Penyuluh Pertanian Milenial

penyuluh_pertanian_milenialBeberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 10 September 2019 saya berkesempatan untuk berbagi dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Sistem Penyuluhan Pertanian Menghadapi Era Industri 4.0. Di dalam acara tersebut, saya diminta untuk sharing mengenai seputar Penyuluh Pertanian Milenial dengan pembahasan utama Siapkah penyuluh pertanian menghadapi Era Industri 4.0? Di dalam pembahasan yang saya sampaikan, saya harus menjawab bagaimana Karakteristik dan Penciri Utama Penyuluh Milenial, serta Kesiapan Penyuluh di Era Indsutri 4.0.

Namun, sebelum membahas tentang penyuluh pertanian milenial atau penyuluh milenial, saya ingin merangkum beberapa hal yang juga dibahas oleh pembicara lainnya dalam FGD tersebut.

Di dalam FGD yang berlangsung di Swiss-Belhotel Bogor tersebut, hadir pula Sekjen Kementerian Pertanian (Kementan) yaitu Dr. Ir. Momon Rusmon, MS yang memberikan pengarahan sekaligus membuka acara FGD.

Sekjen Kementerian Pertanian, source: https://tabloidsinartani.com/

Beliau memberikan pesan agar di dalam FGD tersebut mampu membahas beberapa hal sebagai berikut ini:

  1. Apakah definisi penyuluhan yang dulu dengan penyuluhan kekinian yang menyambung dengan era industry 4.0 masih nyambung ataukah tidak? Ini perlu dicermati bersama.
  2. Ada empat variable yang perlu ditajamkan dalam pembahasan FGD, yaitu:
  • Wadah atau kelembagaan penyuluhan yang bervariasi di beberapa daerah, termasuk kelembagaan penyuluhan di tingkat kecamatan tidak boleh structural
  • Ketenagaan, salah satunya bagaimana perkembangan dari P3K penyuluh pertanian serta objek penyuluhannya sendiri yang menuntut agar diperkuat database pelaku utama
  • Penyelenggaraan, apakah metode lakususi masih tepat dengan zaman kekinian saat ini
  • Perkembangan iptek dan alsintan, di mana demplot demfarm tidak terdengar lagi padahal penyuluhan efektif melalui metode tersebut. Penyuluh harus berorientasi daya saing dan menyesuaikan perkembangan IT.

Itulah beberapa hal yang saya catat dari Beliau untuk dicermati bersama. Semoga FGD ini menghasilkan kebijakan yang dapat menjadi acuan bagi para penyuluh pertanian dalam rangka menghadapi industry 4,0.

Nah, sekarang kita mulai masuk yuk ke pembahasan penyuluh pertanian milenial versi saya.

Generasi Milenial

penyuluh_pertanian_milenial_evrinaspDari beberapa informasi yang saya baca, di tahun 2020 mendatang, Indonesia akan mulai menghadapi bonus demografi yang sebagian besar didominasi oleh kaum milenial. Bonus demografi ini sebenarnya menjadi potensi besar untuk membawa Indonesia unggul dengan beberapa karakteristik utama dari generasi milenial yang cenderung aktif dan kreatif.

Saya sudah mencoba untuk merangkum informasi dari Kemenpppa dan Kominfo mengenai karakteristik generasi milenial, di antaranya adalah:

  1. Lahir pada tahun 1980-2000. Apakah teman-teman masuk ke dalam tahun tersebut?.
  2. Melibatkan teknologi dalam segala aspek kehidupan, open minded, kreatif, informatif, mempunyai passion, dan produktif.
  3. Mengandalkan media sosial sebagai tempat mendapatkan informasi. Ini saya merasa banget, saya sering mencari apa yang sedang trending di Indonesia melalui hestek di Twitter. Baru kemudian mencari informasi di kanal-kanal lainnya. Ada yang serupa dengan saya?.
  4. Rata-rata mengalihkan perhatiannya dari berbagai gawai (PC, smartphone, tablet, televisi) 27 kali setiap jamnya.
  5. Para milenials bekerja bukan hanya sekedar untuk menerima gaji, tetapi juga untuk mengejar tujuan (sesuatu yang sudah dicita-citakan sebelumnya). Ini saya juga merasa sih, pingin kerja atau mengerjakan sesuatu sesuai passion sehingga nikmat sekali ketika menjalankannya.
anak-petani

Calon petani milenial, wajah saya tutup untuk menjaga privasi

Baca ini yuk: Anak Petani

Nah, beberapa karakteristik generasi milenial di atas apabila disalurkan ke jalan yang sesuai, tentu menjadi potensi sangat besar bagi kemajuan Indonesia mengingat bonus demografinya cukup banyak.

