Pengembangan Jamu Melalui Peran Wanita dalam Optimalisasi Pekarangan

Jamu merupakan ramuan obat tradisional yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur. Keberadaan jamu hingga kini masih tetap lestari dan tidak tergerus dengan perubahan zaman. Ramuan tradisional buatan nenek moyang ini melekat erat dalam kehidupan masyarakat meskipun berada ditengah perkembangan industri obat modern. Dari sisi budaya, jamu sangat identik dengan Indonesia sehingga berpotensi untuk dipromosikan menjadi salah satu produk unggulan bangsa. Jika dulu penjualan jamu sangat identik dalam bentuk jamu gendong, kini jamu telah tersedia dalam bentuk kemasan yang modern dan dapat ditemukan pada rumah makan maupun cafe.

Perkembangan jamu

Perkembangan jamu

Mengembangkan dan melestarikan jamu penting untuk dilakukan karena selain memberikan manfaat yang baik untuk tubuh juga turut serta melestarikan budaya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan RI pada tahun 2009 menunjukan bahwa sebagian masyarakat (81%) mengaku puas terhadap jamu yang dikonsumsinya namun belum loyal dan masih menempatkan jamu sebagai alternatif kepada obat farmasi. Hanya 58% konsumen saja yang mengaku selalu minum jamu, dan hanya 49% yang mengaku mengutamakan minum jamu dibandingkan obat farmasi. Menindak lanjuti hasil penelitian tersebut, pemerintah menetapkan visi untuk pengembangan jamu pada tahun 2020 dengan tajuk ”Jamu Indonesia Maju 2020: Modern, Mutu tinggi, Murah dan Memasyarakat”Makna visi tersebut adalah suatu keadaan dimana paling lambat ditahun 2020, jamu Indonesia akan dipandang oleh masyarakat sebagai produk yang modern, mutu tinggi, murah, dan memasyarakat.

Peluang untuk mewujudkan visi tersebut sangat mungkin untuk dicapai mengingat perkembangan jamu di Indonesia cukup signifikan, hal ini dapat dilihat dari omset penjualan jamu tradisional yang terus mengalami kenaikan. Pada tahun 2011 saja omset penjualan jamu mampu menembus angka Rp. 11,5 triliun.Kenaikan omset industri jamu nasional ini sudah terjadi sejak 2006 dengan puncaknya terjadi pada tahun 2010 lalu dimana nilainya naik dari Rp. 8,5 triliun menjadi Rp. 10 triliun. Data Kementerian Perdagangan Indonesia mencatat bahwa nilai impor obat tradisional serta herbal sepanjang tahun 2011 mencapai US$ 40,5 juta [1] yang menggambarkan bahwa kebutuhan tanaman obat dalam negeri sangat besar sehingga harus melakukan impor. Besarnya kebutuhan tanaman obat sebagai bahan baku jamu senada dengan data pada grafik yang disajikan oleh Kementerian Kesehatan RI yang menunjukan bahwa perkembangan industri obat tradisional (IOT) sebagai penghasil jamu mengalami perkembangan dari tahun 2011 ke tahun 2012 dengan tingkat pertumbuhan tertinggi di Provinsi Jawa Barat [2].

Grafik Pertumbuhan IOT

Grafik Pertumbuhan IOT

Melihat besarnya permintaan pasar serta berkembangannya IOT sebagai penghasil jamu memberikan peluang untuk pengembangan jamu seluas-luasnya. Untuk memenuhi bahan dasar jamu dan obat-obatan tradisional bagi negara tropis seperti Indonesia sebenarnya tidaklah sulit karena negara ini memiliki potensi yang sangat besar dalam hal keaneka ragaman tanaman obat.

Potensi Tanaman Obat sebagai Sumber Bahan Baku Jamu

Biofarmaka atau obat bahan alami yang bersumber dari tanaman obat dapat dikelompokkan menjadi lima jenis. Hal ini sesuai dengan Pasal 1 Peraturan Kepala Badan POM No. HK.00.05.4.1384 Tahun 2005 tentang Kriteria dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Tradisional, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka. Dalam pasal tersebut ditetapkan bahwa:

  • Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut, yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman
  • Jamu adalah Obat Tradisional Indonesia, belum teruji secara klinis
  • Obat Herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik (melalui hewan) dan bahan bakunya telah distandardisasi
  • Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan klinik (diterapkan pada manusia), bahan baku dan produk jadinya telah distandardisasi
  • Sediaan galenik adalah hasil ekstraksi simplisia yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau hewan.

