Pengalaman Mengikuti Penyusunan Modul Bahan Ajar Pajale

Hari Rabu hingga Sabtu tanggal 24-27 Juni 2015 kemarin saya dengan beberapa teman Penyuluh, Petani, Babinsa, Widyaiswara beserta beberapa orang dari Puslatan (Pusat Pelatihan Pertanian) Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) dan ILO (International Labour Organization) telah melaksanakan Penyusunan Bahan Ajar Padi, Jagung dan Kedelai (Pajale) Model CBED ILO. Penyusunan bahan ajar ini merupakan tindak lanjut dari penyusunan sebelumnya yang telah dilakukan oleh tim penyusun (Widyaiswara). Pada tahap pengembangan ini Kementan RI bekerja sama dengan ILO untuk mengembangkan modul tersebut menjadi instrument yang dapat digunakan oleh penyuluh dan petani dalam budidaya Pajale.

Saya dengan teman-teman penyuluh beserta petani berperan sebagai simulator modul yang telah disusun. Kami bersama-sama melakukan koreksi dan memberi masukan apakah modul tersebut sudah sesuai dengan kondisi lapangan ataukah belum, terutama dalam penyampaian bahasa. Jangan sampai bahasa yang digunakan terlalu ilmiah sehingga sulit dimengerti oleh para petani. Kemudian langkah-langkah pengerjaan yang dijelaskan jangan sampai juga membuat siapapun yang membacanya menjadi pusing hingga harus membaca berkali-kali. Intinya modul yang dibuat harus praktis namun sarat materi.

Penyusunan Modul Pajale

Sebelum pengerjaan, masing-masing dari kami dibagi menjadi tiga kelompok untuk membahas modul berdasarkan komoditas yaitu padi, jagung dan kedelai. Saya lebih memilih untuk masuk ke dalam kelompok padi bersama Bu Lilis (penyuluh) dan Pak Didin (petani). Dari situ kami membahas setiap detail yang disampaikan pada modul. Setelah tiga hari lamanya waktu pengerjaan, akhirnya modul tersebut selesai juga dan akan dilakukan final editing oleh tim penyusun (widyaiswara).

Selain membahas modul, kami juga saling bertukar cerita mengenai perkembangan Pajale di masing-masing daerah termasuk kendala dan pemecahannya. Ternyata dari cerita para Penyuluh dan Babinsa, masalah yang ditemui hampir sama yaitu kurangnya fasilitas, sulitnya pasar, belum ada dukungan harga dan lemahnya modal petani serta tingkat partisipatif dan motivasi yang masih rendah. Ini menjadi pekerjaan rumah kami dan juga pemerintah guna mencapai swasembada pangan. Sayangnya diskusi kami stuck hingga sesi sharing saja karena memang pihak penentu kebijakan bukanlah para tim penyusun dan panitia yang berada di sana. Tetapi paling tidak aspirasi yang datang dari bawah sudah tersampaikan dan semoga saja dapat didengar oleh para penentu kebijakan.

Pengalaman Pertama

Berbeda dengan para senior, ini merupakan pengalaman pertama saya ikut bekerja sama dengan pihak luar. Sebelumnya saya bertemu dengan pihak luar hanya pada saat seminar, forum komunikasi, atau pada saat pendidikan dan latihan. Keikut sertaan saya pada penyusunan modul kemarin memberikan pengalaman tersendiri bagi saya.

Ternyata pihak luarpun seperti Organisasi Buruh Internasional (ILO) sangat aware juga terhadap dunia pertanian khususnya memperhatikan kompetensi yang dimiliki oleh para petani. Begitu juga dengan para widyaiswara yang juga menghendaki adanya kemajuan kompetensi petani-petani kita terutama dalam mengahadapi persaingan bebas. Sementara bagi kami para penyuluh tentu sangat senang dengan apa yang dilakukan saat ini, kami jadi memiliki sebuah instrument sebagai alat bantu mengajar ketika di lapangan nanti. Semoga saja modul yang nantinya akan diterbitkan bisa membawa kemajuan dalam dunia pertanian.

Dibalik Cerita

Kegiatan penyusunan modul ini berlangsung di Hotel Santika Depok. Jarak dari rumah ke Depok sebenarnya sangat dekat, sama seperti jarak ketika saya pergi ke Bogor. Hanya saja karena kegiatan berlangsung hingga malam hari, maka saya turut serta menginap di hotel.

Ini pengalaman pertama saya menginap di Hotel Santika Depok, hotelnya sangat nyaman dan strategis karena terletak di belakang D Mall. Saya dan Bu Lilis menginap di lantai 27 yang merupakan lantai teratas sehingga bisa melihat pemandangan Kota Depok yang menakjubkan.

Depok dari Lantai 27 Hotel Santika Depok

A photo posted by Evrina Budiastuti (@evrinasp) on

Margo City dari lantai 27 Hotel Santika Depok #depok #hotel #MargoCity A photo posted by Evrina Budiastuti (@evrinasp) on

Waktu sahur dan berbuka di Hotel Santika Depok menjadi terasa nikmat karena tersaji Makanan dan Minuman beraneka ragam yang dapat kita pilih sesukanya. Makanan dan minuman yang disajikan restaurant hotel sangat lezat dan nikmat mulai dari desertnya, kue-kuenya, makanan utama hingga pilihan aneka minuman. Saya sampai beberapa kali mengabadikan menu makanan dan minuman ketika sahur dan berbuka di Hotel Santika Depok. All you can eat! Lezat deh pokoknya.

Menu berbuka tahap pertama hehe… selamat berbuka

A photo posted by Evrina Budiastuti (@evrinasp) on

Menu berbuka tahap kedua *kalap*

A photo posted by Evrina Budiastuti (@evrinasp) on

Menu sahur tahap 1, seger ditemani jus manggo dan potongan buah

A photo posted by Evrina Budiastuti (@evrinasp) on

Menu sahur tahap 2, guava juice with snack hehe

A photo posted by Evrina Budiastuti (@evrinasp) on

Saya pernah membaca tulisan seorang teman yang sengaja menghabiskan waktu bersama keluarga di hotel ketika liburan guna mencari suasana baru. Sepertinya cara tersebut bisa ditiru suatu hari nanti untuk menghabiskan waktu bersama keluarga di hotel, salah satunya di Hotel Santika Depok ini karena memang letaknya sangat strategis. Semoga suatu hari nanti kami bisa pergi bersama menghabiskan waktu bersama keluarga.

Semua pengalaman saya tadi memberikan pelajaran tersendiri bagi saya, ternyata banyak yang memperhatikan nasib para petani dan dunia pertanian kita lho karena saya pikir sektor pertanian itu agak dikesampingkan oleh sektor lainnya. Dan menurut ebberapa teman, modul yang kita susun kemarin itu juga akan diterapkan di Negara agraris lainnya. Wow keren kan? Majulah terus pertanian Indonesia.

2 Comments

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.