Wujud Nyata Berterima Kasih

btpn-sinaya

Ibu Atih kedua dari kiri berkerudung hitam

Ibu Atih Sumiatih, seorang wanita paruh baya yang gigih dalam menghidupi keluarga. Saya mengenalnya sejak tiga tahun yang lalu berkat sebuah progam pemanfaatan lingkungan. Sejak pertama kali bertemu, saya sudah melihat semangat yang dipancarkan oleh Beliau. Diusianya yang sudah tidak muda lagi, Ibu Atih masih mau menjadi ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) yang bertugas mengajak ibu-ibu disekitar untuk menghijaukan lingkungan. Padahal kegiatan yang harus dilakukan Bu Atih sendiri sudah terlalu banyak, namun Ia masih rela membagi waktunya demi lingkungan serta ibu-ibu di sekitar.

Sehari-hari Ibu Atih berdagang kue di rumah yang sekaligus menjadi tempat berlangsungnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Bu Atih mulai berdagang sejak pagi hingga kegiatan PAUD selesai. Usaha ini dilakukan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari sekaligus membantu membiayai para cucunya. Apabila dibandingkan, pemasukan dari hasil berjualan dengan pengeluaran masih belum sebanding. Namun Bu Atih tidak pernah patah semangat, dia mengatakan akan terus berjualan karena memang Ia suka membuat kue. Kue dan masakan Bu Atih memang dikenal sangat lezat, itu sebabnya dia selalu menjadi langganan untuk menerima pesanan catering acara-acara kantor, hajatan atau acara lainnya. Selain enak, Bu Atih juga tidak mematok harga yang mahal terhadap kue dan masakan yang Ia buat, sehingga ada saja orderan untuk membuat kue yang masuk setiap minggunya.

btpn-sinaya

Saya dan Ibu Atih

β€œBu Rina kan tau sendiri kondisi saya seperti apa, jadi ibu harus tetap jualan” begitu Bu Atih mengatakan. Saya sebenarnya sedih ketika mendengar kalimat tersebut karena diusia yang senja ini sudah seharusnya Ibu Atih bisa beristirahat bersama cucu tercinta. Sewajarnya Ia tidak perlu lagi memikirkan bagaimana kehidupan besok karena sudah ada anak-anak yang bekerja mencari rezeki. Tetapi bukan Bu Atih namanya jika tidak ingin merepotkan orang lain, Ia sudah terbiasa mandiri sejak ditinggal oleh suami tercinta.

Banyak sekali yang ingin saya sampaikan kepada Bu Atih. Saya ingin sekali berterimakasih kepada Bu Atih yang sejak pertama bertemu hingga detik ini masih setia untuk menghidupkan kegiatan para ibu dan menjaga lingkungan karena saya tau sebenarnya waktu untuk Bu Atih sendiri sudah sangat tersita demi lingkungan yang lestari. Tanpa Bu Atih, saya bukanlah siapa-siapa. Mungkin orang lain melihat saya telah berhasil menyuluh di desa Bu Atih karena hingga kini kelompok yang kami naungi bersama masih aktif. Namun percayalah, tanpa Ibu Atih maka tidak mungkin saya berhasil.

btpn-sinaya

Bu Atih dalam melakukan pemberdayaan untuk kelestarian lingkungan

btpn-sinaya

Bu Atih juga mengajak para anggota untuk menghasilkan produk guna menambah penghasilan

Berkat kerja sama dan kegigihan usaha, alhamdulillah kami berhasil membawa kelompok menduduki juara pertama tingkat kabupaten tahun lalu. Saya ingat sekali kalau Bu Atih sampai jatuh sakit untuk memperjuangkan semuanya. Sekali lagi selamat untuk Ibu Atih, Ibu layak mendapatkan itu semua.

btpn-sinaya

Ibu Atih menerima penghargaan dari Bupati Bogor untuk kelompok atas lomba KRPL tingkat Kabupaten tahun 2015

btpn-sinaya

Kerja keras Bu Atih membuahkan hasil

btpn-sinaya

Bu Atih, posisi pertama dari sebelah kiri, berfoto bersama dengan Bupati Bogor

Peran Ibu Atih terhadap kehidupan saya juga tak berhenti disitu saja. Ibu Atih secara tidak langsung mengajarkan kepada saya untuk selalu bersabar dan bersyukur terhadap segala permasalahan yang ada. Beberapa kali saya melihat air mata Ibu Atih jatuh karena tidak sanggup menahan kesedihan, namun saat itu juga saya melihat Beliau tegar kembali. Apabila dibandingkan, persoalan yang saya hadapi masih jauh lebih ringan dibandingkan dengan apa yang dihadapi olehnya. Tetapi Ibu Atih tetap kuat dan justru memberikan semangat kepada saya untuk terus maju.