Di Indonesia untuk mendapatkan sumber bahan baku biofarmaka tersebut tidaklah sulit karena negara ini memiliki keanekaragaman sumberdaya hayati yang sangat melimpah, salah satunya adalah spesies tanaman obat. Diketahui sekitar 9.600 spesies berkhasiat sebagai obat, namun baru sekitar 200 spesies yang telah dimanfaatkan sebagai bahan baku pada industri obat tradisional (IOT) dan dari jumlah tersebut baru sekitar 4% yang dibudidayakan. Potensi tanaman obat asli Indonesia ini dapat dilihat dari kontribusinya pada produksi obat dunia. Sebagai contoh dari 45 macam obat penting yang diproduksi oleh Amerika Serikat berasal dari tumbuhan obat tropika dan 14 spesies diantaranya berasal dari Indonesia [3]. Bahkan menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Trihono, mengatakan bahwa Indonesia menyimpan potensi tanaman obat terbesar kedua dunia setelah Brazil karena memiliki tak kurang dari 7000 variasi tanaman obat [4].

Beberapa contoh tanaman obat

Beberapa contoh tanaman obat

Meskipun potensi yang dimiliki sangat besar, pengembangan jamu di Indonesia masih menemui berbagai macam kendala. Salah satunya adalah ketersediaan lahan untuk melakukan budidaya tanaman obat. Masalah ini tentu tidak akan terjadi pada daerah yang memang memiliki potensi lokal tanaman obat seperti yang terdapat di Kabupaten Sukoharjo yang dikenal sebagai sentra penjualan jamu tradisional di Indonesia. Namun masalah ketersediaan lahan menjadi kendala bagi wilayah lain yang ingin mengembangkan tanaman obat sebagai bahan baku jamu. Hal ini pernah saya temukan pada Desa Cikarawang di Kecamatan Dramaga maupun Desa Parakan di Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor. Tanaman obat yang proses budidayanya memakan waktu cukup lama ketimbang padi dan palawija membuat petani enggan untuk menanamnya, padahal permintaan pasar yang datang saat itu cukup menjanjikan. Hanya saja proses budidayanya yang memakan waktu lebih lama membuat petani cenderung memilih untuk berbudidaya padi dan palawija karena menghasilkan perputaran uang lebih cepat.

Namun tidak ada masalah tanpa solusi, permasalahan di atas dapat kita atasi dengan memanfaatkan potensi lahan lainnya yang dimiliki hampir oleh seluruh masyarakat tanpa mengganggu lahan potensial yang ada yaitu dengan memanfaatkan lahan pekarangan.

Potensi Pekarangan di Indonesia

Program pemanfaatan pekarangan sudah sejak lama dikembangkan oleh pemerintah mengingat Indonesia memiliki potensi luas pekarangan nasional yang sangat besar yaitu sebesar 10,3 juta ha atau 14% dari total luas lahan pertanian (Limbongan J. dan Djafar B., 2014). Definisi pekarangan menurut Panduan Teknis Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) Kementerian Pertanian Tahun 2014 adalah lahan yang ada di sekitar rumah dengan batas pemilikan yang jelas (lahan boleh berpagar dan boleh tidak berpagar) serta menjadi tempat tumbuhnya berbagai jenis tanaman dan tempat memelihara berbagai jenis ternak dan ikan. Sedangkan tanaman pekarangan adalah tanaman yang menghasilkan umbi, buah, sayuran, bahan obat nabati, flori kultura, termasuk di dalamnya jamur, lumut, dan tanaman air yang berfungsi sebagai buah, sayuran, bahan obat nabati dan/atau bahan estetika.

Melihat besarnya potensi luas pekarangan yang dimiliki bukanlah hal yang tidak mungkin untuk mengembangkan tanaman obat karena hampir semua masyarakat memiliki pekarangan di sekitar rumahnya. Walaupun pekarangan yang ada sangat sempit hal tersebut tidak menjadi halangan untuk melakukan pengembangan tanaman obat yang dikenal sebagai toga (tanaman obat keluarga) karena saat ini telah tersedia berbagai macam teknologi penanaman untuk lahan sempit. Kita bisa menggunakan wadah penanaman baik dengan pot, polybag, vertikultur, wadah bekas maupun dengan memanfaatkan pagar dan kolam untuk penataan dan pemanfaatannya.

