Seni Pemberdayaan Masyarakat (Tani)

Sebagai penyuluh muda yang resmi bertugas sejak tahun 2013 lalu membuat saya banyak belajar bagaimana sesungguhnya melakukan pemberdayaan masyarakat itu. Tugas ini pada awalnya terlihat sulit, namun akan terasa ringan apabila kita terus konsisten dan tidak putus asa dalam memotivasi dan menggerakan masyarakat. Tupoksi atau tugas dan fungsi seorang penyuluh pertanian yang sebenarnya adalah mengubah pengetahuan, sikap dan perilaku (PSK) masyarakat dari yang tadinya tidak tau menjadi tau atau dari yang tidak bisa menjadi bisa, dan lain sebagainya. Tugas ini tentunya memerlukan tahapan karena memang kelompok masyarakat yang dihadapi merupakan kelompok yang dinamis, dengan keaneka ragaman sikap serta penerimaan.

Secara umum kegiatan penyuluhan Pertanian adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama (petani, pembudidaya ikan, peternak, pembudidaya hutan) dan pelaku usaha agar mereka mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumberdaya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraan, serta meningkatan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Berdasarkan pengertian tersebut terdapat sembilan indikator keberhasilan penyuluhan pertanian yang dapat menjadi tolok ukur kita dalam melakukan pemberdayaan masyarakat tani, diantaranya adalah:

  1. Tersusunnya Data Peta Wilayah;
  2. Tersusunnya Programa Penyuluhan Pertanian;
  3. Tersusunnya Rencana Kerja Tahunan (RKT) Penyuluh Pertanian;
  4. Terdesiminasinya informasi teknologi pertanian kepada pelaku utama;
  5. Meningkatnya Kapasitas Pelaku Utama;
  6. Tumbuh Kembangnya Kelembagaan Petani;
  7. Meningkatnya Akses Pelaku Utama terhadap informasi pasar, teknologi, Sarana Prasana dan Pembiayaan;
  8. Meningkatnya Produktivitas dan Skala Usaha Pelaku Utama;
  9. Meningkatnya Pendapatan Pelaku Utama.

Seperti penjelasan sebelumnya, goal dari kegiatan penyuluhan adalah meningkatkan PSK para pelaku usaha yang tentunya juga mendukung mendukung ketahanan pangan. Pada pemerintahan saat ini sedang digaungkan swasembada pangan untuk tiga komoditas yaitu padi, jagung dan kedelai. Swasembada pangan sangat penting untuk diwujudkan karena pangan adalah Hidup dan Matinya Bangsa. Oleh karena itu melalui kegiatan penyuluhan diharapkan dapat menjadi motor penggerak tercapainya swasembada pangan.

Soekarno: pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa; apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi maka “malapetaka”; oleh karena itu perlu usaha secara besar-besaran, radikal, dan revolusioner

Lalu bagaimana cara melakukan pemberdayaan masyarakat khususnya masyarakat tani guna mendukung ketahanan pangan dan swasembada pangan? Sekali lagi melakukan pemberdayaan merupakan persoalan yang susah-susah gampang. Susah karena masyarakat itu sangat dinamis sehingga diperlukan ekstra kesabaran dan gampang karena apabila kita sudah berhasil masuk ke dalamnya maka menggerakan masyarakat sangatlah mudah.

Berikut adalah seni dalam melakukan pemberdayaan masyarakat khususnya masyarakat tani yang dapat kita bagi menjadi tiga tahapan, yaitu:

Pertama, Tahap Inisiasi

Tahap ini merupakan kunci penentu keberhasilan pemberdayaan karena pada tahapan ini diperlukan konsistensi dari penyuluh agar keberadaannya dapat diterima oleh masyarakat. Tahapan ini lebih banyak melakukan kegiatan pengenalan potensi wilayah dan melakukan pendekatan kepada masyarakat sebelum melakukan program-program tertentu. Beberapa hal yang dapat dilakukan pada tahapan ini adalah:

1. Pengenalan potensi wilayah

Seorang penyuluh perlu mengetahui potensi wilayah yang akan menjadi sasaran penyuluhan. Misalnya suatu wilayah dikenal sebagai sentra penghasil ubi, maka kita perlu mengetahui segala hal tentang komoditas ubi dari hulu hingga hilir agar ketika melakukan pendekatan nanti semuanya menjadi mudah.

