Penggunaan Pestisida





penggunaan-pestisida

Saya sedang mengaplikasikan pestisida nabati terbuat dari daun mindi yang aman bagi lingkungan dan kesehatan

Suatu hari saya melakukan monitoring lapangan untuk memantau pertanaman di wilayah binaan. Sambil monitoring, saya juga anjangsana dengan beberapa orang petani yang ada di sawahnya. Saya melihat ada Bapak Fatah yang sedang menyemprotkan pestisida ke tanaman padinya. Setelah memperhatikan cukup lama, saya berpikir kalau Bapak Fatah ini termasuk petani yang aware terhadap kesehatannya karena dia sudah melindungi tubuhnya dari paparan pestisida ketika melakukan penyemprotan. Pak Fatah menggunakan masker serta rain coat plastic ketika menyemprotkan pestisida.

Setelah selesai, saya berbincang dengan Pak Fatah. Dari hasil perbincangan, saya mengetahui kalau pengetahuan tentang aplikasi pestisida Pak Fatah masih harus ditingkatkan lagi karena untuk beberapa hama tertentu dia masih belum paham pengendaliaanya serta cara pengaplikasian yang benar. Akhirnya saya menjelaskan beberapa hal mengenai pestisida.

Penggunaan pestisida merupakan langkah paling akhir untuk dilakukan apabila cara pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) lainnya seperti mekanik, budidaya tanaman sehat, pengendalian secara nabati tidak memberikan hasil signifikan. Selain itu apabila serangan OPT sudah melebihi ambang batas ekonomi, artinya populasi OPT sudah melebihi ambang batas kewajaran dalam satu tanaman sehingga keberadaannya dapat merugikan produksi, maka perlu dilakukan pengendalian secara sintetis.

penggunaan-pestisida

Contoh efek pestisida pada tanaman, warna merah diberikan ke dalam air sebagai pengganti pestisida, terlihat jika daun menyerap warna merah tersebut, apa jadinya jika pestisida masuk ke dalam jaringan tanaman?

Pengendalian OPT hendaknya mengikuti prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) seperti yang pernah dibahas pada postingan sebelumnya. Beberapa cara yang dapat dilakukan mengikuti prinsip PHT sebelum memutuskan penggunaan pestisida adalah dengan melakukan beberapa hal berikut:

  1. Melakukan rotasi tanaman, agar OPT tidak dapat berkembang karena terputus rantai makanan dan daur hidupnya
  2. Mengatur pengairan yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Lingkungan yang lembab sangat disukai OPT untuk melakukan perkembangan
  3. Membersihkan lingkungan di sekitar pertanaman seperti melakukan penyiangan gulma
  4. Mengatur jarak tanam, selain agar matahari dapat menyinari secara optimal serta memudahkan pemeliharaan, cara ini juga dapat menghalau hama untuk diam lebih lama di pertanaman. Contohnya adalah hama tikus, tikus tidak menyukai lingkungan yang terbuka sehingga pengaturan jarak tanam perlu dilakukan
  5. Menggunakan varietas yang sesuai, misalnya apabila suatu wilayah diketahui endemis terhadap wereng, maka gunakanlah varietas yang tahan terhadap serangan wereng
  6. Penanaman serentak yang dapat memutus siklus hidup OPT apabila dikolaborasikan dengan melakukan rotasi tanaman
  7. Pengendalian secara mekanis, misalnya dengan menggunakan perangkap. Contohnya menggunakan daun yang diletakkan pada alur irigasi agar hama keong yang memakan bibit padi dapat berkumpul sehingga memudahkan pengendalian atau menggunakan terasi untuk menangkap hama walang sangit pada tanaman padi.
  8. Penggunaan pestisida nabati, pestisida nabati yang terbuat dari tanaman yang tidak disukai OPT lebih aman bagi lingkungan dan kesehatan.
  9. Menggunakan musuh alami, Ekosistem kita sebenarnya sudah seimbang, jika ada OPT maka ada juga musuh alaminya yang dapat menghalau perkembangan OPT tersebut. Contoh musuh alami adalah belalang berkumis panjang, laba-laba, parasit telur dan lain-lainnya.
  10. Lakukan pengamatan berkala, pengamatan perlu dilakukan sebagai tindakan preventif untuk mencegah terjadinya ledakan serangan OPT.
penggunaan-pestisida

Lakukan pengamatan secara berkala

Apabila semua point di atas sudah dilakukan dan ternyata OPT cukup membahayakan hingga melebihi ambang batas ekonomi maka prose pengaplikasiannya harus memperhatikan beberapa hal berikut ini:

  1. Tepat Sasaran, penggunaan pestisida harus disesuaikan dengan OPT yang akan dikendalikan
  2. Tepat waktu, pengendaliannya harus disesuaikan dengan waktu pada saat serangan sudah melebihi ambang ekonomi. Ada baiknya aplikasi pestisida dilakukan pada saat pagi hari saat OPT masih banyak dipertanaman atau sore hari.
  3. Tepat dosis, dosis atau konsentrasi harus sesuai dengan petunjuk yang terdapat pada kemasan pestisida karena jika melebihi akan menyebabkan OPT menjadi kebal atau resisten
  4. Tepat cara, tidak semua pestisida diaplikasikan dengan cara disemprotkan, ada beberapa pestisida yang diaplikasikan dengan cara penaburan
  5. Tepat jenis, gunakan pestisida sesuai dengan jenis OPT yang menyerang serta jenis tanamannya
  6. Tepat mutu, gunakan pestisida yang memiliki izin terdaftar karena sudah melalui pengujian terlebih dahulu.