Contoh pekarangan sempit

Contoh pekarangan sempit

Dari semua jenis tanaman obat yang sudah diteliti, terdapat beberapa tanaman rempah dan obat yang dapat dikembangkan di lahan pekarangan masyarakat diantaranya adalah jahe, kunyit, kencur, lengkuas, temulawak, kumis kucing, asoka, antanan, sambiloto, binahong, sirih dan lain sebagainya. Model budidaya beberapa jenis tanaman baik tanaman sayuran, buah maupun toga tersaji dalam tabel berikut, namun yang dicantumkan dalam tabel di bawah ini hanyalah komoditas toga mengingat bahasan kali ini terpusat pada toga untuk setiap tipe pekarangan:

Model budidaya tanaman obat

Model budidaya tanaman obat

Berdasarkan tabel di atas kita dapat melihat bahwa komoditi toga yang dapat ditanam secara umum di pekarangan adalah komoditi yang sudah ditetapkan oleh pemerintah melalui Ditjen POM. Penetapan ini dilakukan untuk mendukung pengembangan agroindustri tanaman obat Indonesia dengan pertimbangan bahwa komoditi tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi, mempunyai peluang pasar dan potensi produksi yang tinggi serta berpeluang dalam pengembangan teknologi.

Melihat potensi tanaman toga yang cukup beraneka ragam dan mampu beradaptasi pada lahan pekarangan maka ada baiknya melakukan pengembangan toga sebagai bahan baku jamu melalui optimalisasi pekarangan. Memanfaatkan pekarangan tidak hanya memberikan ruang terbuka hijau bagi rumah, juga termasuk salah satu sumber pendapatan yang bergizi dan aman bagi keluarga. Untuk mengoptimalisasikannya dibutuhkan perawatan dan pemeliharaan yang cermat yang tak lepas dari peran ibu rumah tangga sebagai pilar keluarga.

Pengembangan Jamu Melalui Peran Wanita dalam Optimalisasi Pekarangan

Wanita sangat berperan penuh dalam keluarga. Didalam dirinya terdapat jiwa seorang ibu yang dapat membimbing dan membentuk karakter anak-anaknya, menjadi seorang istri yang mendampingi suaminya serta sebagai anggota masyarakat yang turut serta berperan dalam kemajuan masyarakat. Wanita dalam hal ini baik ibu rumah tangga maupun pekerja sudah terbiasa untuk mengurus segala keperluan rumah. Hal tersebut menjadi alasan mengapa program-program seputar lingkungan maupun keluarga tak lepas dari hadirnya peran seorang wanita.

Khusus untuk pemanfaatan pekarangan, ibu rumah tangga berperan penuh sebagai pelaku utama. Melalui pemanfaatan pekarangan diharapkan dapat mengurangi belanja kebutuhan pangan sehari-hari sekaligus membantu pemenuhan gizi keluarga yang beragam, bergizi, seimbang dan aman. Dalam optimalisasi pekarangan diusahakan berbagai macam komoditi, mulai dari tanaman sayuran, buah, toga maupun ternak sebagai sumber protein. Diketahui bahwa Pada strata 1 (tanpa pekarangan) kontribusi lahan pekarangan terhadap pendapatan menyumbang sekitar 3,16 %, pada strata 2 (pekarangan sempit <120 m2) kurang lebih 6.81 % dan pada stata 3 (pekarangan sedang-luas 120-400 m2) kurang lebih 10,03 % (Saptana, 2014).

Tanaman obat dapat diusahakan menjadi komoditas potensial sebagai bahan baku jamu pada lahan pekarangan melalui gerakan pemberdayaan wanita. Untuk melakukan budidaya toga tidaklah sulit seperti tanaman hortikultura yang membutuhkan perawatan lebih sehingga ibu pekerja sekalipun dapat melakukan penanaman. Awalnya dilakukan identifikasi terlebih dahulu untuk menentukan kawasan yang berpotensi bagi pengembangan toga di pekarangan dengan mengidentifikasi tipe pekarangan sekaligus sumber daya manusianya. Usahakan dalam satu kawasan terdapat sekelompok ibu-ibu yang gemar menanam sehingga mereka dapat menjadi pioner di lingkungannya untuk melakukan pemanfaatan pekarangan.

