Si Putih Kutu Kebul

Pekarangan rumah saya saat ini sudah lebih hijau, terlihat lebih asri ketimbang bulan-bulan sebelumnya karena sudah ditanami beberapa jenis tanaman. Beberapa tanaman yang ada di pekarangan seluas 6 m persegi ini diantaranya berupa sayuran seperti kaylan, oyong, cabai, tomat, caisin, dan kangkung serta tanaman obat keluarga seperti kumis kucing, binahong, jahe merah serta kunyit. Tanaman-tanaman tersebut adalah tanaman dengan vegetasi rendah yang menutupi area pekarangan. Sedangkan untuk tanaman yang membutuhkan area lebih luas ke arah vertical, saya tanami tanaman buah yang letaknya berada di sudut halaman. Fungsinya selain membuat sejuk halaman juga sebagai salah satu sumber vitamin yang berasal dari buah-buahan.

Saya memiliki dua jenis tanaman buah yang nanti akan dikembangkan di pekarangan. Tanaman tersebut terdiri dari tiga bibit pepaya Calina dan satu tanaman mulberry yang kini sedang berkembang. Pepaya calina masih saya tanam dalam polybag karena bibitnya masih kecil dan belum tersedia lahan untuk menanam, sedangkan mulberry saya tanam di sudut rumah dekat halaman.

Awalnya pertumbuhan mulberry cukup bagus tetapi entah sejak kapan ada gumpalan putih yang menyelimuti batang serta daun bagian atas. Kalau sudah begini saya curiga sepertinya ada kumpulan hama kutu kebul yang dapat merusak daun hingga dapat mengganggu tanaman. Untuk memeriksanya kita bisa melihat daun yang terinfeksi dengan cara melihat di balik daunnya.

Benar saja dibalik daun mulberry terdapat kumpulan hama kutu putih yang menggerembol. Secara kasat mata memang terlihat putih saja, tapi jika menggunakan kaca pembesar atau mikroskop akan terlihat bahwa gerombolan putih itu tidak hanya berupa kumpulan hama tetapi juga terdapat telur pada sarang yang ia buat.

Sejak dulu saya sudah berkeinginan untuk memiliki mikroskop sendiri. Mikroskopnya tidak perlu besar, cukup mikroskop mini saja yang dapat dibawa kemana-mana. Keberadaan  mikroskop mendukung profesi saya sebagai penyuluh pertanian untuk mengamati hama kecil atau penyakit yang tidak terlihat secara kasat mata. Mengapa itu penting? Karena ketika dulu masih bekerja di laboratorium benih, saya pernah mendapati adanya larva pada permukaan benih. Padahal apabila kita lihat secara kasat mata tidak terlihat adanya tanda-tanda makhluk hidup. Bisa jadi di dalam gerombolan kutu putih tersebut ada fungi yang berintegrasi dan tidak terlihat. Bisa jadi juga ada larva yang merupakan keluaran dari telur kutu kebul. Kalau sudah ada dua serangan akan membahayakan tanaman lho. Makanya kalau ada mikroskop kan asik, kita bisa melakukan pengamatan sendiri untuk menemukan langkah antisipasinya.

Kembali kepada serangan kutu kebul, kita harus melakukan tindakan pengendalian agar tidak menyerang bagian tanaman lainnya. Karena budidayanya dilakukan di pekarangan ruah dan untuk konsumsi sendiri maka pengendaliannya haruslah ramah lingkungan dan tidak membahayakan kesehatan. Lalu bagaimana cara pengendaliannya? Berikut ini adalah cara yang dapat kita lakukan untuk mengendalikan serangan hama kutu kebul:

1. Melakukan eradikasi atau pemusnahan dengan cara mengambil daun yang terinfeksi dan mematikan hamanya. Caranya mudah, kita cukup menggunakan tangan untuk memijit si kutu kebul atau menggunakan benda-benda tertentu apabila tidak berani bersentuhan secara langsung. Jangan sampai hanya daunnya saja yang diambil sementara hamanya tidak dimatikan karena kutu kebul ini dapat terbang ke daun yang satu serta daun yang lainnya.

2. Membasminya dengan menggunakan pestisida nabati. Ini adalah cara yang ramah lingkungan karena terbuat dari bahan alami yang mudah ditemukan di sekitar rumah. Untuk pengendaliannya kita gunakan bahan yang dipruntukan bagi pengendalian hama secara umum berikut ini:

3. Apabila sudah ada riwayat serangan kutu kebul, maka ada baiknya tidak menanam tanaman yang rentan terhadap hama ini. Hal ini bertujuan untuk memutus rantai perkembangbiakan hama kutu kebul. Apa saja tanaman yang rentan hama kutu kebul? Mulberry, terong, jambu Kristal, beberapa varietas cabai dan tomat.

Nah itu tadi cerita tentang hama kutu kebul. Secara kasat mata hama ini tidak menjijikan, tapi kalau sudah diperbesar dengan mikroskop, bisa-bisa saya tidak mau menyentuhnya lagi. Semoga bermanfaat ya.

