Resolusi Hijau 2015: Menyelaraskan Manusia dengan Alam

Siang itu saya mengunjungi Pak Ukar, salah satu petani di Desa Ciomas Rahayu yang sedang memanen padi. Panennya cukup baik, tetapi tidak membuat Beliau sumringah, ada satu ganjalan yang membuat Ia berkali-kali mengelus dada. “Saya pusing bu, hanya saya saja yang masih bertahan supaya tanahnya tidak dijual, yang lain sudah rata dengan tanah, ibu lihat kan di sana sudah terdengar suara bulldozer?!” seru Pak Ukar seraya menunjuk ke arah mesin besar yang sedang meratakan tanah. Hati nuraninya berkata jika Ia turut serta menjual tanahnya maka tidak ada lagi penghijauan yang akan berdampak pada lingkungan tempat tinggalnya.

Lahan sawah milik Pak Ukar yang masih bertahan

Bulldozer di samping sawah Pak Ukar

Kejadian di atas merupakan satu dari sekian permasalahan terkait alih fungsi lahan pertanian yang terjadi ditingkat desa. Padahal, sektor pertanian turut membantu mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) penyebab pemanasan global. Tanaman budidaya mampu penyerap GRK dan mitigator dari fungsi tanaman yang mengolah karbondioksida menjadi oksigen seperti halnya komoditas kehutanan. Selain itu tanaman juga berfungsi sebagai penambat karbon dari fungsi lahan seperti lahan gambut. Tanpa memperhitungkan aspek perubahan penggunaan lahan dan kehutanan, emisi GRK nasional diperkirakan sebesar 536 juta ton CO2e dan sekitar 14% diantaranya berasal dari sektor pertanian. Apabila aspek perubahan penggunaan lahan dan kehutanan diperhitungkan maka sektor pertanian hanya menghasilkan 6% emisi GRK (Kementan, 2012). 

Lalu bagaimana dengan kondisi hutan Indonesia saat ini?

Laju penggundulan hutan atau deforestasi di Indonesia kini menempati posisi tertinggi di dunia mengalahkan angka deforestasi Brasil sebesar 460.000 hektar. Berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan pada jurnal Nature Climate Change diketahui bahwa setahun setelah moratorium diterbitkan, deforestasi di Indonesia meningkat dengan cepat. Seperti pada tahun 2000-2012 dimana Indonesia mengalami kehilangan sebesar 6,02 hektar hutan setiap tahunnya [BLH Prov Kaltim, 2014]. Beberapa penyebab terjadinya deforestasi tersebut antara lain kebakaran hutan, alih fungsi lahan, maupun illegal logging.

Laju Deforestasi di Kalimantan, Sumber: http://www.mongabay.co.id/

Laju Deforestasi di Sulawesi, Sumber: http://www.mongabay.co.id/

Laju Deforestasi di Papua, Sumber: http://www.mongabay.co.id/

Laju Deforestasi di Sumatera, Sumber: http://www.mongabay.co.id/

Berkurangnya hutan beserta lahan-lahan hijau lainnya sudah tentu mengkhawatirkan. Ancaman pemanasan global yang sejak dulu sudah banyak didengungkan kini sudah memasuki tahap yang sangat serius untuk ditangani. Hasil pengamatan ilmuwan dari berbagai negara dalam Inter-governmental Panel on Climate Change (IPCC) memberikan hasil yang mengejutkan, diantaranya adalah [Orangutan Foundation International, 2013]:

  • Selama tahun 1990-2005 sudah terjadi peningkatan suhu merata diseluruh bagian bumi antara 0,15-0,3 derajat Celsius
  • Jika peningkatan suhu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 lapisan es di kutub-kutub bumi akan mencair
  • Jika bumi masih terus memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar sehingga dikhawatirkan akan terjadi kelaparan
  • Apabila ancaman tersebut terus terjadi maka jutaan orang akan berebut air dan makanan, terjadi gangguan pernafasan karena asap dan debu, rumah-rumah di pesisir terendam air laut yang akhirnya akan menenggelamkan seluruh pulau jika luapan air laut makin luas.

Melihat ancaman di atas, langkah apa saja yang harus dilakukan?

Guna mengatasi permasalahan tersebut perlu dilakukan beberapa langkah, diantaranya dengan menekan laju deforestasi melalui upaya konservasi seperti yang telah dilakukan oleh The Nature Conservancy Program Indonesia.

The Nature Conservancy

The Nature Conservancy Program Indonesia (TNC) adalah suatu organisasi yang berupaya meningkatkan kesejahteraan Indonesia tanpa mengorbankan keberlanjutan alam. Cara yang ditempuh oleh TNC guna menjalankan visi dan misinya adalah dengan mendorong nilai penting alam, mempercepat transformasi dibidang konservasi dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan melalui serangkaian kegiatan pengelolaan kawasan lindung, konservasi spesies penting, dan pemberdayaan masyarakat.

Wilayah kerja TNC mencakup bentang darat dan laut yang tersebar di Pulau Kalimantan, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Papua Barat. TNC selalu menghargai budaya lokal masyarakat dan mengikut sertakan mereka agar berperan aktif dalam upaya konservasi yang dilakukan. Saat ini The Nature Conservancy Program Indonesia mendukung Program Karbon Hutan Berau (PKHB) yang merupakan kemitraan antara pemerintah, masyarakat dan berbagai pihak lainnya untuk mengurangi emisi GKR. Program ini meliputi strategi pengembangan rendah karbon yang terintegrasi ditingkat kabupaten untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi seraya melindungi hutan dan Daerah Aliran Sungai (DAS).