Pemberdayaan wanita

Pemberdayaan wanita

Langkah selanjutnya adalah melakukan pemberdayaan dengan membentuk kelompok wanita yang bergerak dalam usaha budidaya toga. Para ibu rumah tangga ini diarahkan untuk memanfaatkan pekarangan dengan menanam toga yang potensial untuk dikembangkan. Usaha agribisnis pekarangan ini terintegrasi mulai dari hulu (budidaya) hingga hilir (menjadi produk). Kelompok ini tidak hanya mampu menjual dalam bentuk bahan baku, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi produk yang sudah diolah lebih lanjut. Peran wanita dalam pengembangan jamu tidak hanya selesai disitu saja, sebagai pendidik dalam keluarga para wanita ini diharapkan mengedukasi anggota keluarganya sekaligus masyarakat di sekitar rumah untuk melestarikan jamu.

Contoh pemberdayaan yang sedang dilakukan terdapat di Kelompok Wanita Tani (KWT) Anggrek di Desa Babakan Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor. Selain mengusahakan tanaman sayuran dan buah, kelompok ini juga mulai merintis untuk mengoptimalkan toga di pekarangannya. Toga yang banyak diusahakan adalah komoditas jahe merah, kelompok ini sudah mampu mengolah bahan baku jahe merah menjadi jamu berbentuk cair meskipun belum memiliki produk jamu dalam kemasan. Pengembangan toga pada kelompok ini tidak terlalu sulit, meskipun lahan pekarangan termasuk sempit, mereka sudah terbiasa menanam toga di pekarangan. Beberapa toga yang terdapat di kawasan KWT Anggrek diantaranya kumis kucing yang digunakan untuk memperlancar pengeluaran air kemih (diuretik); jeruk nipis untuk mengobati amandel, batuk, malaria dan pilek; bunga asoka untuk mengobati luka serta mengobati haid tidak teratur; kunyit untuk mengobati penyakit diabetes melitus, keputihan, dan perut sakit saat haid serta jahe merah dan daun sirih yang kebanyakan diolah dalam bentuk jamu cair.

contoh budidaya tanaman obat

contoh budidaya tanaman obat

Contoh pemberdayaan lainnya yang telah sukses terdapat di Desa Benteng Kecamatan Ciampea dibawah binaan Institut Pertanian Bogor (IPB). Di desa ini terdapat kampung konservasi toga yang masyarakatnya banyak melakukan penanaman dan usaha tanaman obat serta pengolahan minuman kesehatan berbasis rempah-rempah dan tanaman obat. Pemberdayaan pada desa ini telah menghasilkan produk jamu yang dapat bersaing dipasaran.

Potensi Toga + Potensi Pekarangan + Peran Wanita = Pengembangan Jamu

Melakukan pengembangan jamu dengan melibatkan peran wanita dalam optimalisasi toga di pekarangan menemukan berbagai macam kendala diantaranya:

  1. Praktek budidaya toga yang dilakukan oleh para ibu rumah tangga ini belum mencerminkan praktek budidaya yang baik (GAP=Good Agriculture Practices) sehingga hasil panen bahan baku jamu yang didapatkan tidak maksimal. Hal ini terjadi karena umumnya para ibu rumah tangga ini bukan petani asli yang memang terbiasa melakukan praktek budidaya tanaman.
  2. Permasalahan permodalan. Permasalahan ini sebenarnya adalah masalah klasik yang hampir ditemui dalam setiap kegiatan, permasalahan terutama dalam hal modal untuk penyediaan bibit yang baik serta alat pengolahan jamu.
  3. Belum memiliki pasar yang tetap. Dibutuhkan kerja keras dan keuletan untuk mendapatkan pasar yang tetap dalam penyerapan produk yang dihasilkan kelompok. Kebanyakan produk dipasarkan berdasarkan permintaan sehingga kontinuitas masih harus dipertahankan.
  4. Penanganan pengelolaan produk belum berjalan baik sehingga produk yang dihasilkan kalah bersaing dengan produk luaran. Kebanyakan produk jamu yang dihasilkan belum memiliki kemasan yang menarik, belum terdapat label maupun izin dinas terkait untuk peredaran produk.