2. Mengenal perangkat desa

Sebelum terjun ke masyarakat kita perlu sowan atau memperkenalkan dulu kepada perangkat desa seperti Kepala Desa, RW, RT serta para tokoh masyarakat untuk mengutarakan maksud dan tujuan kita. Selain itu sebagai bentuk penggalangan dukungan dari perangkat desa agar kegiatan yang kita laksanakan dapat berjalan lancar.

3. Pendekatan terhadap Tokoh Desa atau Tokoh yang dituakan

Umumnya masayarakat akan lebih mendengar terhadap apa yang dikatakan oleh para tokoh desa yang memang dihormati. Untuk memudahkan langkah kita dalam pemberdayaan kita memerlukan bantuan tokoh desa dalam rangka merangkul masyarakat.

4. pendekatan kepada masyarakat

Pendekatan ini dilakukan secara bertahap melalui anjangsana atau kunjungan perseorangan secara langsung agar kita dikenal dan dapat mengambil hati beberapa anggota masyarakat. Misalnya kita bisa berkenalan dan berbincang dengan para petani sambil membantu mereka menanam. Jangan langsung menawarkan program atau teknologi ini itu, karena justru akan membuat pusing mereka. Pada tahap ini kita diharapkan lebih banyak mendengar sambil meluruskan beberapa hal yang perlu diluruskan.

Ikut terjun langsung juga salah satu bentuk pendekatan

Saya pribadi membutuhkan waktu satu tahun untuk benar-benar dekat dan diterima oleh kelompok dan masyarakat di wilayah binaan. Dalam jangka waktu tersebut intensitas dan sikap kita sangat menentukan keberhasilan tahap inisiasi ini.

Kedua, Tahap Pengembangan

Setelah kita berhasil dalam tahapan inisiasi, pada tahap kedua ini kita mulai dapat melakukan kegiatan penyuluhan, pemberdayaan masyarakat serta pelaksanaan program. Namun ada beberapa hal juga yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah:

1. Pembentukkan kelompok berdasarkan inisiatif masyarakat

Apabila di suatu wilayah belum terdapat suatu kelompok pemberdayaan maka kita perlu memberikan motivasi kepada masyarakat agar mereka mau berkelompok. Kita cukup menggerakkan saja bukan yang membentuk kelompoknya karena diharapkan pembentukkan kelompok berdasarkan keinginan masyarakat agar mereka nantinya mau bertanggung jawab terhadap cita-cita yang telah diikrarkan secara bersama.

2. Pemilihan metodologi penyuluhan pertanian

Beberapa senior sering menyampaikan agar kegiatan penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat berhasil maka diperlukan penentuan metodologi yang tepat sesuai dengan kondisi kelompok atau wilayah. Beberapa metodologi penyuluhan pertanian diantaranya adalah: LAKU (Latihan dan Kunjungan), Demplot, Kursus Tani, Dem Farm, Dem Cara, Magang, Studi Banding, Siaran Radio (RRI, RPC, Teman), Pameran, dan Media Cetak (Leaflet, Brosur, Poster, Banner). Contohnya metodologi demplot yang dapat digunakan sebagai cara diseminasi atau transfer teknologi karena pada umumnya para petani memerlukan contoh terlebih dahulu sebelum mereka mengikuti rekomendasi teknologi yang ada. Demplot ini dilaksanakan pada salah satu lahan percontohan petani untuk kemudian menjadi contoh bagi petani lainnya.

salah satu bentuk metodologi penyuluhan melalui sekolah lapang atau kursus tani

3. Penerapan teknologi spesifik lokasi

Penerapan teknologi spesifik lokasi harus disesuaikan dengan kondisi wilayah binaan dan kebutuhan kelompok agar teknologi yang disebarkan dapat dilaksanakan dan meningkatkan kesejahteraan petani serta ramah lingkungan. Balai-balai penelitian dalam lingkup Kementerian Pertanian Republik Indonesia telah menghasilkan beberapa teknologi spesifik lokasi yang dapat dipilih berdasarkan kondisi wilayah sehingga keberadaan teknologi ini diharaokan tidak menjadi bentuk pemaksaan terhadap petani dalam melakukan kegiatannya.

4. Pendampingan Masyarakat

Ditahapan ini memang peran pendamping sangat diperlukan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Kita perlu melakukan pengawalan agar masyarakat terus termotivasi karena sekali lagi tugas pendamping salah satunya sebagai motor penggerak sebelum akhirnya mereka dapat mandiri.