Perlu diketahui bahwa penggunaan pestisida sintetis yang berlebihan dapat merusak keseimbangan ekosistem serta mengganggu kesehatan. Pestisida sintetis dapat meninggalkan residu zat berbahaya pada tanaman yang disemprot sehingga apabila termakan oleh hewan atau manusia maka akan membahayakan. Dalam jangka waktu tertentu zat racun tertentu dapat terakumulasi dalam tubuh yang dapat menyebabkan penyakit kronis. Oleh karena itu gunakanlah pestisida sintetis secara bijak. Bila perlu, gunakanlah pestisida nabati untuk melakukan pengendalian OPT yang lebih ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan.




34 Comments

  1. Reply

    Saya pikir penggunaan pestisida itu boleh kapan saja asal hamanya hilang mbak Ev, ternyata tidak ya. Kalau melihat contoh sayur yang dimasukkan pestisida dan berubah jadi merah, ngeri juga ya mbak akibat pestisida yang nggak sesuai dosis, dampaknya ke manusia juga.

    Belalang berkumis panjang, pengin lihat saya, panjang kumisnya seberapa ๐Ÿ™‚

    • Reply

      kalo untuk kandungannya mesti ke lab sih mbak, paling secara fisik aja, kaya kalo ad ayg putih2 mesti wasada, tapi biasanya sudah dicuci sama produsen, pestisida yg nempel d luar itu bisa hilang dalam dua minggu setelah penyemprotan nah kalo yg terserap belum tau

  2. Mugniar

    Reply

    Ooh jadi pestisida itu bukannya yang langsung digunakan, melainkan langkah terakhir ya, baru tahu, Mbak Ev. TFS ๐Ÿ™‚

  3. Reply

    Tanam setentak. Alangkah susahnya mba..di lahan pertanian para petani gurem. Beda sama di Jepang..yang kepemilikan lahannya luas..

  4. Reply

    hhmm makanya kadang aku memilih sayuran dan buah buahan di pasar pagi, pasar tradisional, bukan di supermarket karena biasanya sayur di pasar masih ada bolong bolong nya, yang berarti pernah dimakan ulat. sedang kan di supermarket terlihat segar melimpah loh jinawi hehehe *aposeh* yang mana sepertinya banyak terlindungi pestisida.
    aku betul gak sih makk selama ini? apa gak ada hubungan nya antara sayur yang bolong bolong itu dengan pestisida? ^ ^’

    • Reply

      ada sih mbak asti, jadi kalau yg bolong2 itu pernah keserang hama semacam ulat, kalau ulat aja suka sama sayuran berarti aman tak ada racun di dalamnya, kalau tercium aroma pestisida pasti hama gak mau nempel

      tetapi gak semuanya sayuran yg gak bolong itu berbahaya, bisa jadi dia menerapkan pertanian organik di dalam greenhouse sehingga terlindungi dari hama penyakit

  5. Reply

    Hallo mbk Ervi. Jujur, baru kali ini membaca materi yang emang biasanya saya dapetkan di bangku kuliah. Kebetulan, saya ini Mahasiswa Agroteknologi.

    Membaca penjelasan mbk mengenai Penggunaan Pestisida, memang benar adanya, mbk. Banyak sekali petani yang sebenarnya hanya terpengaruh dengan promosi para penjual pestisida di pasar. Tanpa berfikir effeck dari pestisida itu sendiri.

    Saya sendiri, pencinta hidroponik. Bahkan, untuk sayur saja, saya selalu berusaha menggunakan PESNAB. Meskipun rasa terkadang sedikit terjadi perubahan, tapi saya selalu memantau pH dan Nutrisi yang saya berikan. Biar tidak terjadi perubahan rasa.

    Bagus mbk, menambah wawasan banget. Salam kenal, ya mbk. ๐Ÿ™‚

    • Reply

      halo heruuu, wah kuliah dimana? jangan2 adik kelas nih hehe, iyah kita harus sering mengedukasi mengenai bahaya pestisida ini karena belum tentu memberikan efek yang baik bagi tanaman itu sendiri

  6. Basuki

    Reply

    Mba, tanaman (pohon) mangga saya suka di hinggapi belalang, sampe2 udah berbunga gak jadi gegara dimakanin hama (munkin belalang juga).
    Sy udah gunakan CURACRON (Insekrisida), tapi 2 minggu kemudian dtg lagi belalang yg lainnya.
    Sy mau tanya gimana cara menanggulangi yg aman? Karena sy pake CURACRON bau nya gak enak, bikin pusing….. tolong bantu pencerahannya Mba. Makasih banyak sebelumnya

    • Reply

      Maaf pak basuki, belalang sifatnya nomaden alias pindah-pindah, kalau untuk insektisida memang tidak terlalu dianjurkan baik kontak maupun sistemik, itu yang disemprot belalangnya kan? memang agak susah sih karena belalang mudah loncat, sementara ini pengendaliannya secara mekanis dengan menangkap belalang tersebut, o iya itu belalangnya yang kumis pendek ya? kalo kumisnya panjang tidak berbahaya. sebaiknya kalau pohonnya tidak banyak, jangan pakai insektisida karena justru akan berbahaya untuk bapak

  7. Reply

    nah aku demen nih yang kaya gini, pestisida terbuat dari bahan yang aman, karena tidak menjadi racun dan amn untuk lingkungan

  8. team alfa

    Reply

    keren sekali bisa membuat pestisida dengan herbal… paut di kembangkan dan di publikasikan nih

  9. Pingback: Wereng Batang Coklat, Hama Utama Pada Tanaman Padi

  10. Pingback: Pertanian Organik dan Penerapannya dalam Budidaya Pertanian

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.