Sebagai rasa terimakasih, saya ingin sekali membantu Bu Atih. Beberapa kali saya membantunya untuk mempromosikan kue atau produk yang Ia hasilkan. Saya senang sekali ketika waktu itu saya berjualan cilok buatan Bu Atih di kantor. Dagangan milik Bu Atih langsung ludes karena kelezatan cilok buatannya. Kemudian saya juga membantu mempromosikan keripik daun murbey dan juga stik terong yang juga tak kalah lezatnya. Tetapi kedua produk ini belum mendapatkan pasar yang cukup dibandingkan dengan kue basah yang Ia jual. Masalahnya jika Ibu Atih hanya berpegang pada kue basah yang Ia hasilkan, maka selamanya Ia akan menjadi pembuat kue berdasarkan pesanan saja. Saya ingin sekali membentuk Bu Atih menjadi pelaku UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) yang memiliki produk siap sedia dan laku di pasaran.

btpn-sinaya

Keripik Murbey dan Stik Terong buatan Ibu Atih

btpn-sinaya

Cilok buatan Bu Atih yang selalu habis jika dijual ke kantor saya

Tetapi untuk menuju ke arah tersebut banyak hal yang harus dipersiapkan. Salah satunya adalah menambah permodalan, memperbaiki kemasan, serta sertifikat PIRT dan pengurusan label halal. Saat ini Bu Atih memang tidak terlalu terkendala terhadap akses permodalan karena produk yang dihasilkan masih sedikit sedangkan teknis lainnya dapat diatasi secara bertahap seiring dengan perkembangan produk.

Dulu saya sempat berpikir, apa ya yang dapat saya lakukan untuk memfasilitasi Bu Atih maupun pelaku UMKM lainnya agar produk yang mereka hasilkan dapat berkembang?. Saya sempat mencari sponsor atau mengajukan proposal bantuan, namun membutuhkan waktu yang cukup lama untuk merealisasikan apabila proposal disetujui. Kemudian saya juga berusaha membantu mempromosikan produk yang mereka hasilkan dengan mengajaknya turut serta terhadap event-event kantor seperti bazar dan pameran atau mempromosikan melalui internet. Lalu apa lagi ya yang bisa saya lakukan?.

Ternyata ada sebuah cara yang dapat membantu Bu Atih serta pelaku UMKM lainnya untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Selain membantu para pelaku usaha, kita juga bisa mendapatkan hasil yang optimal serta menjadi Sahabat Daya dengan bergabung bersama BTPN Sinaya.

btpn-sinaya

Selama ini kalau kita menabung, kita taunya mendapatkan keuntungan untuk diri sendiri. Nah, di BTPN Sinaya itu berbeda karena lebih dari sekedar menabung. Sinaya yang merupakan kependekan dari Sinar yang Memberdayakan menjadi sebuah jalan keluar bagi para pelaku UMKM melalui dana yang kita tabungkan.

Menabung untuk memberdayakan adalah kata yang tepat untuk BTPN Sinaya karena seluruh dana nasabah yang disimpan di BTPN Sinaya akan disalurkan kembali kepada masyarakat berpenghasilan rendah serta pelaku UMKM. Jadi, setiap rupiah yang kita tabungkan akan lebih memiliki nilai karena disalurkan langsung bagi pemberdayaan masyarakat yang membutuhkan seperti para pelaku UMKM serta masyarakat prasejahtera. Untuk para pensiunan yang ingin memulai usaha ketika sudah tidak lagi bekerja juga bisa menggunakan dana yang dihimpun melalui BTPN Sinaya sehingga membantu para pensiunan untuk tetap produktif.

btpn-sinaya

Pertama, dapat menghimpun dana secara optimal.