Pada tahapan pengembangan ini kita akan menjumpai turun dan naiknya semangat para petani. Hal ini dinamakan dengan dinamika kelompok. Tak jarang dinamika kelompok ini juga turut mempengaruhi semangat kita sebagai pendamping. Agar semangat kita tetap terjaga ingatlah selalu bahwa melakukan pemberdayaan masyarakat hingga masyarakat tersebut itu maju adalah perbuatan yang mulia. Rejeki in syaa Allah akan selalu mengalir pada setiap keikhlasan yang kita lakukan untuk masyarakat. Jika tidak terbalaskan di dunia ini, in syaa Allah pahala akan selalu mengalir di akhirat nanti. Dan rasakanlah sensasi serta kenikmatan ungkapan dari para petani atau masyarakat yang menandakan bahwa keberadaan kita memberikan manfaat bagi mereka.

Ketiga, Tahap Kemandirian

Pada tahap ini kelompok terutama kelompok tani diharapkan sudah dapat membentuk kelompoknya berdasarkan fungsi kelompok, yaitu sebagai kelas belajar, wahana kerja sama dan unit produksi. Sebagai pendamping kita hanya memantau kegiatan yang mereka lakukan sambil meluruskan apabila terjadi kekeliruan. Misalnya kelompok sudah bisa membuat laporannya sendiri, mengisi buku administrasi atau melakukan hal teknis lainnya secara mandiri. Jadi, apabila nanti pendamping tidak ada di tempat, mereka tetap bisa melaksanakan aktivitas kelompoknya tanpa tergantung oleh pendampingnya lagi. Sebagai contoh kelompok yang mandiri di wilayah binaan saya, mereka mengadakan pertemuan kelompok dengan inisiatif sendiri. Apabila dulu seringnya saya yang menginisiasi untuk diadakan pertemuan kelompok, saat ini saya adalah pihak yang diundang untuk menghadiri kegiatan kelompok. Memang kelompok yang baru mandiri di wilayah saya belum banyak karena semua itu membutuhkan proses. Jika nanti kebersamaan antara pengurus dengan anggota sudah terjalin, maka kemandirian itu akan muncul.

Biarkan masyarakat sendiri yang bergerak untuk menentukan langkah-langkah mereka, kita cukup memperhatikan dan mengarahkan

Melakukan pemberdayaan masyarakat memang penuh dengan tantangan. Kadang kita akan merasa semangat karena mereka juga ikut tergerak terhadap hal yang kita lakukan, kadang juga akan merasa down lantaran masyarakat tersebut sulit untuk termotivasi. Tetapi semua itu bukanlah hal yang tidak mungkin untuk dilakukan, melalui ketekunan dan kesabaran in syaa Allah hati masyarakat juga akan terbuka dengan maksud baik para pelaku pemberdayaan masyarakat.

20 Comments

  1. Reply

    wah, entah sudah berapa lama kampung saya tidak disinggahi penyuluh pertanian, Mbak. Padahal para petani butuh pendamping, terutama soal penggunaan pupuk organik yang belum sadar semuanya. Coba ada penyuluh kayak Mbak ke kampung saya hehe. tentunya para petani semakin melek pengetahuannya juga makin produktif usaha mereka.
    Terima kasih, Ibu Penyuluh! lanjutkan…. 😀

  2. Reply

    Mak ev.. aku salut banget loh ada anak muda (meski udah emak, tapi kan masih muda ya :p)yang mau turun sawah mendekati petani buat penyuluhan. InsyaAlloh jadi ilmu bermanfaat yang amalannya tak pernah putus ya mak

  3. Reply

    ikutan turun ke sawah bukan buat foto aja khan mbak? hihihi

    di sini kayaknya ada penyuluhan kalau pas mau lomba aja. Tapi pemilik sawah sebelah saya orang pertanian dan hasil panen padinya pasti bagus. Bapak mertua banyak belajar dari beliau 🙂

    • Reply

      weleh, tanya petani saya saja klo begitu. daerahnya mana mbak? beda2 sih masing2 wilayah tergantung penyuluhnya juga

  4. Reply

    Pekerja-pekerja lapangan adalah agen perubahan yang seringkali tidak “tertangkap” kamera, ujung tombak yang seringkali lupa diasah..

    Sukses yaa..eh..sering masker lumpur dong ya? jangan cuma di kaki n tangan, ratakan ke seluruh tubuh dongg :p *Kaburr

    • Reply

      mak Irly bener banget tuh ujung tombak dan ujung tombok. nanti maskerannya klo emang niatnya mau mempercuantik aja deh, sekarang mah kerja dulu nyoook

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.