Teknologi Unggulan Peternakan




Sektor peternakan tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian. Keduanya saling berintegrasi untuk mendukung swasembada pangan. Itu sebabnya sektor peternakan masuk dalam ruang lingkup kerja Kementerian Pertanian. Pada peringatan Hari Pangan Sedunia yang berlangsung di Palembang pada tanggal 17-20 Oktober 2015 lalu, telah digelar sebuah teknologi unggulan peternakan mencangkup teknologi perkandangan, keragaan varietas unggul tanaman pakan ternak dan pengelolaan limbah ternak. Beberapa varietas tersebut selain mendukung program pemerintah dalam mencapai swasembada daging juga mendukung terciptanya pertanian yang ramah lingkungan.

Kandang sapi dibuat sedemikian rupa dengan cukup ventilasi dan memudahkan pembersihan kandang. Hal ini memungkinkan agar kandang tidak menimbulkan bau dan cemaran yang dapat mengganggu lingkungan. Kemudian kandang sapi juga dilengkapi teknologi pembuatan ransum (pakan ternak) yang terbuat dari jerami padi atau jagung. Ransum ini bermanfaat untuk penggemukan padi. Dari situ kita bisa lihat adanya integrasi antara pertanian dengan peternakan yang saling mendukung satu sama lain. Kotoran ternak nantinya dapat digunakan untuk menghasilkan pupuk organik, biourine dan biopestisida yang bermanfaat bagi usaha pertanian.




Ramsum

Bahan Pembuatan Ramsum

Ramsum

Cara Pembuatan Ramsum

Penggunaan kotoran ternak ini memungkinkan karena bau dari kotoran yang dihasilkan sudah dikurangi. Bapak Ainur dari Loka Sapi Potong menjelaskan bahwa pakan sapi sudah menggunakan bahan pakan seimbang dengan jumlah protein sebesar 9%. Jumlah protein ini cukup rendah namun tidak mengurangi produktivitas. Pakan yang mengandung sedikit protein tersebut sudah menghasilkan ampas yang tidak menimbulkan bau. Kemudian jika ingin mengurangi bau yang dihasilkan, dapat menggunakan pakan dari kulit kopi sehingga kandungan amoniak yang dihasilkan rendah.

Biogas

Reaktor Biogas

Biogas

Cara Pembuatan Biogas

Kotoran ternak yang dihasilkan kemudian dapat diolah menjadi kompos maupun biogas. Apabila hendak menghasilkan biogas untuk keperluan sehari-hari maka dalam satu kepala keluarga harus memiliki tiga ekor sapi. Teknologi pengelolaan kotoran sapi menjadi biogas memiliki beberapa unggulan diantaranya:

  1. Memanfaatkan secara optimal limbah peternakan dan mengurangi pencemaran lingkungan
  2. Menghasilkan sumber energi terbarukan untuk keperluan rumah tangga
  3. Menghasilkan produk sampingan berupa pupuk padat dan pupuk cair
  4. Memiliki daya tampung dengan kapasitas 18 m3 (Reaktor tipe fix dome) yang setara dengan 200 kg kotoran sapi/hari (10-20 ekor sapi) dengan waktu retensi 45 hari dan biogas yang dihasilkan sebesar 6 metrik kubik per hari

Selain ditampilkannya teknologi perkandangan dan pengelolaan limbah ternak, juga ditampilkan keragaan hijauan pakan ternak ruminansia pada gelar teknologi unggulan peternakan kali ini. Beberapa tanaman pakan ternak yang ditampilkan diantaranya Rumput Benggala, Rumput Vetiver, Rumput Setaria, Rumput Atra dan Rumput Signal yang memiliki kandungan gizi cukup tinggi bagi ternak.

Sebenarnya apabila kita memperhatikan, tanaman pakan ternak ini banyak tumbuh di sekitar kita sebagai ilalang, hanya saja karena kita tidak mengetahui jenis dan manfaatnya maka beberapa jenis rumput pakan ini dibiarkan begitu saja bahkan dimusnahkan apabila mengganggu tanaman lainnya. Sebagai gambaran, berikut adalah beberapa contoh tanaman pakan ternak yang ditampilkan pada gelar teknologi unggulan peternakan:

Rumput Benggala dan Vetiver

Rumput Benggala dan Vetiver

Rumput Setaria dan Atra

Rumput Setaria dan Atra

Rumput Signal

Rumput Signal

Peternakan dan pertanian tidak dapat dipisahkan, keduanya saling berintegrasi satu sama lain. Meningkatkan produktivitas pertanian juga turut serta membantu meningkatkan produktivitas peternakan begitu juga sebaliknya.

16 Comments

  1. muhammad mukhlis

    Reply

    ini aslah satu usaha kesuksesan ya mbak, kalo masalah pertanian saya dulu ada ngikut sama koperasi dibidang perkebunan mbak, setelah setahun kemudian diganti lagi ke perternakan sapi, ๐Ÿ™‚ sekarang udah ga lagi mbak, hehehe

  2. Sultan

    Reply

    Sapi dikasih kulit kopi apa gak melek sepanjang malam? Hehe..
    Tulisan yg bagus. Jd tambah ilmu ttg peternakan

  3. Reply

    Pertanian terintegrasi, di beberapa tempat di GunungKidul ada yg pakai model kayak gitu mbak, jadi kotorannya dijadikan pupuk ada juga yg dijadikan biogas…

    jadi baguslah klo kayak gitu, gak ada yg terbuang sia2 dari daging ternak hingga kotorannya ๐Ÿ™‚

  4. Rohma Azha

    Reply

    behh enak itu dah ya mbak. kotoran sapinya bisa langsung diproses menjadi pupuk. terlebih lagi nggak terlalu bau. kalau dulu di rumah, kotoran sapi sampe dibuang2 di sungai mbak. heee

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.