Mari kita lihat simulasi berikut ini:

btpn-sinaya

Pertama, buka halaman Menabung untuk Memberdayakan lalu klik menu Mulai Simulasi. Login dan pilih jenis bidang yang ingin kita berdayakan sehingga sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Misalnya jika saya ingin membantu Bu Atih memajukan usaha pembuatan kue maka saya dapat memilih bidang Culinary. Dengan harapan agar dana yang saya tabungkan dalam BTPN Sinaya diperuntukan bagi pemberdayaan UMKM atau pensiunan yang bergerak di bidang kuliner.

btpn-sinaya

btpn-sinaya

Lalu lakukanlah simulasi dengan menetapkan besaran tabungan perbulan dan jangka waktu menabungnya. Apabila saya menabung Rp. 500.000,- per bulan selama dua tahun maka kita akan mendapatkan dana yang terhimpun sebesar Rp. 12.617.443. Dana ini dapat dihimpun melalui Tabungan BTPN Taseto Mapan yang merupakan salah satu fitur pada BTPN Sinaya. Tabungan BTPN Taseto Mapan sendiri merupakan tabungan berjangka dengan bunga setara deposito untuk mewujudkan impian di setiap tahap kehidupan.

btpn-sinaya

btpn-sinaya

Bayangkan jika ada beberapa orang yang turut serta menabung untuk memberdayakan, maka berapa orang pelaku usaha yang dapat kita bantu untuk meningkatkan taraf hidupnya? Jawabannya pasti banyak.

Kedua, mendapatkan manfaat ganda.

Siapapun ingin sekali menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain bukan?. Melalui tabungan BTPN Sinaya ini, selain tentunya memberikan keuntungan, secara tidak langsung kita juga turut serta membantu meningkatkan kesejahteraan para pelaku UMKM, masyarakat prasejahtera serta para pensiunan. Hanya dengan satu langkah saja yaitu menabung untuk memberdayakan, maka kita akan mendapatkan manfaat ganda sekaligus.

Ketiga, menjadi Sahabat Daya memberikan inspirasi bagi orang lain.

Dengan menabung di BTPN Sinaya, kita berkesempatan memberikan inspirasi bagi pelaku UMKM, masyarakat prasejahtera atau pensiunan untuk terus maju melalui inisiatif Sahabat Daya. Sahabat Daya adalah program yang mengundang seluruh pemangku kepentingan BTPN untuk berpartisipasi langsung dalam memberdayakan para pelaku usaha.

btpn-sinaya

Keempat, memberikan kesempatan kepada para pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitasnya.

Para pelaku usaha baik berasal dari UMKM, masyarakat prasejahtera atau pensiunan bisa mendapatkan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas yang dimiliki melalui Program Sahabat Daya. Jadi selain bisa mendapatkan pinjaman modal, para pelaku usaha ini juga akan mendapatkan pelatihan baik dari kalangan Bank BTPN itu sendiri maupun dari nasabah yang tergabung di dalamnya.

Menabung untuk memberdayakan menjadi salah satu alternatif bagi kita yang ingin turut serta tumbuh dan berkembang bersama masyarakat Indonesia. Dengan turut serta pada program ini maka akan banyak pelaku usaha seperti Ibu Atih yang dapat meningkatkan kesejahteraannya. Paling tidak hal tersebut merupakan salah satu wujud nyata dari rasa terimakasih kepada mereka yang sudah berjasa bagi kita semua.

Sumber Informasi:

http://menabunguntukmemberdayakan.com/

http://www.btpn.com/berita-and-media/siaran-pers/btpn-sinaya-tawarkan-gaya-baru-berbank-dan-memberdayakan-sesama/

82 Comments

  1. Anne

    Reply

    Masya Allah…
    Gak mampu berkata2. Kisah bu Atih dan bagaimana kisah ini diceritakan, sama-sama keren. Moga menang Ev.

