Supir Braco

Dulu, jika saya ditanya sama orang tua kalu sudah besar mau jadi apa, saya akan menjawab menjadi dokter. Sebuah jawaban umum yang hampir dimiliki oleh anak-anak kecil seumuran saya saat itu. Meskipun sekarang tidak menjadi dokter, namun cita-cita tersebut menjadi penyemangat tersendiri bagi saya. Tapi lain halnya dengan Alfi anak saya, dia beberapa kali mengatakan kalau sudah besar ingin menjadi Supir Braco.

Saya dan suami agak geleng-geleng kepala, karena jarang sekali anak yang bercita-cita menjadi supir alat konstruksi. Namun bagi Alfi itu sangat menyenangkan. Obsesinya itu sering Ia tuangkan dalam kegiatan bermain sehari-hari. Dia selalu membayangkan sebuah truk pengangkut pasir yang membawanya ke suatu tempat. Kadang dia juga berteriak histeris jika di suatu tempat Ia melihat braco, tracktor, excavator maupun crane. Semuanya berbau konstruksi.

Minatnya ini sudah terlihat sejak dia berusia 2 tahun. Alfi kecil memang selalu melihat Mbahnya yang tiap hari bergelut dengan kayu, semen atau pasir. Si Mbah memang hobi terhadap pekerjaan teknik sipil dan sepertinya itu menular kepada Alfi. Dulu ketika weekend tiba, saya dan suami selalu mengantarnya ke tempat pemotongan kayu, dia senang sekali memperhatikan kayu-kayu itu terpotong rapih oleh para pemotong kayu. Kadang juga dia meminta saya untuk mengantarnya ke jalan raya guna melihat truk yang lewat di sekitar.

Melihat keinginannya ini, suami berusaha mengakomodir agar Alfi dapat mengembangkan hobinya dengan tetap mengarahkan supaya Alfi juga mau belajar. Baru seminggu kemarin Alfi dibelikan satu buah Diecast Truk & Kontruksi berupa excavator. Jangan ditanya bagaimana senangnya dia, sampai malampun disaat kami sudah mengantuk, Alfi masih saja bermain dengan excavatornya.

Alfi dan Excavator

 

Rupanya kegemaran Alfi akan alat konstruksi tidak hanya berhenti pada mainan saja. Smartphone saya sudah beberapa bulan ini sering diminta Alfi untuk bermain games excavator. Kalau dihitung sudah ada 5 aplikasi games berbau tractor, braco dan crane yang diinstal pada smartphone mamanya. Dan kalau dia melihat mamanya sedang menganggur, Alfi pasti meminta saya untuk memainkannya.

Selain membelikan benda yang sesuai untuk mengembangkan imajinasinya, kami juga ikut memberikan pengarahan kepada Alfi tentang hobinya tersebut sambil terus berharap agar dia mau sedikit demi sedikit belajar. Ya, Alfi memang agak sedikit malas jika saya ajak belajar. Mungkin memang belum waktunya ya, seperti yang saya lihat di drama Prime Minister (lagi-lagi demam korama si mamah), tetapi saya khawatir juga melihat anak tetangga yang perkembangannya lebih pesat ketimbang Alfi. Si anak sudah bisa menyebutkat beberapa angka dan huruf, sementara Alfi masih sibuk dengan hobi kontruksinya.

Namun, saya sudah punya cara jitu untuk memintanya belajar. Ketika saya tanya Alfi mau jadi apa? Dia akan menjawab: “jadi supir braco”. Saat itu juga saya langsung mengatakan: “kalau mau jadi supir braco harus rajin belajar supaya pintar dan bisa nyetir braconya” . Cara ini cukup ampuh membuatnya belajar, meskipun waktunya belum terlalu lama.

Beberapa bulan lagi akan saya tanya lagi, kalau Alfi besar mau jadi apa? Barangkali cita-citanya mulai berubah, atau mungkin sama saja. Namanya juga anak-anak, dunianya sangat menyenangkan.

Related Post

9 Comments

  1. Reply

    Hallooo, yak memang bener karena sinyal rupanya. Sekarang sdh di Jogja lagi. Alfi keren, kayak om (suamiku) ntar ya.

  2. Pingback: Liburan Seru Bersama Alfi | evRina shinOda

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.