Wilayah Kerja TNC, Sumber: http://www.nature.or.id/

Upaya The Nature Conservancy Program Indonesia dalam menekan laju pengurangan GRK patut kita dukung dengan melakukan misi yang tergabung dalam sebuah Resolusi Hijau ditahun 2015.

Seruan untuk menyelamatkan hutan di Hutan Pinus, Malino, Sulawesi Selatan

Resolusi Hijau yang akan dan dapat dilakukan diantaranya:

Melestarikan bumi melalui pengabdian dibidang pertanian dan kehutanan terutama dalam hal pemberdayaan kelompok tani

Salah satu Resolusi Hijau 2015 yang sudah dideklarasikan di puncak Gunung Cikuray pada Bulan Desember 2014

  • Mengajak para petani untuk mengurangi efek GRK dengan melakukan penanaman di lahan atau pekarangan yang mereka miliki. Tanaman bisa berupa komoditas kehutanan yang menghasilkan (sengong, jabon, jati) atau beberapa tanaman buah dan sayuran sesuai dengan luasan lahan.
  • Selain itu guna mengurangi pencemaran lingkungan, para petani diarahkan untuk melaksanakan pertanian terpadu, mengelola sampah atau sisa hasil pertanian menjadi produk yang bermanfaat seperti kompos, mengurangi penggunaan pupuk sintesis terutama Urea yang dapat mengurangi kesuburan hara tanah serta mencemari perairan, dan mengurangi penggunaan pestisida untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Melestarikan Bumi Melalui Hobi

  • Hobi mendaki gunung tidak saja untuk menikmati pemandangan, tetapi turut serta melakukan penghijauan dengan membawa bibit pohon yang dapat di tanam pada lereng-lereng gunung sekaligus melakukan upaya pembersihan gunung dari sampah agar salah satu tempat penghasil oksigen ini tetap lestari

Menyeleraskan hobi dengan pelestarian lingkungan

  • Menulis informasi dan menyerukan pelestarikan bumi melalui blog. Blog merupakan salah satu sarana efektif untuk menyebarkan semangat penghijauan karena memiliki bahasa yang ringan dan mudah dimengerti masyarakat sehingga diharapkan dengan membacanya dapat menggugah masyarakat umum untuk melakukan pelestarian alam

Melestarikan Bumi melalui aktivitas sederhana sehari-hari

  • Melakukan langkah penghematan seperti hemat listrik untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil yang digunakan oleh beberapa pembangkit tenaga listrik; hemat kertas dan tisu untuk mengurangi konsumsi kayu; hemat air agar sumber daya air terjaga
  • Menekan penggunaan plastik yang sulit didaur ulang dengan membawa kantong belanja sendiri
  • Melakukan penanaman di sekitar pekarangan rumah
  • Melakukan pengelolaan sampah terpadu guna mengurangi cemaran lingkungan

AYo Cintai Bumi

Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga alam tetap letari sekaligus meningkatkan kesejahteraan. Seperti halnya The Nature Conservancy Program Indonesia yang dapat meningkatkan kesejahteraan Indonesia tanpa mengorbankan keberlanjutan alam sehingga manusia dan alam dapat hidup berdampingan, selaras satu sama lainnya. Manusia dan Alam.

Tulisan ini diikut sertakan pada “Resolusi Hijau 2015” Blog Challenge

#ResolusiHijau2015

Sumber Informasi:

http://www.nature.or.id/

Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur. 2014. Laju Kerusakan Hutan di Indonesia Lampaui Brasil. http://blh.kaltimprov.go.id/berita-35-laju-kerusakan-hutan-di-indonesia-lampaui-brasil.html

Kementerian Pertanian. 2012. Perubahan Iklim dan Inovasi Teknologi Produksi Tanaman Pangan. Badan Litbang Pertanian. Jakarta: 34hal.

Orangutan Foundation International. 2013. Pesan dari Alam. Jakarta: 50hal.

Related Post

32 Comments

  1. sofia zhanzabila

    Reply

    Aku udah bikin Mbak, cuma belum sempat posting. Tulisan mbak Ev selalu keren, apalagi yang temanya beginian.

  2. arifah wulansari

    Reply

    Wuih…resolusi hijaunya keren banget mbak. Mantap. Aku juga bikin resolusi hijau untuk tahun ini, semoga sama2 terwujud demi ikut menjaga kelestarian bumi.amin^^

  3. Reply

    re·so·lu·si /résolusi/ n putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yg ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tt suatu hal

    keren2 eev 😀

  4. Imazahra

    Reply

    Tulisannya bagus, Mbak 🙂
    Alhamdulillah untuk pribadi sudah kami lakukan di keluarga mungil kami 🙂

    Salam kenal dariku, Ima.
    Mudahan bisa sambung silaturahmi dari sini ya 🙂

  5. Rodame MN

    Reply

    semoga kita sama-sama bisa mewujudkan resolusi hijau 2015 bersama ya Ev aamiin 🙂

  6. Zulham Efendi

    Reply

    membumi hijaukan kembali negeri ini, sebenarnya persoalan mudah, kemauan yang tidak ada yang menjadikannya sulit, bayangkan saja kalau setiap rumah tangga menanam tanaman hijau, bumi nusantara akan hijau terus

    • Reply

      ini Mbak Dian Pelangi yang hijab stylist itu ya? sepertinya warna hitam tidak menandakan deforestasi karena tidak ada keterangan di sana

  7. Edi Padmono

    Reply

    Saya pernah bekerja selama 8 tahun keluar masuk hutan, miris rasannya hutan di negeri ini semakin sempit. Hutan alam beralih ke hutan tanaman industri

    • Reply

      iya sekarang sudah ada hak penguasaan hutan industri sih, asal upaya konservasinya ada supaya tidak merusak ekosistem, asik ya pernah kerja di kehutanan

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.