  2. Pakde Cholik

    Reply

    Sebenarnya di sekitar kita banyak orang yang langsung atau tidak langsung membantu kita.
    Jika kita tidak/belum bisa membalasnya maka sebaiknya kita mendoakannya.
    Sala hangat dari Jombang

  3. Langit Amaravati

    Reply

    Aku suka kisah-kisah bertema lingkungan dan kemanusiaan seperti ini. Titip salam buat Bu Ati. πŸ˜€

  4. Reply

    Waah, Evri, lengkep-kep-kep…gimana tuh sampe segitu lengkep postingannya. Itu lho uraiannya juga memesona banget, mengagumkan. Semoga menang nih jadi Jawara Pertama.

    • Reply

      aamiin yra, Bu Atih mah dari bangun tidur sampai mau tidur lagi masih aja ngerjain ini itu, luar biasa sama kekuatan fisiknya

    • Reply

      sementara ini belum produksi lagi karena Bu Atih sedang berjualan kue basah, dia membuatnya ketika agak senggang. enak lho, saya sudah mencoba, nanti saya motivasi lagi supaya Ibu Atih bisa kontinyu memproduksinya ya

  5. Reply

    Senang banget melihat ibu2 itu memanen sayuran.. Coba deh semua ibu2 pinter memanfaatkan pekarangan masing2 pastinya ekonomi keluarga makin oke karena sayuran gak beli lagi..bisa metik sendiri..

  6. Rotun DF

    Reply

    Mba Rina, saya jadi inget Ibu saya di kampung :(. Semoga Bu Atih sehat terus ya Bu..tetap semangat. Semoga Mba Rina menang yaa

  7. momtraveler

    Reply

    Salut sma ibu Atih..daya juangnys tinggi dan produknya jg Unik banget stik terong dan murbei..harus dikembangkan tuh mak semoga bu Atih bisa dapat dana pinjaman ya.
    Sukses ngontesnya mak :*

  8. Reply

    Biasanya L’oreal mengadakan acara untuk wanita berprestasi dan berpengaruh baik kepada sekitar nya gitu mba, setiap tahun. Nanti kalau ada lagi event nya, mba evrina bisa ikutan tuh untuk merekomendasikan bu atih. Hehehe

    • Reply

      biasanya itu kan yg cuantik cuantik mbak, kalo gak salah lho ya, bu ATih mah orangnya sederhana, dia sudah maju ke kabupaten saja sudah senang

  9. Reply

    merinding bacanya mbak…
    salut sama bu atih

    btw, artikelnya inspiratif banget dan mencerahkan untuk yang ingin memulai umkm
    *dua jempol πŸ™‚

  10. Ranny

    Reply

    Wah keren Ibu Atih patut menjadi contoh nih. Ciloknya menggoda bangeeetttt.. Semoga usahanya berjalan lancar Bu ^^

  11. Reply

    Salut banget sama perjuangan bu Atih. Kebayang deh aktivitasnya banyak banget itu….usianya sudah senja pula. Semoga beliau sehat selalu.

    Sukses ya Mbak ngontesnya, saya baru mau bikin ini, hehe… Tapi setuju deh kalo tulisan ini yg menang. Saya jadi penggembira aja πŸ˜€

  12. Reply

    Ibu Atih pantang capek ya? Salut banget sama perjuangannya. Aku yang kerja doang aja kadang suka ngeluh capek dan males ngapa2in, hehe
    Semoga Bu Atih sehat terus dan usahanya lancar. Diliat dari foto emang sedep banget itu cilok.

  13. Reply

    Ya Allah, baca ttg profil bu Atih bikin meringis. Masih banyak ibu-ibu yang peduli dan memberdayakan sekitarnya. Tidak apatis. Keren mbak Ev profesinya yg bisa ketemu langsung sama ibu2 seperti itu.

  14. Reply

    slm salut saya ke bu atih ya mbak ev, pekerja keras dan gk segan ngebantu pula. sukses selalu bwt bu atih dan dirimu ya mbak ev, amin, bank btpn emang oke punya dah yak

    • Reply

      insyaa Allah inda disaamin, biasanya hari jumat sering kumpul, iya hadirnya bank BTPN membantu masyarakat kecil agar bisa berdaya

  15. Aireni Biroe

    Reply

    Kripik daun murbey itu apa Mbak? #barutau *baca tulisan ini fokusnya sama bahasan tentang makanannya* hehe

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.