    Contoh kemasan

    Contoh kemasan

  5. Pengetahuan sumber daya wanita masih terbatas untuk mengelola bahan baku jamu menjadi produk diferensiasi lainnya sehingga jamu yang disajikan hanya dalam bentuk cair, bubuk atau simplisianya saja. Hal ini dianggap biasa saja oleh konsumen karena cenderung sama dengan jamu pada umumnya.
  6. Belum berani sepenuhnya menjual dengan harga tinggi karena mutu produk masih kurang berkualitas sehingga keuntungan yang didapatkan sangat minim untuk pengembangan usaha selanjutnya

Untuk mengatasi permasalahan di atas diperlukan solusi yang terintegrasi antara satu dengan lainnya agar jamu dapat berkembang dengan memanfaatkan pekarangan melalui pemberdayaan wanita. Solusi yang mungkin dapat mengatasi permasalahan di atas diantaranya:

  1. Pembinaan secara berkelanjutan mulai dari budidaya, penanganan pasca panen hingga menjadi produk yang bermutu. Pembinaan ini melibatkan berbagai pihak mulai dari aparat pemerintah, akademisi maupun peneliti yang terkait
  2. Bekerja sama dengan lintas sektoral dan aparat pemerintah untuk mempromosikan potensi produk dan wilayahnya
  3. Memfasilitasi upaya peningkatan mutu produk misalnya pembuatan label, pengurusan perizinan (P-IRT dan sebagainya), pengajuan label halal serta pengujian laboratorium terhadap keamanan produk
  4. Melakukan pemupukan modal baik dari kelompok maupun bantuan pemerintah, pemupukan modal ini digunakan secara bergulir sehingga semua anggota dapat memanfaatkan dan kelompok mampu memberdayakan potensinya untuk pengembangan produk jamu
  5. Mengoptimalkan komoditas yang berpotensi untuk dikembangkan disesuaikan dengan kondisi wilayah dan permintaan pasar yang ada
Jamu yang dikemas modern siap bersaing dipasaran

Jamu yang dikemas modern siap bersaing dipasaran

Pengembangan jamu melalui peran wanita dalam optimalisasi pekarangan diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi kebutuhan bahan baku jamu. Kegiatan pemberdayaan yang terintegrasi dengan pekarangan tidak hanya membantu melestarikan keberadaan toga sebagai bahan baku jamu tetapi juga dapat mengangkat perekonomian wilayah. Apabila kegiatan ini berhasil, jamu tidak hanya lestari tetapi dapat menjadi icon pada wilayah tersebut yang membuatnya menjadi terkenal sebagai wilayah penghasil jamu.

 “Pertanian adalah ibu dari segala budaya. Jika pertanian berjalan dengan baik, maka budaya-budaya lainnya akan tumbuh dengan baik pula, tetapi manakala sektor ini diterlantarkan, maka semua budaya lainnya akan rusak”

Xenophon, filsuf dan sejarawan Yunani (425-355 SM)

 

 

Daftar Pustaka:

[1] Kementerian Perdagangan RI. http://ditjenpdn.kemendag.go.id/WEB/index.php/public/information/articles-detail/berita/90

[2] Kementerian Kesehatan RI. http://binfar.kemkes.go.id/2013/02/grafik-rekapitulasi-iot/

[3] BBPP Lembang Kementerian Pertanian. http://www.bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/585-potensi-tanaman-obat-indonesia

[4] Tribun News. 2013. Potensi Tanaman Obat Indonesia Nomor Dua Dunia. Edisi Rabu 3 Juli 2013. http://medan.tribunnews.com/2013/07/03/potensi-tanaman-obat-indonesia-nomor-dua-dunia

http://www.lingkarkampus.com/?page_id=227

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/604-herbal-plants-collection-kumis-kucing

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/599-herbal-plants-collection-jeruk-nipis

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/564-herbal-plants-collection-kunyit

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/535-herbal-plants-collection-asoka

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection?start=16

Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. 2009. Kajian Potensi Pengembangan Pasar Jamu. 265hal.

Kementerian Pertanian RI. 2014. Panduan Teknis Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Tahun 2014. Jakarta:60hal.

Kementerian Pertanian RI. 2013. Mengenal Rumah Pangan Lestari dan Kawasan Rumah Pangan Lestari. Jakarta: 15 hal.

Limbongan, J dan Djafar B. 2014. Pengelolaan Kebun Bibit, Penyediaan Media Tanam, dan Budidaya Tanaman Pada Kegiatan KRPL. Balai Pengkajian Teknologi PertanianSulawesi Selatan. Kementerian Pertanian RI.