Dari hasil Susenas antara BPS dan Kemenpppa tahun 2017, diketahui bahwa generasi milenial itu jumlahnya cukup banyak yaitu sebesar 33,75% atau sekitar 88 juta jiwa. Dari 88 juta jiwa tersebut, sebanyak 55,01% generasi milenial ini tinggal diperkotaan yang memiliki karakteristik confidence, creative, dan connected. Sementara sisanya sebanyak 44,99% ini tinggal di pedesaan. Mereka tetap terkoneksi dengan internet namun tidak terpapar terlalu besar karena sibuk dengan aktivitas ekonomi konvensional pertanian.

Nah di antara para generasi milenial tersebut, terutama yang ada di pedesaan tentu ada sosok penyuluh pertanian. Bagaimanakah sebaiknya penyuluh pertanian milenial menghadapi insutri 4.0 yang sudah ada di depan mata?.

Transformasi Penyuluh Pertanian Milenial Menghadapi Industri 4.0

Industry 4.0 menuntut seseorang untuk lebih aktif, kreatif, dan open minded terhadap perubahan yang ada. Ada beberapa implementasi dari indsutri 4.0 ini yang umumnya memudahkan masyarakat bertukar atau beraktivitas dengan berbasis internet, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligent, Human Machine Interface, Robotic and Sensor, dan 3D Printing Technology.

internet_of_things

IoT yang digunakan oleh Mrs. Kheil (smart farmer) dengan bantuan dtac, membantunya dalam memantau kondisi agroekosistem green house

Pertanian di Indonesia telah melalui beberapa tahapan tersebut terutama penggunaan IoT untuk peralatan alsintan bahkan softwarenya yang menandakan bahwa pertanian di Indonesia telah siap menghadapi industry 4.0.

Nah, jika sektor pertaniannya sudah siap, maka para pelaku di bidang pertanian juga harus siap terutama para penyuluh pertanian dan juga petaninya.

Apabila boleh menggambarkan, saya mencoba memetakan penyuluh zaman sebelum era milenial dengan penyuluh zaman milenial berdasarkan apa yang saya rasakan selama bekerja menjadi penyuluh.

penyuluh_milenialJadi, dapat saya katakana bahwa di era penyuluhan milenial ini, bukan berarti metode penyuluhan yang dulu tidak dilaksanakan. Anjangsana baik perorangan, kelompok, massa, maupun penggunaan metode lainnya seperti sekolah lapang, demplot, dll masih tetap dilakukan. Hanya saja saat di era milenial ini, juga harus memanfaatkan teknologi, bukan dimanfaatkan teknologi sehingga yang Namanya penyuluhan tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

Para penyuluh bisa memanfaatkan media social untuk mensyiarkan dunia pertanian. Bisa juga menggunakan messenger, video call, teleconference, blog, hingga media audio visual untuk mensosialisasikan pertanian seluas-luasnya. Sebab saat ini tanggung jawab memajukan pertanian tidak terbatas di wilayah binaan saja. Kalau tidak percaya, coba lihat deh indicator kinerja penyuluh di Evaluh atau LKPP yang mewajibkan untuk laporan Like, Comment, dan Share melalui media social Facebook dan Twitter.

Baca ini juga yuk: Aplikasi Website Terkait Kinerja yang Harus Diisi oleh Penyuluh Pertanian

Menjadi Penyuluh Milenial

Dengan karakteristik generasi milenial yang sudah saya sebutkan di atas, sebenarnya menjadi penyuluh pertanian milenial itu tidaklah sulit. Karena secara tidak langsung penyuluh milenial tersebut menurut saya sudah mampu beradaptasi dengan pesatnya perubahan teknologi dan lingkungan yang ada.

Berdasarkan karakteristik generasi milenial, saya mencoba untuk menggambarkan karakteristik dan penciri utama penyuluh milenial sebagai berikut:

1. Adaptif terhadap perubahan dan masuknya arus teknologi (open minded).

Ini mengapa saya tuliskan di nomor satu, karena masih ada beberapa penyuluh yang belum memanfaatkan penggunaan teknologi dengan sebaik-baiknya. Contohnya penggunaan media social. Masih ada penyuluh yang enggan memanfaatkan media social karena stigma negative dari alat tersebut. Atau kalaupun memiliki media social, tidak dipergunakan untuk membantu mensosialisasikan pembangunan pertanian. Tetapi saya di sini mengembalikan ke masing-masing individu karena mungkin kebutuhan di masing-masing wilayah berbeda.

