingat musim kemarau tahun ini sangat meresahkan para petani. Kecamatan Dramaga bukan termasuk daerah Upsus Pajale, meskipun begitu keberadaan tanaman padi turut serta memberikan sumbangsih bagi ketersediaan pangan.

Wilayah binaan saya terletak di empat desa yaitu Desa Cikarawang, Desa Babakan, Desa Ciherang dan Desa Dramaga. Dari ke-empat desa tersebut hanya satu desa yang bermasalah terhadap pengairan yaitu Desa Cikarawang. Desa Cikarawang terbagi lagi menjadi tiga dusun yaitu dusun satu, dua dan tiga. Dusun satu dan dusun dua dulunya merupakan daerah penghasil padi, tetapi karena irigasi sudah tidak berfungsi lantaran kurangnya pasokan air, dua dusun ini kemudian hanya bisa menanam palawija saja berupa singkong darul hidayah, ubi jalar dan jambu kristal. Sedangkan dusun tiga merupakan satu-satunya dusun yang bertahan untuk menanam padi sebanyak dua hingga tiga kali tanam dalam setahun lantaran masih mendapatkan pasokan air.

padi kekeringan

Daerah dusun tiga Desa Cikarawang yang sudah mulai mengalami puso akibat kekeringan

musim kemarau padi

Daerah Dusun Tiga Desa Cikarawang yang masih mendapatkan pasokan air pada musim kemarau

Tahun lalu, dusun tiga masih bisa melakukan penanaman padi pada musim tanam Asep (April-September) yang merupakan musim kemarau. Hal ini disebabkan karena Situ Burung yang menjadi sumber pengairan masih mampu memberikan pasokan air hingga ke dusun tiga. Sedangkan pada tahun ini, musim kemarau terasa lebih berat yang menyebabkan beberapa persawahan mengalami kekeringan hingga kelas berat.

Sebenarnya para petani di dusun tiga sudah menyadari akan musim tanam Asep ini. Mereka memperkirakan Agustus adalah puncaknya musim kemarau sehingga jika menanam pada bulan Mei maka penanaman padi masih bisa dilakukan. Sayangnya perkiraan ini meleset sangat jauh, musim kemarau sudah masuk pada awal bulan Juli sehingga banyak sawah yang mengalami kekeringan. Hal ini menyebabkan beberapa sawah mengalami puso hingga gagal panen.

Banyak yang menanyakan jika petani sudah tau sedang musim kemarau tetapi mengapa masih melakukan penanaman? Itu tadi karena berdasarkan tahun sebelumnya musim kemarau tidak terlalu berat dan Agustus merupakan puncaknya musim kemarau sehingga mereka memperkirakan masih bisa menanam pada bulan-bulan sebelumnya. Kemudian faktor tenaga kerja, banyak petani yang mengalami keterlambatan tanam lantaran sulitnya mencari buruh untuk menggarap lahan dan melakukan tandur sehingga beberapa sawah saat itu terlantar dan ada beberapa petani yang terpaksa menanam bibitnya jauh dari waktu yang sudah direkomendasikan. Tentunya faktor-faktor tersebut menyebabkan terjadinya keterlambatan tanam yang berdampak buruk pada saat musim kemarau.

Kejadian ini memberikan pelajaran tersendiri bagi saya penyuluhnya dan juga para petani. Ada beberapa hal yang kemudian kami sepakati agar kejadian ini tidak terjadi pada tahun berikutnya, yaitu:

  1. Perhatikan rekomendasi yang diberikan berdasarkan kalender tanam yang sudah diberikan oleh Kementerian Pertanian RI. Rekomendasi ini sangat bermanfaat dalam memperkirakan penanaman padi.
  2. Perhitungkan kertersediaan tenaga kerja agar tidak ada terlambat tanam lagi. Tenaga kerja ini juga berkaitan erat dengan memperhitungkan waktu hitung mundur tanam agar pada saat musim kemarau tiba petani tinggal memanen saja.
  3. Mengganti komoditas lain untuk ditanam pada musim kemarau, misalnya menanam palawija. Petani memang masih membutuhkan pengertian lebih akan pentingnya rotasi tanam. Selain menghindari kerugian, rotasi tanam ini juga dapat memutus hama penyakit tanam.
  4. Jika tidak ada tenaga kerja dan tidak tersedia komoditas lain untuk ditanam, maka ada baiknya melakukan pemberaan tanah agar tanah istirahat dan kembali subur. Jerami padi hasil panen sebelumnya jangan dibakar, sebaiknya dikembalikan ke tanah sawah agar menjadi kompos yang baik bagi kesuburan tanah. Dalam jerami padi terdapat unsur Kalium yang besarnya 1:10 dari berat padi. Unsur Kalium sendiri sangat penting bagi tanaman khususnya dalam membatu masa pembungaan dan pembuahan.

Memang menjadi dilema tersendiri bagi para petani jika tidak melakukan penanaman karena sumber penghasilan yang mereka dapatkan berasal dari budidaya tanaman. Jika mereka tidak menanam maka tidak ada penghasilan yang masuk. Oleh karena itu para petani diberikan pengarahan agar tidak hanya mengusahakan satu potensi saja, tetapi juga bisa mengusahakan potensi lainnya. Misalnya dengan mengintegrasikan ternak dengan sawah sehingga masih bisa memberikan penghasilan. Dari ternak tidak hanya menghasilkan dagingnya saja, tetapi kotorannya dapat dibuat pupuk kompos yang memiliki nilai jual.

Semoga musim kemarau ini tidak mematikan semangat petani untuk melakukan budidaya, tetapi turut serta memberikan semangat kepada mereka agar lebih berproduksi lagi terutama dalam memperkirakan masa tanam. Begitupun dnegan para penyuluhnya yang menjadi partner sehari-hari, semoga tetap semangat dalam membantu mengatasi permasalahan para petani.

Catatan: tulisan ini sebagai catatan saya sendiri sekaligus bahan evaluasi untuk tahun berikutnya.

POPT: Pengendali Organisme Penggangu Tanaman

PPK: Petugas pertanian Kecamatan

PPL: Petugas Pendamping Lapangan

18 Comments

  1. Anggarani Ahliah Citra

    Reply

    Musim kemarau ini juga mulai dirasakan warga Jakarta, Mak.

    Air keran yang keluar jadi kotor. Sampai untuk mandi harus beli

    • Reply

      wahhhhh di beberapa tempat di Bogor juga gitu, asir sumur udah kering jadi harus ngungsi, ada juga yg ke sungai

  2. ipah kholipah

    Reply

    air di rumah ku sudah habis mba hehehe jadi yah harus ngungsi deh ke tempat orang buat ikut mandi 😀

    • Reply

      wahhh semoga kemaraunya segera berakhir, kasian sampai ngungsi, air sungai juga sudah tidak terlalu bagus soalnya

  3. sabda awal

    Reply

    saya baru ada yang namanya kalender tanam, malah dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian, hebat

  4. Reply

    Musim kemarau, mengingatkanku akan kebiasaan dikampung yang harus bersusah payah untuk mendapatkan air bersih. Udah gitu jaraknya kurang lebih 3 Km rumah dan saat pulang harus mendaki terus hampir sepanjang perjalanan.

  5. Pingback: Apakabar Bumiku? - Evrina Budiastuti

  6. Pingback: Agar Tetap Hijau di Musim Kemarau - Agricultural Extension Officer, Blogger, and Dreamer

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.