33 Comments

  1. Reply

    Ohh aku sering tuh menlihat kutu seperti itu menempel pada dahan atau ranting tanaman… memang sepintas kelihatannya tidak mengganggu tetapi bila dilihat dgn mikroskop ternyata mengerikan ya Mbak… Mkash infonya ya…

    • Reply

      mmmm kalo gak ada daun mimba ganti aja dengan daun pepaya mbak, intinya hama itu tidak suka dengan yang pahit2 dan pedas seperti cabai

  2. Reply

    Kutu kecil seperti itu sering aku jumpai di tanaman aglonemaku mbak. Aku kira apa warna putih-putih nempel di daun dan batang daunnya itu. Mirip tepung. Karena nggak tahu cara menghilangkannya, seringnya aku semprot yg kenceng, helai per helai sampai habis :)))

    Eh iya, kapan2 pingin juga ah dilihat pake mikroskop kecil, biar tahu seperti apa penampakan kutunya 🙂

    Terima kasih tipsnya ya mbak. Berguna 🙂

  3. ipah kholipah

    Reply

    aku sering lihat kutu kebul seperti itu di tanaman mba 🙂 saya jijik lihatnya ternyata bisa di basmi juga nih mba hehe boleh lah caranya di save biar nanti bisa basmi si putih kutu kebul itu 🙂 terimakasih infonya mba sangat bermanfaat ..

  4. Reply

    Taman depan rumahku hanya diisi rumput, pohon jampu dan mangga yang masih kecil. Pengennya dihias dengan bunga2. Tapi aku kok gak minta ya mba, apa karena tidak tahu ilmunya ya 🙁

    • Reply

      engga juga neng, itu gimana niat kita aja sebenernya, kalo sudah niat dan dijalankan ilmu akan mengikuti hehe coz pertanian itu mudah kok

  5. Reply

    Kalau disini namanya cabuk mbak, sering ketemu di pisang atau pohon cabe.

    Biasanya sich disemprot obat, tapi kalo ada yg ramah lingkungan bisa dicoba nich. makasih sharingnya Mbak 🙂

  6. Susi - 3SRD Beauty Series

    Reply

    Saya juga baru mulai berkebun di pekarangan rumah
    pas banget baca blognya mba Evrina, jadi tau ramuan pestisida nabati, hehehe
    Makasih ya untuk sharingnya mba 🙂

  7. Reply

    Alhamdulillah jadi tau cara mengatasi kutu kebul karena ini yg paling banyak terlihat di tanaman2 rumah tangga. Thank you so much :))

  8. apri ani

    Reply

    pekarangan saya juga udah hijau ev, tumbuh subur dengan gulma, hehehe… nanam sayur matiiii muluuuu …

  9. Pingback: Menghijaukan Bumi Melalui Tulisan | Evrina Budiastuti

  10. aries

    Reply

    sebenarnya banyak cara mengendalikan hama kutu kebul/kutu putih ini, tapi akan sangat efektif apabila insektisida yang kita gunakan bisa menembus lapisan yang seperti lilin pada hama tersebut, jadi banyak orang yang dibikin bingung dengan hama ini karena insektisida baik yang hayati, nabati bahkan kimia tidak efektif mengendalikannya karena tidak tepat sasaran..

  11. alfajri

    Reply

    bisa juga dengan menggunakan ramuan sederhana mengendalikan hama kutu kebul dari bahan abu pembakaran.

  12. giar

    Reply

    Apakah ramuan tersebut langsung diaplikasikan/boleh ditambah air?? terimakasih.

  13. muhammad sujak

    Reply

    Salam kenal mbak…saya dari riau…kl pemakaian semua bahan diatas apa gak pengaruh nantinya dengan rasa buah nya mbak…?sya skrg lg berkebun jambu citra sekitar 25 batang lah mbak..tp sekarang kira2 separoh terserang kutu putih,yg diserang malah batang nya mulai dari bawah smp atas dan daun nya malah gak begitu terserang hama tsb..sudah sya coba gosok dngn kain basah tp beberapahari muncul lagi..tp solusi yg mbak beberkan diatas akan saya coba InshaAllah..makasai sblm nya mbak…

    • Reply

      insyaaAllah tidak pak karena terbuat dari bahan alami, memang kutu kebul agak susah dikembalikan karena dia loncat ke sana-sini, sekali bertelur juga agak banyak, jika masih dibawah ambang batas ekonomi alias belum merugikan lebih baik dikendalikan secara mekanis dulu atau menggunakan pestisida nabati, baru kalau sudah merugikan dan mengancam produksi bisa diambil langkah penggunaan pestisida sintetis, tapi dengan catatan jika sudah mengancam pemasukan ya pak

  14. Azis

    Reply

    Salam kenal mbak evrinasp, saya azis dari sultra, terima kasih informasinýa. Sangat bermanfaat. Tapi berpa kali seminggu kita aplikasikan? Trma kasih.

    • Reply

      kalau nabati sebenarnya tidak terlalu masalah beberapa kalinya pak, tidak ada patokan pasti, dilihat saja dari efektivitas aplikasinya pak

  15. Petani

    Reply

    Kunjungi juga sob
    Info tentang segala pertanian
    www[dot]bloggerpetanilampung[dot]blogspot[dot]com

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.