View this post on Instagram

Media audio visual adalah salah satu media yg dapat digunakan untuk membantu dalam proses penyuluhan. Penyajian dengan penyampaian yg menarik akan membuat orang yg melihat dan mendengarnya lebih mudah menerima dan mengingat maksud yg disampaikan melalui media tersebut. Saya tidak menyangka lho beberapa video buatan saya yg saya pasang di YouTube ternyata ditonton oleh petani saya. Padahal Beliau usianya sudah tidak milenial lagi. Selain membantu dalam proses penyuluhan, media ini juga membantu mensyiarkan tentang pertanian ke masyarakat luas lagi. Kunjungi channel YouTube: evrina-budiastuti di kategori All about Agriculture untuk melihat beberapa video tentang dunia pertanian. Jangan lupa untuk subscribe ya supaya saya makin semangat untuk memproduce videonya. #penyuluhpertanianmilenial #PenyuluhPertanian #penyuluhmilenial #audiovisual #video #vlogger #vlogging #youtube #youtuber #youtubechannel #agriculture #AgriculturalExtensionOfficer #agriculturevideo #videopertanian #penyuluhan

A post shared by Penyuluh Pertanian (@evrinasp) (@evrinappl) on

2. Creative dan innovative.

Seorang penyuluh tentu harus kreatif dan inovatif. Caranya adalah banyak membaca, banyak menggali ilmu dengan orang-orang cerdas di sekitar, serta cara lainnya yang dapat menumbuhkan jiwa kreativitas di dalam diri.

3. Gadget Minded.

Ini bukan berarti main gadget terus setiap saat (meski ada yang saya lihat begitu). Tetapi lebih kepada pengoptimalan penggunaan gadget. Saya termasuk yang mencoba mengupgrade gadget yang dimiliki untuk membantu proses penyuluhan.

4. Selalu mencari tau tentang informasi yang sedang IN saat ini sehingga tidak ketinggalan informasi.

5. Tidak menunggu tetapi mencari.

Ini menjawab salah satu pertanyaan seorang teman mengenai pembentukan penyuluh milenial. Mengapa ketika ada program petani milenial, tetapi tidak ada pembentukan penyuluh milenial? Nah ini, karakteristik generasi milenial itu umumnya serba ingin tau, ingin maju sehingga tidak perlu menunggu. Otomatis penyuluh milenial harus hadir di dalam diri dengan cara mengupgrade diri mengakses informasi dari peneliti, akademisi, dan lain-lain guna menambah ilmu pengetahuan penyuluh.

6. Meningkatkan pengetahuan dan skill

7. Mampu menyebarkan teknologi informasi terutama kepada para petani agar mereka terbiasa dalam penggunaan teknologi informasi.

8. Berjiwa entrepreneur dan menjadi entrepreneur.

Penyuluh tidak hanya dituntut untuk menjadi fasilitator atau mediator saja. Tetapi juga menjadi contoh sosok yang berhasil agar dapat menginspirasi para petani binaannya.

Banyak juga ya ternyata karakteristik dari penyuluh pertanian milenial. Untuk mencapai hal tersebut, bagaimana seorang penyuluh milenial menyikapinya? Menurut saya, seorang penyuluh milenial harus mempersiapkan diri demi menyongsing era dindustri 4.0 dengan langkah sebagai berikut:

1. Upgrade kompetensi diri

Meningkatkan pengetahuan (seminar, bimtek, pelatihan, mendatangi peneliti atau akdemisi), update informasi, melanjutkan pendidikan (tugas belajar atau izin belajar).

2. Optimalkan atau upgrade alat bantu penyuluhan

Gunakan media visual, audio visual, smartphone untuk membantu penyuluhan.

3. Maksimalkan penggunaan internet

Bantu promosi kegiatan petani dan kelompok. Promosi hasil pertanian, sebarkan kinerja kepada masyarakat melalui media social.

4. Transfer TIK kepada Petani

Membantu petani untuk open minded terhadap perubahan arus informasi dan teknologi

Nah, apabila beberapa hal tersebut sudah dilakukan, in syaa Allah menurut saya Penyuluh Pertanian siap menghadapi Era Industri 4.0 yang sudah ada di depan mata. Sebagai bonus, saya menyertakan materi yang saya buat dalam FGD di bawah ini. Semoga bermanfaat ya.

Materi FGD Penyuluh Pertanian menghadapi Era Industri 4.0 : FGD-EVRINA-PENYULUH ERA 4.0

 

 

 

1 Comments

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.