Saptana. 2014. Potensi Ekonomi untuk Keberlanjutan KRPL. Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

102 Comments

  1. momtraveler

    Reply

    Nah kalo yg ini aih mak evrina banget..keren bgt tulisannya mak. Komplit plit…
    Siap2 menang deh mak

    • Reply

      aamiin mak muna, mohon doanya, ngejar sertifikat nih mak, hehe, ayo mak muna yg lomba blog travelling di garap, kalo yg ituh saya gak sanggup bikin hehe

  2. lilis az

    Reply

    Mantaplah jenk evrin ini, jd tambah pengetahuannya ttg obat jamu tradisional beserta manfaatnya,,,cayyyooo S̤̥̈̊є̲̣̥м̣̣̥̇̊ά̲̣̣̣̥п̥̥̲̣̣̣̥G̲̣̣̣̥ά̲̣̣̣̥τ̣̣̥ terus…

    • Reply

      wah jamu apa ya mak? sudah sembuhkah dirimu mak? saya lho ga minum jamu abis lahiran gegara takut ini itu padahal kalo alami mah aman2 aja ya

  3. Reply

    Wah…komplit banget nih tulisannya..informatif dan didukung dengan data2… Bila aku yang jadi jurinya aku beri point lebih nih kandidat sbg pemenangnya, hehe.. Memang potensial sekali lahan pekarangan di negeri ini bila dikelola secara maksimal… Apalagi sebagian penduduk negeri ini masih memiliki pekarangan di rumah masing2… Dulu kita mengenal program TOGA, Kampung Ramah Lingkungan, Kampung Sehat…semuanya itu utk mengembangkan potensi pekarangan agar mempunyai nilai manfaat secara ekonomis… Semuanya itu juga digerakkan oleh ibu2 PKK RT/RW dan Kader Penggiat Lingkungan..Bila lahan pekarangan kita kelola secara maksimal ditanami dengan tumbuhan yang berguna dan bisa menghasilkan rupiah…bisa dihitung kan berapa rupiah hasil yang didapat? Bila di setiap kelurahan/desa saja kita mampu mengelola dan memaksimalkan kegiatan ini bisa dihitung juga kan hasilnya? Btw, tulisan Mak Evri sangat menginspirasi…setidaknya bisa menggugah lagi pihak2 yang berkompeten utk menghidupkan dan menggiatkan kembali program pemanfaatan lahan pekarangan… Dengan sentuhan tangan seorang wanita insyaAllah deh program spt itu bisa berjalan… Akhirnya selamat ngikutin kontes semoga menang ya Mak…

    • Reply

      terimakasih mak Rita atas kunjungannya, sejujurya ini tugas saya buat menggalakan pemanfaatan pekarangan ke ibu2, ya itu mak susah2 gampang, yang baru bener2 bisa itu yang memang suka menanam, padahal pekarangan mereka cukup luas untuk ditanam , tapi entah kenapa tidak dimanfaatkan

  4. sofia zhanzabila

    Reply

    Mbakku…. gimana bisa nulis tentang jamu sampai sekomplit ini??? Aku juga suka jamu lho Mbak, tapi malu kalau disuruh panggil Mbak-Mbak jamu gendong. Biasanya minum jamu kalau pas pulang aja, Ibuk yang bikinin. Good Luck ya Mbak…. 😉

  5. eka lesniawati

    Reply

    Info yang sangat bagus sekali dan mendidik semoga menjadi inspirasi bagi pihak2 yang ingin mengembangkan jamu.

  6. Rizki Prihatini

    Reply

    Informatif ev…tapi dipikiranku jamu identik dengan minuman yg pait..jadi g terlalu suka..

  7. oRiN

    Reply

    masya alloh… gak sia-sia diundur dl nya… tulisannya lengkap benerrrr… keren! Kali ini menang beneran deh…

    Saya juga suka jamu, kalau dulu waktu di Bandung kebagian ngurus toga punya RW kompleks… enak, kalau perlu binahong tinggal lari ke kebon 😀

    • Reply

      aamiin mak Orin mudah2an aja, rejeki gak kemana. gimana mak orin ikutan gak? saya juga lagi menggalakkan ibu2 untuk merawat toga dipekarangan

  8. Nunung Nurlaela

    Reply

    wow…kereen…komplit…sukses ya mak…salam kenal…kunjungan perdana nih…:-)

  9. Reply

    Sewaktu kecil, SD mungkin, saya sempat menanam TOGA di pekarangan rumah. Sangat menyenangkan melihat tumbuhan rempah tumbuh segar dan hijau, juga bermanfaat.

    Jamu ini memang menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa, asal dikelola dengan baik. Sayangnya kita masih terkooptasi dengan obat-obatan kimia yang mahal. Padahal khasiat jamu lebih mujarab, juga murah.

    Beberapa hari lalu saya mendapat permen rasa kayu putih yang diproduksi Serambi Botani. Rasanya unik, ada mint dan segar harum cajuput.

    Sukses dengan kontesnya. Moga jamu makin berkibar!

    • Reply

      mas Rudy ke serambi botani juga ya? itu bentuk penjualan jamu modern, yah itulah coba semua ibu2 pada sadar bahwa pekarangan yang mereka punya bisa mendulang rupiah, apaagi kalo ditanami toga, jadi kalo sakit gak perlu buru2 mengkonsumsi obat2an kimia

  10. Wahyu Kaharjanti

    Reply

    siiippp,, bagus mbak Ev, semoga lolos. di rumah jg ada beberapa tanaman kunyit, temulawak, jahe, kencur,, 🙂

  11. lieshadie

    Reply

    Kumplit sarimplit…juara nih Mak….
    Referensinya banyak banget yaa…huhuhuhuhu #tutup muka pake jilbab wes ! Aku ndak punya buku opo2

  12. Reply

    Salah satu yg mencolok dari tulisan-tulisan Mak Ev yg dilombakan, menurutku adalah kreativitasnya, especially di ilustrasi2 gambarnya. Ini juga. Keren, Mak. Semoga berjaya ya. AMiinn ^_^

    • Reply

      aamiin, mami Ubiii terimakasih banyak, saya juga suka dengan tulisan Mami Ubiii yang mengalir gitu, ringan tapi mak jleb hehe, makasih ya, sukses untuk kita semua

  13. Ety Abdoel

    Reply

    Minder akut kalau Mak Evri ikutan..komplit pembahasannya, dan datanya nendang banget..semoga sukses Mak..

  14. nova juita

    Reply

    nice info teh ^^,
    jadi kudu cumangath lagi nih ber-KRPL ria nya biar tambah sehat p(^_^)q

  15. Gigi ergina

    Reply

    Bu evrina saya suka dgn tulisan ibu memberikan informasi yg sangat bermanfaat..hehee…

  16. Reply

    Artikel yang menggigit, Komplit. Memberikan wawasan yang baru tentang pengembangan Jamu melalui konsep pemberdayaan Masyarakat. T O P BGT ^^

  17. Reply

    Peran wanita bisa lebih diberdayakan melalui optimalisasi pekarangan. sebagai salah satu produsen bahan baku jamu, apalagi lingkar kampus IPB yang mempunyai akses lebih mudah terhadap bahan/sumber genetik tanaman obat/jamu yang mempunyai potensi ekonomi.
    Sukses untuk lombanya…
    tebar manfaat, berdayakan masyarakat

  18. iqbal wahidmuharam

    Reply

    makasih infonya, emang bener tuh jamu berguna banget
    moga aja jamu di masa nanti masih ada 🙂

  19. Reply

    jamu emang mujarab banget dah..
    daripada minum obat yang efek sampingnya bisa membahayakan tubuh..
    mending minum jamu..tp gk semua jamu itu rasanya enak..ada juga yg rasanya pahit..hehe
    tapi itu semua demi kesehatan kita.. 😀

  20. Woobwl

    Reply

    wahh keren.. semakin praktis dan kemasannya juga menarik
    jadi bikin patah anggapan kalau jamu itu gak modern
    thanks infonya kakak 😀

  21. service komputer

    Reply

    Kami menerima jasa panggilan komputer untuk daerah jabodetabek

  22. Reply

    jamu emang salah satu obat herbal yg tidak ada efek sampingnya…makanya aku lebih suka minum jamu daripada minum obat 🙂

  23. Pingback: Manfaat Tanaman Obat di Pekarangan - Evrina Budiastuti

  24. Asmaul Husna

    Reply

    Jamu ya, sempet sih dulu agak parno, tapi setelah saya coba sendiri, emang pada awalnya agak gimana gitu rasanya, tapi setelah diminum efeknya bikin wow gitu, badan seger dan tambah semangat deh : )

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.